Keesokan paginya dengan Indra yang penuh semangat pergi ke sekolah untuk bertemu Wulan, untuk menceritakan mimpi yang ia alami tadi malam. Mimpi di mana Mbak Marni memperingati dirinya agar tidak mendekati Wulan dan menjauhinya.
“Enggak sarapan dulu Ndra!” ucap ibu Indra yang menyuruhnya.
“Enggak Bu, Indra mau cepat-cepat berangkat Bu,” ujar Indra dengan tergesa-gesa.
“Ya udah hati-hati di jalan,” sahut ibunya.
“Baik Bu, Indra berangkat dulu yah Bu,” pamit Indra kepada ibunya yang tergesa-gesa.
“Haduh... Anak ini tumben sekali berangkat dengan tergesa-gesa,” gumam ibu Indra di dalam hatinya.
Indra pun pergi dengan langkah kaki yang cepat tidak lama kemudian ia bertemu denganku yang sedang santai berjalan kaki.
Indra mempercepat laju langkah kakinya untuk menghampiri diriku. Setelah merasa dia sudah dekat di belakangku Indra lalu menepuk pundak ku.
“Indraa... kamu mengagetkan saja,” celetuk Wulan dengan spontan.
“Aku mau cerita nih, sama kamu Lan”
“Cerita apaan?” sahut Wulan yang binggung.
“Tadi malam aku mimpi seram dan aneh! Ujar Indra yang mulai ingin menceritakan mimpinya.
“Mimpi apa bukannya udah biasa mimpi seram!” sahutku yang mengejeknya.
“Haduh... ini beda Lan.”
“Apaan sih Ndra?” tanya Wulan yang mulai penasaran.
“Aku tadi malam mimpi di datangi Wanita yang ada di rumahmu namanya Su- Sumar apa yah aku lupa,” ujar Indra yang berusaha mengingat nama Wanita yang datang di dalam mimpinya saat itu.
“Sumarni Ndra,” sahut Wulan secara spontan.
“Ya itu,,, dia datang ke mimpiku dengan wajah tidak terlalu terlihat karena rambutnya menutupi wajahnya, dan memakai baju putih yang panjang. Mbak Marni itu berbicara kepadaku agar tidak mendekatimu, aku di suruh menjauhimu Lan,” turut Indra yang menjelaskan mimpinya tadi malam.
“Ah... Masa sih Ndra Mbak Marni seperti itu, aku kurang yakin dengan apa yang kamu ucapkan lagi pula tadi malam aku serasa tidur di temani dirinya,” kataku kepada Indra yang tidak percaya dengan apa yang ucapkan olehnya.
Aku dan Indra mulai sedikit berdebat sepanjang jalan, karena menurutku Mbak Marni adalah arwah yang baik memang dia tidak ingin aku dekat dengan Indra tapi mungkin karena rasa sayangnya kepadaku dan Indra ingin aku menjauhi Mbak Marni membuat Mbak Marni tidak terlalu suka aku dekat dengan Indra.
“Ya sudah Lan kalau kau tidak percaya denganku,” sahut Indra dengan nada marah kepada Wulan.
Indra sedikit marah kepadaku karena aku tidak mendengarkan mempercayainya.
“(Menghela nafas), bukanya seperti itu Ndra, ia aku percaya kok kepadamu tapi di sisi lain, Mbak Marni memberikan kasih sayang seperti kasih sayang ibuku yang sudah lama tidak aku dapatkan lagi.”
“Ya sudah kita tidak usah membahas itu kembali aku minta maaf,” sahut Indra mendinginkan keadaan.
“Aku pun minta maaf yah.”
Perdebatan kami berdua telah usah, kami mulai memahami satu sama lain, begitu pun Indra.
Sampai akhirnya kami berdua sampai di kelas sudah hampir 3 minggu aku sekolah di sini tidak ada kendala apa pun dan teman-teman baik kepada Wulan
Namun di pagi ini Sinta, Tiara, dan Tika tidak seperti biasanya kepadaku sikap mereka berubah 100 derajat awalnya mereka baik kepadaku tapi hari ini mereka tidak seperti biasanya.
Mereka bertiga mendatangi aku yang sedang duduk bangkuku, di saat Indra sedang tidak berada di kelas.
Sinta berbicara dengan nada yang cukup tinggi kepada Wulan.
“Eh Wulan, aku lihat semakin hari kamu semakin mesra aja dengan Indra?” Tanya Sinta dengan nada sinis.
“Apa maksudmu Sinta, aku tidak mengerti?” tanya Wulan dengan bingung kepada Sinta.
“Alah... Alasan itu Sin,” sahut Tika yang mengompor-ngompori Sinta.
“Ehhh, ingat yah Wulandari aku diam bukan berarti aku tidak memperhatikan kamu dengan Indra, dan sekali lagi aku tegaskan jangan terlalu dekat dengan Indra kalau kamu tidak mau kena masalah dengan kami bertiga, ingat camkan itu,” gertak Sinta dengan keras.
Namun aku masih binggung apa yang membuat mereka bertiga marah kepadaku, padahal aku tidak melakukan salah apa-apa, dan aku mencoba bertanya kembali kepada Sinta.
“Sebenarnya ini ada apa Sinta kenapa kamu marah denganku dan yang lain pun ikut marah denganku, apa salahku?” tanyaku
“Sudahlah aku malas mendengar, ucapanmu dan sudah aku peringatkan jauhi Indra, atau kau akan berurusan dengan kami,” ujar Sinta yang menegaskan kembali.
Teng...Teng... Teng ( suara lonceng sekolah berbunyi).
Mendengar lonceng telah berbunyi mereka bertiga kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Begitu pun dengan Indra yang telah masuk ke kelas dan duduk bersama diriku kembali.
Di setiap pelajaran aku hanya terdiam memikirkan apa yang di maksud oleh Sinta dan yang lain, karena aku terlihat berbeda dari sebelumnya Indra mulai bertanya kepada Wulan.
“Ada apa Lan, kok dari tadi kamu diam aja apa kamu masih marah sama aku?” tanya Indra kepadaku.
“Enggak kok,” sahut Wulan yang datar kepada Indra.
“Lah... Terus kok diam aja?” Indra yang bertanya kembali kepada Wulan.
“Enggak papa Indra, aku enggak kenapa-kenapa,” sahutku yang menegaskan kepada Indra.
“Ia... ia ya sudahlah kalau begitu, aku minta maaf yah atas omonganku tadi pagi,” Indra yang binggung dengan sikapku.
“Kenapa harus minta maaf, kamu enggak salah kok.”
Karena aku dan Indra kebanyakan berbicara di jam pelajaran guru pun menegur kami berdua.
“Indra, Wulan, kalian Bapak lihat berbicara terus yah. Kalau Bapak liat kalian berdua berbicara lagi Bapak tidak segan-segan mengeluarkan kalian berdua di mata pelajaran Bapa,” teguran Bapak guru kepada Wulan dan Indra.
“Ia Pak,” sahut serentak Wulan dan Indra.
Kami berdua akhirnya sepakat tidak berbincang kembali karena takut mengganggu siswa yang lain dan dapat teguran dari Bapak Guru.
Namun di tengah pelajaran berlangsung, aku merasa ingin sekali ke toilet, dan aku pun ijin ke toilet kepada Bapak Guru.
“Permisi Pak,” ucap Wulan dengan mengacungkan tangannya.
“Ya ada apa Wulan dari?” tanya Pak Guru kepada Wulan.
“Permisi Pak saya mau ijin ke toilet Pak?” sahutku kepada Pak Guru.
“Ya sudah silahkan, kalau mau ke belakang,” sahut Pak Guru yang mengizinkan Wulan.
Tanpa menunggu lama Wulan langsung cepat-cepat bergegas karena tidak tahan lagi ingin membuang air kecil.
Setelah Wulan sampai di toilet wanita, Sinta dan kawan-kawan ikut meminta ijin ke toilet dengan alasan yang sama dengan Wulan.
Namun Pak Guru tidak curiga sama sekali dan mengizinkan Sinta beserta dua temannya Tiara dan Tika.
Setelah mereka bertiga berhasil membohongi Guru mereka bertiga ke toilet untuk mengerjai aku. Setelah sampai di toilet Wanita dan memastikan aku berada di dalam Sinta mulai atraksinya ia menguncikan pintu toilet dari luar sehingga aku tidak bisa keluar dan mereka terburu-buru pergi agar tidak ketahuan oleh diriku.
Begitu paniknya saat telah selesai membuang air kecil aku ingin membuka pintu namun tidak bisa, aku coba menggedor-gedor pintu itu dan mencoba menarik atau mendorongnya secara paksa namun tidak bisa juga.
Di sini aku mulai berpikir aku terkunci di dalam, aku mulai berteriak meminta pertolongan agar ada yang membukakan pintuku
“Tolooongggg... Ada orang di luar?” teriak Wulan berharap ada orang yang menolongku.
Namun semua hanya nihil tidak ada satu orang pun siswa yang keluar di jam pelajaran sekolah, Wulan mulai panik dan binggung saat itu bagaimana jika ia nanti dapat di marahi oleh Pak Guru karena lama berada di sini. Pikiran wulan saat itu sedang binggung dan kalut sekali apa yang harus ia perbuat.