“Dah... Ndra ketemu besok lagi kita pecahkan misteri kematian Natta,” ujar Ulan sembari melambaikan tangannya.
“Oke Lan, di tunggu besok,”
Dekatnya Wulan dengan Indra sekarang membuat Wulan mulai merasa dia tidak sendiri lagi. Ternyata masih banyak orang di muka bumi ini seperti dirinya salah satunya adalah teman sekolahnya yaitu Indra.
Dulu Wulan selalu merasa bahwa kelebihan yang di miliki dirinya adalah kutukan, namun dengan adanya Indra yang selalu membimbing dan menjelaskan sekarang Ulan lebih bisa menerima kelebihan, yang ada kepada dirinya.
Sesampainya di rumah Wulan melakukan aktivitas seperti biasanya walau pun ia sering di ganggu oleh sosok wanita misterius itu.
Kejadian aneh kerap sekali muncul di rumah itu, dan ini terulang kembali. Di saat itu Ulan sedang ingin mengambil baju yang ada di lemari, mengganti baju sekolahnya menjadi baju sehari-hari.
Entah apa yang di dalam pikiran dan benaknya tiba-tiba ia teringat dengan benda yang pernah ia temukan di dalam lemari itu berupa keris yang banyak ukurannya di bungkus dengan kain kuning. Di benak Ulan saat itu adalah benda pusaka peninggalan almarhum kakeknya.
Namun di saat Ulan ingin mengambil baju benda itu tidak ada di dalam lemarinya.
“Kok...keris almarhum kakek enggak ada di lemariku, apa di ambil Mbah yah,” gumam Wulan pada saat itu.
“Ah nanti aku coba tanyakan Mbah,” gumam kembali Ulan.
Setelah ia telah selesai mengganti baju sekolahnya Ulan menghampiri Mbahnya yang saat itu sedang berada di dapur, sedang memasak makan siang.
“Masak apa Mbah?” tanya Ulan.
“Ini loh sayur Nangka, sama goreng ikan,” sahut Mbah yang sedang meracik bumbu di atas cobek yang terbuat dari batu kali.
“Sini Mbah Wulan bantu mengulek bumbunya?” pinta Wulan.
“Memang kamu kuat Lan?” tanya Mbah yang meragu.
“Kuat dong,” sahut Wulan
Wulan mengambil cobek itu dan mulai menghaluskan bumbu itu dengan cara di ulek, sambil mengobrol agar pekerjaan tidak menjadi membosankan.
“Mbah Lan boleh tanya?” ucapku sambil menghaluskan bumbu.
“Apa itu Nduk,” sahut Mbah yang sedang memeras kepala untuk di ambil santannya.
“Begini Mbah, waktu Wulan pertama kali ke rumah Ini, dan membenahi baju ke lemari kamar, Ulan melihat sebuah benda berupa keris yang sangat bagus ukirannya di bungkus oleh kain kuning, itu peninggalan almarhum Kakek, lalu Udah Mbah ambil di lemari Ulan?” tanya Ulan.
“Kerissss... Seperti keris yang kamu lihat itu sudah lama menghilang semenjak kepergian almarhum kakekmu Lan!” ujar Mbah yang menjelaskan dengan yakin.
“Ah... Yang benar Mbah?” sahutku yang tidak percaya.
“Ia Nduk Mbah tidak sedang bercanda apa lagi sedang berbohong!” Mbah yang berusaha meyakinkan Ulan kembali.
“Tapi, Wulan yakin pernah melihatnya dan ciri-cirinya sama kan yang Ulan jelasan tadi,” Ulan yang binggung.
“Sama Nduk cirinya, tapi yang Mbah ceritakan itu benar, dulu memang keris itu ada dan di bungkus kain kuning, namun semenjak kakekmu menggunakan keris itu dan hanya dia yang tahu, Mbah tidak pernah melihat atau pun menemukan keris itu lagi,” sahut Mbah yang mencoba meyakinkan Ulan kembali.
“Yah mungkin itu hanya khayalan Ulan saja Mbah,” sahut Ulan.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan Lan. Kamu sudah selesai menghaluskan bumbunya,” sahut Mbah
“Ini, udah ini selesai Mbah,” ujar Ulan yang memberikan bumbu yang telah halus tadi.
“Mbah apa lagi yang mau di kerjakan?” Tanya Ulan.
“Udah tidak ada lagi Mbah, udah sana kamu nonton TV aja dulu Lan. Nanti kalau udah masakan matang kita makan berdua,” kata Mbah sambil memasak sayur nangka.
“Ia Mbah Ulan mau ke kamar dulu, mau ngerjain PR Mbah,” ucap Ulan.
“Ia Nduk, entar kalau sudah matang Mbah panggil.”
Aku pun bergegas meninggalkan Mbah dan kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh Bapak guru di sekolah.
Sesampainya di kamar aku, aku langsung mengeluarkan buku pelajaranku dan segera mengerjakan tugas-tugas sekolahku.
Saat aku tengah asik mengerjakan tugas sekolah tiba-tiba pikiranku kembali teringat kepada perkataan Mbah, tentang keris itu.
“Kok aneh yah, perasaan itu keris di kamarku kenapa sekarang enggak ada lagi kata Mbah, keris itu sudah lama hilang,” gumam batinku sambil memainkan pulpen yang ada di tanganku.
Brukkkk( suara pintu lemari yang terbuka sendiri)
Di saat Ulan tengah asik melamun dan memikirkan apa yang di ucapkan oleh Mbahnya tiba-tiba lemari baju Ulan terbuka pintunya sontak saja membuat Wulan menjadi kaget.
“Apa lagi ini...” gumam Ulan yang mulai cemas.
Wulan mulai berdiri dari meja belajarnya dan mendatangi lemari yang terbuka itu guna untuk menutup pintunya kembali. Namun saat ia ingin menutup pintu lemari itu begitu terkejutnya Wulan melihat benda yang terbungkus kain kuning di atas lipatan baju-bajunya dan seperti benda itu tidak asing untuk Wulan.
“Apa ini sepertinya aku pernah melihatnya!” gumam Ulan
Dengan sangat penasaran Ulan mengambil benda itu dan membuka kain kuning yang membungkus benda itu. Begitu terkejutnya saat mengetahui itu sebuah keris yang Wulan bicarakan tadi bersama Mbah. Yang pada awalnya keris itu tidak ada di lemari Ulan tiba-tiba muncul kembali.
“Ini keris yang di bilang Mbah hilang, aku akan memberi tahu Mbah agar Mbah percaya kepadaku,” gumam Ulan.
Wulan bergegas membawa keris itu untuk di tunjukkan kepada Mbahnya, dengan jalan yang sangat cepat Ulan ke dapur menemui Mbahnya.
“Mbah...Mbah...Mbah... Ini kerisnya,” panggil Wulan.
“Ada apa sih Nduk, kamu kok kaya melihat emas saja tergesa-gesa,” sahut Mbah dengan nada lembut dan tenang.
“Wulan menemukan keris yang Mbah bilang hilang itu Mbah. Di lemari Ulan menemukannya, saat Ulan lagi belajar lemari Wulan pintunya kebuka Mbah, terus Ulan datangi mau menutup pintu lemari, ehh.... Gak taunya menemukan keris ini di atas baju lipatan Ulan Mbah,” tutur Ulan yang menjelaskan kepada Mbahnya.
“Coba mana Kerisnya Mbah mau lihat?” tanya mbah yang penasaran ingin melihat keris itu.
“Ini Mbah,” ucap Ulan sambil menunjukkan benda yang ada di tangannya.
Melihat yang di bawa Ulan itu sebuah kain sarung, sontak Mbah ketawa.
“Mana Kerisnya Nduk, itu yang kamu bawa itu kain sarung Lan, ngelindur kamu Lan siang-siang hari bolong,” sahut Mbah sambil menyeringai lucu dengan kelakuan yang Ulan perbuat.
“Ulan enggak bohong Mbah tadi di tangan Wulan itu kerisnya Mbah, apa Wulan salah ambil coba Mbah ikut Ulan ke kamar liat di lemari Ulan,” ajak Ulan
Mereka berdua pun bergegas pergi menuju kamar Ulan.
Sesampainya di kamar, Wulan membuka pintu lemarinya begitu sangat terkejutnya keris yang dia lihat tidak ada di lemari bajunya. Wulan pun tak putus asa ia mencari se isi lemari untuk menemukan keris itu guna membuktikan kepada Mbahnya.
Namun semua itu nihil keris itu tidak ada sama sekali, Ulan mulai di buat bingung.
“Ada Lan? Tidak ada bukan, kamu ngelindur itu mungkin efek lapar, dari pada kamu pusing-pusing mikirin itu Nduk mendingan makan sama Mbah. Masakan udah matang!” ajak Mbah.
Melihat tidak ada keris di lemari itu, aku pun tak menghiraukan benda itu kembali. Karena aku juga tidak bisa memberikan bukti kepada Mbah dan akhirnya aku dan Mbah makan secara bersama-sama.
Dan memang kebetulan saat itu perutku sudah begitu sangat lapar.