Sementara Sinta the gang sudah pulang di rumah masing-masing. Sinta yang sedang berada di kamar sedang di atas tempat tidur beristirahat mendapatkan ponselnya yang ia taruh di atas meja kamarnya berbunyi, ia lalu terbangun menuju ponsel yang terletak di atas meja itu.
Kringg...Kringg...Kring ( suara ponsel Sinta berbunyi).
“Halo Sin.”
“Ia ada apa Tiara, tumben kamu menelepon mengganggu waktu istirahatku saja.”
“Maaf Sin, aku mau ngasih tau sama kamu!”
“Ngasih tau apaan?”
“Eh... Besok bukannya tanggal merah Sin, besok kita enggak sekolah loh. Itu anak enggak apa-apa dua hari di ruangan Laboratorium apa enggak apa-apa tuh nanti Wulan, kalau ada apa-apa nanti urusannya bisa berabe Sin kita bisa ikut kena juga,” cakap Tiara dengan rasa khawatir di telepon.
“Oh ia benar juga apa kata kamu Tiara, kalau ada apa-apa sama tuh Wulan kita bertiga bakal kena masalah,” sahut Sinta yang mulai panik.
“Terus baiknya bagaimana?” tanya Tiara.
“Besok pagi-pagi kita bertiga ke sekolah entar aku yang, pinjam kunci sama mang ujang penjaga sekolah itu.”
“Oke deh Sin aku ngikut kamu aja.”
“Aduh ngerepotin banget tuh anak, oya entar tolong kasih tau Tika yah Tiara!”
“Oke Sin, ya udah yah aku Cuma mau memberitahukan itu saja. Selamat ketemu besok.”
Tut...tut...tut...
Tiara yang mematikan ponselnya dan segera menghubungi Tika untuk memberitahukan pesan dari Sinta.
Sedangkan Sinta yang kembali ke tempat tidurnya dan melanjutkan tidurnya kembali. Namun sebelum tidur Sinta pun terpikir oleh Wulan.
“Bagaimana nasib tuh anak yah, tapi biar’ in saja dah biar dia tahu rasa. Ini sedikit pelajaran buatmu Wulan jika kamu masih mendekati Indra lagi aku akan memberikan pelajaran lebih dari ini Wulan ha...ha...ha,” gumam Sinta dengan senang rencananya berhasil.
****
Hari mulai menjelang malam. Wulan sedang asik menonton TV bersama Mbah dan Ibu di ruang tengah.
“Lan kamu enggak belajar?” tanya ibu kepada Wulan.
“Enggak Bu, besokkan tanggal merah sekolah libur,” ujar Wulan kepada ibu yang masih asik melihat serial TV.
“Oh ia ibu lupa Nak,” sahut ibu dengan tersenyum.
“Besok Ibu libur kerja?” tanya Wulan yang berharap ibu meluangkan waktu untuknya.
“Maaf’ in Ibu Nak, Ibu besok ada kerjaan tidak bisa libur soalnya kerjaan ibu hari ini belum selesai,” sahut ibu yang merasa tidak nyaman dengannya.
“Yah Ibu,” ucap Wulan dengan kecewa.
“Nanti yah hari minggu Ibu libur sayang,” ujar ibu yang menghiburnya.
“Ya udah Bu, tapi benar yah Bu minggu Ibu libur,” kata Wulan yang menuntut ucapan ibu.
“Insaallah sayang, Ibu usahakan yah,”
“Makasih Ibu, Lan mau jalan-jalan ke pasar sama Ibu kalau Ibu libur kerja.”
“Ia Nak.”
Malam semakin larut obrolan kami bertiga di akhiri dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Ibu yang sudah tidur di sampingku, aku memperhatikan raut wajahnya yang lelah, membuat hatiku merasa bersalah kepadanya selalu menuntut waktu bersamaku padahal ibu sendiri sedang berjuang untuk kami.
“Maaf’ in Ulan yah Bu, terkadang Wulan egois kepada ibu ingin meminta waktu yang lebih dari ibu,” gumamku sambil melihat wajah ibu yang sedang tertidur dengan pulasnya.
“Wulan sayang sama ibu, Wulan akan berusaha menjadi yang terbaik buat ibu dan membanggakan ibu,” gumamku kembali mencium kening ibu.
Beberapa menit kemudian Wulan, mulai bermimpi di sebuah rumah kosong di sana terdapat Mbak Marni karena Wulan binggung berada di mana pada akhirnya Wulan bertanya kepada Mbak Marni.
“Mbak Marni, aku di mana rumah siapa ini?” tanya wulan kepada Mbak Marni.
“Rumah ini adalah rumahku bersama keluargaku sebelum rumah ini menjadi rumahmu,” sahut Mbak Marni.
“Rumahku,” sontak aku terkaget mendengar ucapan Mbak Marni.
“Ia Wulan, rumah yang kau tempati sekarang itu adalah rumahku bersama keluargaku,” kata Mbak Marni dengan suara yang serak dan berat.
“Boleh Wulan bertanya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mbak Marni dan rumah ini,” ujarku yang minta penjelasan dari Mbak Marni.
Mbak Marni mulai bercerita kepadaku tentang siapa dia dulunya.
Flashback
Sumarni dulu adalah kembang desa di kampung ini namun ia anak sebatang kara karena ayah dan ibu meninggal di saat Marni sudah beranjak dewasa. Banyak pria di kampung ini yang mengincar Marni dan melamarnya akan tetapi tidak ada satu pria yang bisa meluluhkan hatinya.
Sampai akhirnya Sumarni jatuh cinta kepada seorang pria yang bernama Joko dia buruh di perkebunan karet, rasa nyaman dengan pria itu menjadi rasa cinta dan mereka berdua sama-sama saling mencintai dan akhirnya menikah.
Awal pernikahan mereka sangat lah harmonis sampai akhirnya Sumarni mulai hamil dan di usia kandungannya yang menginjak usia lima bulan, Joko mulai berubah ia tidak sebaik dan seramah waktu bertemu dia di waktu awal.
Joko mulai jarang pulang ke rumah, gemar dengan minum-minuman beralkohol, bermain judi, Wanita dan melakukan kekerasan kepadaku, hingga dia sudah berani menjual warisan kebun karet milik ayah Sumarni
Sumarni pun melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik, rasa bahagia ia rasakan menjadi seorang ibu. Setiap Sumarni sedang menidurkan anaknya ia menyanyikan lagu tak lelo lelo ledung nyanyian yang selalu disenandungkan Sumarni di awal pertemuan.
Akan tetapi setelah kelahiran anak mereka, sampai berumur lima tahun Sikap suaminya tidak berubah sama sekali malah semakin menjadi-jadi. Tidak kuat menahan sakit hati yang begitu berat akhirnya Sumarni melakukan perbuatan bunuh diri di kamarnya dengan cara gantung diri.
Kamar tempat Sumarni bunuh diri adalah kamar yang Wulan tempati sekarang.
Tring... Tring... Tring...
Tiba-tiba alarm jam berbunyi menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Cerita Sumarni belum sempat berakhir.
Wulan sudah terbangun karena di kejutkan suara alarm Jam. Wulan langsung bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi ia melaksanakan kewajibkannya beribadah Shalat subuh.
Setelah selesai Shalat subuh, karena hari ini tidak sekolah jadi Wulan membantu Mbah membersihkan rumah dari menyapu sampai mengepel.
Setelah selesai semua baru membantu ibu memasak untuk sarapan pagi.
Tapi entah kenapa pikirannya saat itu malah terpikir dengan cerita Mbak Sumarni aku merasa iba kepadanya dan kehidupannya sampai akhirnya Mbak Sumarni mengambil jalan seperti itu.
Dan ternyata aku memang seperti anaknya, lalu kamar yang aku tempati saat ini tempat tragedi di mana Mbak Sumarni melakukan tindakan bunuh diri.
Tanpa terasa saat aku sedang membatu ibu memotong-motong sayur wortel tidak terasa air mataku menetes merasakan kepedihan, kekecewaan, sakit hati.
“Lan, ada apa Nak kamu terlihat sedih?” tanya ibu kepadaku.
“Emmm....Tidak apa-apa, mata Ulan kelilipan,” ujar wulan sambil mengusap matanya.
“Kalau kamu lagi tidak merasa enak badan bisa istirahat Nak!” sahut ibu yang mengira Wulan sakit.
“Enggak kok Bu, Wulan sehat kok,” sahut Wulan meyakinkan ibu.
Selang beberapa menit akhirnya semua masakan telah matang, kami bertiga menikmati makan secara bersama-sama.
Sederhana namun sangat berkesan Wulan masih bersyukur, walau ayah seperti itu namun ibu masih berjuang untukku. Tidak meninggalkan diriku.
Di dalam hatinya selalu berkata “Maaf’ in Ulan yang egois, yah bu”
Kebahagiaan itu sangat sederhana tergantung bagaimana kita menyikapinya.