Wulan yang di bully

1130 Kata
Di saat Wulan mulai putus asa dan menyerah tidak dapat berbuat apa-apa di situlah keanehan mulai terjadi kembali, terdengar suara orang yang membuka kunci pintu itu. Mendengar suara itu aku langsung memegang kembali gagang pintu dan memutar lalu mendorongnya ternya pintu berhasil di buka. Saat pintu berhasil terbuka Wulan di kejutkan kembali oleh sosok Mbak Marni. “Ya ampun Mba Marni, Wulan kaget,” celetuk Wulan dengan spontan kepada Mba Marni yang tiba-tiba di depannya saat membuka pintu. “Wulan berhati-hatilah banyak orang yang tidak menyukaimu,” sahut Mba Marni. “Siapa Mba?” sahut Wulan yang penasaran. Namun Mbak Marni tidak menjawab pertanyaan Wulan tetapi dia malah menghilang. “Apa maksud Mba Marni berbicara seperti itu kepadaku yah, dan siapa yang tidak menyukaiku apakah aku berbuat salah sampai ada seseorang yang tidak menyukaiku,” gumam batin Wulan di dalam batin. “Ah... Sudahlah lebih baik aku kembali ke kelas saja nanti Bapak Guru bisa marah kepadaku,” gumam batin kembali. Akhirnya Wulan kembali ke kelas, sesampai di depan pintu kelas tidak lupa aku mengetok dan mengucapkan salam barulah Wulan masuk ke dalam kelas dan duduk kembali di kursiku. Namun aku mendapat teguran kembali oleh Pak Guru. “Wulan, kenapa ke toiletnya kamu lama sekali?” tanya Pak Guru kepada Wulan. Wulan pun terpaksa menjawab pertanyaan Pak Guru dengan berbohong karena tidak mungkin Pak Guru percaya kalau aku terkunci di sana. “Ini Pak, tiba-tiba perut Wulan sakit Pak.” “Ya sudah kerjakan, tugas di papan tulis ini, dan kumpul sebelum lonceng berbunyi!” perintah Pak Guru. “Ia Pak.” Sedangkan Sinta the gang mereka binggung melihat Wulan bisa keluar dari sana. Dan Wulan pun belum mengetahui siapa yang menguncinya di dalam toilet itu. Sinta, Tiara, dan Tika memasang wajah kesal karena rencana mereka untuk memberi pelajaran Wulan itu telah gagal. “Sial dia bisa keluar dari sana,” gumam Sinta dengan wajah yang kesal. “Tunggu kau Wulan, aku akan beru pelajaran lebih dari ini agar kau tidak mendekati Indra lagi,” gumam kembali Sinta dengan menatap wajah Wulan dengan Sinis. Dua jam pelajaran telah berlalu, Pak Guru mulai menyuruh semua murid untuk mengumpulkan tugasnya sekarang karena waktu pelajaran telah habis. “Ayooo... Semua kumpulkan tugasnya!” perintah Pak Guru ke pada semua murid. “Ia Pak,” sahut serentak semua murid. Semua siswa mengumpulkan tugas yang telah di kerjakannya di meja Pak Guru setelah selesai semua mengumpul tugas. Terdengar lonceng sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat telah mulai. Dan sebelum Pak Guru pergi dari kelas kami ia mengucapkan beberapa patah kata. “Terima kasih semau, pelajaran Bahasa Indonesia ini bapak akhiri.” Setelah itu Bapak Guru keluar dari kelar di susul semua murid, dan di sini Indra mengajakku ke kantin. “Lan ke kantin yuk,” ajak Indra kepadaku. Karena hari ini ibu lupa memberikan aku uang jajan, terpaksa aku menolak ajakan Indra. “Aku di kelas aja ndra?” sahutku. “Ayolah aku yang bayar, anggap ini permintaan maafku kejadian tadi yah Lan!” Indra yang memaksaku. “Udah kamu aja yang ke kantin aku di kelas aja,” kata Wulan yang menolak ajakan Indra kembali. “Kalau kamu gak mau ikut aku anggap kamu masih marah degan aku, lagi pula aku tidak akan melarangmu dengan Mbak Marni,” ujar Indra yang memaksanya. Dengan rasa tidak nyaman karena aku sering di traktir olehnya akhirnya aku mengiya kan ajakan Indra. Di sisi lain Sinta the gang memperhatikan Wulan dan Indra yang sedang berbincang-bincang dan mereka berdua pergi keluar kelas menuju kantin. “Dasar semakin akrab saja mereka berdua,” ujar Sinta. “Sepertinya saingan mu berat Sin!” cakap Tiara. “Hah... Saingan dia belum tahu siapa Sinta!” ujar Sinta dengan sombong. “Ia benar Sin, Wulan belum tahu siapa kamu,” sahut Tika. “Oya kira-kira kalian ada ide untuk membuat pelajaran si Wulan itu,” tanya Sinta kepada Tiara dan Tika. “Bagaimana jika dia kita kunci dia di ruang laboratorium,” celetuk Tiara. “Bagaimana menjebak dia agar mau ke ruangan itu?” tanya Sinta. Tiara mulai menjelaskan rencana jahatnya kepada Sinta dan Tiara. “Begini kau Sin bisa ambil kunci di ruang Guru tanpa di ketahui oleh Guru-Guru yang lain lagi pula kau anak kepala sekolah jadi bisa masuk ruangan Guru dengan leluasa. Setelah kunci di dapat aku dan Tika yang menjebak Wulan masuk ke ruangan itu dengan alasan kau menunggunya di sana suruh dia masuk terlebih dahulu, setelah si Wulan itu masuk baru kau kembalikan kunci itu kembali. Bagaimana menurutmu rencanaku,” ucap Tiara yang menjelaskan rencananya dengan detail. “Bagus aku setuju dengan rencana Tiara, kalau kau Sin? Tapi kapan kita mulai aksi ini?” sahut Tika. “Baiklah idemu sangat bagus Tiara, dan kita mulai aksi Ini selepas pulang sekolah biar kapok tuh anak!” ujar Sinta yang menaruh kebencian dengan Wulan. “Oke baiklah,” sahut serentak Tiara dan Tika. “Jadi semua sepakat yah!” tanya Sinta kembali memastikan. “Oke Sin kami akan membatumu,” sahut Tika. “Ha... Ha... Ha mampus kau Wulan,” Sinta yang tertawa jahat. Di sambung oleh teman-temannya tertawa dengan jahat. Sementara Wulan sedang berada di kantin bersama Indra ia tidak mengetahui bahaya apa yang akan terjadi kepadanya saat itu. “Mau tambah lagi Lan?” tanya Indra menawarkan makan yang di kantin. “Udah cukup Ndra, ini udah full banget perutku, oyah makasih traktirannya dan maaf buat kejadian tadi pagi membuat kamu kesal sama aku.” “Aduh Lan santai aja kaya kita baru kenal sehari aja, aku itu kalau udah ya udah Lan gak akan di perpanjang lagi,” sahut Indra dengan senyum karena kita udah baikkan. “Makasih yah Ndra, kamu teman aku yang baik dan pengertian,” puji Wulan kepada Indra. “Wih jarang-jarang nih seorang Wulandari memuji,” kata Indra yang meledak Wulan. “Apaan sih Ndra, yuk kita ke kelas,” sahut Wulan dengan wajah memerah. Aku dan Indra pun kembali ke kelas karena jam Istirahat telah habis dan lonceng sudah berbunyi. Dan melanjutkan pelajaran kembali. jam demi jam telah berlalu mata pelajaran satu persatu telah usai lonceng yang menandakan isyarat berakhirnya kegiatan pembelajaran telah berbunyi dan tibalah waktu untuk pulang. Di saat aku ingin pulang bersama Indra. Tika dan Tiara mereka berdua berjalan menghampiriku. “Lan kamu mau pulang?” tanya Tiara. “Ia ada apa Tiara?” Tanya aku kepada Tiara. “Ada yang pelajaran yang ingin aku tanyakan sama kamu, soalnya aku enggak mengerti!” sahut Tiara yang membuat alasan untuk menahan Wulan pulang. “Ayo Lan pulang?” ajak Indra yang menunggu Wulan untuk pulang bareng. “Ya udah kamu duluan aja pulangnya,” sahut Wulan yang menyuruh Indra untuk pulang duluan. Indra akhirnya meninggalkan Wulan bersama Tiara dan Tika di kelas sedangkan Sinta tidak melihatnya bersama mereka berdua saat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN