Arwah penasaran

1135 Kata
“Begini loh Lan, biasanya kalau mereka meninggal secara tidak wajar arwah mereka akan menjadi arwah penasaran, dan kalau seperti itu dia akan mengganggu dan menghantui orang,” tutur Indra yang menjelaskan. “Oooooo... Seperti itu sepertinya kamu banyak sekali pengalaman di bidang seperti ini ya Ndra,” celetuk Wulan. “Bukannya seperti itu Lan, memang kebetulan mereka yang mendatangi aku itu adalah arwah-arwah penasaran, selain mereka bercerita kepadaku terkadang mereka juga meminta tolong kepadaku Lan ada urusan di dunia yang belum selesai.” “Oooo Begitu berarti Natta dan Wanita ada sesuatu urusan yang belum selesai dan ingin meminta tolong, apakah seperti itu Ndra?” tanya Ulan yang di buat Indra binggung. “Kalau Natta, sampai detik ini aku berkomunikasi dengan dia tapi dia selalu tidak pernah menjawab pertanyaanku Lan, dia hanya diam saja sampai akhirnya aku biarkan saja, tapi kalau Wanita misterius di rumahmu itu aku belum mengerti yah Lan, harus kamu sendiri yang menemukan jawabannya. Apakah ia ingin meminta tolong kepadamu atau sebaliknya dia hanya ingin mengganggumu saja,” tutur Indra yang menjelaskan kepada Wulan. “Iya sekarang aku mulai mengerti.” Saat Wulan sedang menikmati makannya yang hampir habis tiba-tiba ia melihat arwah Natta yang berjalan. “Indra itu Natta sebentar yah,” ucap Wulan. “Lan...Lan...mau ke mana?” tanya Indra dengan cemas. “Bentar Ndra!” sahut Wulan dengan teriak. “Aduh itu anak, Bu berapa semuanya?” Indra yang tergesa-gesa. “Semuanya 25,000 ribu dek,” sahut Bu kantin. Indra mengeluarkan uang di kantong saku bajunya lalu ia bergegas pergi meninggalkan kantin itu dan menghampiri Ulan. “Del kembalinya,” teriak Bu kantin. “Udah ambil aja Bu,” Sahut Indra dengan nada teriak. Wulan yang saat itu sedang mengikuti arwah Natta yang terus berjalan sampai ia berhenti di toilet siswa putri, Setelah itu arwah Natta kembali berjalan dan masuk ke dalam toilet itu Wulan pun mengikuti Natta sampai akhirnya Natta menembus salah satu toilet di paling ujung dengan pintunya di kunci secara permanen, di gembok. Saat itu kondisi di dalam toilet memang sedang sepi hanya Ulan saja yang berada di sana. “Natta kamu di sana? Sahut Wulan. “Kemarilah... Wulan tolong aku,” suara Natta yang merintih. Sementara itu Indra yang sedang berada di depan toilet siswa Wanita. “Aduhhhh... Pake acara masuk toilet cewek lagi, kalau ketahuan bisa bahaya ini,” gumam Indra yang sedang bingung. “Ya udahlah maju saja dari pada kenapa-kenapa tuh Wulan,” gumam kembali Indra. Akhirnya Indra pun memberanikan diri masuk ke toilet itu, terlihat Ulan yang sedang duduk di lantai toilet dengan ketakutan. “Lan...Lan...Lan...kamu enggak papa kan ini aku Indra?” ujar Indra yang berusaha menenangkan Ulan. Dengan refleks Wulan langsung memeluk Indra dan menangis. “A-aku melihatnya Ndra,” sahut Ulan dengan nada terbanta dan nafas yang begitu berat. “Sudah tenangkan dulu yah, hapus air matamu kita keluar dari sini yah, kalau sampai yang lain tahu kita aku masuk ke toilet cewek dan berdua-duaan sama kamu bisa bahaya ini Lan,” ujar Indra yang cemas. Wulan berusaha menenangkan dirinya dan keluar dari toilet itu, mereka berdua kembali ke kanti, lalu Indra memesan minuman agar Ulan tenang. “Bu, teh hangatnya satu,” ucap Indra. Setelah beberapa menit pesanan Indra datang yaitu teh hangat. “Minum yah Lan, habis itu kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Indra. Wulan mulai mengambil gelas yang berisikan teh hangat lalu meminumnya, Setelah meminum teh itu barulah Wulan mulai tenang dan mulai bercerita apa yang dia alami. “Tadi aku mengikuti Arwah Natta Ndra, dia menuju toilet siswa Wanita aku pun masuk, setelah masuk Natta menuju toilet yang paling ujung dan menembusnya tapi ternya toilet itu memang sengaja di tutup secara permanen dengan di gembok, lalu saat aku ingin memegang pintu toilet itu. Aku bisa melihat kejadian di mana Natta sedang ingin bunuh diri Ndra.” Ujar Ulan yang belum sepenuhnya menjelaskan kepada Indra. “Apa yang kamu lihat dengan mata batinmu itu, kamu baru saja sedang ngeFlashback kejadian masa lalu orang tersebut Lan, dan terus apa yang kamu lihat?” tanya Indra dengan penuh rasa penasaran. “Aku melihat sebelum Natta melakukan itu dia berbicara menyebut Ayah dan Ibunya meminta maaf karena Natta tidak bisa menjadi anak kebanggaan Ayah dan Ibu, Natta mengecewakan kalian,” Ulan yang menjelaskan dengan mata berkaca-kaca seakan-akan merasakan apa yang di rasakan oleh Natta. “Berti itu pesan terakhir Natta yang harus kita sampaikan kepada Ibu dan Ayahnya Lan, agar Natta dapat tenang” kata Indra yang menjelaskan. “Seperti ia Ndra, mungkin saja mengapa Natta tidak pergi dari sini dan kembali tenang ia ingin menyampaikan kata maaf untuk Ayah dan Ibunya.” “Eh tunggu,” sambung Wulan kembali. “Ada apa lagi Lan, bukannya sudah jelas tadi?” tanya Indra. Saat ingin mengucapkan sesuatu lonceng sekolah pun berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir. “Kamu kelamaan ceritanya si Lan,” ujar Indra yang sedikit kesal. “Kok aku yang salah, udah sehabis pulang sekolah kita bisa lanjut kembali ceritanya, yuk kita ke kelas,” ajak Ulan. “Bentar aku bayar minummu dulu Lan.” “Berapa Bu,?” tanya Indra kepada Ibu kantin. “Udah enggak usah Ndra, buat kamu gratis,” sahut Ibu kantin. “Terima kasih yah Bu,” sahut Indra. Mereka berdua pun mulai berjalan memasuki kelas. Sesampainya di kelas dan Guru pun sudah datang untuk melanjutkan pelajaran sebelumnya. Keadaan ruangan yang begitu tenang membuat proses belajar berjalan dengan lancar sampai beberapa jam, dan sampai pelajaran pun telah selesai. Lonceng sekolah kembali berbunyi menandakan waktu belajar telah usai. “Baiklah sampai di sini dulu materi pembelajaran yang bapak sampaikan anak-anak terima kasih, jangan lupa PR besok di kumpul,” ujar pak Guru Matematika. “Baik pak Guru,” serentak seluruh siswa menjawab. Wulan dan Indra bersiap-siap membereskan perlengkapan mereka yang terletak di meja, satu persatu mereka rapikan dan memasukkannya ke dalam tas, setelah selesai barulah mereka berdua bergegas keluar sekolah untuk pulang. Di tengah pejalan Indra yang ingat akan cerita Wulan yang belum selesai. “Lan, tadi kamu cerita belum selesai!” desak Indra. “Oya...hampir saja aku lupa. Begini setelah aku melihat kejadian itu aku melihat buah kalung Natta putus dan terjatuh di kamar toilet itu tepatnya di belakang WC duduk,” jelaskan Wulan. “Ah masa sih Lan?” tanya Indra yang sedikit ragu. “Serius Indra...Aku enggak lagi bercanda?” ucap Wulan yang berusaha meyakinkan Indra. “Natta minta tolong ambilkan itu dan tolong di kasih kepada orang tuanya dan permintaan maafnya, agar dia bisa tenang Ndra” ucap Wulan kembali. “Nah terus bagaimana kita bisa masuk ke toilet itu, sedangkan pintunya saja di kunci secara permanen saat kejadian Natta bunuh diri di toilet itu?” tanya Indra yang di buat binggung. “Entahlah Ndra aku juga bingung, besok kita pikirkan kembali,” kata Wulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN