Sumarni yang sedang tertawa itu akhirnya menoleh ke belakang dengan hanya memutar bagian kepalanya saja namun posisi badan tetap di posisi semula memperlihatkan wajah asli yang mengerikan kepada Tika.
Wajah penuh sayatan luka berdarah bola mata yang hanya berwarna putih di tambah lagi bau anyir darah yang ada di wajah Sumarni.
Sontak saja Tika langsung teriak dan berlari di dalam mimpinya.
“Kunnntiillllaannakkk...” teriak Tika sambil berlari.
Di dalam mimpi Tika sudah berlari kencang meninggalkan tempat Sumarni yang sedang duduk namun ia selalu kembali, dan kembali di ruangan di mana Sumarni sedang duduk.
Tika yang sudah kelelahan berlari terdiam berbicara memohon kepada Sumarni agar dirinya tidak di ganggu saat Sumarni mendekati Tika yang saat itu berada di hadapan Tika sembari memegang lengan Tika.
“Jangan mengganggu aku, aku tidak akan mengganggu Wulan kembali,” tutur Tika yang terdiam terduduk memohon kepada Sumarni yang berdiri di hadapannya.
“Aku mohon jangan mengganggu aku kembali, aku mohon,” Tika yang kembali mohon kepada Sumarni
Suara Tika yang memohon-mohon itu terdengar oleh kakak Tika yang sedang tidur di samping Tika, dan kebetulan Tika sedang tidur berdua dengan kakak perempuannya.
“De... Bangun, kamu mengigau De?” ucap kakak Tika sambil mengerak-gerakan tubuh Tika agar terbangun dari tidurnya.
Tika yang tengah tertidur terbangun dari tidurnya ia terkejut keringat dingin terlihat membasahi wajahnya.
“Kamu nggak kenapa-kenapa De?” tanya Kakak Tika yang khawatir kepada adik kesayangannya.
Melihat kakaknya di hadapannya Tika pun langsung memeluk dan menangis.
“Kamu kenapa?” tanya kembali kakak tika yang binggung dengan gelagat yang di buat oleh adiknya.
Tika yang di tanya sedari tadi tidak menjawab-jawab membuat kakaknya menjadi tambah binggung.
“Ya udah kamu tenangin dulu yah,” cakap kakak Tika yang memeluk Tika agar tenang.
Beberapa menit kemudian Tika mulai tenang dan bercerita kepada kakaknya.
“Mba, aku mimpi horor banget aku mimpi setan Wanita berbaju kebaya mukanya seram banget mengejar-ngejar aku,” kata Tika menceritakan mimpi yang membuatnya takut.
“Alah itu cuma mimpi De, bunga tidur gak usah di pikirin.”
“Tapi itu seram seperti nyata, apa lagi di saat dia di hadapanku seram banget, lenganku di tarik setan itu Mba, tapi lepas terkena goresan kukunya,” ujar Tika yang menceritakan peristiwa mimpinya itu
Kakak Tika yang tidak percaya akan hal itu menyuruh Tika untuk kembali tidur, namun tanpa sengaja ia memegang lengan Tika lalu Tika berteriak seperti kesakitan.
“Auuuwww,” teriak Tika tanpa sengaja.
Merasakan sakit dan perih di lengannya akhirnya Tika membuka lengan bajunya melihat apa yang terjadi.
Dan ternyata itu berupa luka cakaran yang lumayan panjang kurang lebih 10 centimeter. Dari sinilah kakak Tika mulai melihat keanehan ia tidak percaya namun cerita Tika yang di mimpi membuat goresan luka yang nyata.
“Mba luka ini nyata berarti mimpi itu beneran nyata Mba,” sahut Tika meyakinkan kakaknya.
“Udah ah, mungkin saja ini kebetulan kamu tergores apa tapi kamu tidak sadar De?” sahut kakak Tika.
“Ya udah yuk kita kembali tidur lagi, nggak usah terlalu di pikirkan sebelum tidur berdoa terlebih dahulu, entar kalau kita belum tidur ayah dan ibu nanti ke kamar mendengar suara kita belum tidur,” sambung kakak Tika memberi nasehat.
“Ia Mba, Mba jangan ke mana-mana yah!” pinta Tika.
“Ia Mba di sini yuk kita tidur ini udah larut malam lagi pula besok kamu sekolah,”
Mereka berdua pun melanjutkan tidurnya kembali di tengah malam yang sangat mencekam.
***
Sementara di rumah Sinta sendiri Sinta yang di rumah sendiri di temani oleh pembantu rumah tangganya Bi Ijah, sedang berada di ruang keluarga melihat acara televisi. Bi Ijah yang mengetahui majikannya belum tidur menghampirinya.
“Belum tidur Non?” tanya Bi Ijah.
“Belum Bi lagi nungguin papah dan mamah pulang,” sahut Sinta dengan datar.
“Oya tadi ibu dan tuan menelepon non, katanya mereka masih ada kerjaan, belum bisa pulang,” ucap Bi Ijah yang menyampaikan pesan dari ke dua majikannya.
“Ini udah larut malam, mereka berdua masih ada kerjaan nanti ujung-ujungnya nggak pulang lagi. Bisa gak sih mereka berdua itu meluangkan waktu untuk Sinta,” sahut Sinta dengan kesal mendengar pesan dari Bi Ijah.
“Sabar yah Non, kan tuan dan nyonya cari uang buat Non,” kata Bi Ijah menenangkan tuannya.
“Sinta butuh perhatian Papah dan Mamah Bi,” sahut Sinta yang kesal.
“Ya udah Non Sinta jangan sedih kan ada Bibi yang menemani non Sinta,” kata Bi ijah yang berdiri di samping Sinta.
“Ya udah Bi Sinta lapar Bi Ijah, bisa bikinin Sinta mie goreng, Sinta lagi ingin makan mie goreng Bi,” Sinta yang memerintahkan Bi Ijah membautkan mie goreng untuknya.
“Baik Non,” sahut Bi Ijah.
Bi Ijah yang bergegas meninggalkan Sinta untuk membuatkan makanan yang ia perintahkan.
Sinta yang masih duduk di sofa menonton acara televisi yang sedang berlangsung di sini teror Sumarni mulai terjadi kembali dan kali ini di Sinta.
Sementara jam sudah menunjukkan pukul 01.30 sudah mulai larut malam. Sekelebat bayangan putih lewat di samping Sinta, Sinta yang tidak menyadarinya mengira itu adalah Bi Ijah.
“Bi Ijah,,, Bi Ijah,” panggil Sinta kepada Bi Ijah sambil duduk di sofa.
Namun tidak ada sahutan dari Bi Ijah.
Dan saat Sinta ingin berdiri mencari Bi Ijah, tiba-tiba lagi Bi Ijah berada di samping Sinta.
“Ya ampun Bi Ijah, mengagetkan Sinta saja,” ujar Sinta.
Namun Bi Ijah tidak menyahuti ucapan Sinta pandangannya kosong dan dingin.
“Ini makanannya Non,” sahut Bi Ijah dengan ekspresi yang dingin menaruh makan di depan meja Sinta setelah itu pergi.
“Kenapa Bi Ijah tumben nggak seperti biasanya,” gumam Sinta sambil mengambil piring yang ada di depannya.
“Ya sudahlah lebih baik aku makan saja,” gumam Sinta kembali.
Sinta yang saat itu sedang lapar, menikmati makannya dengan sangat lahabnya.
“Tumben Bi Ijah membuat mie goreng senikmat ini,” gumam Sinta sambil menikmati mie goreng yang di suguhkan oleh Bi ijah.
Namun saat Sinta menikmati makannya dengan sangat lahabnya, tiba-tiba penglihatannya berubah mie goreng yang ia nikmati sedari tadi itu berubah menjadi ribuan ulat dan belatung yang ada di piring itu.
Sinta yang melihat hal sontak membuang dan melemparkan makan itu jatuh berserakan di lantai. Sinta yang melihat itu menjadi muntah-muntah di tempat.
“Uuuwee... Uuuwee....uweee,” Sinta yang sedang muntah seketika di tempat itu.
“Kenapa mie ini berubah jadi belatung, dan ulat,” gumam Sinta.
“Bi Ijah...Bi Ijah,” panggil Sinta kepada Bi Ijah dengan kesal.
Karena kesal Sinta teriak memanggil Bi Ijah untuk ia tegur dan memarahinya.
“Ia Non Sinta, sebentar lagi,” sahut Bi Ijah.
Sinta yang saat itu sedang sangat kesal sekali dengan pembantu rumah tangganya itu di pikiran Sinta, Bi Ijah sengaja melakukan hal tersebut kepadanya.