Mimpi yang sama kepada Tiara dan Tika

1093 Kata
Perjalanan untuk pulang tidak memakan waktu yang lama, Sinta yang memerintahkan sopirnya Pak Selamat untuk lebih laju membawa mobilnya agar lebih cepat sampai. “Pak Selamat tolong bawa mobilnya lebih cepat yah soalnya besok Sinta dan teman-teman harus masuk sekolah,” perintah Sinta yang menyuruh meningkatkan kecepatan laju mobil. “Baik Non,” ujar Pak Selamat yang fokus memacu kecepatan mobilnya. Setelah mimpi menyeramkan itu Sinta tidak bisa tidur kembali, ia bersama Tiara dan Tika menghabiskan waktu untuk mengobrol. “Sin kenapa kok diam? Masih memikirkan tentang Mimpi itu” tanya Tiara yang melihat wajah Sinta yang sedang murung. “Ia Sin, udah nggak usah dipikirkan, itu kan hanya bunga tidur, lebih baik kita liat besok di sekolahan kondisi Wulan apakah Mbah Barjo berhasil melaksanakan tugasnya itu,” tutur Tika yang mengalihkan pemikiran Sinta tentang mimpi tersebut. “Ia benar apa yang kamu ucapkan Tika, lebih baik aku memikirkan tugas Mbah Barjo berhasil tidak, soalnya buat apa kita jauh-jauh ke rumahnya dan memberikan uang yang banyak jika tugasnya tidak berhasil semua itu akan sia-sia,” sahut Sinta yang tersadar sejenak. Berjam-jam mereka semua berada di mobil singgah hanya beberapa jam saja untuk makan selanjutnya mereka kembali menempuh perjalanan pulang. “Tiara, Tika, malam ini kalian menginap di rumahku saja besok baru kita pergi ke sekolah bareng-bareng di antar sama Pak Selamat, Oh ia kalian berdua bawa baju sekolah kan?” Sinta yang menyuruh kedua temannya untuk tidur bersamanya malam ini dengannya. “Ia Sin, kita berdua malam ini tidur di rumahmu kok nggak mungkin pulang malam-malam yang ada orang rumah curiga malahan. Baju sekolah tenang aku bawa kok sengaja aku persiapkan,” jawab Tiara kepada Sinta. “Ia benar kata Tiara, nggak mungkin kami pulang malam-malam, dan soaln baju sekolah tenang semua beres dan aman kok,” celetuk Tika kepada Sinta. “Oke kalau begitu malam nanti kalian tidur di rumahku yang sekalian menemani aku, Papah, Mamah pasti nggak pulang lagi,” sahut Sinta. “Oya Sin kenapa sih Papah dan Mamahmu jarang pulang, apa mereka tidak kangen dengan mu?” tanya Tika yang heran kepada kedua orang tua Sinta. “Kan udah pernah aku jelas in kepada kalian, kangen hah nggak mungkin yang ada di otak mereka itu uang dan uang saja,” sahut Sinta yang sangat kesal kepada kedua orang tuanya yang tidak memperdulikannya dirinya. “Ya udah Sin, sabar yah kan ada kita berdua,” Tiara yang mencoba menenangkan Sinta. “Udah biasa jadi santai aja, makasih yang buah kalian berdua selalu ada buat aku,” cakap Sinta yang terharu kepada kesetiaan kedua sahabatnya itu. “Ia sama-sama, udah ah jangan sedih-sedih entar aku ikut sedih,” Tika yang tidak mau melihat sahabatnya itu sedih. Saking asyiknya mereka mengobrol tidak terasa mereka semua telah sampai di rumah Sinta sekitar jam 02.00 pagi. “Akhirnya sampai juga aku udah ngantuk banget Sin!” kata Tika yang sedari tadi menguap menahan ngantuk. “Ia Sin aku pun, dari kita mengobrol aja jadi nggak bisa tidur di mobil,” celetuk Tiara sembari menguap karena mengantuk. Mereka bertiga keluar dari mobil menuju kamar mandi terlebih dahulu barulah mereka bergegas menuju kamar Sinta. Saat mereka menuju kamar Sinta, Bi Ijah menegur Sinta. “Baru sampai Non,” ujar Bi Ijah. “Ia Bi cape banget, oyah bagaimana Papah dan Mamah aman kan?” Sinta yang menanyakan kepada Bi Ijah tentang dirinya pergi orang tuanya tidak mengetahui hal tersebut. “Tenang Non, serahkan kepada bibi semua aman terkendali,” sahut Bi Ijah yang dengan banggannya. “Bangus kalau begitu, ini buat Bi Ijah ucapan terima kasih Sinta,” ujar Sinta yang mengambil uang yang berwarna merah beberapa lembar untuk Bi Ijah. “Eh Non nggak usah, Bibi ikhlas bantu Non Sinta kok,” Bi ijah yang merasa tidak nyaman di beri oleh Sinta. “Udah ambil aja,” Sinta yang memaksa. “Ya udah Bi Sinta mau ke kamar sama teman-teman udah ngantuk Nih,” ujar Sinta sembari menguap. “Ia Non, silahkan,” Mereka bertiga bergegas meninggalkan Bi Ijah dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di kamar Sinta, yang nyaman tempat tidur yang empuk ruangan yang dingin karena AC membuat mereka tidak perlu waktu lama untuk tertidur. Beberapa menit kemudian mereka bertiga tertidur dengan sangat pulas dan bermimpi aneh secara bersama-sama. Sinta, Tiara, dan juga Tika mereka bermimpi di sebuah hutan namun di hutan itu terdapat rumah yang tidak terawat lagi, di sana mereka bertiga bertemu. “Tiara, Tika,” panggil Sinta dari kejauhan. “Eh Sinta kamu juga di sini, kita berada di mana ini seperti tidak asing?” ucap Tiara. “Aku pernah bermimpi di tempat ini,” sahut Sinta. “Ah masa Sin,” celetuk Tika. “Ia beneran aku tidak bohong coba kita masuk ke rumah itu,” kata Sinta sambil menunjuk rumah kosong yang pernah ada di mimpinya. Mereka bertiga pun pergi menuju rumah kosong tersebut, Sinta yang menjadi pemimpin barisan di depan karena dirinya yang lebih mengetahui keadaan di sekelilingnya ketimbang Tiara dan Tika. Sinta yang mulai membuka pintu rumah tersebut dan masuk ke rumah itu. “Ia benar ini rumah sama seperti di mimpiku sebelumnya,” celetuk Sinta meyakinkan kedua temannya. Lalu Sinta mengarahkan mereka ke pintu dapur. “Tiara, Tika coba ikut aku ke dapur di luar dapur itu aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Mbah Barjo tapi bukan wajahnya seram dan seseorang itu yang mengali tanah dan ingin menguburkan ku hidup-hidup,” kata Sinta yang menjelaskan kepada kedua temanya. Mereka berdua mengikuti Sinta pergi ke daerah dapur setelah itu membuka pintu dapur. Terlihat paparan pepohonan yang banyak sekali di halaman dapur itu, lalu terlihat dari arah kejauhan ada seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam layaknya seperti paranormal lalu memakai ikat kepala yang terdapat ukir-ukiran dari batik. Seseorang itu membelakangi mereka bertiga, dari tampak belakang mirip sekali dengan Mbah Barjo. “Itu seseorang yang mirip dengan Mbah Barjo,” ucap Sinta menunjuk seseorang itu. “Ayo kita pergi dari sini,” ajak Sinta kepada kedua orang temannya. Tika dan Tiara mereka tidak begitu saja percaya kepada Sinta, mereka berdua ingin memastikan apa yang di ucapkan Sinta itu benar atau tidak. Akhirnya Tika dan Tiara menghampiri sosok seseorang misterius itu, saat ingin menghampiri seseorang misterius itu tiba-tiba dia menghilang dan tidak ada. “Eh Sin kok enggak ada seseorang itu perasaan tadi aku liat ada orang di sana,” kata Tiara. “Iya kok aneh, ke mana menghilangnya,” celetuk Tika yang polos Hal tersebut membuat mereka bertiga menjadi sangat binggung dan bertanya-tanya kepada hati mereka ke mana kah seseorang misterius itu yang menghilang secara tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN