Mimpi buruk Sinta

1249 Kata
Setelah selesai menyuapi Wulan Ayu memberikan obat yang telah ia beli di apotik. “Nak di minum obatnya setelah itu istirahat!” Ayu yang memerintahkan dengan sangat lembut dan menyodorkan obat berserta air minum “Ia Bu,” sahut Wulan dengan sangat lirih menerima obat yang di beri oleh ibunya. Beberapa menit kemudian obat itu mulai bereaksi, Wulan merasakan ngantuk yang sangat luar bisa tidak tertahankan lagi lalu Wulan pun mulai tertidur. *** Sementara di sekolah Indra yang merasa kesepian tidak ada Wulan yang menemaninya samping. “Sepi nggak ada Wulan, padahal beberapa hari ini hari ku mulai tenang Sinta berserta kawannya tidak masuk, namun Wulan pun ikut tidak masuk,” gumam Indra di dalam kelas. Di tengah waktu istirahat telah di mulai Indra hanya berada di dalam kelas saja tanpa ke mana-mana. Melihat Indra yang tidak seperti biasanya Kinno pun mendatangi sahabatnya itu. “Tumben gak ke kantin Ndra?” tanya Kinno yang bingung akan sikap temannya. “Nggak Kin lagi males, ingin di kelas aja,” sahut Indra dengan nada lesu. “Kenapa Ndra? Kangen yah sama Wulan gak masuk hari ini?” ledek Kinno kepada Indra. “Ia nih kamu tahu aja Kin,” celetuk Indra yang mengungkapkan isi hatinya. “Sabar sehari aja kok enggak ketemu, besok juga ketemu lagi kok!” kata Kinno yang mencoba menenangkan Indra. “Ia Kin, makasih yah,” sahut Indra dengan senyum. “Hal apa sih yang membuat kamu menyukai Wulan Ndra?” tanya Kinno yang penasaran. “Dia beda dengan yang lain Kin, Wulan baik, pintar, dan sama seperti aku?” “Sama? Bagaimana Ndra aku kurang mengerti?” “Yah gitu deh pokoknya,” “Waduh aroma-aromanya ada yang lagi bucin banget Nih,” ledek Kinno kepada Indra. “Ha... Ha... Ha, Ia sepertinya Kin,” sahut Indra yang membenarkan perkataan dari Kinno. Tanpa terasa obrolan mereka sudah terlalu lama, sampai lonceng sekolah pun berbunyi menandakan waktu Istirahat telah usai dan kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kinno pun mengakhiri obrolannya kepada Indra, dan mulai kembali ke bangku belajarnya. Guru pun telah tiba dan mulai memberi materi pelajaran. Sementara Sinta dan teman-temannya telah berpamitan dengan Mbah Barjo untuk pulang. “Mbah Sinta, Tiara dan Tika pamit terima kasih buat semua bantuan Mbah berikan kepada kami,” ucap Sinta kepada Mbah Barjo yang mewakili mereka. “Sama-sama Nduk Sinta, kalian semua hati-hati di jalan,” sahut Mbah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Setelah mereka semua berpamitan kepada Mbah Barjo mereka semua memasuki mobil. “Ikutilah mereka dan ambillah ngawa mereka bertiga,” gumam batin Mbah Barjo dengan melihat sesosok makhluk yang sedang mengikuti mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Mobil mulai di nyalakan dan mereka semua pergi meninggalkan rumah Mbah Barjo dan kembali untuk pulang, wajah sumringah terpancar di wajah mereka bertiga karena mereka bertiga berpikir arwah Sumarni tidak akan mengganggu mereka kembali dan Wulan akan menjadi buruk rupa Indra tidak akan lagi mendekati Wulan. Namun mereka bertiga tidak mengetahui bahaya yang akan mereka alami, semua yang mereka minta ternyata ada timbal baliknya yang mereka sendiri tidak menyadarinya. Beberapa jam telah berlalu Sinta yang mulai mengantuk dan tertidur di mobil sedangkan Tiara dan Tika yang sedang asik bermain Hp di tangannya. Di dalam tidurnya Sinta mulai bermimpi aneh di bermimpi Sinta seperti sedang berada di sebuah rumah yang sangat tua rumah itu terletak di tegah hutan. Sinta yang binggung di dalam mimpi dia sedang berada di mana, ia mencoba mendatangi rumah tersebut dan ingin masuk ke rumah tersebut. Lalu Sinta mulai membuka pintu dan masuk ke rumah tersebut terlihat rumah itu tidak asing ia seperti pernah pergi ke rumah tersebut, Sinta mengingat dalam mimpinya. “Aku seperti tidak asing dengan rumah ini,” gumam batin Sinta sambil melihat keadaan di sekeliling rumah tersebut. Sontak Sinta teringat rumah ini adalah rumah Mbah Barjo yang baru ia datangi berserta teman-temannya. “Ini rumah Mbah Barjo, ia aku baru ingat ini rumah Mbah Barjo,” Sinta meyakinkan dirinya. Sinta mulai berjalan ke daerah dapur membuka pintu dapur berharap dapat menemukan penghuni rumah tersebut agar dia tidak salah orang. Pintu dapur di buka Sinta, lalu sinta berjalan keluar ternyata dari arah kejauhan terlihat seseorang yang sedang menggali tanah postur tubuhnya, pakainya yang di gunakan orang tersebut dan ikat kepalanya mirip dengan Mbah Barjo yang sedang mengali tanah dengan posisi membelakangi Sinta. Karena penasaran dengan apa yang Mbah Barjo laku kan Sinta mendatanginya. Sinta yang telah sampai di belakang seseorang itu yang ia yakini menepuk pundaknya dan Sinta yang polos itu pun bertanya. “Sedang apa Mbah? Apa yang Mbah lakukan di sini?” tanya Sinta dengan sangat lugu. Seseorang yang di yakini Sinta mirip dengan Mbah Barjo itu pun menjawab pertanyaan Sinta. “Menggali Kuburan untuk dirimu,” sahut Mbah Barjo yang masih membelakangi Sinta dan masih saja terus menggali. Sinta yang tidak terlalu mendengar ucapan seseorang itu mencoba menanyakan kembali. “Mbah sedang apa?” tanya Sinta kembali. Seseorang yang di yakini Sinta mirip dengan Mbah Barjo itu menoleh dan menyahuti dengan sangat lantang. “Mau menguburmu,” sahut seseorang itu lalu menoleh ke arah Sinta. Seseorang itu wajahnya hancur seperti luka bakar yang mengerikan di tambah kulit-kulit yang ada di wajahnya itu hilangan hanya terlihat daging wajah yang memerah. Melihat yang di lihatnya bukan Mbah Barjo, melainkan sosok yang sangat menyeramkan sontak Sinta ingin berlari namun tangan Sinta malah di pegang oleh sosok seram itu. Sosok lelaki seram itu menyeret Sinta dan memasukkannya ke lubang yang telah ia gali terbut dan mulai menutupi Sinta dengan tanah, karena cukup dalam Sinta kesulitan untuk naik ke permukaan ingin melarikan diri. “Ha... Ha... Ha... Kau tidak bisa lari ke mana-mana matilah kau di sini!” seseorang lelaki yang menyeramkan itu. Dengan sekuat tenaga Sinta mencoba untuk kabur akan tetapi hasilnya sama saja Sinta tidak berhasil, rasa menyerah Sinta lakukan dengan memohon ke pada lelaki menyeramkan itu. “Ampun, saya mohon, bebaskan saya, saya moho,” permintaan permohonan Sinta yang berkali-kali di ucapka. Akan tetapi lelaki itu tidak mau mendengarkan bahkan tidak peduli kepada Sinta ia terus menerus memasukkan tanah ke dalam liang lahat yang telah di buat untuk Sinta. “Jangan bunuh aku, aku mohon jangan bunuh aku,” Sinta yang berteriak-teriak dalam mimpi. Tiara dan Tika yang mendengar Sinta tengah mengigo akhirnya membangunkannya. “Sin... Sin... Bangun Sin,” Tiara yang menggoyang-goyangkan tubuh Sinta agar terbangun. Sinta pun terbangun dengan nafas yang tidak beraturan, keringat dingin yang mengalir di keningnya membuat teman-temannya ingin mengetahui mimpi apa yang sebenarnya di mimpikan oleh Sinta. “kamu bermimpi apa Sin sampai-sampai kaya orang maraton begini,” celetuk Tiara. “Aku bermimpi ada seseorang yang mengali kuburan untukku dan menguburku hidup-hidup,” ujar Sinta yang berbicara dengan nafas yang tidak beraturan. “Eh tunggu sebentar aku pernah membaca Primbon mengali kubur untuk mu yah Sin?” celetuk Tika yang membuka kembali di HP nya primbon mimpi yang pernah ia baca melalui situs internet. “Apa memang artinya,” tanya Sinta yang sangat penasaran. “Kamu akan mati Sin, menurut primbon ini!” sahut Tika sambil membacanya. Mendengar itu Sinta pun terkejut. Tiara yang melihat ekspresi wajah Sinta pun mencoba menenangkan Sinta. “Udah Sin, enggak usah di dengerin, hari gini masih percaya sama primbon lagi pula kan itu hanya mimpi bunga tidur,” sahut Tiara yang menenangkan Sinta. “Ia juga Sih, Sin benar kata Tiara, ini kan hanya mimpi,” Tika yang merasa tidak nyaman kepada Sinta. Sinta yang hanya terdiam saja, dan masih teringat akan mimpinya yang menyeramkan itu berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN