Sinta yang saat itu sedang melaksanakan misinya ia bergegas untuk pergi ke ruangan Guru mencari kunci laboratorium, para guru sudah mulai tidak ada di ruangan itu hanya sebagian saja yang masih berada di ruang guru dan kebetulan mereka tidak menaruh curiga kepada Sinta karena mereka biasa melihat Sinta yang masuk ke ruangan guru.
Di saat para guru sedang lengah di situ Sinta mulai menjalankan tugasnya ia mengambil kunci Laboratorium yang tergantung di dinding bersama kunci-kunci ruangan lainnya.
Setelah Sinta berhasil mengambil kunci Laboratorium itu ia pun bergegas pergi dari ruangan kantor menuju ruangan Laboratorium untuk membukanya.
Setelah misi Sinta telah selesai ia mengambil ponselnya untuk memberikan pesan kepada teman-temannya bahwa tugasnya telah selesai.
Tidak perlu waktu lama untuk membujuk dan membohongi Wulan yang sangat polos itu.
“Lan bagaimana kita mengerjakan soal Kimia ini di laboratorium saja sambil praktik biar aku bisa lebih mengerti,” bujuk Tika kepada Wulan.
“Memang enggak di kunci ruangannya?” tanya Wulan yang ragu.
“Sepertinya belum sih Lan, kita coba dulu aja ke sana. Kamu ke sana aja duluan entar kami menyusul tunggu kami di ruangan Laboratorium,” ucap Tiara yang menyuruh Wulan ke ruangan Laboratorium.
“Baiklah kalau begitu aku menunggu kalian di sana yah,” sahutku yang mengiyakan ucapan Tiara.
Aku lalu pergi meninggalkan kelas dan menuju ruangan Laboratorium. Setelah sampai di ruangan Laboratorium yang tertutup aku lalu mencoba untuk membukanya ternyata benar apa yang di bilang oleh Tiara kalau ruangan itu tidak di kunci.
Tanpa pikir panjang Wulan langsung membukanya dan masuk ke ruangan Laboratorium itu menunggu mereka berdua di sini.
Wulan pun mulai masuk dan menutup pintu sambil mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman saat mengerjakan tugas nanti bersama Tika dan Tiara.
Setelah Wulan mendapat tempat duduk yang menurutny nyaman lalu ia mengeluarkan buku Kimia membaca-baca buku itu.
****
Sejam telah berlalu namun Tika dan Tiara tidak kunjung datang menghampiri Wulan.
“Ke mana Tika dan Tiara yah dari tadi tidak nongol-nongol aku sudah mulai jenuh menunggu mereka di sini,” gumam Wulan yang jenuh menunggu mereka berdua.
“Apa lebih baik aku pulang saja aja, takut Mbah mengkhawatirkan diriku karena telat pulang,” gumam Wulan kembali.
Karena Tika dan Tiara tidak kunjung datang Wulan membereskan kembali buku pelajarannya dan bergegas untuk pulang, akan tetapi di saat aku ingin membuka pintu ternyata kejadian ia terkunci di toilet tadi pagi kembali terjadi, dab kembali terkunci kembali di ruangan Laboratorium.
Wulan mulai mengedor pintu berteriak meminta tolong akan tetapi tidak ada satu orang pun yang masih berada di sekolahan, termasuk penjaga sekolah pun tidak ada mungkin karena telah mengira semua siswa telah pulang jadi penjaga sekolah tidak ada, di sini Wulan mulai panik kembali.
Sementara Sinta the geng sedang merayakan keberhasilannya di warung makan yang biasanya menjadi tempat favorit mereka.
“Ayo kita rayakan keberhasilan kita, silahkan makan sepuasnya aku yang traktir kalian berdua,” kata Sinta dengan memancarkan wajah kegembiraannya saat itu.
“Asikk... Makan sepuasnya kita Tiara,” sahut Tika yang sangat gembira.
“Ia kalian makan sepuasnya enggak usah malu-malu, ini semua karena kalian telah berhasil membatuku memberi pelajaran kepada tuh anak,” sahut Sinta dengan nada yang arogan.
Sementara di rumah Mbah yang menunggu Wulan di ruang tamu mulai tampak gelisah menunggu dirinya tidak kunjung pulang.
“Loh... ke mana ini Wulan udah sore kok belum pulang juga, biasanya kalau ada tugas pasti pulang dulu pamit baru pergi lagi,” gumam Mbah di dalam hati.
“Semoga saja dia cepat pulang,” gumam kembali Mbah yang sangat khawatir kepada Wulan.
Sedangkan Wulan yang masih saja berada di ruang laboratorium sudah hampir dua jam berada di ruangan itu, berbagai macam cara yang ia lakukan untuk keluar dari ruangan ini dari menggedor pintu, berteriak tapi sia-sia. Keinginan keluar dari jendela pun telah pikirkan tapai tidak bisa karena jendela di beri teralis besi sehingga tidak bisa untuknya keluar lewat jendela itu.
Di belakang pintu Wulan mulai terduduk air mata yang ia bendung akhirnya keluar sambil menundukkan kepalanya, Karena rasa kesalnya tidak bisa keluar dari tempat itu. namun saat Wulan sedang putus asa tercium aroma bunga melati yang sangat wangi sekali sampai wanginya menusuk hidup.
Lalu dari arah depannya terdengar seperti suara Wanita yang tidak asing, seperti suara Mbak Marni.
“Kenapa kamu menangis anakku,” ucap Mbah Marni yang berdiri tepat di depannya.
Mendengar suara yang tidak asing aku mulai mengangkat wajahku perlahan-lahan terlihat baju putih panjang di hadapanku tidak menyentuh tanah, aku coba mengangkat wajahku ingin melihat wanita itu. Dan benar saja Wanita itu Mbak Marni.
Wulan langsung berdiri dan memeluk Mbak Marni sambil menangis karena kesal dengan tindakan Tiara dan Tika yang meninggalkannya terkunci di sini sendirian.
“Mbak Marnii... Hiks...Hiks...,” sahut Wulan memeluk dan menangis kepada Mbak Marni.
Mbak Marni yang mengelus-elus rambutku mencoba untuk menenangkan dirinya.
“Kenapa kau menangis Wulan, aku di sini akan membantu dan melindungimu,” sahut Mbak Marni dengan suara yang serak dan berat.
“Terima kasih Mbak Marni, Lan tidak tau apa yang harus Lan lakukan jika Mbak Marni tidak ada di sini membantu Wulan,” ujar Wulan yang masih saja menangis.
“Sudahlah jangan menangis, aku akan membantumu membukakan pintu yang terkunci itu,” kata Mbak m**i yang memberikan bantuan kepada Wulan.
“Terima kasih Mbak Marni.”
Aku tidak begitu mengerti bagaimana cara Mbak Marni melakukannya, Mbak Marni hanya melihati pintu itu dan terdengar suara kunci yang terbuka. Lalu Mbak Marni menyuruh Wulan untuk membuka pintunya.
“Coba kau buka pintu itu Wulan?” perintah Mbak Marni kepadanya.
“Ia Mbak Marni,” sahut Wulan.
Wulan melaksanakan perintah Mbak Marni membuka pintu itu dan ternya pintu tidak terkunci lagi, lalu ia bergegas keluar dan pulang. Wulan meminta tolong kembali kepada Mbak Marni untuk menguncikan pintu Laboratorium itu agar tidak ada kecurigaan di besok pagi.Setelah selesai semuanya Mbak Marni pergi menghilang.
Hari ini dua kali Wulan di bantu oleh Mbak Marni dengan ke jadian yang sama dan aneh ada perasaan curiga terhadap Sinta the gang tapi Wulan belum berani menuduh mereka karena belum ada bukti bahwa semua itu ulah dari mereka.
Tidak mau ambil pusing dengan itu semua Wulan bergegas meninggalkan sekolah kembali ke rumah, karena yang ada di pikiran Wulan saat itu Mbah sangat khawatir kepadanya pulang tidak tepat waktu.
Setelah beberapa menit kemudian Wulan sampai di rumah, dan benar saja Mbah sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Assalamualaikum,” Wulan yang mengucapkan salam.
“Walaikumsalam, dari mana saja kamu Nduk. Jam segini baru pulang?” tanya Mbah kepadanya.
“I-Itu tadi kegiatan extrakurikuler tambahan Mbah,” kata Wulan yang gugup
“Aduh Wulan kamu buat Mbah khawatir aja, nanti kalau ada kegiatan sekolah pulang dulu sebentar, apa salahnya pulang sebentar memberi tahu orang rumah biar Mbah enggak ke pikiran Nduk,” Mbah yang menasehatinya.
“Ia Mbah maafiin Ulan, lain kali Wulan enggak akan melakukan hal itu lagi. Nati Ulan akan pulang memberitahu Mbah,” ujar Wulan yang sedih bahwa sebenarnya ada sesuatu yang terjadi kepadanya.
“Ya sudah, ganti baju sana pasti Wulan sangat lapar kita makan bersama,” ajak Mbak.
“Ia Mbah.”
Wulan bergegas pergi ke kamar meninggalkan Mbah di ruang tamu, saat di kamar ia mulai mengganti baju seragamnya dan kembali keluar kamar untuk makan bersama di meja makan sambil mengobrol dengan Mbah.
Mencoba melupakan kejadian yang Ia alami di sekolahan tadi. Rasa ingin ia bercerita semua kejadian yang telah ia alami di sekolah kepada Mbah tapi tidak ingin membuatnya bertambah khawatir kepadanya.