Ketika hari mulai berganti malam gangguan oleh arwah Wanita misterius itu muncul kembali sekitar pukul 22.00 mata Wulan rupanya sudah tidak dapat ditoleransi lagi setelah mengerjakan tugas sekolah yang cukup banyak.
Wulan kembali ke tempat tidur untuk beristirahat, dan Ayu juga terlihat sudah tertidur dengan sangat nyenyak. Wulan segera menghampiri Ibunya ke tempat tidur merebahkan diri di kasurnya, mata penglihatan Wulan mulai meredup tanda Wulan sudah sangat mengantuk tidak lama Wulan telah memasuki alam bawah sadar sepenuhnya.
Awalnya tidak ada hal aneh yang terjadi kepada Wulan tidurnya pun nyenyak saat itu. Hingga memasuki waktu tengah malam keanehan itu kembali muncul.
Samar-samar terdengar suara seseorang yang sedang bersenandung memecah kesadaran Wulan, senandung itu terasa tidak asing bagi Wulan. Dengan mata yang masih terpejam Wulan mendengarkan dengan saksama.
“Kok rasanya di jidatku dingin ya?” gumam Wulan dalam hati.
“Hhmmmmm ... hmmm ... hmmmm,” Wanita itu terus bersenandung.
“Ihhh geli apa sih ini,” ucap Wulan sambil mengusap-usap jidatnya.
Wulan mengerutkan keningnya saat bangun karena dia mengira Ibunya sedang jahil kepadanya, namun dia melihat Ibunya sedang tertidur pulas.
“Ah sudahlah lebih baik aku lanjutkan tidur saja,” gumam Wulan sendirian.
Saat baru saja Wulan memejamkan mata suara itu terdengar kembali semakin lama Wulan semakin paham bahwa jidat serta rambutnya sedang di belai oleh sosok Wanita yang sering dia temui.
Rasa geli seperti menggelitik serta hawa dingin seperti es menjadi satu menyentuh kulit serta rambut Wulan, namun kali ini Wulan tidak merasa takut seperti sebelumnya malah sebaliknya Wulan merasakan ketenangan serta membuatnya cepat terlelap.
Sampai keesokan paginya, selesai berpakaian dan ingin berangkat sekolah. Wulan mulai memikirkan kejadian tadi malam.
“Lan ayo, entar kamu kesiangan malah mengelumun,” tegur Ibu menghentikan lamunanku.
“Eh ia Bu,” sahut Wulan yang sedikit terkejut.
Wulan dan Ibunya keluar rumah, menuju tempat kami masing-masing aku yang ke sekolah ibu yang ingin bekerja.
Seperti biasa sampai di sekolah Wulan menceritakan kejadian tadi malam bersama Indra, indra pun mulai binggung dengan arwah Wanita misterius itu, mengapa sikapnya kepadaku seperti itu.
“Kenapa arwah Wanita misterius itu sikapnya kepadamu berubah Lan?” tanya Indra.
“Entahlah Ndra aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau bertanya kepadaku terus aku harus bertanya ke siapa lagi,” celetuk Wulan.
“Ha...Ha...Ha...iya ya Lan habis aku binggung sih, sama ceritamu,” ujar Indra.
“Ya sudahlah tidak usah di pikirkan entar juga bakal ketemu jawabannya seiring jalannya waktu,” ungkap Wulan kepada Indra.
“Iya juga sih Lan, eh ngomong-ngomong ini kelas sepi ya kalau nggak ada Natta yang gangguin” ujar Indra.
“Hutssss... nggak boleh ngomong seperti itu Natta sudah tenang di sana, seharusnya kamu senang Natta sudah bisa kembali dan bahagia dia alamnya,” Wulan menasehati Indra
“Iya...iya... Lan aku kan cuma bercanda aja, lagi pula aku senang masalah ini telah terselesaikan sekian tahun loh,” Indra yang mengungkapkan apa yang ia rasakan.
“Iya benar katamu, kasihan Natta selama itu dia tidak tenang,” sahut Wulan.
“Sudahlah jangan ngomongin dia lagi, dia sudah tenang di sana.”
Lonceng sekolah mulai berbunyi pelajaran pun sudah mulai di mulai, di hari ini Wulan sudah mulai fokus dan tenang dalam belajar yang biasanya arwah Natta suka mengganggu dan menjahiliku kini tidak ada lagi pelajaran kali ini berjalan lancar, namun terkadang di dalam pemikiranku suka terbesit kejadian tadi malam yang Wulan alami.
“Eh Lan melamun aja itu di panggil sama Pak Guru,” ucap Indra.
Indra yang membangunkan lamunan Wulan, sontak membuat Wulan sedikit terkejut. Wulan pun lalu maju di saat Pak Guru memanggil namanya.
“Lan tolong kerjakan tugas ini di papan tulis!” Perintah pak Guru.
Wulan melaksanakan perintah Pak Guru mengerjakan tugas yang dia berikan di papan tulis.
Setelah selesai mengerjakan tugas itu, Wulan kembali duduk di bangku, Pak Guru mulai mengoreksi tugasku di papan tulis, ternyata pendapat Pak Gurun membuat Wulan senang walaupun Wulan terkadang suka melamun namun untuk soal pelajaran aku masih fokus.
“Jawabanmu bagus Lan, jawabannya benar. Bapak kira tadi kamu tidak fokus menerima pelajaran, karena bapak liat kamu terlihat melamun,” sahut Pak Guru yang memuji Wulan.
“Terima kasih Pak,” sahut Wulan.
Setelah berjam-jam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, tiba saatnya untuk pulang, dan seperti biasa di temani oleh Indra saat sedang pulang hingga sampai ke rumah Wulan.
“Oke Lan, sampai ketemu besok,” Indra mengucapkan kata pamit.
“Oke deh,” sahut Wulan.
Wulan mulai masuk ke rumah, terlihat Mbah sudah duduk di ruang tengah sambil menonton TV.
“Sudah pulang Lan?” tegur Mbah.
“Iya sudah Mbah,”
“Ganti baju, terus makan sana!” perintah Mbah.
“Baik Mbah.”
Wulan langsung beranjak meninggalkan Mbah di ruang tengah masuk ke kamarku mengganti baju seragam dengan baju sehari-hari. Namun kali ini aku tidak merasa lapar dan malas untuk makan dan rasanya Wulan sangat lelah sekali. Wulan putuskan untuk pergi ke tempat tidur sambil membaca buku pelajaran besok karena akan ada ulangan besok.
Saat Wulan membaca tiba-tiba Wulan terlelap kembali, dan seperti biasa Wulan bermimpi aneh kembali. Wulan bermimpi seorang Wanita yang selalu ada di dalam mimpianku sedang menidurkan anak kecil yang berumur 4 tahun dengan lagu yang sering dia menyanyikan itu dan memeluk sambil mengelus-elus anak kecil itu, merasa nyaman anak kecil itu pun tertidur.
Terlihat Wanita misterius itu sangat bahagia bersama anaknya, namun aku hanya melihat mereka berdua tidak melihat suami atau ayah dari anak kecil itu.
Melihat mereka berdua hati Wulan merasa damai Wulan teringat dengan ibu di kala aku kecil dulu Ibu sangat sayang kepadaku, namun karena sekarang Ibu harus bekerja untuk kami aku dan Mbah jadi ibu tidak ada waktu lagi bersamaku dan terkadang aku merindukan momen-momen bersamanya dulu.
Setelah tidak lama kemudian, di dalam mimpiku Wulan berada di kamar Wulan melihat Wanita itu duduk di atas kasur dan Wulan melihat tubuhnya yang sedang tertidur, sepertinya sukmanya sedang terpisah oleh tubuh Wulan.
Wanita itu mulai berbicara yang tadinya diam seribu bahasa.
“Wulandari... Ini Ibu Nak,” terlontar kalimat dari Wanita itu.
“Si-siapa kamu?” tanya Wulan dengan gugup.
“Namaku adalah SUMARNI,” ungkap Wanita misterius itu.
“Mau apa kau denganku,” tanya Wulan dengan tegas.
“Aku merindukan anakku ... dan kau seperti dirinya,” papar Marni.
Mendengar ucapannya aku mulai sedikit iba dengan dirinya.
“Lalu, mau apa Mbak Marni dengan aku?” tanya Wulan yang masih agak bingung.
“Jadilah anakku Lan, anggap aku Ibumu, aku akan selalu menyayangimu hi...hi...hi...” tutur Mbak Marni dengan ciri has tertawa kuntilanak yang sangat melengking.
Namun di saat ini aku merasa tidak takut sama sekali dengan Mbak Marni itu yang ada di hatiku rasa penasaran yang teramat sangat tingi.
“Aku bukan anakmu Mbak Marni,” tegaskan aku.
“Anggap aku ibumu Wulan, aku akan menjaga dan menyayangimu Wulan,” papar Mbak Marni
Mbak Marni mulai memaksaku untuk menjadi anaknya di mimpiku ini, namun seperti sedang terhipnotis aku saat itu. Aku mengiyakan ucapan Mbak Marni dan mengiyakan dia menjadi Ibuku lagi pula dalam benakku Ibu sekarang tidak ada untukku kembali, Ibu hanya fokus mencari uang dan uang tidak ada lagi perhatian untuk Wulan .
“Baiklah, kalau itu inginmu tapi jika Mbak Marni menyuruhku melakukan hal-hal yang tidak baik aku tidak ingin melakukannya.” Tegaskan Wulan kembali kepada Mbak Marni.
“Baiklah anakku, sini Nak peluk Ibu,” ucap Mbak Marni