Rencana Sinta yang gagal

1105 Kata
Setelah kami selesai sarapan di pagi hari, ibu melanjutkan untuk pergi bekerja. “Hati-hati Bu,” ucap Wulan sera mencium tangan ibu. “Ia Lan, ibu pergi dulu Assalamualaikum,” sahut ibu mengucapkan salam bergegas ke luar dari rumah. “Walaikumsalam.” Setelah semua pekerjaan selesai Wulan, kembali ke kamar ingin menanyakan tentang mimpi tadi malam kepada Mbak Sumarni. Sementara Sinta the gang telah sampai di depan sekolah. “Kalian berdua tunggu di sini, aku mau ke rumah mang Ujang dulu!” perintah dari Sinta kepada Tiara dan Tika. Rumah mang Ujang sendiri berada di dekat sekolahan tepatnya di belakang sekolah. Sinta yang telah sampai di rumah mang ujang. Tok... Tok... Tok... “Mang Ujang,” Sinta yang memanggil mang ujang dari luar pintu rumahnya. Mendengar suara yang memanggil dirinya Mang Ujang pun membuka pintu. “Eh... Neng Sinta, ada apa neng?” tanya Mang ujang kepada Sinta. “Begini Mang buku Sinta ketinggalan di ruang Laboratorium, Mang Ujang punya kunci serep ruangan itu kan,” kata Sinta yang berbohong kepada Mang Ujang. “Ia Neng ada ini, sebentar Mang ambilkan dulu kuncinya,” sahut Mang Ujang yang masuk ke dalam rumah kembali mengambil kunci serep kunci yang di minta Sinta. Beberapa menit kemudian Mang Ujang keluar kembali dan memberikan dua kunci kepada Sinta. “Ini Neng, ini satunya kunci gerbang sekolah satunya kunci ruangan Laboratorium,” ujar Mang Ujang yang memberikan kedua kunci tersebut. “Terima kasih Mang Ujang, nanti Sinta balikan lagi kuncinya ke tempat Mang Ujang.” “Ia Neng,” sahut Mang Ujang yang tidak mengetahui niat jahat Sinta. Setelah dapat kunci dari Mang Ujang, akhirnya Sinta kembali lagi ke depan gerbang sekolah dia mana kedua temannya Tiara dan Tika sedang menunggunya. “Lama banget Sinta pinjam kunci aja, mana harinya panas banget,” ujar Tiara yang mengeluh kepanasan. “Sabar Tiara, tunggu aja sebentar nanti juga Sinta datang kok,” sahut Tika yang menenangkan Tiara yang sedang bad mood Tidak lama kemudian Sinta menghampiri mereka dari kejauhan. “Itu Sinta udah,” ucap Tika yang memberitahukan Tiara. “Oh ia,” kata Tiara. “Lama menunggunya, ayo kita masuk aku udah dapat kuncinya nih, gak sabar aku mau liat wajah Wulan di Laboratorium karena terkunci semalaman di sana.” Mereka bertiga membuka pintu gerbang sekolahan lalu mulai masuk dan menuju ke ruangan Laboratorium. Sesampainya di depan pintu ruang Laboratorium Sinta mulai membuka pintu itu yang terkunci, setelah di buka Sinta memasukkan kunci itu di kantong celananya. Namun tak sengaja kunci itu terjatuh di lantai mereka bertiga tidak mengetahuinya dan masuk ke dalam ruangan itu mencari keberadaan Wulan. Mereka kaget karena tidak melihat keberadaan Wulan di ruangan itu. “Sialan tuh anak bisa keluar lagi dari ini, rencana kita gagal total. Dan aku binggung siapa yang membantu si Wulan itu tidak mungkin dia bisa kabur dari sini kalau tidak ada yang membatunya,” tutur Sinta yang karena rencananya telah gagal. “Benar katamu Sin, tidak mungkin dia bisa pergi dari sini,” ajak Tiara untuk meninggalkan ruang Laboratorium itu. Namun ke jadian aneh saat mereka di depan pintu Laboratorium untuk meninggalkan ruangan itu. Pintu itu tiba-tiba terkunci dengan sendirinya, dan sebenarnya yang mengunci pintu itu adalah Sumarni yang ingin memberikan pelajaran untuk mereka bertiga. “Sin pintunya terkunci, cepat buka pintunya,” cakap Tika kepada Sinta. Sinta mulai mengambil kunci itu dari kantong celananya namun ia mulai terlihat panik saat kunci itu tidak ia temukan di kantong celana. Melihat gerak-gerik Sinta yang mulai gugup akhirnya Tiara menanyakan kepada Sinta. “Kenapa Sin, ayo kita keluar dari sini,” ajak Tiara. “Kuncinya?” ucap Sinta yang gugup. “Kenapa kuncinya kan tadi kamu yang pegang Sin!” sahut Tiara yang menegaskan. “Ia Sin jangan bercanda,” celetuk Tika. “Aku enggak bercanda sama kalian tadi kunci aku taruh di kantong celana tapi kok gak ada, apa jangan-jangan kunci itu jatuh di luar saat aku masukkan di celana!” tutur Sinta yang mulai mengingat. “Lah... Bisa jadi coba di liat dari jendela Tika!” Perintah Tiara. Tika melaksanakan perintah ia pergi ke jendela memastikan kunci yang berada di luar, dan ternyata benar saja kunci itu jatuh di depan pintu. Mengetahui hal tersebut Sinta the gang mulai panik. “Sinta, Tiara kuncinya di luar dekat pintu,” teriak Tika memberitahukan mereka berdua. “Gimana ini Sin, kita terkunci di sini,” ujar Tiara yang mulai resah. “Ini semua gara-gara tuh anak, kita terkunci di sini,” sahut Sinta yang kesal. “Terus bagaimana ini kalau kita tidak bisa keluar dari sini,” celetuk Tika yang sudah panik. Mereka bertiga mulai panik dan mencari cara agar bisa keluar dari ruangan Laboratorium, tapi tetap saja tidak bisa. Namun Tiara mempunya ide bagaimana cara agar mereka bisa keluar dari sini. “Sin aku punya ide bagaimana jika kamu telepon ayahmu dan minta tolong hubungi Mang Ujang suruh dia bukakan pintu itu,” Tiara yang menyampaikan idenya kepada Sinta. “Ia Sin benar apa yang di bilang sama Tiara,” sahut Tika. Tanpa pikir panjang Sinta langsung mengambil ponselnya di dalam tas kecil yang ia bawa. Setelah ponsel itu ia ambil, Sinta langsung menghubungi nomor ayahnya. Namun keanehan mulai terjadi lagi, ponsel yang ia pengang tidak ada sinyalnya. Sinta memberitahukan kepada temannya dan menyuruh Tika dan Tiara untuk mengambil ponsel mereka masing-masing untuk menghubungi ayah Sinta. “Ponsel ku tidak ada sinyalnya, coba ponsel kalian,” kata Sinta kepada mereka. Mereka berdua mengambil ponsel mereka masing-masing dan melihatnya ternya apa yang terjadi kepada mereka sama dengan apa yang terjadi kepada Sinta, tidak ada sinyal di ponsel mereka semua. Mereka bertiga menjadi semakin panik dan cemas. Karena tidak ada yang bisa mereka lakukan akan tetapi di tengah-tengah kepanikan mereka ponsel milik Sinta yang sedang di memegang tiba-tiba berbunyi seperti ada yang meneleponnya namun nomor yang memanggil itu tidak tercantum. “Sin HP mu bunyi coba angkat,” celetuk Tika. Sinta mulai mengangkatnya dan menyalakan speaker ponselnya, terdengar suara yang wanita yang serak dan mengerikan. “Kalian jangan mengganggu Wulan hi...hi...hi...,” suara Sumarni yang serak di sertai tertawa yang sangat melengking membuat yang mendengar menjadi merinding. Sinta dan kawan-kawan sangat terkejut dengan sontak Sinta melempar HP nya ke lantai, lalu mati. Mereka bertiga menjadi semakin ketakutan karena mendengar suara Sumarni yang tiba-tiba muncul di HP Sinta. “Sin suara siapa itu,” sahut Tika yang mendekati Sinta ambil memegang lengan baju Sinta. Namun Tiara mencoba berpikir positif, “Mungkin orang iseng kali,” ujar Tiara yang menenangkan keadaan. Selang beberapa menit kemudian ke jadian aneh muncul kembali, kali ini Sumarni yang benar-benar akan meneror mereka bertiga, Sumarni yang akan membalaskan perbuatan mereka bertiga terhadap Wulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN