Anakku

1133 Kata
Wulan mulai terbuai dengan ucapan sosok Sumarni, Wulan sering menghampiri Sumarni dan memeluknya Wulan seakan tidak bisa mengontrol dirinya, Wulan merasakan perasaan nyaman ketika berada di dekat Sumarni. Sumarni sering mendatangi Wulan dengan tampilan seperti manusia biasa dengan berpakaian kebaya serta rambutnya yang tergerai rapi namun tetap dengan wajahnya yang pucat tapi terkadang di waktu tertentu Sumarni bisa tiba-tiba berubah seperti sosok kuntilanak dengan rambut yang menutupi wajah serta kuku yang panjang, hal itu membuat Wulan sedikit merasa takut. “Jangan takut denganku Wulan, Ibu tidak akan melukaimu namun akan selalu menjagamu,” ucap Sumarni dengan lembut. “Iya Mbak, temani Wulan Mbak, Wulan merasa sepi Ibu sudah sangat sibuk tidak ada waktu lagi dengan Wulan,” sahut Wulan yang sedikit kecewa. “Tidak usah sedih Wulan, Ibu akan selalu menemanimu dan menjagamu,” ucapan Sumarni sangat lembut. Sosok Sumarni sendiri yang mengajari Wulan untuk memanggilnya dengan sebutan Ibu, namun Wulan belum mau untuk memanggilnya sebagai ibu karena bagi Wulan panggilan itu hanya cocok untuk Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya saja. Wulan sedang bermimpi di peluk dan di berikan kasih sayang oleh Sumarni tiba-tiba Mbah membangunkan tidurnya, dan Wulan tidak sadar lagi kalau sudah tertidur dengan waktu yang cukup lama. “Lan...Lan... Ini sudah mau magrib Lan, kamu belum bangun, enggak boleh tidur magrib-magrib Lan,” peringatan dari Mbah. Mbah mencoba membangunkan Wulan dengan cara menggerak-gerakan tubuhnya sampai akhirnya Wulan terbangun. “Ada apa Mbah?” sahut Wulan sambil menggosok-gosok matanya yang masih sepat. “Ini udah jam berapa Ulan, kamu tidur dari pulang sekolah sampai sekarang? Terus enggak jadi makan?” kata Mbah dengan nada sedikit marah. “Udah sana mandi terus makan, kamu kan dari tadi belum makan,” sambung Mbah kembali. “Iya Mbah,” ujar Wulan yang melaksanakan perintah Mbah. Wulan mulai keluar dari kamar membawa handuk lalu menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Wulan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk, sayur. Wulan menuju meja makan untuk menikmati makan yang dia ambil tadi, saat sedang asik menikmati makanan kursi di sampingku bergeser, Wulan terkejut mendengar dan melihatnya ternyata itu adalah sosok Sumarni yang sedang duduk menemani Wulan makan. Wulan mulai menyapa dan mengajaknya untuk mengobrol. “Makan Mbak,” Wulan yang menawarkan kepada Mbak Marni apa yang tengah dia makan. “Tidak Wulan,” sahut Mbak Marni berbisik pelan. Wulan melihat Mbak Marni tidak seseram seperti biasanya dia terlihat cantik dan anggun, lalu rasa penasaran Wulan terhadap Mbak Marni mulai muncul. Wulan ingin mengetahui apa yang menyebabkan dia meninggal dan kemala keluarganya selama ini mengapa dia menggagapku sebagai anaknya dan di mana anaknya rasa penasaranku terhadap dirinya semakin besar. “Mbak Wulan boleh tanya?” tanya Wulan kepada Mbak Marni. “Apa Wulan?” sahut Mbak Marni dengan lembut namun mencekam. “Anak Mbak Marni di mana? Maaf kalau pertanyaan Lan membuat Mbak Marni sedih” tanya Wulan dengan sangat penasaran. “Anak Ibu sudah tenang di alamnya, dan alam kami berbeda,” sahut Mbak Marni yang membuat Wulan binggung. “Alam berbeda?” maksudnya bagaimana Mbak?,” tanya Wulan yang masih binggung. “Ikutlah dengan ibu, kau akan bisa merasakan dan akan paham maksudnya,” sahut Mbak Marni “Ikut? ke mana?” sahut Wulan dengan wajah bingungnya. “Nanti akan aku beritahu caranya agar kau bisa ikut denganku,” sahut Mbak Marni yang membuat aku tambah penasaran. Saat Wulan sedang asik mengobrol dengan Mbak Marni tiba-tiba Mbah muncul menanyakan Wulan. “Kamu mengobrol dengan siapa Lan?” tanya Mbah. Beribu alasan Wulan buat agar Mbah tidak mengira dia aneh dan berkhayal. “Ini tadi ada, kucing meong-meong minta ikan Mbah,” alasan Wulan agar Mbah tidak berpikir aneh-aneh tentangnya. “Kucing??? Terus mana kucingnya?” tanya Mbah yang sedikit tidak percaya. “Udah keluar Mbah tadi Lan kasih ikan terus di bawa kucing itu pergi.” “Oyahh Mbah habis makan Lan tinggal ke kamar yah, mau mengerjakan tugas sekolah, Ooo... Iya Ibu belum pulang yah Mbah?” “Tadi Mbah ketemu teman kerja Ibumu di gang ini, dia bilang ibu ada lemburan jadinya Ibumu pulang larut malam,” ujar Mbah. “Yah... Padahal Lan kangen sama ibu,” sahut Wulan dengan kecewa. “Kan nanti ketemu,” kata Mbah yang menghibur Wulan. “Iya ketemu tapi Lan udah tidur, terus kadang Ibu yang tidur duluan tidak ada lagi kebersamaan seperti dulu, terus sekarang Ibu jarang ada waktu buat Lan waktu libur juga tidak ada,” tutur Wulan menjelaskan kekecewaanku kepada Mbah. “Ya udah Mbah kan masih menemani Ulan biar tidak kesepian,” kata Mbah yang menghibur Wulan sekali lagi. “Tapi Lan kangen, saat-saat bersama Ibu Mbah,” Wulan yang menegaskan. “Ibu kerja buat siapa? Buat Ulan kan, Ibu melakukan seperti itu untuk masa depan Wulan,” jelaskan Mbah kembali. “Iya Lan tahu Mbah, ya sudah Lan mau ke kamar dulu.” Kata Wulan yang tidak mau mendengarkan penjelasan Mbah. Setelah selesai makan Wulan lalu mencuci piring dan pergi meninggalkan Mbah di dapur, Wulan kembali ke kamar. Sesampainya di kamar Wulan mulai mengambil tas dan buku pelajaran lalu duduk di meja belajar mulai mempelajari materi-materi yang besok di buat untuk ulangan harian. *** Beberapa jam telah berlalu akhirnya Wulan telah selesai belajar dan jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, tapi Ayu belum kunjung pulang. “Sudah jam 9 ibu belum pulang-pulang,” gumam Wulan dalam hati. Wukan mulai mengantuk dan beberapa kali mulai menguap. “Sudahlah lebih baik aku tidur, Mbak Marni temani aku tidur mau kan,” gumam Wulan dalam hati. Setelah Wulan berbicara di dalam hati dan mulai memejamkan matanya sosok Sumarni datang memeluk Wulan mengelus-elus rambutnya dan menyanyikan lagu yang biasanya ia nyanyikan, seketika Wulan mulai tenang terbuai oleh lagu yang di nyanyikan Mbak Marni dan mulai masuk ke alam mimpi. Tok... Tok... Tok...(Suara orang mengetuk pintu) “Sudah pulang kamu Ayu?” ujar Mbah. “Ia Bu, tadi Ayu di suruh lembur dan baru selesai, ooo iya Bu Wulan mana?” tanyanya kepada Mbah. “Dia sudah tertidur, tadi dia menunggumu dan protes kepada Ibu. Kamu enggak ada waktu lagi dengan dia “ tutur Mbah yang menjelaskan. “Kasihan sekali dia, dari kecil dia kurang kasih sayang ayahnya yang selalu sibuk dengan urusannya sekarang harus seperti itu lagi,” Kata Ayu yang sedih. “Sudahlah tidak usah terlalu di pikirkan , lagi pula kau berbuat seperti ini untuk masa depannya, dan ibu sudah menjelaskan kepada dirinya.” Kata Mbah yang menenangkan Ayu. Mereka berdua mengobrol sebentar di ruang tamu. “Ya sudah cepatlah mandi lalu makan, dan temani Wulan tidur,” ucap Mbah. “Baik Bu,” Ayu yang bergegas meninggalkan Mbah di ruang tamu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat kotor. Setelah selesai mandi Ayu pun pergi ke meja makan untuk menikmati masakan yang telah di buat Mbah tadi siang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN