Sinta yang berusaha membangunkan Tiara dan Tika.
“Eh Tiara bangun,” ujar Sinta yang menepuk-nepuk pipi Tiara.
Selang beberapa menit Tiara mulai siuman.
“Sin hantu itu Sin,” ujar Tiara yang ketakutan.
“Dia udah hilang,” cakap Sinta yang memang lebih berani dari kedua temannya itu.
“Ayo kita pulang bangunin tuh si Tika!” Perintah Sinta kepada Tiara.
“Eh Wulan ke mana Sin?” Tanya Tiara yang binggung.
“Rupanya yang selama ini membatu dan menolong dia adalah si makhluk itu, kamu masih ingat berapa kali dia kita kunci di ruangan tapi selalu lolos,” Jelaskan Sinta kepada Tiara yang mengingat-ingat kejadian tempo lalu.
“Oooo iya Sin benar, wah berat ini Sin aku gak berani ikut-ikutan lagi Sin,” Tiara yang mulai takut mengambil resiko.
“Bentar Sin aku bangunin Tika dulu,” ucap kembali Tiara kepada Sinta menuju Tika yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
“Tika...Tika bangun,” ucap Tiara yang menepuk-nepuk pipi Tika.
Beberapa menit kemudian Tika mulai terbangun dan terkejut.
“Hanntuuuu.... Ada hantu,” teriak Tika dengan histeris.
“Ini aku Tiara sama Sinta, sadar Tika,” cakap Tiara yang masih berusaha menyadarkan Tika dari ketakutannya.
Setelah Tika mulai tersadar ia memeluk Tiara.
“Aku takut Tiara, aku takut,” berulang-ulang kata itu di ucapkan oleh Tika.
“Ia aku mengerti Tika, di sini Cuma ada Sinta aku dan kamu. apa hantu itu udah pergi,” Tiara yang masih berusaha menenangkan Tika.
“liat Sin Tika jadi seperti ini, dia takut banget,” sahut Tiara yang mulai menyalahkan Sinta.
“Ya udah kalau kalian tidak mau membantu aku lagi, aku masih bisa memberikan pelajaran kepada itu anak sendirian,” ancam Sinta kepada mereka berdua.
“Nanti yah Sin kita berdua butuh waktu untuk menenangkan diri,” ujar Tiara yang meminta waktu.
“Oke, ayo kita pulang,” ajak Sinta kepada kedua sahabatnya itu.
Mereka bertiga pun pergi dari gedung kosong tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.
Sementara Wulan yang telah sampai di rumah.
Tok... Tok... Tok (Suara mengetuk pintu)
“Assalamualaikum,” ucapku sambil mengetok pintu.
KELEK (suara pintu di buka)
“Walaikumsalam, baru pulang Nduk?” tanya Mbah yang membukakan aku pintu.
“Ia Mbah tadi ada les tambahan Wulan gak bisa pulang untuk pamit soalnya mendadak,” cakap Wulan yang berbohong kepada Mbah.
“Ya udah pasti kamu lapar ganti baju dan makan sana, tapi hari ini Mbah liat kok kamu kucel sekali pakaian mu kotor Nduk?” Mbah yang ternyata memperhatikan penampilan dan bajunya.
“Oh ini ia tadi di suruh bersih-bersih ruangan Laboratorium Mbah jadi kotor baju Lan,” ucap Wulan berbohong kembali kepada Mbah.
“Ya sudah ganti baju sana mandi setelah itu makan!” perintah Mbah kepada Wulan
Aku pun lalu melaksanakan perintah Mbah segera bergegas meninggalkan Mbah kembali menuju kamar untuk mengambil handuk, setelah itu barulah berulah menuju kamar mandi untuk membersihkan debu yang menempel di badan saat berada di tempat kejadian itu.
Setelah selesai membersihkan badan Wulan pun menuju meja makan untuk mengambil makan yang telah di sediakan oleh Mbah, saat sedang duduk dan menikmati makan Wulan teringat akan kejadian Mbak Sumarni yang menyembuhkan luka lebamnya oleh tamparan Sinta, saat Sumarni menjulurkan lidahnya Wulan terdiam terpaku melihatnya namun hatiku yakin bahwa Mbak Sumarni itu arwah penasaran yang baik jadi Wulan hanya terdiam saat Sumarni melakukan hal tersebut dan benar saja keyakinan itu Mbak Sumarni menyembuhkan luka lebam yang ada di pipi Wulan.
“Lan makan kok sambil melamun, gak baik Nduk kalau makan sambil melamun,” Mbah yang tiba-tiba datang menasehati Wulan menghilangkan lamunannya kepada Mbak Marni.
“Ia Mbah,” ucap Wulan kepada Mbah.
***
Malam pun telah tiba, Wulan memulai aktivitasnya seperti biasanya setelah selesai belajar atau mengerjakan tugas aku mulai bergegas menuju tempat tidur untuk beristirahat karena besok harus kembali bersekolah.
Namun tidak seperti Tiara dan Tika tepatnya malam itu mereka di teror oleh arwah Mbak Sumarni.
Saat Tiara sedang berada di kamarnya tiba-tiba di luar jendela terlihat bayangan Wanita memakai baju putih sedang melewati jendela Tiara.
Namun Tiara tidak sengaja melihat bayangan itu, dengan rasa takut dia menuju ke tempat tidurnya.
Menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Apakah kuntilanak itu mengikutiku sampai ke rumah,” gumam Tiara di dalam selimut.
Namun perasaan aneh muncul kembali Tiara merasa ada sesuatu yang meraba kakinya. Seketika itu Tiara melihat ke bawah kakinya ada sebuah tangan yang putih pucat dengan kuku yang panjang dan hitam sedang memegang kaki Tiara.
Sontak hal itu membuat Tiara terkejut dan berteriak.
“Aaaaaaaaaaaa, aku tidak akan mengganggu Wulan kembali,” teriak Tiara.
Teriakan Tiara terdengar oleh ibunya, lalu ibu tiara menghampiri Tiara ke kamarnya.
Terlihat Tiara yang duduk di pojokkan tempat tidur sambil menutupi wajahnya dan mengulangi kalimat yang ia ucapkan saat berteriak tadi.
“Tiara ini ibu, sadar kamu kenapa Tiara,” cakap ibu Tiara yang mencoba menyadarkan anaknya.
Seketika Tiara tersadar lalu memeluk ibunya.
“Ibuuuu....” ucap Tiara sambil memeluk ibunya.
“Kamu kenapa Tiara?” tanya Ibunya yang bingung akan sikap Tiara.
“Dia mengganggu Tiara bu,” sahut Tiara.
“Dia siapa? Maksudnya apa Tiara, coba jelaskan kepada ibu Tiara,” pinta ibu Tiara.
“I-itu Bu, kuntilanak itu,” sahut Tiara dengan nada gugup.
“Bu tidur bareng Tiara yah,” pinta Tiara yang masih saja ketakutan dengan kejadian itu.
“Ya sudah ibu temani Tiara tidur di sini,” sahut ibu yang mengiyakan permintaan Tiara.
“Makasih yah Bu,” ujar Tiara.
Hal yang sama di alami oleh Tika saat itu Tika yang tengah tertidur di kamarnya bermimpi menyeramkan.
Ia bermimpi di sebuah rumah kosong dan hanya dirinya saja yang ada di rumah tersebut.
Tika melihat seorang Wanita misterius yang mengenakan baju kebaya hitam motif kembang dan jarik, sedang duduk di kursi di depannya terdapat meja rias tempo dulu.
Wanita itu menyisir-nyisir rambutnya yang panjangnya sepinggang sambil bersenandung.
Senandungan Wanita Misterius itu membuat bulu kuduk menjadi berdiri dan merinding.
Tiba-tiba wanita itu berbicara kepada Tika tanpa menoleh Tika yang ada di belakangnya.
“Jangan mengganggu Wulan!” peringati Wanita misterius dengan suara serak dan berat.
“Siapa kamu?” tanya Tika dengan binggung.
“Aku Sumarni yang melindungi Wulan,” sahut Sumarni dengan lantang.
“Sumarni,” kata Tika sambil mengingat nama yang tidak asing itu.
“Aku tidak kenal dengan mu.”
“Masih ingat Wanita yang secara tiba-tiba muncul di belakang Wulan saat di gedung kosong itu.”
Mendengar hal itu sontak Tika sangat terkejut.
“Kau Kuntilanak itu,” celetuk Tika yang terkejut.
Tiba-tiba suara tertawa Sumarni yang melengking dan membuat orang yang mendengarnya menjadi merinding dan takut.
“Hi... Hi... Hi.... Hi...,” tawa Sumarni yang sangat melengking.