Ke rumah Natta

1661 Kata
Di sepanjang jalan biar suasana tidak menjadi bosan kami berdua mengobrol satu sama lain sambil mengayun pedal sepeda. “Ndra kira-kira kamu tahu kan jalan itu?” tanyaku yang agak ragu dengan Indra. “Ia Lan, tenang saja aku tahu kok,” Indra yang meyakinkan Wulan kembali. “Ya sudah aku percaya kepadamu Ndra.” “Lan, aku agak sedikit khawatir?” tanya Indra. “Khawatir kenapa Ndra?” tanya Wulan yang binggung. “Kira-kira kita menyampaikan pesan Natta kepada kedua orang tuanya, apakah mereka akan percaya kepada kita.” Kata Indra. “Kan, ada buah kalung Natta yang ada sama kamu Ndra.” “Ia tapi tetap saja itu petunjuk kurang akurat Lan!” “Bismilah aja Ndra, entahlah aku tidak dapat berpikir lagi kali ini, semoga mereka percaya kepada kita nanti” “Semoga saja Lan,” “Ooo... Ia Lan waktu aku masuk ke rumahmu aku merasakan energi negatif sekali, dan terlihat seorang wanita di pojokkan ruang tamu, apa itu Wanita misterius yang kamu sering cerita denganku, dia memakai baju putih layaknya seorang kuntilanak,” sambung Indra yang menjelaskan apa yang Ia liat dan rasakan. “Kamu sudah melihatnya Ndra, yah itulah Wanita misterius yang sering mengganggu diriku di rumah itu,” sahut wulan. “Kamu tidak pernah bertanya ke pada Nenekmu sejarah tentang rumahmu itu?” tanya Indra. “Tidak pernah tanya Ndra, lagi pula jika aku bertanya hal semacam itu pasti mereka Mbah tidak akan mau cerita yang sebenarnya dan Mbah pasti bertanya kenapa aku bertanya seperti itu lalu ujung-ujungnya aku kena semprot Mbah lagi Ndra.” “Ooo... Seperti itu, waduh susah mencari misteri di balik itu semua kalau yang punya rumahnya saja tidak mau terbuka.” “Yah seperti itu lah Ndra” sahut wulan yang putus asa. “Ya sudah Lan pelan-pelan saja nanti juga kaku akan mendapatkan jawaban tentang misteri semua itu,” Indra yang sedang menyemangati diriku. “Terima kasih ya Ndra, eh ngomong- ngomong apa masih jauh nih alamatnya?” tanya aku. “Bentar lagi sampai kok,” sahut Indra. “Ooo... Ya sudah kalau begitu,” Setelah beberapa menit kemudian kami berdua telah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana, terdapat banyak tanaman hias di pekarangan rumah itu. Tanpa pikir panjang aku dan Indra memarkirkan sepeda kami di depan dan mulai berjalan mendekati rumah itu. “Ayo Ndra kamu yang duluan, kamu yang mengetok pintu rumah Natta,” desak wulan kepada Indra “Ia Lan sabar dulu kenapa,” ucap Indra yang masih memarkirkan sepedanya. Setelah Indra telah selesai memarkirkan sepedanya barulah ia berjalan di depanku seakan-akan memimpin barisan di depan. Tokk... Tok... Tokk...( suara mengetok pintu). “Assalamualaikum,” ujar Indra mengucap salam. Beberapa kali Indra mengetok tidak ada tanggapannya, namun di saat kami sudah mau pergi putus asa ingin meninggalkan rumah itu, barulah ada seseorang laki-laki paruh baya umurnya sekitaran 50 tahunan yang membuka pintu. “Siapa yah, dan ada perlu apa adik-adik ini?” tanya bapak yang membukakan pintu kami. “Maaf Om, mengganggu waktu Om. Saya Indra dan ini teman saya Om Wulandari, apa ini benar rumahnya kak Renatta?” tanya Indra untuk memastikan kembali bawa ini rumah Natta. “Ia benar tapi sekarang Nattanya tidak ada lagi di rumah Ini untuk selamanya,” sahut bapak itu dengan kata yang sangat dalam namun mengandung makna. “Kita berdua mau silaturahmi Om,” “Silahkan kalian berdua masuk,” sahut bapak Natta yang mempersilahkan kami berdua masuk. Kami berdua mulai memasuki rumah Natta, tanpa tidak sengaja aku melihat foto-foto Natta yang di pajang di dinding bersama keluarganya dan prestasinya, begitu pula piala-piala penghargaannya menghiasi lemari kaca yang terletak di depan ruang tamu. Setelah puas melihat-melihat tiba-tiba aku tercengang dengan seorang ibu-ibu yang setengah baya duduk di kursi roda berada di ruang tengah sambil melihat TV dengan tatapan mata yang kosong sebenarnya. “Silahkan duduk De,” ujar bapak Natta yang mempersilahkan Kita berdua duduk. “Bapak tinggal dulu sebentar,” sabung bapak itu kembali. “Ia Pak, tidak usah repot-repot loh Pak,” kata Indra yang merasa tidak enakkan. Sementara bapak itu pergi meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Kami berdua berbincang-bincang memikirkan bagaimana menyampaikan pesan dari Natta dan mengembalikan buah kalung yang tertinggal itu. “Ndra, entar bagaimana ini ngomongnya sama orang tuanya Natta,” kata Wulan yang sedang binggung. “Entahlah aku pun binggung, kalau di sampaikan kira-kira mereka marah tidak kepada kita, karena mengingatkan kesedihannya kembali,” kata Indra yang sedikit ragu untuk menyampaikan. “Tapi mau bagaimana lagi Ndra, Natta sendiri yang meninta tolong untuk menyampaikan pesan itu kepada orang tuanya.” “Ya sudahlah Lan, semoga tidak apa-apa saja, semoga tanggapan mereka baik.” Tidak lama kemudian bapaknya Natta membawakan kami minum dan setelah itu mendorong kursi roda yang di duduki oleh seorang wanita paruh baya itu menuju kami. “Perkenalkan ini Ibunya Natta, dan saya Bapaknya, Ibu selepas kepergian Natta menjadi seperti ini, ia sering melamun pandangan matanya kosong dan akhirnya sakit-sakitan seperti sekarang ini, kami berdua sangat mencintai Natta putri kami,” tutur Bapak Natta dengan mata yang berbinar membendung kesedihan yang teramat dalam. Mendengar ucapan dan perkataan beliau, membuat aku mengerti mengapa sampai detik ini Natta belum bisa tenang dan kembali ke alamnya, di karenakan ibu Natta sendiri masih belum ikhlas melepas kepergian Natta. Indra mulai memberi aku kode-kode untuk membuka pembicaraan dengan menyenggol-nyenggol tanganku. Melihat gerak-geriknya seperti itu aku sudah mengerti dan mengambil alih pembicaraan. “Begini pak kedatangan kami ke maru sebarnya ingin menyampaikan sesuatu, tapi sebelum saya menyampaikan sesuatu itu, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bila mana ada kata-kata saya yang menyinggung ucapan Bapak atau Ibu.” Tutur Wulan menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumah Natta. “Ada apa ya De, sepertinya adik-adik ini ingin mengucapkan sesuatu yang sangat penting,” tebak Bapak Natta. “Begini yah Pak, saya pernah ketemu Natta di dalam mimpi, dan katanya Natta dia minta maaf kepada Ibu Bapak, akan sikapnya ini Natta sayang sama Ibu bapak,” kataku menyampaikan pesan dari Natta. Tanpa kami duga, Bapak Natta tidak suka dan marah kepada kami berdua. “Saya tidak suka, anak saya di bawa-bawa dia sudah tenang di sana kalian berdua malah membuka luka lama kami kembali, kalian tidak pernah merasakan di tinggalkan orang yang paling kalian cintai. Sebaiknya pergi dari rumah ini, dan saya tidak mau mendengarkan omong kosong kalian berdua,” ujar Bapak Natta yang sangat marah. Di saat kami mulai di usir dari rumah itu tiba-tiba aku seperti ada yang mendorong dari belakang dan ternyata Arwah Natta memasuki tubuhku dan mencoba menguasai tubuhku saat ini. Tubuhku yang di kuasai arwah Natta, tiba-tiba mengucapkan sesuatu kalimat yang membuat mereka tercangang. “Bu...Yah, ini Natta anak Ayah dan Ibu dulu kalian sering memberikan Natta nasehat. Apa pun yang di katakan orang tentang dirimu Nak, tak perlu di dengarkan melainkan di buktikan bahwa kamu dapat menjadi yang lebih baik, karena kamu kebanggaan Ayah dan Ibu. Bu... Yah, masih ingat ucapan itu,” tuturku yang di pengaruhi arwah Natta. “Natta anakku...” sahut Bapak Natta memeluk tubuhku dengan menangis mengingat Natta yang telah pergi. Ibu Natta mulai merespons arwah Natta yang berada di tubuhku. “Natta anakku,” sahut Ibu Natta yang juga memeluk diriku, meneteskan air mata yang tak dapat di bendung kembali. “Ia Bu ini Natta, ikhlas Natta Bu, Yah. Agar Natta bisa kembali dengan tenang, Natta sayang dengan kalian dan maaf Natta tidak bisa membahagiakan Ibu dan Bapak,” kataku yang tiba-tiba mengeluarkan air mata merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Natta. “Ia Natta, Ayah dan Ibu ikhlaskan kamu Nak, maafkan Ayah dan Ibumu ini Nak karena belum rela melepasmu. Tapi sekarang Ayah dan Ibu sudah merelakan dirimu Nak,” tutur orang tua Natta yang menjelaskan semua rasa mereka yang Ia pendam selama ini. Setelah mereka berdua berbicara seperti itu, arwah Natta hilang dari tubuhku dan aku merasakan seperti lemas tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian aku baru tersadar dan binggung apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya Indra menjelaskan semua yang terjadi kepadaku tanpa terkecuali. Namun masih ada yang membuat hatiku merasa janggal saat ini ialah tentang seorang laki-laki yang telah memperkosa Natta. Dengan sangat hormat aku memberanikan diri bertanya kepada orang tua Natta dan aku mendapat jawabannya. Laki-laki yang memperkosa Natta mengalami kecelakaan membuat wajahnya cacat dan kakinya lumpuh, sekarang ia hanya di urus oleh orang tuanya saja, karena istrinya pergi meninggalkan dirinya dengan orang lain dan sedangkan anak, mereka sudah lama menikah namun belum juga mempunyai keturunan sampai akhirnya ia di tinggalkan oleh istrinya. Setelah mendengar cerita mereka aku mau pamit untuk pulang, karena jam sudah menunjukkan 17.00 hari sudah semakin sore, dan aku akhiri obrolan kami. “Pak...Bu, kami mau pamit pulang, terima kasih buat semuanya sekarang Natta sudah dapat tersenyum kembali walaupun tidak di tempat ini,” kataku kepada mereka berdua. “Terima kasih de Lan, sering-sering main kesini Bapak dan Ibu, sudah menganggap de Lan anak Bapak sendiri.” “Terima kasih Pak dan Bu, Wulan pamit,” diriku yang memeluk mereka berdua. “Ayo Lan kita pulang sudah sore,” sahut Indra yang memperingatkan diriku. Akhirnya kami meninggalkan mereka berdua dengan banyak sejuta cerita di hari ini. Aku dan Indra mulai mengayuh sepeda kami masing-masing, sambil beriringan aku berbincang-bincang dengan Indra. “Lan, akhirnya kelar tugas kita hari ini. Tapi sedih sih tidak ada lagi yang mengganggu kita di sekolah lagi,” lelucon yang di buat oleh Indra. “Ngaco kamu Ndra, kasihan Natta biarkan dia tenang di sana.” “Ia...Ia aku Cuma bercanda Lan,” Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai di rumahku. “Besok kita sambung lagi Lan,” teriak Indra. Aku tidak memperdulikannya, dan langsung masuk saja ke rumah. Di saat masuk ke rumah aku sudah di sambut oleh Ibu dan Mbah. “Bagaimana kerja kelompoknya Lan?” tanya Ibu. “Sudah selesai Bu!” Kataku dengan perasaan yang tidak enak karena telah membohongi ibu. “Ya sudah mandi, terus makan di sana Nduk!” perintah Mbah. “Ia Mbah,” ucap wulan pergi meninggalkan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN