Malam mulai menjelang kebiasaan rutin yang Wulan kerjakan, setelah mengerjakan tugas sekolah seperti biasa Wulan dan Mbah bersantai di ruang tamu untuk menonton acara televisi bersama Mbah dan Ibu.
Ibu pun tidak pulang larut malam kali ini jadi kita bertiga masih bisa berkumpul walaupun sederhana namun ini sangat berkesan untuknya.
Jam sudah menunjukkan 21.00, ibu sudah menegur Wulan untuk segera tidur karena besok sudah mulai sekolah kembali.
“Wulan, kamu enggak tidur Nak ini sudah malam, besok kan kamu harus sekolah Nak,” tegur ibu kepadaku yang masih asik menonton acara televisi.
“Ia Bu sebentar lagi Wulan tidur!”
Sambil menunggu acara televisi yang Wulan tonton selesai barulah ia masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sementara Mbah sudah berada di kamarnya terlebih dahulu.
Setelah acara di TV itu habis barulah aku mematikan TV dan lampu-lampu di ruang tengah dan menuju kamar merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil mencari posisi yang nyaman untuk Wulan tidur sementara itu ibu yang di lihat oleh Wulan sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Namun di saat Wulan ingin memejamkan matanya terkadang masih teringat mimpi Mbak Sumarni, karena Wulan masih sangat penasaran ia mencoba memanggil Mbak Sumarni di dalam hati dan batinnya tapi tidak seperti biasanya Mbak Sumarni tidak terlihat dan tidak kunjung datang. Dan sepertinya rasa penasaran Wulan dengan mimpi Mbak Sumarni itu belum terobati.
“Semoga saja kali ini Mbak Marni datang kembali ke mimpi untuk melanjutkan ceritanya kemarin malam,” gumamnya di dalam hati.
Selang beberapa menit Wulan pun tertidur dan benar saja, ia merasakan mimpi berada lagi di rumah itu tepatnya di sebuah kamar yang pernah Wulan bermimpi pertama kali saat baru menginjakkan di rumah ini.
Wulan yang melihat Mbak Marni sedang duduk di meja riasnya sambil menyisir rambutnya, dan Mbak Marni saat itu memakai baju kebaya berwarna hitam dengan motif bunga dengan mengenakan bawahan berupa jarik.
“Kamu sudah datang Lan?” ucap Mbak Marni.
Wulan merasakan masuk ke dimensi lain di mana rumah atau tempat yang pernah dulu Mbak Marni tinggali. Karena Wulan binggung sedang berada di mana ia pun menanyakan kepada Mbak Marni.
“Wulan berada di mana ini Mbak?” tanya wulan kepada Mbak Marni.
“Ruangan ini adalah kamarku, yang sekarang menjadi kamarmu Wulan,” sahut Mbak Marni.
Wulan yang terkejut melihat sekeliling ruangan kamar ini berbeda dari yang dia tinggali sekarang, bentuk kamar itu lebih ke bentuk kamar tempo dulu di mana menggunakan tempat tidur yang kerangkanya dari besi meja hias dengan ukir-ukiran tiang-tiang rumah yang belum memakai plafon, lebih ke unsur jaman dulu.
“Ooo.... Jadi ini adalah kamar tempat Mbak Marni, pantas saja aku tidak asing melihat kamar ini sebelumnya,” ucap Wulan kepada Mbak Marni.
“Coba kau liat di atas kepalamu sekarang Lan, dan apa yang kau lihat!” Perintah Mbak Marni yang memerintahkan saat itu.
Tanpa ragu Wulan pun melaksanakan perintah Mbak Marni melihat di atas kepalanya apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Wulan mulai menoleh dengan pelan Wulan melihat tubuh yang tergantung dan ternyata itu Mbak Marni yang gantung diri di tiang-tiang langit terikat di lehernya selembar kain jarik yang ia gunakan untuk menjerat lehernya terlihat wajah yang membiru akibat aliran darah tidak jalan dan lidah yang menjulur keluar.
Melihat keadaannya seperti itu membuat aku tidak tega dan tidak kuas menagan kesedihan.
“Kenapa Mbak Marni melakukan hal itu,” tanya Wulan dengan sedih kepada Mbak Marni.
“Aku khilaf Lan melakukan hal itu, sekarang aku menyesal menjadi arwah penasaran aku tidak bisa kembali Lan,” ucap Mbak Marni yang membuat Wulan binggung.
“Kenapa tidak bisa kembali,” tanya Wulan yang binggung.
“Belum saatnya Wulan, aku kembali.”
“Setelah Mbak Marni melakukan hal itu lalu bagaimana dengan keluarga Mbak Marni,” Wulan yang menanyakan lebih rinci ingin mengetahui lebih detail peristiwa yang sebenarnya
“Karena rasa dendam kepada suamiku, lalu aku selalu menerornya, anak perempuanku mengalami sakit sampai akhirnya dia pergi Lan. Barulah rumah ini di jual dan berpindah kepemilikan sampai akhirnya kakekmu yang menempati rumah ini,” Sumarni yang menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Di saat aku melihatmu datang ke rumah ini, kau mengingatku dengan anakku Lan. Dan kau juga dapat melihatku sama seperti anakku yang dapat melihatku,” sambung kembali Mbak Marni.
“Ooooo jadi seperti itu ceritanya, ya sekarang Wulan mengerti semuanya Mbak Marni,” ucap Wulan kepada Mbak Marni terharu akan kisah keluarganya.
***
Keesokan harinya Wulan mulai masuk ke sekolah seperti biasanya. Tidak terasa sudah hampir satu bulan Wulan bersekolah di sana mulai terlihat teman yang benar-benar dan yang hanya sekedar teman.
Di pagi hari ini tidak melihat Indra seperti biasanya yang selalu mengagetkan Wulan, dari ia di jalan ingin berangkat sekolah sampai akhirnya tiba di sekolah dan duduk di bangku sambil menunggu indra yang belum kunjung datang.
“Tumben Indra jam segini belum datang ke sekolahan padahal dia gak pernah datang siang,” gumam Wulan yang sedang duduk di bangku kelas.
Teng...Teng... Teng...( lonceng sekolah).
Lonceng sekolah berbunyi dan pelajaran akan di mulai Indra belum kunjung datang juga.
Wali kelas kami pun datang untuk memberi materi pelajaran, dan memberitahukan kabar tentang Indra.
“Selamat pagi anak-anak, sebelum melanjutkan materi pelajaran kita kali ini, Ibu ingin memberitahukan kepada kalian bahwa teman kita Indra Purnama sedang sakit tidak dapat melaksanakan pelajaran seperti biasanya,” jelaskan Bu Fitri wali kelas kami.
Mendengar penjelasan Bu Futri hatiku pun tergelitik.
“Sakit apa yah tuh Indra, sampai-sampai tidak masuk sekolah, selepas pulang sekolah aku akan ke rumahnya,” gumamku di dalam hati.
“Murid-murid tolong kerjakan halaman 5 sampai 6 tentang tumbuhan Ibu ke kantor sebentar nanti kalau sudah selesai bisa di kumpul di meja yah, Ibu akan koreksi tugas kalian semua!” Perintah Bu Fitri.
“Baik Bu,” sahut serentak semua murid.
Ibu Fitri pun keluar kelar lalu menuju kantor guru.
Mendengar kabar Indra tidak masuk Sinta the gang merasa sedikit senang karena bisa dapat leluasa mengerjai wulan tanpa gangguan dan tanpa orang yang selalu membela Wulan.
“Sin Indra enggak masuk ini kesempatan kita memberi pelajaran si Wulan!” usul dari Tiara.
“Ia ini kesempatan yang sangat bagus,” sahut Sinta.
“Kau ada rencana apa Sin, untuk memberi pelajaran tuh anak,” tanya Tika.
“Bagaimana dia kita bawa di gedung kosong yang ada di belakang sekolah, di sana langsung saja kita beri pelajaran biar dia tidak mendekati Indra kembali,” Sinta yang memberikan usul tentang rencana liciknya.
“Sepertinya bagus idemu Sin,” ujar Tiara.
“Bagaimana kalian setuju?” tanya Sinta kepada Tika dan Tiara.
“Aku ngikut kamu,” sahut Tiara.
“Aku pun Sin,” ujar Tika.
“Oke, kali ini Wulan tidak bisa lolos dari perangkap kita lagi,” sahut Sinta dengan menyeringai jahat.
Ternyata Sinta the gang masih menaruh rasa kesal kepada Wulan karena dua kali rencananya gagal, dan Wulan masih saja dekat dengan Indra.