Seluruh siswa masuk ke dalam kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran yang akan segera di mulai.
Sambil menunggu Guru yang masuk dan menerima materi yang ada Aku dan semua siswa mempersiapkan mata pelajaran yang akan di terima saat itu.
Dan tidak lama seorang Guru muda masuk ke kelasku, biasa di panggil Bu Ani yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia.
“Selamat siang murid-murid,” ucap salam dari Bu Ani.
“Selamat siang Bu,” serentak semua murid memberi ucapan.
“Ibu hari ini ada keperluan yang sangat mendesak, jadi Ibu akan menyuruh kalian untuk mencatat materi hari ini di papan tulis saja,” ujar Bu Ani.
“Wulandari, bisa maju sebentar ke meja Ibu!” perintah Bu Ani.
“Baik Bu,” sahutku.
Aku berdiri dari bangkuku dan berjalan ke arah Ibu Ani.
“Wulan Ibu minta tolong, tolong catatkan materi ini dari halaman 10 sampai 13 tentang materi tentang SPOK(Subjek Predikat Objek Keterangan) besok tinggal ibu jelaskan saja, Ibu minta tolong yah Wulan.” Ucap Bu guru Ani meminta tolong kepadaku.
“Baik Bu,” sahutku.
“Baiklah murid-murid ibu tinggal terlebih dahulu jangan membuat keributan saat ibu tinggal yah,” pesan Bu Ani.
“Baik Bu,” serentak para murid berucap.
Ibu Ani pun meninggalkan kelasku dan menyelesaikan urusannya. Aku pun mulai melaksanakan perintah Bu Ani mencatat di papan tulis agar semua siswa dapat mencatat pelajaran yang telah di beri. Sampai 2 jam telah berlalu Bu Ani datang kembali dan menutup mata pelajaran.
“Terima kasih sudah mengikuti pelajaran Ibu dengan baik,” ujar Bu Ani.
“Sama-sama” serentak seluruh kelas.
Sampai akhirnya di ganti dengan mata pelajaran yang baru. Aku pun harus mulai fokus kembali untuk belajar melupakan sejenak peristiwa Natta.
Setelah berjam-jam menerima materi pelajaran dari berbagai Guru akhirnya tiba lonceng sekolah berbunyi.
Teng... Teng...Teng ( Lonceng sekolah berbunyi menandakan pelajaran telah usai dan kembali pulang).
“Terima kasih murid-murid sampai ketemu besok lusa kita langsung ulangan harian,” ujar Ibu guru Biologi.
“Yah Ibu...” sahut beberapa siswa yang merasa keberatan.
“Baiklah ibu akhiri pelajaran kita hari ini dan persiapkan diri kalian untuk ulangan besok lusa,” kata Ibu Guru yang bergegas meninggalkan kelasku.
Aku merapikan bukuku masukinya dalam tas, agar tidak tertinggal.
“Lan...” tegur Indra.
“Apa Ndar,” sahutku.
“Kamu lupa tugas kita belum selesai,” ucap Indra yang mengingatkan.
“Ia Ndra aku ingat kok, lagi pula sekolah masih rame permasalahannya takutnya ada orang yang melihat kita berdua-duan di toilet Ndra,” jelaskan Aku kepada Ndra.
“Yah Lan, aku paham,” sahut Indra.
Sampai beberapa menit kemudian sekolah benar-benar sepi tapi masih ada para Guru di dalam kantor.
“Ayo Ndra udah sepi Nih,” ajakku.
“Oke Lan,” sahut Indra.
Setelah itu mereka berdua bergegas menuju toilet Wanita dan mulai melaksanakan aksinya, mereka berdua mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh para guru. Karena di sekolahan ini sekolah yang sangat bagus dan disiplin apa lagi jika melanggar peraturan bisa-bisa orang tua kami di panggil dan di berikan peringatan besar agar anaknya tidak melakukan kesalahan yang ke dua kali.
Sesampainya di toilet itu, Indra mulai mencari cara agar dapat masuk ke toilet yang paling ujung tepatnya terbunuhnya Natta.
“Lan tolong pegangkan tasku sementara sepertinya aku naik lewat atas pintu saja,” Ide dari Indra yang di utarakannya.
“Baik Ndra hati-hati yah” sahutku.
Indra pun mulai memanjat toilet itu, dengan berpijak di atas dagang pintu.
“Awas hati-hati Ndra jangan sampai rusak gagang pintu itu, nanti orang curi,” ucapku yang memperingati Indra.
“Ia...Ia, udah kamu jaga keadaan saja biar tidak ketahuan Guru.
“Ia Ndra,” sahutku.
Aku mulai bergegas melihat keadaan di luar, dan di saat itu Indra pun mencari buah kalung dari Natta.
“Lan... Ketemu,” sahut Indra dengan nada yang agak keras.
Aku pun menghampiri Indra dengan membawa, bawa tas indra namun tidak lama ada terdengar suara hentakan sepatu berjalan menuju toilet ini, aku mulai gugup, segera melemparkan tas Indra dari bawah pintu dan memberikan Indra aba-aba.
“Ndra ada orang yang menuju kesini,” ucapku sambil melemparkan tas Indra dari bawah pintu.
Dan benar saja ternyata itu Ibu Fitri wali kelas kami.
“Lan... Kamu belum pulang, mengobrol dengan siapa kamu?” tanya Ibu Fitri yang menyimpan curiga kepadaku.
“Enggak sama siapa-siapa Bu, Lan lagi kesal dari tadi perut Lan mules-mules terus Bu,” ujarku yang memberi alasan.
“Ah masa sih, coba ibu cek dulu,” sahut Bu Fitri yang tidak yakin dengan ucapanku menuju toilet paling ujung Indra berada.
Hentakan sepatu Bu Fitri membuat indra sangat gugup, dan untung saja Indra murid yang pandai ia menaiki kloset agar tidak ketahuan Bu Fitri.
Setelah Bu Fitri meyakinkan benar-benar tidak terjadi apa-apa ia pun berbalik arah, dan membuat jantungku mau copot saat itu.
“Huft...untung saja,” aku yang mengumam dan menghela nafas.
“Bu Ulan mau masuk toilet lagi, perut Ulan sakit,” sahutku sebagai alasan.
“Ya udah Lan, nanti kamu ke kantor ibu berikan obat,” ujar Bu Fitri.
“Ia Bu jika masih sakit Ulan ke kantor jika tidak Ulan langsung pulang Bu,” sahutku yang meninggalkan Bu Fitri masuk ke dalam kamar mandi.
Berdiam diri di sana sampai menunggu Ibu Fitri benar-benar tidak ada lagi di sana barulah aku kuar.
Mendengar tidak ada lagi Hentakan sepatu aku pun mulai keluar ingin memastikan keadaan yang ada, mulai membuka pintu dan mengintip dari celah pintu yang sedikit aku buku.
Dan Bu Fitri sudah tidak ada lagi di sana. Untuk memastikan keadaan benar-benar aman aku keluar dari ruangan toilet dan menjenguk keluar, hasilnya Bu Fitri benar-benar sudah tidak ada
Lalu Aku segera menghampiri Indra.
“Ndra udah aman,” ucapku dengan lirih.
“Huft untung saja Lan kita selamat,” ujar Indra sembari menghela nafas.
“Ayo Ndra kita keluar nanti sekolah di kunci, nanti kita tidak bisa keluar,” kataku.
Dengan cepat Indran memanjat gagang pintu untuk segera keluar, dan berhasil membawa buah kalung Natta.
“Ini buah kalungnya Lan,” kata Indra.
“Udah kamu yang simpan aja yah Ndra,” pinta Wulan.
“Yuk kita keluar dari seni sebelum Bu Fitri mendatangi aku kembali,” ujarku yang sedikit cemas.
“Baiklah Lan,” sahut Indra.
Dan kami berdua pergi meninggalkan toilet itu dengan perasaan tenang dan lega karena sudah menemukan yang di maksud oleh Natta.
Sesampainya di luar pagar sekolah dah untung saja Indra sudah keluar pagar sekolah terlebih dahulu karena saat itu Bu Fitri memanggilku ia sengaja keluar kantor saat melihatku.
“Bagaimana Lan? Masih sakit perut?” tanya Bu Fitri.
“Udah agak mendingan Bu,” ucapku yang berbohong.
“Ya sudah kalau kamu sudah lumayan sembuh, pulang hati-hati Lan,” kata Bu Fitri.
Setelah selesai berbincang sedikit dengan Bu fitri aku keluar dari pagar sekolah, ternyata di Indra menungguku di luar pagar ternyata.
“Bagaimana Lan, Bu Fitri yah, apa dia mengetahui aku di sana?” tanya Indra yang sedikit khawatir.
“Tenang Ndra, aman kok, tugas kita selanjutnya adalah mencari alamat rumah Natta indra,” Kataku yang mengajukan rencana selanjutnya.
“Siap komandan,” ujar Indra dengan leluconnya.
“Apa-apaan sih,” sahut Ulan dengan tersenyum.