Waktu istirahat telah tiba para murid keluar kelas dengan tertib, Sinta the gang rupanya telah mengatur rencana licik dan mereka sedang berdiskusi di kantin.
Sinta yang sedang memesan makan dan minuman di kantin itu.
“Bu, tes eh tiga sama baksonya tiga,” Sinta yang memesan kepada ibu kanti.
“Baik, Sinta,” sahut Ibu kantin.
Sambil menunggu makan dan minuman datang Sinta the gang memulai diskusinya dengan ke tiga temannya.
“Sin kamu punya ide? Mengajak Wulan agar mau ikut kita?” tanya Tiara.
“Oh ia yah, aku belum memikirkan sampai di sana?” sahut Sinta kepada Tiara.
“Aduh Sin... Agar Wulan tidak curiga dengan kita Sinta” sahut Tiara.
“Bagaimana kalau kita pura-pura mengajak dia untuk kerja kelompok di rumahku, habis itu kita bawa di ke gedung kosong itu,” celetuk Sinta yang memberikan ide atau pendapatnya.
“Aku setuju sepertinya ide bagus, lagi pula Indra hari ini tidak masuk jadi kesempatan kita mengerjai si Wulan lebih besar,” kata Tiara yang menyukai ide dari Sinta.
Tidak lama kemudian ibu kantin membawakan pesanan makan dan minum yang telah mereka pesan.
“Ini Sin pesanannya,” cakap Ibu kantin.
“Terima kasih bu,” sahut Tika dengan menyambut makan yang di bawakan Ibu kantin.
“Serius amat nih bertiga lagi diskusi apa sih,” celetuk Ibu kantin yang melihat mereka sedang berbicara dengan sangat serius.
“Ihh... Ibu mau tahu aja, ini rahasia anak muda,” celetuk Tika dengan polosnya.
“Ibu, ini masih muda Tika jiwanya hanya wajahnya aja yang mulai berkerut,” sahut ibu kantin yang membuat lelucon.
“Tua mah, ya tua bu... Dah Ibu sana gak nggak usah mendengarkan kita yang sedang merumpi,” kata Sinta menyuruh Ibu kantin itu pergi.
Setelah ibu kantin meninggalkan mereka bertiga barulah Sinta the gang melanjutkan diskusi merek untuk membawa Wulan ke gedung kosong yang ada di belakang gedung sekolahan. Sebenarnya gedung itu kosong itu adalah gedung yang di bangun oleh pihak sekolah untuk menambah ruangan kelas di sana namun karena dana yang mulai habis dan belum terkumpul kembali akhirnya gedung itu terbengkalai dan baru setengah dari pembangunan dan belum keseluruhan.
Sinta, Tiara dan Tika masih saja berdiskusi sambil menikmati makan yang mereka pesan, sedangkan Wulan sedang berada di kelas sendirian. Karena hanya Indra teman yang paling akrab kepadanya walau dibandingkan teman Wulan hanya merasakan nyaman dengan Indra, karena Indra dapat mengerti tentang Wulan dan mempunyai kesamaan dapat merasakan kehadiran makhluk tak kesat mata.
Selang beberapa menit bunyi lonceng yang has terdengar, menandakan bahwa waktu istirahat telah selesai.
Semua murid mulai berjalan memasuki kelas masing-masing untuk melaksanakan kembali pelajaran berikutnya begitu pula dengan Sinta the gang yang mulai berjalan masuk ke kelas untuk menerima pelajaran berikutnya.
Setiba di kelas mereka semua mulai menunggu guru masuk kelas untuk menerima materi pelajaran, dari pelajaran bahas Indonesia, Biologi, Fisika, Sejarah, Bahasa Inggris, dan geografi enam mata pelajaran di terima semua murid waktu itu sampai akhirnya tiba waktu untuk pulang, waktu yang di nanti-nanti oleh Sinta dan kawan-kawan untuk melaksanakan aksinya.
Lonceng sekolah mulai di berbunyi para Guru pun mulai mengakhiri pelajaran mereka dan pamit.
Pintu gerbang sekolah mulai di buka para siswa telah bersiap untuk pulang, di sini lah saat Sinta mulai ingin mengajak Wulan.
Wulan yang sudah mulai mengangkatkan kakinya keluar kelas, tiba-tiba dari arah belakang Wulan ada Sinta yang mengikutinya lalu menepuk pundaknya
“Lan, bantu aku hari ini bisa?” ucap Sinta yang memulai aksi mengelabui Wulan.
“Bantu apa Sin?” tanya Wulan yang binggung dengan ucapan Sinta.
“Mengerjakan tugas Biologi Lan, aku enggak paham mana besok di kumpul bagaimana kalau kita belajarnya di rumahku saja,” ajak Sinta kepadaku.
“Ohhh...itu yah Sin nanti aku bakal bantu kamu untuk mengerjakan tugas Biologi itu kok. Tapi aku harus pulang dulu pamitan sama Nenekku terlebih dahulu biar nanti beliau tidak khawatir kepadaku Sin,” ucap Wulan dengan polosnya kepada Sinta.
“Eh... Jangan Lan enggak usah pulang, kamu kan enggak tahu rumahku dan lagi pula nanti kalau aku telat pulang bisa di cariin sama Ayahku Lan,” Sinta yang terlihat panik dan mencoba untuk mencari cara dengan berbohong kembali.
“Aku enggak bisa Sin, kalau enggak pulang kasihan Nenekku menungguku di rumah, waktu aku terkunci di ruang laboratorium aku pulang telat dan Nenekku sangat khawatir kepadaku Sin,” ucap Wulan menjelaskan kepada Sinta kejadian itu.
Mendengar ucapanku raut muka Sinta the gang mulai berubah seperti rasa orang yang menyembunyikan kesalahan.
“Sudah begini saja dari pada kalian pada pusing, aku saja yang ke rumah Wulan memberitahukan kepada Neneknya bahwa Wulan sedang belajar kelompok di rumah Sinta pasti Nenekmu tidak akan khawatir Lan,” celetuk Tiara yang memberikan masukan kepada Wulan.
“Emmm... Ya sudah kalau begitu, aku ikut kalian, tapi kamu tahu kan rumahku Tiara,” Wulan yang bertanya meyakinkan Tiara.
“Tenang saja Lan, aku tahu kok, ya sudah yuk kita keluar aku ke rumah mu dulu Lan,” sahut Tiara yang bergegas meninggalkan Sinta, Tika dan Wulan.
Sinta dan Tika mulai keluar dari sekolahan itu, sedangkan Tiara hanya berpura pura pergi padahal dia tidak berniat untuk ke rumah Wulan apa lagi memberitahukan kepada Neneknya Wulan.
“Wulan...wulan kau sungguh sangat polos sekali, aku tidak akan memberitahukan Nenekmu untuk apa aku bersusah payah,” gumam Tiara dengan menyeringai jahat bersembunyi di belakang pohon bersama kendaraannya yang telah ia amankan agar tidak ketahuan memperhatikan Wulan dan Sinta telah pergi.
Setelah terlihat Wulan dan Sinta pergi Tiara ternyata malah mengikuti mereka di belakang dan tidak pergi ke rumah Wulan untuk memberitahukan kepada Nenek Wulan
****
Selang beberapa lama Wulan mulai bertanya kepada Sinta.
“Sin, rumahmu masih jauh,” sahut Wulan yang berada di belakang Sinta sedang di boncengnya.
“Bentar lagi sampai Lan,” sahut Sinta dengan santainya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di gedung sekolah yang kosong dan terbengkalai. Sinta, Wulan, dan Tika yang mulai turun dari motor.
“Ini kita sebenarnya mau ke mana Sinta, kenapa kita kok di gedong kosong ini tempat apa ini,” tanya Wulan yang mulai binggung
“Udah ikut aku sebentar,” kata Sinta yang tidak terlalu banyak berkata.
Karena aku tidak berpikir hal yang tidak-tidak mengenai mereka bertiga Wulan pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Sinta dan aku mulai mengabaikan pesan Mbak Marni yang di suruhnya berhati-hati.
“Sin kita mau ngapain di sini,” tanya Wulan yang mulai memasuki ruangan kelas kosong yang belum jadi sepenuhnya.
“Udah diam saja,” sahut Tiara yang telah kembali bersama mereka.
“Eh Tiara, bagaimana tadi waktu kamu ke rumah Nenekku ada berkata apa,” tanya Wulan dengan polos kepada Tiara.
Namun Tiara mengabaikan ucapannya tidak menjawab pertanyaan dari Wulan lalu dengan cepat Sinta mulai memberikan aba-aba kepada Tiara dan Tika.
“Udah langsung saja ikat dia di tiang itu,” kata Sinta kepada mereka berdua sambil mengunci pintu yang terdapat di ruang kelas itu.
Tiara dan Tika mendekati Wulan merek berdua mulai memegang tangan Wulan dengan paksa.
“Tiara, Tika kalian kenapa, ada apa ini sebenarnya Sinta kenapa kalian kasar kepadaku,” sahutku yang mulai ingin melepas pegangan Tiara dan Tika.
“Ayo Tiara dan Tika ikat dia di tiang itu dan tutup mulutnya biar dia tidak terlalu banyak bicara!” perintah Sinta kepada mereka berdua.