Mereka berempat pergi ke rumah Wulan bersama-sama, Indra menunjukkan jalan menuju rumah Wulan.
“Aku penasaran gimana tampang Wulan sekarang?” ucap Sinta dengan seringai jahat.
“Kira-kira Wulan di bikin kaya gimana ya sama Mbah Barjo?” ucap Tiara penasaran.
“Dibikin buruk rupa mungkin,” celetuk Sinta
Mereka bertiga tertawa cekikikan di belakang Indra, karena posisi Indra jauh di depan mereka dia tidak dapat mendengar ucapan Sinta, Indra hanya mendengar mereka tertawa sembari berjalan menuju rumah Wulan.
“Kalian ini mau jenguk orang sakit atau mau bercanda sih?” Indra kesal dengan tawa Sinta yang seakan tidak sepenuh hati untuk menjenguk Wulan.
“Ahh Indra nggak asik!” ucap Sinta dengan wajah cemberut.
“Udah Sin, tujuan kita untuk memastikan apakah guna-guna Mbah Barjo itu manjur apa tidak.”
“Iya Tiara.”
“Udah jangan cemberut Sin,” ucap Tika.
Mereka pun sampai di rumah Wulan, Indra melepas sepatunya lalu naik ke teras rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Indra sambil mengetuk pintu.
“Walaikumsalam,” terdengar sahutan salam dari dalam rumah.
Pintu terbuka, rupanya yang menyahut salam Indra adalah Ayu.
“Permisi Bu, saya sama teman-teman mau jenguk Wulan,” ucap Indra.
“Oh teman Wulan, ayo nak masuk,” Ayu mepersilahkan mereka masuk.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu, terlihat Sinta, Tika dan Tiara sedari tadi celingak-celinguk tidak karuan.
“Kalian kenapa sih?” tanya Indra.
“Eh anu, Bu Wulannya mana?” ucap Sinta.
“Wulannya ada di kamar, seebntar ibu buatkan minum dulu ya,” ucap Ayu.
“Nggak usah repot-repot Bu,” sahut Indra.
“Minum apaan? palingan juga air putih,” gumam Sinta dalam hati.
“Iya Bu nggak usah repot-repot kami nggak bisa minum sembarangan soalnya,” ucap Tiara.
Mendengar ucapan Tiara Indra langsung menatap tajam ke arahnya.
“Ra, kamu ngomong apa sih?” Tika menegur Tiara.
“Maaf Bu, ucapan temen saya nggak usah di fikirkan,” Indra merasa tidak enak hati.
“Sudah tidak apa-apa tunggu sebentar ya Ibu bikinkan minum.”
Ayu meninggalkan mereka berempat untuk membuatkan minum, sebelum ke dapur Ayu masuk ke dalam kamar Wulan.
“Wulan, teman sekelas kamu datang buat jenguk, Ibu mau bikinkan mereka minum dulu nanti ibu ajak mereka bertemu kamu ya,” tutur Ayu.
“Jangan Bu! Wulan mlu Bu, tubuh Wulan seperti ini Wulan nggak mau ketemu siapapun.”
“Tapi nak teman-teman kamu sengaja datang untuk kamu,” Ayu beusaha membujuk Wulan.
“Nggak Bu Wulan nggak mau,” ucap Wulan sambil menagis.
Ayu hanya bisa menghela nafas, namun Ayu juga tidak bisa memaksa Wulan apa lagi dengan kondisinya sekarang ini. Ayu pun pergi kedapur untuk membuat minuman tidak lupa Ayu menyiapkan kue buatan Mbah untuk mereka.
“Ini Nak silahkan, tadi Ibu ke kamar Wulan ternyata Wulannya sedang tidur,” ucap Ayu yang terpaksa berbohong.
“Nggak apa-apa Bu kami ngeti kok,” ucap Indra.
“Hah? Kami disuruh makan dan minum ini? Nggak banget!” gumam Sinta dalam hati.
Karena Sinta sangat penasaran dengan kondisi Wulan, dia menyuruh Tiara untuk pura-pura ke kamar kecil.
“Tik, kamu cek Wulan jangan sampai ketahuan,” bisik Sinta.
“Tenang serahkan semuanya sama aku,” sahut Tika.
“Bu, saya mau numpang ke toilet,” ucap Tika.
“Silahkan Nak, toiletnya ada di belakang, masuk saja,” sahut Ayu.
Dengan sigap Tika berjalan menuju toilet, Tika mencuri kesempatan untuk mencari posisi kamat Wulan dengan perlahan Tika membuka gorden penutup kamar Wulan.
Tika berjalan perlahan sambi melihat-lihat seisi ruangan karena posisi ruang tamu berada di depan sedangkan untuk ke dapur harus melewati beberapa kamar Tika membuka satu persatu gorden penutup pintu kamar.
Perhatian Tika tertuju pada sebuah kamar tanpa pintu, yang hanya di tutupi oleh gorden saja dengan perlahan Tika mengintip di balik goden. Mata Tika terbelalak ketika melihat seseorang yang berada di kamar tersebut. Tanpa pikir panjang Tika langsung masuk kedalam kamar itu.
“Tika!” Wulan terkejut.
“Wulan? Kamu Wulan kan?” ucap Tika dengan wajah sedikit ketakutan.
“Kamu kenapa masuk tanpa izin?” bentak Wulan.
“A-ku tadi cari toilet tapi nggak ketemu, ya sudah cepat sembuh,” ucap Tika sambil berlari keluar kamar Wulan.
Tika yang mengetahui hal tersebut langsung menghampiri Tiara dan Sinta.
“Sin, Ra ayo balik cepetan!” ucap Tika.
“Apaan sih Tik,” ucap Tiara.
“Kamu kenapa Nak? Ada yang salah?” ucap Ayu.
Tika tidak menggubris ucapa Ayu, Tika malah terus menarik tangan Sinta dan Tiara untuk.mengajak mereka pulang.
“Ihhh ayo cepetan!” ucap Tika sambil keluar rumah.
“Bu kami pulang dulu ya, Ndra kami duluan,” ucap Sinta.
“Kalian ini kenapa sih? bukannya kamu yang ngajak aku jenguk Wulan!” ucap Indra yang mulai jengkel dengan kelakuan mereka.
Sinta dan yang lainnya pergi meninggalkan Indra dan Ayu.
“Bu, maafin teman saya ya Bu mereka mang kaya gitu nggak sopan,” ucap Indra.
“Sudah nggak apa-apa Nak, ayo diminum dulu tehnya”.
“Bu sebenarnya Wulan sakit apa?” tanya Indra.
“Kata Mantri Wulan gejala tifus tapi….” Ayu ragu memberi tahu Indra.
“Tapi kenapa Bu? Saya sangat khawatir dengan Wulan.”
Ayu menghela nafas dan terdiam sejenak, akhirnya ayu mengajak Indra bertemu dengan Wulan.
“Kamu mau lihat Wulan?” tanya Ayu.
“Tentu saja Bu.”
“Ya sudah ayo kita ke kamar Wulan,” Ayu berdiri sembari berjalan di ikuti oleh Indra.
“Nak,” ucap Ayu sambil masuk kedalam kamar Wulan.
“Indra! Bu, kenapa ibu bawa Indra ke sini Wulan nggak mau Bu,” ucap Wulan yang langsung menutupi dirinya dengan selimut.
“Nak, jangan begitu teman kamu sangat khawatir sama kamu Nak,” ucap Ayu.
“Suruh Indra pulang aja Bu Wulan nggak mau Wulan malu,” ucap Wulan sambil menagis.
“Kenapa kamu mesti malu Lan? Kita kan teman,” ucap Indra.
“Apa kamu nggak jijik Ndra lihat aku kaya gini?” ucap Wulan sambil keluar dari selimutnya.
“Astagfirullah Wulan kenapa kok kami bisa sampai begini?” ucap Ibdra yang langsung menghampiri Wulan.
“Jangan dekat-dekat aku Ndra,” ucap Wulan.
“Lan, kita ini teman aku bahkan nggak merasa jijik atau apa pun,” tutur Indra.
“Bohong kamu jijik kan sama kaya Tika tadi?”
“Astaga Wulan aku bukan seperti mereka, kamu jangan berpikir begitu.”
“Bu, sebenarnya Wulan sakit apa Bu? Kenapa kondisi Wulan bisa sampai seperti ini?” tanya Indra.
“Ibu juga kurang yakin Nak, rencananya Ibu akan bawa Wulan ke rumah sakit.”
“Kapan Bu? Saya boleh ikut antar Wulan?” tanya Indra.
“Besok pagi Nak, kamu apa tidak di marahi orang tuamu?” tanya Ayu.
“Pas banget besok kan hari Minggu, tenang aja Bu orang tua saya pasti ngizinin,” ucap Indra.
“Ya sudah, nanti kita sama-sama ke rumah sakit ya,” ucap Ayu.
“Saya pinjamin mobil ayah saya ya Bu,” Indra menawarkan diri.
“Jangan, Ibu tidak mau merepotkan kita bisa naik taxi nanti,” sahut Ayu.
“Udah nggak apa-apa Bu, dari pada mobil ayah nganggur di rumah nanti saya bilang sama ayah.”
Ayu tidak bisa menolah penawaran dari Indra, Ayu merasa senang karena Wulan bisa memiliki teman sebaik Indra.
Indra pun berpamitan dengan Wulan dan Ibunya, sambil memberi semangat kepada Wulan. Wulan pun merasa senag karena ternyata Indra sangat peduli dengannya.