Wulan di sekap

1107 Kata
Sinta yang memerintahkan Tiara dan Tika untuk mulai mengikat Wulan di sebuah tiang kayu di dalam bangun kelas yang belum jadi tersebut. “ Lepaskan Tiara... Tika,” teriak Wulan yang mencoba memberontak dari genggaman tangan Tika dan Tiara yang mulai menjeratnya ditiang kayu itu. “Sudah diam saja kau Wulan,” bentak Tiara kepada Wulan. Wulan mulai ditarik paksa didekatkan di tiang kayu itu kedua tangannya pun di ikat di tiang itu. Perlawanan yang Wulan lakukan terhadap mereka semua sudah di kerahkan namun tetap saja hasilnya nihil, ia tak sanggup melawan mereka berdua karena tenaga mereka lebih besar ketimbang Wulan Di sini Wulan hanya bisa menangis memohon belas kasihan dari mereka dan meminta penjelasan kepada mereka mengapa mereka dapat berbuat seperti ini kepadaku. “Mengapa kalian melakukan ini kepadaku, apa salahku kepada kalian sampai kalian seperti ini,” tanya Wulan kepada mereka bertiga yang telah mengikatnya. “Heh... Wulan dari siswa terpintar, dengarkan yah salahmu itu banyak sekali, aku benci kepadamu karena kau bisa mengambil hati Indra,” sahut Sinta dengan lantang. “Indra, aku dengan Indra tidak ada apa-apa Sin bisa aku jelaskan semu ini Sin. Tolong lepaskan aku Sin,” tutur Wulan yang memohon kepada Sinta agar dapat melepaskan dirinya. “Ingat yah Wulan, kami bertiga tidak akan melepaskan mu, kami akan memberi pelajaran kepadamu terlebih dahulu agar kamu tidak berani main-main kepada Sinta, ha... ha... ha,” Sinta yang tertawa sangat puas saat itu. “Hiks... Hiks... Aku tidak ada apa-apa Sin dengan Indra,” sahut Wulan dengan menangis. “Sudahlah diam, memang kau tidak ada apa-apa dengan Indra tapi di sini Indra mulai menyukaimu Wulan,” Bentak Sinta kepada Wulan. “Tiara, Tika tutup mulutnya biar dia tidak terlalu banyak bicara lagi, barulah kita buat pelajaran kepada anak ini, biar dia tahu kalau dia sedang berhadapan dengan Sinta tidak main-main,” ujar Sinta memerintahkan Tiara dan Tika menutup mulut Wulan dengan plester yang telah di bawa oleh Tika di dalam tasnya. Setelah menutup mulut Wulan dengan menggunakan plester barulah mereka mulai memberi pelajaran kepada Wulan secara membabi buta. “Ehh... Dengar yah Wulan ini pelajaran buatmu jauhin Indra,” ucap Sinta dengan lantang dan melayangkan tangannya ke pipi Wulan sebelah kanan dengan sangat keras tamparan yang cukup kencang mengenai wajah Wulan. “Dan ini lagi untuk mu biar kamu benar-benar paham yah Wulan jauhin Indra,” satu buah tamparan lagi ke pipi Wulan sebelah kiri. Wulan tidak bisa berbuat apa-apa hanya tertunduk menangis menahan sakit hati dan sakitnya perbuatan yang mereka lakukan kepada Wulan. Setelah puas memperlakukan Wulan dengan sangat kasar, membaut luka lebam dan darah segar mengalir di ujung bibir Wulan Sinta the gang melaksanakan aksinya kembali. “Tiara, Tika buka baju Wulan kali ini aku mau mempermalukan dia bahwa seorang siswi yang sangat pintar membaut malu sekolah,” kata Sinta yang menyuruh Tiara dan Tika melaksanakan aksi keduanya. Wulan tidak bisa berbuat apa-apa berteriak pun tidak bisa hanya dapat meronta dan menggeleng-gelengkan wajahnya memohon agar mereka bertiga tidak melakukan aksi itu. Sinta yang saat itu tengah bersiap mengambil ponsel dan merekam hal yang membaut Wulan malu itu. Sementara Tika dan Tiara yang mulai mendekati Wulan dan membuka kancing baju Wulan satu persatu di saat ini lah ke jadian aneh mulai muncul. Angin deras yang entah datangnya dari mana muncul, setelah itu samar-samar terlihat Wanita berbaju putih berambut panjang terlihat di belakang Wulan. Sinta yang melihat dengan ponselnya saat ingin merekam Wulan terkejut melihat Wanita yang seperti kuntilanak itu di belakang Wulan laku melemparkan ponselnya ke tanah. Hal itu membuat Tiara dan Tika menjadi binggung dan menanyakan kepada Sinta. “Ada apa sih?” tanya Tiara. “Coba kalian liat di belakang Wulan,” ucap Sinta yang menunjuk kuntilanak itu. Tiara dan Tika yang di buatnya binggung mengikuti arahan Sinta mereka berdua melihat ke belakang badan Wulan dan betapa terkejutnya melihat sosok Wanita seperti kuntilanak dengan wajah penuh sayatan luka yang berdarah mata putih kuku panjang dan hitam ada di belakang badan Wulan. Mengetahui hal tersebut mereka bertiga pun terkejut dan mendekatkan diri satu sama lain. Lalu kuntilanak itu mendekati mereka berdua mengarahkan ke dua tangannya keleher Tika dan Tiara, mencekik mereka berdua dan melemparkan tubuh mereka berdua, seketika itu Tika dan Tiara langsung pingsan di tempat. Di sini Wulan hanya bisa melihat teman-temannya yang di beri bahkan di lukai oleh kuntilanak itu, dan hanya Wulan yang tahu bahwa kuntilanak itu adalah Sumarni yang menolongnya saat itu. Sumarni mulai mendekati Sinta. “Pergi kau... Jangan dekati aku,” ucap Sinta sambil teriak-teriak di depan Sumarni. “Pergi... Jangan dekati aku,” teriak kembali Sinta. Tanpa menghiraukan ucapan dan omongan Sinta, Sumarni terus saja berjalan mendekati Sinta lalu mencekik lehernya mengangkat tubuh Sinta dengan tinggi. Sinta yang memberontak memukul tangan Sumarni untuk berusaha melepaskan cekikan Sumarni kepada dirinya. “Kau harus MATI...” ucap Sumarni di depan Sinta sambil mencekiknya. Mendengar ucapan Sumarni, naluri kesetiakawanan Wulan mulai muncul ia ingin membantu Sinta dari Sumarni yang ingin membunuhnya, berusaha membuka ikatan yang mengikat tangan Wulan di tiang. Sementara itu Sinta mulai kehabisan nafas dan Wulan masih berusaha membuka ikatan di tangannya sega upaya yang Wulan lakukan dan akhirnya ia berhasil membuka ikatan di tangannya, Wulan melanjutkan kembali membuka plester yang ada di mulutnya dan mulai ia berteriak. “Hentikan... Mbak Marni Wulan mohon hentikan jangan bunuh Sinta,” teriaknya kepada Mbak Marni menyuruhnya tidak melakukan hal itu. “Dia telah menyakitimu Wulan,” sahut Sumarni dengan suara serak dan berat. “Jangan Mbak, dia teman Wulan Mbak, maafkan dia Wulan sudah melupakan kejadian ini dan memaafkan mereka semua,” sahutku memohon kepada Sumarni dengan air mata yang membasahi pipiku Seketika mendengar permohonan Wulan itu Sumarni melepas cekikkannya, Sinta yang terjatuh di lantai dan terbatuk-batuk akibat mulai kehabisan nafas. “Mbak mari kita pulang,” ajak Wulan kepada Sumarni. Setelah melepaskan Sinta Sumarni mendatanginya mendekati dengan sangat dekat sekali, hingga wajahnya dekat dengan wajahku mengulurkan lidahnya menjilat darah yang ada di bibir ujung akibat tamparan Sinta. Setelah selesai Sumarni menghilang, keanehan terjadi kembali luka lebam di pipi Wulan seketika hilang tidak ada luka satu pun yang tersisa, kejadian ini di lihat oleh Sinta namun tidak memperdulikan oleh Wulan. Wulan yang kasihan terhadap Sinta mencoba mendekati Sinta membatunya untuk berdiri. “Mari aku bantu,” cakap Wulan mengulurkan tanganku kepadanya. “Tidak perlu, aku bisa bangun sendiri hari ini kau menang di bantu dengan setan itu tunggu pembalasanku Wulan,” Sinta yang masih saja menaruh dendam kepadanya. Wulan tidak memperdulikannya mereka bertiga ia berjalan keluar dari gedung kosong itu untuk kembali pulang. sementara Sinta yang melihat teman-temannya belum sadarkan diri mendatangi dengan tertatih mencoba menyadarkan mereka berdua agar dapat segera bisa pulang dari gedung kosong itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN