Sinta yang terluka

1082 Kata
Namun secara tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk bahu Tika dan Tiara, merasa ada seseorang yang menepuk bahu mereka berdua mereka berdua saling mengadu. “Sin, Tiara, ada yang menepuk pundakku,” ucap Tika memberitahukan kepada kedua temannya. “Ia Tika, aku juga seperti itu ada yang menepuk pundakku,” sahut Tiara. Secara bersamaan mereka bertiga Sinta, Tiara, dan Tika menoleh ke arah belakang. Dan begitu terkejutnya mereka bertiga melihat seseorang yang menepuk pundak mereka itu sangat seram dengan wajah yang kulitnya terkoyak terlihat daging di wajah berwarna merah, tangannya pun sama kulit di tangan itu terkoyak terlihat daging-daging yang membalut tangan luka itu seperti luka bakar yang cukup parah. Di sertai bola mata yang berwarna merah, darah yang keluar dari daging di wajah hingga di tangan yang kulitnya terkoyak. Pemandangan seram itu membuat Sinta, Tiara, dan Tika sangat ketakutan dan ingin berlari kencang. Namun saat mereka ingin pergi dan berlari seseorang itu berhasil memegang kedua tangan Tiara dan Tika dengan ke dua tangannya sehingga membuat Tiara dan Tika tidak bisa pergi atau kabur, hanya Si Sinta lah yang dapat lolos dari seseorang pria yang sangat menyeramkan itu. Tiara dan Tika meronta-ronta ingin berusaha kabur namun anehnya tenaga seseorang misterius itu sangat kuat dan besar sekali mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa dan apa bila mereka berusaha untuk kabur cengkeraman tangan seseorang itu bertambah erat hingga membuat Tiara dan Tika sakit. Sesosok misterius itu membawa Tiara dan Tika dengan cara memegangi pergelangan tangannya lalu menyeret mereka berdua menuju lubang yang telah di siapkan untuk mereka bertiga. Seseorang itu mampu menyeret mereka berdua sampai akhirnya di samping lubang yang lumayan dalam seperti lubang kuburan namun lebih besar dan dalam lagi. Mereka berdua di dorong dan masuk ke lubang itu, setelah masuk ke lubang itu seseorang misterius itu berkata beberapa patah kata. “Kalian harus aku tumbalkan,” sosok lelaki menyeramkan itu berkata. Setelah itu sosok lelaki menyeramkan itu mencangkul gundukan tanah yang ada dipinggirkan liang lahat itu lalu menjatuhkan tanah merah itu di lubang liang lahat sampai mereka benar-benar terkubur hidup-hidup. Sementara Sinta yang berhasil kabur di kejar dengan sosok yang menyeramkan bertubuh besar hitam bertanduk dua, bermata merah, gigi yang bertaring kuku tangan yang hitam dan panjang-panjang serta mulut yang penuh dengan darah sosok itu seperti sosok iblis. Sinta yang di kejar dengan sosok iblis yang menyeramkan berlari sangat kencang dan sosok itu mengejar di belakangnya untuk menangkap Sinta. Saat Sinta tengah berlari tiba-tiba ia tersandung akar pohon yang menyebabkan ia terjatuh mempermudah iblis itu mendekati dirinya. Iblis itu berjalan mendekati Sinta mengeluarkan taringnya seperti hendak membunuh dan menghisap darah Sinta. Saat telah mendekat iblis itu mengarahkan tangannya dengan kuku-kuku yang sangat tajam ke perut Sinta seperti ingin merobek perut Sinta. Sinta yang saat itu tidak bisa berbuat apa-apa hanya dapat berteriak kencang. “Jaaanngggaaaaaannnnnnn,” teriak Sinta dan terbangun dari mimpi buruknya. Saat Sinta terbangun ia teringat akan mimpinya yang sangat menyeramkan itu, dua kali ia bermimpi hal yang menyeramkan akan membunuhnya. Tiba-tiba terdengar teriakan kedua temannya yang tidur bersamanya, dengan sigap Sinta membangunkan Tiara dan juga Tika yang sedang mengalami mimpi buruk sama halnya seperti dirinya. “Tiara... Tika... ayo bangun,” ucap Sinta yang membangunkan mereka berdua dengan cara menggoyang-goyahkan tubuh mereka berdua. Sontak saja mereka berdua pun terbangun dari mimpi buruk mereka. “Sinta aku bermimpi sama sepertimu, aku dan Tiara di masukan lubang untuk di kubur hidup-hidup,” cerita Tika dengan nafas yang tidak stabil. “Ia Tika, aku pun mimpi sama sepertimu kita berdua akan di bunuh dengan cara di kubur hidup-hidup,” sahut Tiara yang menceritakan mimpi yang sama kepada Tika dan Sinta. Saat Sinta tengah asik menyimak cerita mereka, rasa sakit dan perih muncul di perut Sinta. “Auuu...,” Sinta yang teriak kesakitan. “Ada apa Sin,” tanya Tiara yang binggung tiba-tiba Sinta berteriak kesakitan. “Perutku sakit dan perih seperti ada luka,” jelaskan Sinta sambil membuka bajunya dan melihat perutnya. Dan benar saja ada goresan di perut Sinta ketika ia ingin di bunuh oleh iblis itu namun Sinta telah terbangun dari mimpinya. Sontak Tiara dan Tika yang melihatnya sangat terkejut dan kaget menanyakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Sinta. “Kamu kenapa Sin?” tanya Tika. “Ada apa dengan mu Sin?” tanya Tiara. “Aku bermimpi sama dengan kalian berdua tapi aku dapat kabur dan bertemu dengan sesosok makhluk yang sangat menyeramkan sekali yang ingin membunuhku, saat makhluk itu ingin merobek-robek perutku aku terbangun dan aku juga tidak tau luka di perutku ini akibat mimpi makhluk yang ingin membunuhku atau bagaimana tapi se ingatku aku tidak punya luka di perut,” ujar Sinta yang menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada dirinya. “Berti kita bertiga bermimpi bersama, aku pun melihatmu Sin yang tidak tertangkap oleh pria yang menyeramkan itu,” Tiara yang mulai menyadari mimpinya. “Ia benar yang kamu ucapkan Tiara, aku pun melihatmu bersamaku di lubang yang akan di gunakan untuk mengubur kita hidup-hidup,” sahut Tika. “Aneh kenapa kita bertiga bisa bermimpi sama dalam satu waktu dan merasakan tempat yang sama di dalam mimpi itu,” ujar Sinta yang seraya berpikir dengan mimpi buruk itu. “Ya sudah Sin, tidak perlu di pikirkan semoga saja ini hanya bunga tidur bukan pertanda yang tidak baik untuk kita bertiga, oya aku panggil Bi Ijah dulu untuk mengobati luka yang ada di perutmu itu Sin,” Tiara yang sangat peduli kepada Sinta. “Ya sudah Tiara, terima kasih,” sahut Sinta. Sementara Tiara yang bergegas keluar mendatangi kamar Bi Ijah guna untuk meminta tolong mengobati luka yang di alami oleh Sinta. Sesampainya di depan pintu kamar Bi Ijah Tiara mengetok dan memanggil Bi Ijah. “Bi Ijah... Bi Ijah... Bi Ijah,” ketok Tiara sembari memanggil Bi Ijah. Bi Ijah yang mendengar ketokan Tiara pun terbangun dan membuka pintu kamarnya, “Ada apa Non Tiara memanggil Bi Ijah? Tanya Bi Ijah yang memang ingin bangun karena hari mulai subuh. “Itu Bi Sinta terluka Bi Ijah bisa bantu mengobati,” pinta Tiara kepada BI Ijah. “Oh bisa Non,” sahut bi Ijah yang bergegas mendatangi Sinta di kamarnya dengan membawa kotak P3K. Sesampainya di kamar Sinta Bi Ijah langsung mengobati luka goresan yang ada di perut Sinta, sembari menanyakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Sinta. “Ada apa ini Non Sinta, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bi Ijah yang sambil mengobati Sinta yang terluka. Sinta hanya diam saja tidak menjawab sepatah kata pun, dan hanya merasakan luka yang sangat perih ketika Bi Ijah mengobatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN