Beberapa menit kemudian lonceng berbunyi dan Pak Guru mulai masuk untuk melakukan ulangan harian.
Ulangan harian di mulai seketika keadaan menjadi hening tanpa suara semua siswa telah fokus untuk mengerjakan tugas yang di berikan Pak Guru.
Sampai dua jam berlangsung lonceng berbunyi satu kali menandakan waktu pelajaran telah usah di ganti oleh pelajaran lainnya.
Semua siswa mengumpul lembar soal ulangan harian tanpa terkecuali di meja Pak Guru.
Setelah beberapa jam telah berlalu tiba saatnya untuk pelajaran telah selesai dan siswa-siswa kembali untuk pulang.
Indra dan Wulan pulang secara bersamaan, di sini Wulan menceritakan apa yang dia alami di rumah.
“Lan, katanya kamu mau cerita?” tanya Indra yang penasaran dengan cerita Wlan.
“Oya aku hampir lupa Indra,” ujar Wulan.
“Ya udah cepatlah apa yang mau kamu ceritakan!” desak Indra.
“Begini aku udah pernah cerita tentang Wanita yang sering mengganggu aku di rumah itu kan, kemarin Wanita itu datang kembali dan perlakuannya berbeda tidak seperti biasanya dia juga memberita tahu namanya kepadaku namanya Sumarni, aku memanggil dia Mbak Marni,” ucap yang terhenti sejenak mengingat kejadian itu
“Terus Lan kok kamu diam?” sahut Indra yang menunggu cerita dari Ulan.
“Sebentar, aku mengingat kejadian itu, setelah itu dia baik kepada ku. Aku di perlakukannya seperti anaknya sendiri dan jujur saja Ndra aku mulai merasa nyaman dekat dengan dirinya ibu yang sekarang sibuk mencari uang tidak ada perhatian lagi kepadaku, kini aku mendapat perhatian dari Mbak Marni itu” tutur Ulan dengan tersenyum merasakan kasih sayang Mbak Marni.
“Lan, kamu enggak papakan?” tanya Indra yang cemas.
“Enggak kenapa-kenapa, memangnya kenapa?” tanyaku yang binggung akan sikap Indra.
“Habis kamu aneh, kamu di perlakukan seperti itu kepada Mbak Marni apa kamu tidak merasa takut, aku malah khawatir kalau kamu kenapa-kenapa dan si Marni itu ada niat yang tidak baik kepadamu,” ucap indra dengan cemas.
“Apa-apa sih kamu Ndra, dia baik kok sama aku terus aku pernah bertanya kepada Mbak Marni kenapa dia seperti ini kepadaku, dia bilang karena anaknya mirip denganku tapi anaknya sudah tidak ada lagi itu yang di bilang oleh Mbak Marni,” aku yang menjelaskan dengan tegas kepada Indra dan membela Mbak Marni.
“Ia aku ngeri kok, maaf yah aku berpikir negatif dengan Mbak Marni, aku hanya cemas kalau kamu ada apa-apa dan aku masih belum begitu yakin kalau Mbak Marni ada maksud lain untuk mendekatimu.”
kecurigaan Indra kepada Mbak Marni Ia ungkapan kepada ku, namun aku masih tetap tidak memperdulikan ucapan Indra aku sudah merasa nyaman dengan sikap dan kasih sayang Mbak Marni yang di berikan kepadaku.
Setelah panjang lebar mereka berbicara akhirnya, aku telah tiba di teras rumah.
“Sampai ketemu, kembali besok Lan,” kata Indra dengan teriak.
Aku mulai masuk ke dalam rumah mengucapkan salam dan membuka pintu rumah, saat aku mulai masuk aku sangat terkejut kepada kehadiran Mbak Marni yang menyambutku dan tepat sekali berdiri di hadapanku.
“Astagfirullah, Mbak Marni mengagetkan saja,” ucapku yang dengan spontan.
“Siapa anak itu Lan?” tanya Mbak Marni kepadaku.
“Ooo... Itu dia Indra Mbak teman sekelasku,” sahutku dengan santainya.
“Memang ada apa Mbak, tumben menanyakan dia?” sambungku dan memberikan pertanya kepada Mbak Marni.
“Berhati-hati dengannya aku tidak suka kau bersamanya,” kata Mbak Marni kepadaku.
“Memang ada apa Mbak,” aku yang mulai binggung dengan ucapan Mbak Marni.
Namun Mbak Marni hanya diam saja tidak berbicara apa-apa kembali dan menghilang aku yang saat itu berada di ruang tamu berbincang-bincang sebentar kepada Mbak Marni dan Mbak Marni menghilang tanpa menjawab pertanyaanku.
Tidak lama kemudian mbah datang menghampiriku.
“Udah pulang Lan? Kok Mbah enggak mendengar kamu pulang,” ujar Mbah yang saat aku pulang berada di dapur.
“Udah dari tadi Mbah, mungkin Mbah lagi asik masak di dapur jadi enggak dengan Wulan pulang,” celetukku kepada Mbah.
“Ya sudah sebaiknya kamu ganti baju dan setelah itu makan, Mbah sudah masak sayur kesukaanmu.”
“Pasti sayur sop, wahh... Pasti enak itu Lan ganti baju dulu baru makan lagi pula Lan udah lapar banget Mbah.”
Aku yang pergi meninggalkan Mbah di ruang tamu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian sekolahku dengan pakaian sehari-hariku.
Selepas itu aku langsung menikmati masakan yang telah di masak oleh Mbah.
****
Ketika malam berlangsung di rumah Indra tepatnya saat Indra sedang tertidur ia bermimpi sosok Sumarni yang Wulan sering ceritakan.
Di mimpi Indra sosok Sumarni itu datang.
“Siapa kamu?” tanya Indra dalam mimpi.
“Aku adalah Wanita yang menjaga Wulan, dan namaku Sumarni!” kata Sumarni dengan lantang.
“Mau apa kau datang ke sini?” tanya Indra dengan berani.
“Aku datang untuk memperingatimu agar jauhi Wulan, kau bisa merusak pikiran Wulan untuk menjauhiku.”
“Mengapa kau seperti ini kepada Wulan, dan apa bila aku tidak mau menjauhi Wulan apa yang akan kau lakukan,” tanya Indra dengan suara yang lantang.
“Karena aku menyayangi Wulan seperti anakku sendiri, dan apa bila kau tidak menjauhi dia aku akan menerormu terus menerus,” ancam Sumarni kepada Indra.
“Tidak akan, aku turuti ucapanmu itu,” kata Indra yang menatang Sumarni.
Sumarni yang saat itu memakai baju putih panjang dengan rambut terurai panjang sampai tidak terlihat wajahnya, ia mendekati Indra berjalan kakinya tanpa menyentuh tanah dan mengulurkan kedua tangannya sampai meraih leher Indra lalu mencekiknya.
Indra mulai kelabakan kehabisan nafas dan tidak bisa berteriak dengan jelas namun ternyata Indra berteriak-teriak sambil tidur hal ini membangunkan ibu dari indra.
Ia bergegas ke kamar Indra, ingin mencari tahu apa yang terjadi kepada indra.
Saat ibu Indra sudah telah berdiri di pintu kamar Indra, ia pun langsung membuka pintu kamar untuk masuk. Begitu terkejutnya melihat Indra yang teriak-teriak, dengan spontan Ibu Indra membangunkan anaknya yang sedang mengigo itu.
“Ndra bangun... Ndra bangun ini Ibu Nak,” ujar Ibu Indra yang berusaha mengerak-gerakan guna membatu agar Indra bisa bangun dari tidurnya.
Setelah usaha dari ibunya untuk membangunkan Indra akhirnya Indra terbangun dari mimpinya yang sangat seram itu.
“Kamu kenapa Indra?”
“Enggak papa Bu, Indra hanya bermimpi seram saja.”
“Minum air putihnya lalu berdoa jika ingin tidur,” Ibu Indra yang menasihati dirinya.
“Baiklah Bu,” sahut Indra.
Setelah melakukan apa yang di perintahkan Ibunya Indra tidur kembali, rasa was-was masih muncul di kala ia ingin memejamkan matanya kembali. Indra takut arwah Sumarni akan datang mengganggunya dan menerornya kembali.
Tapi perasaan ngantuk yang begitu berat membuat Indra terlelap dan tak sadarkan diri kembali.