Kematian Nitta part 1

1119 Kata
“PR nya di kumpul ya murid-murid!” Perintah Pak Guru. “Baik Pak,” ucap serentak seluruh siswa. Semua murid mengumpulkan tugasnya masing-masing di meja Guru, tanpa ada terkecuali yang tidak mengerjakan tugas. “Baiklah sambil Bapak koreksi tugas kalian, bisa kerjakan terlebih dahulu tugas halaman 10 sampai dengan halaman 11!” perintah pak guru. “Baik Pak” sahut serentak semua murid. Mereka semua mulai mengerjakan tugas yang di berikan Pak Guru. Begitu pun dengan Wulan, yang mulai mengambil buku Matematikanya di dalam tas untuk mengerjakan tugas. Saat Wulan baru ingin mengerjakan soal yang diberikan oleh Gurunya tiba-tiba Wulan di kejutkan oleh sebuah tulisan di bukunya “TOLONG AKU WULAN, NATTA,” tulisan yang terlihat di buku tulisku. Wulan pun sontak terkejut melihat tulisan itu dan berusaha memberi tahu Indra. “Indra...Indra...,” Wulan berbisik agar tidak mengganggu yang lain. Indra mulai menoleh ke arah Wulan. “Ada apa sih Lan?” sahut Indra. “Husttt... Jangan kencang-kencang ngomongnya coba lihat tulisan di bukuku,” sahut Wulan sambil memperlihatkan tulisan itu. “Natta? apa ini maksudnya?” tanya Indra yang mulai binggung. “Aku juga tidak tahu Ndra saat ingin mengambil buku tulis ini dan membukanya ada tulisan seperti ini,” tutur Wulan yang menjelaskan kepada Indra. “Ya sudah, nanti kita bahas ini setelah istirahat saja, nanti kita bakal kena marah kalau Pak Guru tahu kita masih saja mengobrol,” saran Indra. “Baiklah kalau begitu.” Keadaan kelas yang hening, semua murid sedang melaksanakan tugasnya masing-masing begitu pun Indra dan Wulan. Sampai akhirnya Waktu telah habis untuk mengerjakan tugas dari Pak Guru. “Murid-murid waktu kalian telah habis, tolong tugas di kumpul di meja Bapak!” perintah sang Guru. “Dan Bapak akan sebutkan nama-nama kalian masing-masing ambil PR kalian yang telah bapak koreksi, tapi di sini ada dua orang yang nilainya sangat bagus, sisanya di bawah rata-rata semua. Dan yang bapak panggil tolong maju ke depan,” ujar Pak Guru. “Wulandari dengan nilai 100,” panggil Pak Guru. Semau siswa bertepuk tangan kepada Wulan dan Wulan mulai berdiri maju. “Terima kasih Pak,” ucap Wulan yang tersenyum bahagia. “Selamat kamu dapat nilai bagus Wulan pertahankan terus nilaimu,” sahut Pak Guru memberi selamat. “Terima kasih Pak,” Wulan bergegas kembali ke bangku. Selelah itu Pak Guru memanggil salah satu murid lagi yang nilainya bagus. “Indra Saputra dengan nila 90,” panggil Pak Guru. Semua murid kembali bertepuk tangan untuk Indra. Mendengar panggilan dari Pak Guru, Indra berdiri dari bangkunya dan bergegas menuju meja Pak Guru. “Terima kasih Pak,” ujar Indra. “Ayo kalahkan Wulan posisimu sekarang di bawah Wulan,” kata Pak Guru yang memberikan semangat. “Baik Pak,” kata Indra yang bergegas kembali ke bangkunya. Selang beberapa lama lonceng berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. “Sampai bertemu kembali murid-murid,” kata Pak Guru. Setelah Pak Guru Pergi, para siswa yang ada di kelas pun keluar untuk beristirahat namun tidak dengan Indra dan Aku yang masih saja di berada di dalam kelas, untuk memecahkan tulisan di bukuku. “Lan, sepertinya Natta ingin meminta bantuan kepadamu?” tutur Indra. “Bantuan? Bagaimana caranya?” sahut Wulan dengan binggung. “Biarkan di masuk ke dalam dirimu untuk dia memberitahukan sesuatu apa yang terjadi kepadanya.” “Apakah itu tidak apa-apa Ndra,” ucap Wulan yang sedikit ragu dan takut. “Tidak apa-apa Lan percayalah kepadaku,” sahut Indra yang meyakinkan diriku. “Baiklah kalau memang begitu, apa yang harus aku lakukan,” tanya Wulan. “Pejamkan matamu, dan biar aku yang berinteraksi kepada Natta,” sahut Indra. Wulan mulai menuruti apa yang di perintahkan oleh Indra, menutup dan merelaxkan tubuhnya di bangku. Dan tidak lama seperti ada hantaman yang sangat dahsyat di tubuh Wulan dan membuatnya setengah tidak sadarkan diri. Seperti sedang melihat pertunjukan film. Di saat itu Wulan melihat adegan yang tidak pantas di lihat, Natta bukan berdasarkan keinginannya untuk berbuat m***m melainkan di paksa oleh pacarnya untuk memuaskan hasratnya, tindakan yang tidak pantas dilakukan. Setelah mengetahui dirinya telah hamil dia meminta pertanggung jawaban namun tidak mau dan akhirnya pikiran buntu Natta saat itu. Selepas pulang sekolah dia masuk ke dalam toilet perempuan tepatnya di toilet paling ujung dan saat dia ingin melakukan tidakkan bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya ada hal yang di ucapkannya. “Maafkan Natta Ya...Bu, Natta tidak bisa membanggakan kalian, Natta membuat kalian kecewa, Natta sayang kalian Yah...Bu,” pesan terakhir Natta saat ingin mengores pergelangan tangannya. Darah segar mengalir dari pembuluh nadi yang telah di putus oleh Natta, membuat seisi ruangan toilet penuh dengan darah segar, dan akhirnya Natta tewas di tempat karena kehabisan darah. Namun kalung yang di pakai Natta saat itu terkait dan terputus. Tidak selang beberapa lama, ada seorang siswi yang belum pulang, siswi itu mengedor-gedor pintu kamar mandi Natta. Tidak ada jawaban namun pintu kamar mandi itu terkunci lama-lama terlihat darah segar yang mengalir dari bawah pintu itu. Siswi itu mulai panik dan berusaha membuka pintu namun tidak bisa. Ia bergegas ke kantor guru dan memberitahukan semua yang ia lihat kepada para guru yang masih ada di kantor itu. Berbondong-bondong para guru mendatangi toilet siswi itu dan membuka paksa pintu yang di kunci oleh Natta. Alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui Natta telah tidak bernyawa lagi, mereka semau membawa Natta dan mengabarkan berita duka cita ini kepada orang tua Natta. Setelah aku melihat kejadian itu aku berada di sebuah dimensi lain, di sebuah ruangan yang tidak terlalu terang. Di sana aku bertemu dengan sosok Natta, ia berbicara kepadaku. “Wulan, bantu aku mengucapkan permintaan untuk Ayah dan Ibuku, ambillah buah kalungku di toilet itu berikan kepada mereka dan sampaikan permintaan maafku untuk mereka, aku sangat sayang kepada mereka Wulan,” tutur Natta meneteskan air mata. “Baiklah Natta, aku akan menyampaikan pesan terakhirmu,” sahut Wulan. “Terima kasih Wulan, agar aku bisa kembali dengan tenang Wulan,” tutur Natta dengan tersenyum. Kesedihan, kekecewaan, dan harapan yang telah hancur aku rasakan saat telah melihat semuanya. Doaku semoga kau tenang di alammu Natta. Dan tiba-tiba aku seperti di tarik kembali ke tubuhku, membuka mataku secara perlahan-lahan terlihat Indra yang memperhatikan wajahku. “Kamu nggak apa-apa Lan?” tanya Indra. “Ya aku nggak apa-apa?” sahutku. “Kenapa kamu menangis Lan? Apa yang kamu lihat?” tanya kembali Indra. “Aku melihat semuanya Ndra tentang Natta?” “Apa yang kamu lihat Lan?” tanya Indra dengan penasaran. “Dia di perkosa Ndra” sahut Wulan dengan menagis. “Jadi selama ini yang aku dengar itu hanya alibi saja,” ujar Indra yang sangat kesal. “Terus apa yang di ucapkan oleh Natta kembali?” tanya kembali Indra. Teng...Teng...teng...( Bunyi lonceng sekolah yang menandakan waktu istirahat telah berakhir).
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN