Tercium aroma bunga melati yang menusuk ke hidung mereka bertiga.
“Sinta, Tiara kau mencium bau kembang melati” Tika yang menanyakan kepada mereka berdua.
“Ia aku menciumnya,” sahut Sinta.
“Aku pun,” sahut Tiara.
Setelah mereka mencium wangi bunga melati yang sangat menusuk hidung terlihat bayangan putih samar-samar di ujung tembok Laboratorium. Tika yang awalnya melihat duluan bayangan itu memberitahukan kepada mereka berdua.
“Sinta, Tika itu apa,” Tika yang memberitahukan kepada kedua temannya dengan apa yang mereka lihat sambil memegang baju mereka berdua.
Mereka berdua melihat ke arah yang di beritahukan oleh Tika, bayangan putih samar-samar itu pun terlihat semakin jelas seorang wanita berbaju putih panjang namun tidak menginjakkan lantai seperti melayang, rambut yang terurai menutupi wajahnya tangannya dengan kuku yang panjang dan hitam.
Wanita itu mulai mendekati mereka bertiga sedikit demi sedikit Sinta the gang, melihat hal itu Sinta the gang berteriak meminta tolong sambil mengedor-gedor pintu Laboratorium.
“Tolong...Tolong... Siapa saja bukan pintu,” ucap Sinta the gang yang sangat ketakutan.
Namun Sumarni semakin lama semakin mendekati mereka dan memperlihatkan wajahnya yang tertutup rambut ke dua temannya tidak berani menoleh ke arah belakang hanya Sinta yang menoleh karena pundaknya di pengang oleh tangan Sumarni dan saat Sinta menoleh wajah pusat penuh darah dan luka goresan yang menghiasi wajah Sumarni di lihat oleh Sinta.
Melihat hal itu Sinta semakin ketakutan dan semakin mengedor-gedor dengan sangat keras pintu itu oleh kedua tangannya.
Namun keberuntungan masih berpihak kepada mereka bertiga, Mang Ujang yang akhirnya membuka pintu Laboratorium yang terkunci itu.
Sinta the gang pun tertolong dari aksi teror Sumarni.
“Kenapa kalian bertiga seperti orang ketakutan?” tanya Mang ujang.
“I-itu setan,” sahut Tika yang menunjuk ke ruangan Laboratorium.
“Mana ada neng Tika setan siang hari bolong gini neng” ujar Mang Ujang yang tersenyum mendengar ucapan dari Tika.
“Ia Mang Ujang beneran kita gak bohong,” sahut Sinta yang menegaskan kepada Mang Ujang apa yang di ucapkan itu benar.
“Bagaimana jika kalian bertiga ke rumah Mang Ujang terlebih dahulu biar kalian semau pada tenang,” kata Mang Ujang mengajak mereka bertiga.
“Ia Mang,” sahut serentak mereka bertiga dengan nada yang lemas.
“Tunggu sebentar, Mang ujang mengunci pintu ini terlebih dahulu.”
Setelah Mang Ujang mengunci pintu Laboratorium barulah mereka semua pergi meninggalkan sekolahan itu ke rumah Mang Ujang.
Sesampainya di rumah Mang Ujang, mereka bertiga di sambut ramah pula oleh istri Mang Ujang.
Mang Ujang menyuruh istrinya untuk membuatkan minum untuk Sinta dan kawan-kawan.
Di ruang tamu mereka bercerita, Mang Ujang yang menanyakan apa yang terjadi kepada mereka bertiga. Sinta yang menjelaskan tentang apa yang di alami mereka bertiga namun tidak menjelaskan secara detail kejadian yang mereka bertiga alami hal itu membuat Mang Ujang tidak percaya dengan apa yang di ceritakan mereka.
“Begini yah Neng Mang Ujang bekerja di sini udah sangat lama dari jaman muda dan belum pernah melihat hal-hal yang tidak kasat mata,” sahut Mang Ujang yang tidak begitu percaya kepada cerita mereka.
Di saat sedang asik bercerita istri Mang Ujang datang memberikan minuman kepada mereka bertiga.
“Diminum neng, maaf seadanya,” istri Mang Ujang yang menawarkan kepada mereka.
“Ia Mang Ujang terima kasih, dan untung mang ujang datang membukakan kami yang sedang terkunci,” tutur Tika.
“Mang Ujang menunggu kalian udah 2 jam belum nongol-nongol untuk mengembalikan kunci, dan akhirnya Mang Ujang mendatangi ke sekolahan dan ke ruangan Laboratorium dan di situ Mang Ujang melihat kunci yang terjatuh dan mendengar kalian bertiga mengedor-gedor pintu itu.”
“Terima kasih yah Mang Ujang, oh ya jangan cerita kepada siapa-siapa kalau kami terkunci di ruangan itu,” cakap Sinta yang meminta tolong kepada Mang Ujan.
“Ia neng tenang saja, aman kok,” sahut Mang Ujang.
Setelah selesai bercerita dan mulai tenang mereka bertiga berpamitan untuk pulang.
“Mang kami bertiga pamit pulang terima kasih Mang Ujang,” ucap Sinta yang pamit pulang.
“Ia neng sama-sama.”
Sinta dan kawan-kawan pergi menaiki sepeda motor Sinta sendiri mengendarai Tiara dan Tika berboncengan. Mereka bertiga tergolong orang yang mampu ketimbang Wulan yang sederhana.
Di dalam perjalanan Sinta menyuruh Tiara dan Tika ke rumahnya, untuk membicarakan keanehan yang terjadi. Lagi pula kedua orang tua Sinta itu jarang ada di rumah.
“Tiara, Tika mampir ke rumahku,” ajak Sinta.
“Oke Sin,” sahut Tika yang berada di belakang Tiara.
Setelah mereka sampai di rumah Sinta yang sangat mewah dan luas dan Sinta adalah anak satu-satunya dari Bapak Mahmud kepalan sekolah di SMP Negeri Tunas Bangsa.
“Ayo masuk, kita ke kamarku aja!” ajak Sinta ke Tiara dan Tika.
“Ayah, ibumu mana Sin?” tanya Tiara.
“Biasa mereka banyak urusan sibuk jarang ada di rumah.”
“Kalian berdua masuk ke kamarku duluan aku mau memanggil Bi Ijah dulu buat bikinin kita minum dan makan.”
“Oke Sin,” ujar Tika.
Sementara Sinta memanggil Bi Ijah untuk membuat makan dan minuman.
“Bi Ijah... Bi Ijah,” teriak Sinta memanggil Bi ijah.
Mendengar teriak Sinta Bi Ijah langsung mendatangi Sinta.
“Ia non ada apa?” tanya Bi Ijah.
“Tolong buatin teman Sinta minum dan makan Bi!” Sinta yang memerintahkan Bi ijah untuk membuatkan makanan.
“Baik Non,” sahut Bi Ijah
Setelah menyuruh Bi Ijah membuatkan makan dan minuman Sinta pun langsung masuk ke dalam kamar.
Di dalam kedua teman Sinta, Tiara dan Tika menunggu kedatangan Sinta.
“Lama banget Sin kamu ngapain aja?” tanya Tiara.
“Itu tadi memanggil Bi Ijah buat bikinin kalian makan dan minuman pasti laparkan kalian,” celetuk Sinta menggoda kedua temannya.
“Ia lah, berapa jam kita terkurung di ruangan Laboratorium, belum lagi tadi ada setan lagi di sana, pengalaman yang sangat tidak terlupakan,” sahut Tiara kesal mengingat kejadian itu.
“Ia benar kamu Tiara, oyah ingat gak waktu HP Sinta bunyi terus setan itu ngomong jangan ganggu Wulan,” kata Tika yang merasakan kejanggalan.
“Oh ia benar,” sahut serentak Sinta dan Tiara.
“Apa ini semua ada hubungannya dengan Wulan?” Tanya Sinta.
“Bisa jadi Sin!” kata Tika.
“Berti Wulan berteman dengan setan dong,” celetuk Tiara.
“Tapi masa iya sih,” kata Sinta sambil berpikir.
“Kalau ia kita dalam bahaya Sinta, kita bertiga bakal di teror,” jawab Tika.
“Entah Lan aku masih tidak percaya kalau Wulan berteman dengan setan,” ujar Sinta yang belum begitu yakin.
“Nah terus, bagaimana dia bisa lolos dari setiap ruangan yang kita kunci?” tanya Tiara.
“Bisa jadi itu kebetulan, ada yang membantu Wulan,” sahut Sinta.
“Yah semoga saja Wulan yang setan itu bilang bukan Wulan teman sekolah kita, tapi aku masih penasaran dan binggung setan itu tau kita mengganggu wulan Sinta,” sahut Tiara meyakinkan Sinta.
“Entah lah Tiara, semoga saja ia bukan Wulan itu yang setan Itu maksud.”
“Nanti kita pikirkan kembali bagaimana kita mengerjai Wulan kembali,” ucap Sinta kembali.
Mereka bertiga masih berdebat dengan sosok Sumarni yang mengganggu mereka tadi sekaligus merencanakan kembali rencana untuk memberi Wulan pelajaran.