Gantung diri

1175 Kata
Waktu menunjukkan pukul 20.00, Wulan dan Mbah menghabiskan waktu malamnya untuk menonton TV bersama di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Ibunya. “Mbah, kok Ibu belum pulang ya?” tanya Wulan. “Iya ini Ulan tidak seperti biasanya, mungkin saja ibumu sedang lembur Nduk,” ujar Mbah. “Iya mungkin Mbah.” “Kamu tidak belajar Lan?” tanya Mbah. “Udah tadi Mbah habis Magrib, tapi ini Ulan mau menyiapkan mata pelajaran buat besok,” ucap Wulan. “Ya sudah sana,” sahut Mbah. Wulan berdiri beranjak pergi dari ruang tamu menuju kamarnya, saat Wulan baru membuka gorden yang menutupi pintu kamarnya dan baru akan melangkah masuk Wulan berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Aaaaaaaaaa!” teriak Ulan dengan spontan. Mendengar teriakan Wulan, Mbah terkejut menghampiri Wulan. “Ada apa Lan, ada apa?” tanya Mbah yang panik menghampiri Wulan. “I-Itu ada Wanita duduk di kasur Wulan Mbah, Wulan takut,” ucap Wulan dengan gagap menunjuk tempat tidurnya sambil menutup matanya. “Mana Lan? nggak ada siapa-siapa ini, sudah mungkin kamu salah liat.” Wulan sambil membuka mata secara perlahan-lahan melihat keadaan di sekitarnya, dan ternyata tidak ada siapa-siapa. “Tapi Mbah Wulan yakin sekali ada Wanita duduk di tempat tidur pakai baju putih panjang rambutnya panjang menutupi wajahnya terus kukunya panjang-panjang, sambil belai-belai rambutnya Mbah,” ucap Wulan yang berusaha meyakinkan Mbah. “Tapi ini buktinya nggak ada Nduk,” sahut Mbah. Tok...Tok...Tok...(Suara seseorang mengetok pintu) “Assalammu’alaikum!” terdengar suara Ibu dari luar “Ibu Udah pulang, kok malam banget pulangnya sih Bu,” ucap Wulan yang menghampiri ibunya dan mencium tangan ibunya. “Iya Lan, Ibu hari ini disuruh lembur ada kerjaan tambahan,” Jelasnya. “Ayu kamu mandi dulu setelahnya makan malam!” perintah Mbah. “Iya Bu,” sahut Ayu yang mencium tangan ibunya dan bergegas untuk mandi. Ayu bergegas masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan segera mandi setelahnya, Ayu melangkah menuju rak piring, namun saat Ayu ingin membuka lemari kaca tempat dimana piring beserta lainnya disimpan Ayu tersentak kaget karena melihat pantulan bayangan Wanita berpakaian kebaya tempo dulu di kaca rak piring, karena penasaran Ayu pun menoleh kebelakang namun tidak ada satu orang pun berada di belakang Ayu. Namun Ayu tidak menghiraukan hal itu, Ayu lebih memilih untuk makan malam, awalnya tidak ada masalah saat Ayu sedang menikmati makan malamnya, namun saat telah ingin menghabiskan makanan terdengar benda terjatuh hingga membuat Ayu terkejut. PRRAAANNGG! (Suara panci jatuh) Karena suara itu cukup mengejutkan membuat Wulan yang saat itu berada di kamar ikut terkejut. “Ada apa Bu?” tanya ulan dengan wajah masih mengantuk. “Nggak ada apa-apa Nak, ini loh panci tadi jatuh mungkin ulah tikus,” sahut Ayu yang tidak ingin berpikir negatif. “Oooo... Wulan kira ada apa?” ujarnya Wulan sambil menguap. “Ya udah sana lanjutkan tidurmu besok kan, kamu sekolah Lan!” perintah ibu dengan lembut. “Baik Bu, Ulan lanjut tidur dulu yah.” Wulan pergi Meninggalkan ibunya yang sedang melanjutkan makan dan Wulan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya kembali. Kejadian aneh malam itu mulai Ayu rasakan dari mulai pantulan sosok wanita yang menggunakan baju kebaya sampai insiden panci yang jatuh. Namun setelah dia ingat-ingat kembali, dia teringat dengan ucapan Wulan yang pertama kali datang ke rumah ini, saat itu Wulan sedang bermimpi buruk dalam mimpinya Wulan pernah berkata ada sosok Wanita yang selalu mengganggunya. “Apa Wanita ini yang di maksud oleh Wulan,” Gumam Ayu di dalam batin. Tidak mau terlarut dalam pikirannya yang semakin dalam, setelah selesai makan Ayu pun pergi meninggalkan dapur dan kembali ke kamar untuk beristirahat. “Lan, Kamu kok belum tidur?” tanya Ayu kepada Wulan. “Iya Bu, tadi Wulan mau tidur tapi udah nggak ngantuk lagi.” “Tidur sayang, besok kan kamu harus sekolah, oh iya bagaimana tadi hari pertama sekolahnya?” tanya ibu kepadaku. “Baik Bu, Wulan juga pulang bareng temen Wulan.” “Kamu betah kan sekolah di sana?” tanya kembali Ayu kepada Ulan. “Iya Bu, Wulan betah, lagi pula teman-temannya baik-baik di sana Bu.” “Syukurlah kalau seperti itu, ayo kita tidur besok kamu harus sekolah,” ajak ibu. “Baik Bu.” Mereka berdua pun menarik selimut dan menepatkan posisi tidur yang nyaman untuk mereka berdua. Heningnya malam mengantarkan mereka berdua masuk ke dalam alam bawah sadar, yaitu alam mimpi. Sampai mimpi buruk menghantui Wulan. Sebuah kejadian yang sangat tragis di dalam mimpi Wulan terjadi. Di dalam mimpi Wulan, melihat seorang Wanita yang sangat cantik menggunakan pakaian kebaya tempo dulu dengan warna hitam bercorak kembang, kemben, dan menggunakan kain Jarik. Wanita itu mengambil dua kain jarik yang di ikat membentuk panjang, setelah ia selesai mengikatnya. Wanita itu mengikatkan kain itu di tiang-tian langit rumah dan saat itu belum tertutupi dengan plafon. Wanita itu lantas menaruh meja dan juga kursi yang posisinya berada di atas meja tersebut, Wanita itu naik perlahan ke atas kursi, dengan meneteskan air mata dia mengikatkan kain jarik itu ke lehernya dengan erat. Melihat tindakan ingin mengakhiri hidupnya aku pun mulai berteriak. “Mba Jangan lakukan itu!” aku yang berteriak untuk mencegah Wanita itu. Namun anehnya dia seperti tidak, dapat mendengar ucapanku apalagi teriakanku. Wanita itu mulai mendorong kursi dengan kakinya beberapa kali, dengan panik aku mencoba meraih kaki Wanita itu tapi anehnya tubuhku malah menembusnya, Wanita itu pun berhasil menjatuhkan kursinya. Kain jarik itu pun mengikat erat lehernya hingga membuatnya kejang-kejang wajahnya membiru dengan mulut yang mengeluarkan air liur serta lidah yang menjulur keluar. “Mba jangan!” teriakku sekuat tenaga. “Lan, Wulan bangun Nak kamu kenapa?” Ibu yang menggerak-gerakan tubuh Wulan saat itu agar aku dapat terbangun. Seketika aku pun terbangun, dengan nafas yang cepat dan jantung berdetak cepat, di tambah keringat dingin yang menetes di keningku. Melihat Ibu di hadapanku, aku langsung memeluk Ibu mencoba menenangkan diriku saat aku memeluk dirinya. “Lan...Lan...kamu kenapa sayang,?” tanya ibu yang khawatir “I-Itu Bu,” sahutku dengan terbatah-batah. “Ini minum air dulu, biar kamu tenang Lan,” Ibu yang memberikan segelas air putih di meja kamar. Setelah aku meminum segelas air dan menenangkan diriku, barulah aku mulai bercerita kepada Ibu dengan mimpi yang aku alami tadi. “Wulan mimpi seram Bu!” ujarku “Mimpi apa Nak, sampai-sampai kamu teriak histeris,” ujar ibu yang menjelaskan kepadaku. “Aku mimpi seorang Wanita yang sedang gantung diri Bu, Wulan berteriak agar Wanita itu menghentikan niatnya untuk gantung diri, tapi tidak bisa. Wanita itu tetap saja gantung diri Bu,” tutur Wulan menjelaskan kepada ibunya. “Sudahlah sayang itu hanya bunga tidur, jangan kamu terlalu pikirkan ya, baca doa sebelum tidur Lan!" “Sudah Bu.” “Ya sudah mari kita kembali, ini sudah jam 02.00 dini hari, Wulan besok harus sekolah.” “Iya Bu,” dengan wajah sedikit kecewa karena Ibu lagi dan lagi tidak pernah percaya. “Ya sudah, semoga mimpi itu tidak ada apa-apa Nak, mari kita tidur dan jangan lupa baca doa." "Baik Bu," sahut wulan sembari menarik selimut. mereka berdua melanjutkan tidur di malam yang mencekam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN