Mencari alamat Natta

1123 Kata
Keesokan harinya Wulan dan Indra mencari-cari info tentang alamat Natta dari kami mencari info di perpustakaan tentang data diri siswa siswi berprestasi yang biasanya di jadikan satu buah buku yang disimpan di perpustakaan dan aku dan indra saat itu sedang ke perpustakaan saat istirahat. Wulan dan Indra mencari disetiap rak yang ada di perpustakaan, dari atas sampai bawah dan dari pinggir sampai ujung belum saja menemukannya. Namun di saat Indra mendatangiku, dan memberikan sesuatu yang dia temukan di sana. “Lan coba liat ini,” kata Indra. “Apa ini, Kumpulan siswa berprestasi di SMP N Tunas bangsa,” Gumam Wulan yang membaca buku yang di beritahukan Indra. Buku yang sudah usang lalu Wulan mulai membuka buku itu. Untuk melihat isinya bersama Indra, mencari perhalaman demi halaman dan di saat lembar pertengahan terdapat Nama Renatta Putri dan wajahnya sama dengan yang pernah aku lihat. “Lan ini alamatnya kamu bawa pulpen?” tanya Indra kepadaku. “Iya Ndra aku tadi bawa Nih sengaja pasti nanti kita bakal membutuhkan ini” ujar Wulan. “Ya sudah kamu tulis Lan, sebentar aku mau meminta kertas dulu,” kata Indra. Setelah Indra dapat, apa yang dia cari dia menyerahkannya kepada Wulan dia mulai menulis alamat Natta secara lengkap. Jalan kenangan gang harapan RT. 11 NO. 25 “Sudah Lan?” tanya Indra kembali. “Iya sudah ini,” sahut Wulan “Kapan kita mau mencari alamat ini Natta Ndra?” tanya Wulan. “Bagaimana jika besok, besok kan hari minggu sekolah libur Lan?” ujar Indra yang memberitahu. “Oke deh Ndra, besok jam berapa?” “Bagaimana jika sore saja sekitar jam 15.00, karena kalau pagi aku harus bantu bapakku jualan dulu Lan, baru aku boleh keluar.” “Ya sudah aku pun sepertimu kok Ndra, tapi kira-kira kamu tahu kan alamat ini?” tanya Wulan kembali untuk meyakinkan agar kami tidak tersesat. Lonceng sekolah mulai berbunyi kembali pelajaran akan mulai kembali. “Lan sudah bunyi loncek, yuk kita ke kelas,” ajak Indra kepadaku. Dan kami berdua mulai pergi bergegas meninggalkan perpustakaan itu dan kembali ke kelas untuk menerima pelajaran kembali. Sampai jam sekolah telah berakhir Wulan dan Indra mulai keluar dari kelas dan pulang ke rumah, seperti biasa Wulan dan Indra selalu pulang dengan beriringan. “Lan jangan lupa besok yah menjalankan misi kita,” Indar yang mengingatkan Wulan. “Sipp Ndra,” sahut Wulan. “Ya udah Ndra, sampai ketemu besok sore,” ucap Wulan sambil masuk ke pengarangan rumahku yang telah sampai. “Oke Lan.” “Assalamualaikum... Mbah... Mbah,” Wulan memanggil Mbah. “Ya Nduk, Mbah di dapur,” sahut Mbah yang teriak. Wulan menghampiri Mbah ke dapur guna untuk meminta ijin kepadanya besok mau pergi bersama Ndra. “Mbah...!” Panggil Wulan. “Ada apa Nduk, sepertinya ada yang penting!” kata Mbah yang telah dapat membaca gelagat Wulan. “Begini Mbah, besok Lan boleh ke rumah teman, buat kerja kelompok,” ucap Wulan yang berbohong kepada Mbah. “Dimana rumahnya?” tanya Mbah. “Lan kurang tahu sih Mbah tapi nanti sama teman Lan juga cowok Mbah.” Kata Wulan yang menjelaskan kepada Mbah. “Ya sudah, jam berapa?” tanya Mbah kembali. “Sore sih Mbah sekitar jam tigaan,” sahut Wulan. “Ya sudah kalau begitu Lan, jangan lupa Ijin dengan Ibumu juga,” sahut Mbah yang mengizinkan. “Terima kasih ya Mbah,” Wulan berkata sambil tersenyum dan memeluk Mbah. “Ganti baju sana habis itu, kamu makan Lan!” perintah Mbah. “Iya Mbah.” Wulan melaksanakan perintah yang Mbah perintahkan, dia meninggalkan Mbah yang ada di dapur ke kamar Wulan dan mulai mengganti baju Wulan barulah Wulan makan siang bersama Mbah. Tidak terasa sore hari telah tiba, hari ini tidak seperti biasanya ibu pulang lebih awal, di saat Wulan dan Mbah sedang ada di ruang tengah sedang berbincang dan menonton TV, terdengar suara ibu memanggil sambil mengetok pintu. Segera mungkin Wulan menuju pintu utama dan membatu membukakan pintu untuk ibu dan tidak lupa mencium tangannya. “Bu tumben hari ini pulang lebih awal?” tanya Wulan. “Ia Lan, barang produksi tidak terlalu jadinya ibu pulang lebih awal,” tutur Ibu yang menjelaskan kepada Wulan. “Oooooo... Begitu, Bu Wulan boleh minta ijin buat besok?” pinta Wulan yang sedikit gugup kepada Ibu karena takut tidak di ijinkan. “Mau ke mana Lan?” tanya Ibu. “Mau kerja kelompok ke rumah teman Bu,” Wulan terpaksa berbohong. “Anakmu, besok mau kerja kelompok di rumah temannya jam tiga sore Ayu, ibu suruh minta ijin sama kamu juga.” kata Mbah yang menghampiri Aku dan Ibu. “Ibu Bu, ayu mengerti.” “Lan pulangnya jangan malam-malam!” peringati Ibu. “Ia Bu, terima kasih Ibu dan Mbah.” “Ia Lan,” sahut serentak mereka berdua. **** Keesokan harinya Wulan yang sedang menunggu Indra di depan ruang tamu, dan beberapa menit kemudian terdengar suara orang mengetok pintu dan mengucapkan salam. Tok... Tok... Tok... “Assalamualaikum, Wulan!” panggil Indra. Mendengar Indra memanggil Wulan pun bergegas ke pintu utama untuk membukakan Indra masuk dan mempersilahkan dirinya untuk duduk di ruang tamu. “Indra kamu tunggu di sini dulu yah, aku mau pamit Mbah dan Ibu,” kataku kepada Indra yang sedang duduk sambil memperhatikan di sekitar rumah Wulan. “Oooo... Ya Lan, “ sahut Indra. Wulan pergi meninggalkan Indra dan menuju dapur untuk berpamitan kepada Ibu dan Mbah. “Bu...Mbah, teman Wulan sudah datang Wualn mau berangkat,” kataku yang meminta ijin kepada mereka berdua. “Iya Nduk hati-hati pulang jangan sampai mau malam,” nasehat dari Mbah. “Iya Mbah,” sahutku sambil mencium tangan Mbah. “Ingat Lan pulang jangan sampai malam,” ucap Ibu yang menegaskan kembali. “Ia Bu,” sahut Wulan sambil mencium tangan Ibu. Sudah mendapat restu dari mereka berdua aku dan Indra pun berangkat dengan memakai sepeda masing-masing, kebetulan ada sepeda ibu yang hari ini tidak ia gunakan untuk bekerja jadi bisa aku pinjam sebentar. Ibu dan Mbah mengantar Wulan sampai pintu utama dan mengucapkan kata-kata sama dari kemari. “Lan hati-hati, pulangnya jangan terlalu malam,” kata Ibu. “Iya Bu.” Yah mungkin karena Wulab tidak pernah keluar rumah jadi membuat Ibu dan Mbah sangat khawatir, padahal kalau Wulan ingat dia berbohong kepada mereka, rasa bersalah yang ada di hati Wulan bersama mereka. “Maafkan Wulab berbohong kepada kalian,” gumam Wulan melihat wajah mereka berdua. “Bagaimana Lan sudah siapa apa belum?” tanya Indra yang menghilangkan lamunan Wulan tadi. “Iya sudah siap.” “Ayo kita berangkat,” ujar Indra yang sangat bersemangat. “Ia, tapi jangan ngebut-ngebut!” ujar Wulan yang memperingati Indra Tidak menunggu lama, Wulan dan Indra langsung mengayuhkan pedal sepedaku ke alamat yang akan mereka tuju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN