Setelah Ayu selesai menikmati hidangan makan malam sendirian sedangkan Mbah sudah beranjak dari ruang tamu kembali ke kamarnya untuk istirahat, kini Ayu yang beranjak dari meja makan untuk kembali ke kamar beristirahat bersama anak kesayangannya yaitu Wulan.
Ayu berjalan menuju kamar Wulan tergelitik di batinnya ucapan Mbah saat itu.
“Maafkan Ibu Lan, sekarang Ibu sibuk tidak ada waktu lagi bersamamu,” gumam batin Ayu sambil berjalan meninggalkan meja makan.
Saat Ayu telah berada depan pintu kamar, Ayu membuka gorden yang menutupi pintu kamar itu. ia membuka dan menyalakan lampu kamar yang biasanya di matikan oleh Wulan.
Sontak ayu terkejut melihat seorang Wanita berbaju putih panjang, berambut tergerai panjang yang sedang tidur bersama anaknya Wulan. Wanita itu tidur menghadap Wulan dan membelakangi Ayu. Terlihat tangan yang putih pucat berserta kuku yang panjang berwarna hitam sedang membelai-belai rambut Wulan.
Ayu sangat terkejut melihat sosok Wanita yang tidur bersama Wulan dengan spontan Ayu berucap dengan angat keras
“Siapa kamu?” tanya Ayu dengan tegas kepada Wanita misterius itu.
Mendengar suara Ayu yang sangat lantang membuat Wanita itu tiba-tiba menghilang. Sedangkan Wulan yang terbangun akibat mendengar suara lantang dari ibunya .
“Ibu sudah pulang,” sahut wulan yang masih mengantuk terkejut mendengar suara dari ibunya
Ibu yang sangat panik langsung menuju tempat tidur dan memeluk Wulan
“Ibu kenapa?” tanyaku yang bingung kepada Ibu.
“Tidak apa-apa Lan, maafkan Ibu yah Nak?” sahut Ibu yang merasa bersalah.
“Maaf untuk apa Bu?” tanya aku yang kembali binggung di buat Ibu.
“Ibu terlalu sibuk kerja Lan, jadi tidak ada waktu denganmu lagi,” jelaskan Ibu kepadaku.
“Ia Bu, tidak apa-apa kok Wulan mengerti Bu,” kataku memandang wajah Ibu yang tampak sangat lelah sekali.
“Kelihatan Ibu sangat lelah, mari istirahat Bu,” ajakku kepada Ibu.
“Ia sayang, hari Minggu ini seperti ibu tidak dapat jatah libur Lan! Pekerjaan Ibu sangat banyak,” tutur Ibu kepadaku.
Mendengar
Ucapan ibunya membuatku menjadi sangat kecewa aku merasa waktu bersama Ibu benar-benar tidak ada lagi, namun di sisi lain aku harus memahami Ibu yang sedang berjuang mencari uang untukku dan Mbah karena sekarang Ibu tulang punggung keluarga.
“Ia Bu tidak apa-apa, Wulan mengeri kok,”
“Oya... Nanti kalau Ibu belum pulang kerja tidurnya sama Mbah dulu yah,” Ibu yang memberi saran kepadaku.
“Kenapa Bu?” tanyaku yang sedikit binggung karena Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya.
“Enggak apa-apa dari pada kamu tidur sendirian menunggu Ibu, lagi pula Mbah tidur sendirian juga kan,” sahut Ibu yang menyimpan sesuatu kepadaku.
Aku terdiam sejenak saat Ibu berbicara itu kepadaku.
“Kalau aku tidur dengan Mbah, Mbak Marni tidak bisa tidur denganku,” gumam batinku saat itu.
“Lan, kok malah melamun?” tegur Ibu menghilangkan lamunanku.
“Eh... Ia Bu, Bu Lan mengantuk mari kita tidur Bu,” ajakku kepada Ibu.
“Iya sayang, lagi pula ini sudah larut malam, mari kita tidur.”
Kami berdua mulai kembali tidur, saat Ibu sudah mulai tertidur dengan lelap aku melihat wajah Ibu yang sangat lelah, terlintas di benakku saat itu andai saja Ayah bertanggung jawab kepada kami mungkin Ibu tidak menanggung beban ini sendirian.
****
Keesokan harinya pukul 04.00 dini hari Ibu bangun lebih awal, menyiapkan masakan bersama Mbah untuk kami makan bersama-sama.
Sementara aku masih terlelap saat itu.
“Yu sini biar Ibu saja yang masak,” pinta Mbah kepada Ibu.
“Sudah Bu, biar Ayu saja sekali-kali Bu, masa Ibu terus yang selalu masak di pagi hari untuk kami,” ucap Ibu dengan tersenyum.
“Nanti kalau kamu telat kerjanya bagaimana?” kata Mbah yang khawatir.
“Enggak kok Bu, ini sudah mau selesai kok,” sahut Ibu menenangkan kekhawatiran Mbah.
Setelah beberapa menit Ibu masak akhirnya selesai. Ibu mulai membangunkanku untuk mandi dan melaksanakan Shalat berjamaah bersama aku dan Mbah.
Selesai melaksanakan ibadah aku kembali ke kamar untuk mengganti bajuku dengan seragam putih biru. Dan Ibu bersama Mbah sedang mempersiapkan hidangan pagi di meja makan.
Saat Ibu tengah mempersiapkan hidangan di meja makan ia menceritakan kejadian yang ia lihat tadi malam.
“Bu Ayu lihat tadi malam, ada seseorang yang sedang memeluk Wulan sedang tertidur, dia begitu menyeramkan Bu,” jelaskan Ibu kepada Mbah kejadian yang ia lihat tadi malam.
“Kamu itu sedang mengigau Ayu, tidak ada apa-apa, dan mana ada yang memeluk Ulan. Sebelum Ibu ke kamar Ibu melihat Ulan sedang tertidur pulas sendirian,” sahut Mbah yang tidak percaya kepada Ibu.
“Ia Bu, Ayu tidak salah lihat,” ucap ibu yang mencoba meyakinkan Mbah.
“Ah itu hanya halusinasimu saja, tidak ada apa-apa,” kata Mbah yang menepis semua itu.
“Apakah rumah ini ada sesuatunya Bu?” tanya Ibu kepada Mbah.
“Sudahlah jangan berpikir negatif jika ada dulu rumah ini sudah di bersihkan oleh almarhum Bapakmu, kau tahu sendiri kesaktian Bapakmu tidak perlu di ragukan lagi cah Ayu,” tutur Mbah.
“Semoga saja Bu tidak ada apa-apa dengan Wulan,” sahut Ibu yang Khawatir.
Hati seorang Ibu memang tidak bisa di bohongi oleh apa-apa pun, apa bila anaknya yang sangat ia cintai mengalami hal-hal yang membahayakan hati seorang Ibu akan sangat peka.
“Ya sudah, tidak perlu di pikirkan mari kita makan bersama. Ibu akan memanggil Wulan terlebih dahulu,” cakap Mbah kepada Ibu.
Sementara ibu sudah duduk di meja makan menunggu aku dan Mbah. Mbah yang berjalan menuju kamar untuk mengajakku sarapan pagi.
“Lan, sudah selesai memakai seragamnya mari makan Ibu sudah menunggu di meja makan,” ujar Mbah yang menajakku.
“Ia Mbah,” ucapku yang bergegas menuju meja makan bersama Mbah.
Kami bertiga akhirnya menikmati masakan Ibu yang sangat nikmat, sambil berbincang-bincang bersama Ibu dan Mbah di meja makan.
“Bagaimana sekolahmu Lan?” tanya ibu kepadaku.
“Baik Bu, hari ini Wulan ada ulangan harian Bu,” sahutku kepada Ibu.
“Kamu sudah belajar? Ibu tidak mau nilaimu turun Lan,” ucap tegas Ibu kepadaku.
“Ia Bu Wulan sudah belajar tadi malam kok Bu, ia Wulan janji sama Ibu nilai Wulan tidak akan turun.”
“Ya sudah cepat makannya nanti kalian berdua bisa telat,” kata Mbah kepada aku dan Ibu.
Selepas selesai menikmati sarapan pagi aku dan Ibu pergi Ibu yang kembali bekerja aku yang kembali bersekolah tidak lupa pula aku mencium tangan ibu dan Mbah begitu pun dengan Ibu yang tidak pernah lupa mencium tangan Mbah.
Sesampainya di sekolah terlihat Indra yang sudah duduk di bangkunya sambil membaca buku pelajaran yang nantinya akan ada ulangan harian.
“Woi... Serius amat,” cakapku yang mengganggu Indra.
“Aduh kamu Lan, ganggu aja?” kata Inra yang sedikit kesal.
“Memang tadi malam kamu enggak belajar Ndra?” tanyaku yang bingung biasanya Indra tidak seperti ini.
“Aku salah belajar, aku kira hari ini ulangan Fisika ternyata hari Ini ulangan Biologi,” sahut Indra.
Mendengar ucapan Indra aku ingin tertawa.
“Hahahahaha, Indra... Indra mangkanya kalau Guru lagi menjelaskan di perhatikan biar enggak salah tangkap,” sahutku.
“Ia... Ia... Sesuka kamu Lan, aku lupa bukanya tidak memperhatikan,” sahut Indra yang kesal.
“Ye... Gitu aja marah, maaf yah, jangan marah dong,” sahutku membujuk Indra.
“Aku enggak marah tapi Cuma kesel.”
“Ia maaf yah Ndra.”
“Ia Lan aku maafin, dah ah entar aku enggak jadi belajar ini kamu ganguin terus.”
“Oke... Aku tidak mengganggu kamu Ndra biar kamu fokus belajarnya.”
“Oya pulang sekolah ada yang mau aku cerita’in sama kamu Ndra!”
“Apa Lan?” sahut Indra yang penasaran.
“Udah nanti aja, kamu fokus dulu belajar sebentar lagi lonceng berbunyi loh!” sahutku yang memperingati Indra.