kembali ke sekolah

1088 Kata
Setelah Bi Ijah selesai membersihkan luka yang ada di perut Sinta ia pun kembali menyuruh mereka untuk tidur karena jam masih menunjukkan jam 04.00 dini hari. “Kembali tidur Non, nanti pagi bibi bangunkan pergi ke sekolah,” tutur Bi Ijah yang menyarankan mereka bertiga kembali beristirahat. “Sinta takut Bi, takut mimpi seram kembali,” Sinta yang masih trauma untuk melanjutkan tidur. “Udah nggak usah di pikir lagi pula itu hanya mimpi bunga tidur Non, dan sebelum tidur sebaiknya Non-non bertiga membaca doa terlebih dahulu agar di jauhkan dari mimpi seram,” nasehat Bi Ijah. “Ia Bi makasih yah,” kata Tiara. “Sinta nggak hafal doa tidur Bi,” Sinta yang merasa malu karena dari kecil Sinta memang kurang dalam didikan agama oleh orang tuanya. “Ya sudah Non Sinta Ikutin Bibi baca doa yah, nanti-nanti Bibi catat doanya Non Sinta bisa menghafal doa itu,” kata Bi ijah seraya memimpin doa yang di ikutin mereka bertiga. Selesai Bi Ijah memimpin doa kepada mereka bertiga, dan mereka bertiga pun melanjutkan tidurnya kembali. Bi Ijah yang melihat mereka kembali tidur dengan nyenyak, mencoba untuk pelan-pelan keluar dari kamar Sinta, kembali ke dapur untuk melaksanakan rutinitasnya sehari-hari, dari menyiapkan makan untuk Sinta, membersihkan rumah dan lain-lain. Kringgg... Kringgg ( Bunyi alarm jam beker Sinta) Sinta, Tika, dan Tiara terbangun mendengar alarm jam beker yang berbunyi dan menunjukkan jam 05.30 dini hari. Sinta yang mematikan alarm jamnya bergegas mandi untuk pergi ke sekolah bersama teman-temannya. Mereka bertiga pun bergantian masuk kamar mandi yang ada di kamar Sinta. “Sin masih lama, perutku saki?” Tika yang mengedor pintu kamar mandi karena sakit perutnya. “Bentar dulu belum selesai, tika... Kan di ruang tamu ada kamar mandi,” teriak Sinta yang memberitahukan dari dalam kamar mandi. Karena Tika yang tidak tahan lagi dengan sakit perutnya ia pun berlari keluar dari kamar Sinta menuju kamar mandi yang berada di ruang tamu. Beberapa menit kemudian Sinta yang telah selesai dan keluar dari kamar mandi di lanjutkan oleh Tiara yang masuk dan mandi. Setelah itu Sinta memakai baju seragamnya ia melihat bekas goresan luka di perutnya mulai mengering dengan cepat Sinta yang di binggung kenapa dalam waktu beberapa jam saja luka di peritnya mengering. Sinta yang sudah selesai memakai baju seragamnya menuju meja makan untuk sarapan. “Pagi Non, bagaimana tidurnya tadi malam nyenyak,” Bi Ijah yang menanyakan kepada Sinta. “Ia Bi udah tidak mimpi horor lagi, makasih yah Bi,” sahut Sinta yang mengucapkan terima kasih kepada Bi Ijah. “Ya udah Silahkan sarapan Non, Bibi tinggal dulu mau lanjut mencuci baju,” pamit Bi Ijah kepada Sinta. “Ia Bi,” sahut Sinta. Sinta yang mengambil roti tawar yang di oleskan selai coklat berpadu dengan s**u putih hangat menambah nikmat sarapan pagi itu. Saat Sinta tengah menikmati makannya Tiara dan Tika sudah selesai berpakaian mendatangi Sinta di meja makan untuk sarapan pagi. “Tiara, Tika yuk di makan nih roti,” Sinta yang mempersilahkan mereka berdua menikmati roti sarapan di pagi hari. “Ia Sin makasih yah,” sahut serentak mereka berdua. Tiara dan Tika pun menikmati sarapan di pagi hari itu sambil berbincang-bincang. “Bagaimana Sin lukamu terus tidurnya tadi malam?” Tanya Tiara sembari menikmati roti yang diisi oleh selai strawbery. “luka yang ada di perutku sudah mulai mengering dan mau sembuh, dan tadi malam aku juga tidak bermimpi seram kembali, bagaimana dengan kalian Tiara dan Tika?” Sinta yang bertanya kepda merek bertiga. “Ia Sin, aku tidak bermimpi seram kembali,” kata Tiara. “Aku pun ia sin,” sahut Tika. Jam sudah menunjukkan 07.00 waktunya mereka pergi ke sekolah dengan di antar oleh pak Slamet dengan mobil. Sinta beserta kedua temannya itu menaiki mobil dan pergi ke sekolah. “Ayo Pak kita berangkat entar kesiangan lagi,” kata Sinta memerintahkan Pak Slamet untuk menjalankan mobilnya. Pak Slamet pun menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan standar. Sesampainya di sekolah Sinta dan kawan-kawan memasuki ruang kelas namun mereka bertiga tidak melihat Wulan, mereka bertiga menuju tempat duduk masing-masing. “Sin, Wulan hari ini nggak kelihatan apa yang di lakukan Mbah Barjo telah berhasil Sin?” Tiara yang bertanya kepada Sinta. “Entahlah, tapi mungkin saja ia Tiara,” sahut Sinta. “Aku mau tanya sama Indra dulu, kalian berdua mau ikut,” ajak Sinta kepada Tiara dan Tika. “Ia ikut,” kata Tika. Mereka bertiga menghampiri Indra di bangkunya yang tengah duduk sendirian. “Sendirian aja Nih, mana Wulan kok nggak kelihatan?” tanya Sinta yang penasaran tentang keadaan Wulan. “Ia nih, udah dua hari dengan hari ini Wulan tak kunjung masuk sekolah, ia sakit Sin,” Indra yang menjawab pertanyaan Sinta dan menjelaskan tentang Wulan. “Ooo gitu bagaimana kalau sehabis pulang sekolah kita menjenguk Wulan,” Sinta yang memberi saran kepada Indra. “Ide bagus itu Sin,” kata Indra yang dengan senyum semringahnya. “Mampus kau Wulan, indra akan melihat keadaanmu saat ini dan dia tidak akan mau lagi kepadamu, indra akan menyukaiku tidak dengan mu lagi Ha... Ha... Ha...,” gumam hati kecil Sinta yang sangat jahat. “Ya udah yah Ndra aku mau ke kantin terlebih dahulu, selepas pulang sekolah kita bareng ke rumah Wulan, yuk kita ke kantin!” ujar Sinta yang mengajak ke dua temannya Tiara dan Tika. Mereka bertiga meninggalkan Indra di kelas dan pergi ke kantin sembari menunggu jam pelajaran di mulai. Sesampainya di sana Sinta hanya memesan minum sebenarnya ia ingin berdiskusi dengan Tiara dan Tika masalah Wulan, takut Indra mendengar percakapan mereka maka mereka pun menghindari. “Sin, kita harus memastikan apa Wulan benar-benar sakit yang kita harapkan, atau dia hanya sakit demam saja,” ujar Tiara. “Ia Sin, benar kata Tiara,” celetuk Tika. “Ia tenang saja sehabis pulang sekolah kita akan ke rumah Wulan berasam Indra,” Sinta yang menjawab pertanyaan Tiara. “Aku takutnya Sumarni, kuntilanak yang selalu membantu dia kembali membantu lagi,” capak Tiara yang mengungkapkan keraguannya. “Ia benar apa yang kamu katakan Tiara, tidak terlintas di pikiranku bahwa kuntilanak itu akan membantu Wulan,” Sinta yang memikirkan ucapan Tiara. “Ia juga Sih, yang di ucapkan oleh Tiara, yang membuat kita khawatir kuntilanak itu membantu Wulan dan sia-sia perjalanan kita yang jauh itu kalau tugas Mbah Barjo membuat Wulan menjadi buruk rupa gagal,” celetuk Tika yang memikirkan ucapan dari Tiara juga. Saat tengah asik mereka berdiskusi lonceng sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran akan segera di mulai, mendengar lonceng yang berbunyi Sinta dan kawan-kawan bergegas masuk ke dalam kelas meninggalkan kantin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN