Misteri Sumarni

1127 Kata
Paginya saat Wulan berjalan sendirian menuju sekolahnya Wulan dikejutkan oleh seseorang dari belakang. “Woiii... Sendirian aja,” ucapnya. “Eh, kamu Ndra, ngagetin aja.” Ucap Wulan dengan mengkerutkan keningnya karena kesal di kejutkan oleh Indra. Indra yang menatap wajah Wulan sampai menyeringai. “Oh ya Ndra, ada yang mau aku ceritain sama kamu nih,” ujar Wulan dengan wajah yang serius. “Cerita tentang apa nih?” tanya Indra dengan memasang mimik wajah yang sangat penasaran. “Ya udah aku cerita sambil jalan,” sahutku sambil melangkah santai. “Iya silahkan, apa sih Lan serius amat jadi penasaran aku.” “Begini saat aku baru tiba pertama kali di rumah Nenenku aku selalu mendapati kejadian-kejadian aneh di rumah Nenekku Ndra,” tutur Wulan “Apa itu Lan, kamu kalau cerita jangan setengah-setengah kenapa,” protes Indra. “Bukannya setengah-setengah, tapi memang aku belum mengerti maksud semua misteri yang ada di rumah nenekku.” “Eh bentar Lan, ceritanya nanti dulu kita masuk kelas dulu,” seketika Indra yang menghentikan cerita Wulan dan mengajaknya ke dalam kelas. Mereka berdua masuk ke dalam kelas, yang saat itu kondisi kelas belum begitu juga ramai, setelah masuk kelas Wulan dan Indra pun ke tempat duduk mereka masing-masing, dan mulailah Wulan kembali bercerita lagi. “Ayo Lan cerita lanjutin,” desak Indra. “Ya tunggu sebentar, aku naruh tas dulu,” sahut Wulan. Setelah itu Wulan mulai menceritakan apa yang ia rasan di rumah itu. “Begini Ndra awalnya aku mimpi aku berada di rumah Nenek namun tampilan ruangannya agak beda saat itu aku melihat sosok Wanita cantik berkebaya hitam, dihari berikutnya saat Nenekku menaruh sesajen di kamarku aku melihat sosok Wanita itu lagi pati kali ini dia nggak pakai kebaya,” tutur Wulan. “Lalu tampilan Wanita itu gimana Lan?” tanya Indra “Tampilannya serem, aku lihat dia pakai baju putih, rambutnya panjang banget terus kukunya panjang, kakinya juga nggak nyentuh lantai,” sahut Wulan. “Ihhh itu kuntilanak Lan!” teriak Indra. “Indra jangan teriak!” “Oke maaf, lanjut Lan!” pinta Indra “Wanita itu datang saat Nenekku mengucapkan sesuatu, entahlah itu apa aku tidak terlalu mengerti soalnya menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus. Setelah Nenek mengucapkan kalimat itu dan duduk di lantai.” “Setelah itu apa yang Wanita itu lakukan,” Indra yang memotong percakapan Wulan. “Wanita itu mengelus-elus kepala Nenekku Ndra dengan tangannya yang putih pucat terlihat seperti mayat hidup urat serta tulang-tulangnya pun terlihat, setelah itu dia menundukkan badannya dan menikmati sajen yang di berikan oleh Nenekku tapi dia tidak menggunakan tangannya melainkan dengan lidahnya yang panjang menjilati satu persatu sajen yang diberika Nenekku mulai dari kopi pahit, kopi manis air kembang dan satu lagi dia sangat menikmati kemeyan saat nenekku membakatnya.” Teng... Teng... Teng...(Sura lonceng berbunyi) “Aduh, pelajaran sudah di mulai ini nanti kita sambung lagi aku penasaran dengan ceritamu Lan,” ucap Indra yang penasaran. “Iya nanti kita lanjut ceritanya pas istirahat,” sahut Wulan. Pelajaran mulai berlangsung murid-murid yang tadi sebagian berada di luar kelas sekarang sudah masuk duduk di kursi masing-masing menunggu Guru masuk ke dalam kelas untuk memberikan materi. “Selamat pagi?” ucap Pak Guru “Selamat pagi Pak,” sahut para murid serentak “Tolong buka halaman 1 sampai 5, di baca kalau tidak mengerti bisa di tanyakan yah,” perintah bapak Guru IPA. “Iya pak” ucap serentak semua murid. Namun di saat sedang asik membaca dan mencermati penjelasan yang ada di buku Wulan mulai di ganggu kembali oleh arwah Natta. Arwah Natta mulai menggoda Wulan saat itu Natta memainkan pulpen Wulan yang berada di atas meja, pulpen itu menggelinding ke kanan dan ke kiri Indra yang tengah fokus pun terganngu oleh aktifitas yang dilakukan Natta. Indra pun melirik ke arah Wulan, seakan-akan memberi isyarat. “Wulan...” ucap Indra berbisik. “Iya aku tahu Indra” sahut Wulan dengan nada berbisik. Namun semakin lama, Natta malah semakin mengganggu, mulai membalik-balikan buku yang di baca oleh Wulan, walaupun sudah berulang kali dia membenarkan halaman buku yang di baca namun Natta tetap saja mengganggu. Amarah Wulan mulai terlihat tampak dan dengan tidak sengaja Wulan mengucapkan suatu hal kepada Natta dengan lantang dan keras. “Natta cukup..... Jangan mengganggu terus!” kata Wulan nada yang lantang dan keras. Mendengar ucapan Wulan satu kelas, mulai menatapnya tidak kecuali Pak Guru yang langsung menegur Wulan. “Ada apa Wulan?” tanya Pak Guru yang terlihat kesal. “Eh anu tidak apa-apa Pak,” sahut Wulan. “Wulan kalau kamu berisik lagi Bapak tidak segan-segan mengeluarkan kamu!” ancam Pak Guru. “Baik Pak, maafkan Wulan,” kata Ulan dengan nada yang sedih. “Udah Wulan jangan kamu ladenin Natta memang seperti itu, kamu fokus aja,” Indra yang memberikan nasehat kepada Wulan. Mendengar nasehat dari Indra Wulan mulai belajar tidak peduli kepada Natta yang sedang mengganggunya. Sampai akhirnya pelajaran telah selesai dan waktu Istirahat telah tiba. “Lan ceritanya di kantin yuk, perutku lapar nih,” ajak Indra. “Udah kamu aja, aku di kelas saja,” sahut Ulan. “Udah tenang Wulan, aku yang telaktir kamu ayoo,” ujar Indra sambil menarik tangan Wulan. Setelah Indra memaksa Ulan, barulah Wulan mau di ajak Indra ke kantin. Sesampainya di kantin Indra memesan menu yang ada di kantin sekolah. “Bu aku pesan mie goreng dua bungkus terus telor mata sapinya dua, minumnya es teh. Kamu mau pesan apa Lan?” “Ya udah sama’in aja tapi mie dan telurnya satu saja Ndra. “Bu satunya sama mie goreng satu di tambah telur mata sapi minumnya es teh.” Ujan Indra yang memesankan makan untuk Ulan. “Sambil nunggu Lan, kamu cerita tentang Wanita yang mengganggumu di rumah nenekmu itu,” “Sampai mana aku cerita, aku lupa Ndra!” “Ya elah Lan, aku juga lupa bentar aku ingat-ingat dulu, mmmm...sampai nenek memberikan sajen Lan kalau tidak salah sih.” “O...iya pokoknya aku di hantui terus di rumah itu Ndra, sampai tadi malam aku bermimpi hal paling menyeramkan,” “Mimpi apa Lan?” tanya Indra dengan penasaran. Saat Wulan ingin melanjutkan pesanan makan mereka tiba. “Ini pesanannya,” ucap ibu kantin. “Terima kasih Bu,” Sahut dengan serentak mereka berdua. “Ayo Lan lanjut sambil makan,” pinta Indra. Wulan mulai menceritakan kembali mimpinya tadi malam. “Aku melihat Wanita itu gantung diri menggunakan kain jarik yang di ikat sampai panjang di tiang-tiang langit rumah.” “Arwah penasaran,” sahut Indra. “Maksudnya apa Indra?” tanya Ulan dengan penasaran “Ya mungkin yang ada di rumah kamu itu arwah penasara Lan, kan kebanyakan orang yang meninggal bunuh diri itu arwahnya gentayangan Lan” ucap Indra “Ah masa sih?” ucap Wulan yang belum percaya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN