Keanehan pada Wulan part 2

1009 Kata
Wulan hanya bisa mengangguk, dengan perlahan Ayu menyuapi Wulan, saat sedang asik menikmati makanannya tiba-tiba di pojok kamar muncul sosok gendruwo hal itu membuat Wulan kaget dan tersedak. “Pelan-pelan Nak makannya, ini minum teh hangatnya dulu.” Mata Wulan melotot memandangi sosok yang ada di hadapannya, sosok hitam dengan mata merah serta taring panjangnya menyeringai ke arah Wulan dia hanya berdiri namun lama kelamaan sosok itu tertawa. Suaranya menggelegar hingga membuat Wulan menutup kedua telinganya. “Nak kamu kenapa?” Ayu mulai panik dengan keadaan Wulan. Mengetahui Wulan tengah di ganggu Sumarni pun datang, dengan wajah marahnya aura negatif Sumarni begitu terasa hingga sosoknya berubah menjadi menakutkan. Baju kebaya yang di kenakannya berubah menjadi baju putih khas kuntilanak, dengan rambut berantakan serta kulit yang terlihat sangat pucat dan juga tulang-tulangnya terlihat mata putihnya menatap tajam ke arah sosok hitam yang mengganggu Wulan. Melihat Sumarni muncul sosok itu malah tertawa. “Hahaha ... kau akan menjadi yang selanjutnya,” ucap genderuwo itu sebelum menghilang. Saat sosok itu menghilang Sumarni pun pergi entah kemana, ada banyak pertanyaan di benak Wulan apa yang sebenarnya terjadi terhadapnya. “Wulan kamu kenapa Nak?” tanya Ayu sekali lagi. Wulan tidak menjawab pertanyaan Ayu, Wulan hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa pun. “Ya sudah kamu minum obat dulu ya Lan,” ucap Ayu sambil menyodorkan beberapa butir obat. “Ibu ke dapur dulu ya Nduk,” ucap Mbah kepada Ayu. “Usai meminum obat Wulan kembali berbaring di kasurnya, sambil sesekali menggaruk tangan dan wajahnya yang mulai terasa gatal. “Lan jangan di garuk! nanti tambah banyak,” Ayu menahan tangan Wulan yang terus menggaruk. “Tapi ini gatal banget Bu,” eluh Wulan. Ayu pun mengambil sebotol bedak pereda gatal dan membalurkannya ke tubuh dan wajah Wulan, melihat Wulan yang mulai tenang Ayu pun mendatangi Mbah di dapur. “Kamu kenapa Ayu?” tanya Mbah. “Kok perasaan Ayu tidak enak ya Bu, tentang penyakitnya Wulan,” sahut Ayu yang murung. “Jangan berpikir yang tidak-tidak kan Pak Mantri sudah menjelaskan bahwa Wulan gejala tifus,” tutur Mbah. “Baik Bu, ya sudah Ayu mau keluar sebentar buat beli obat Wulan,” Ayu mencium tangan Mbah. “Hati-hati Nduk, setelah itu langsung istirahat ya.” “Iya Bu.” Ayu berlalu pergi ke pintu dengan berjalan kaki Ayu pergi menuju apotek. Sementara itu Wulan yang berada di kamar sendirian sedang terbayang betapa menakutkannya sosok hitam itu, hingga membuatnya takut setiap kali Wulan memejamkan matanya sosok itu seperti berada di depan kelopak matanya. Wulan mulai merasa aneh dengan tubuhnya, rasa gatal itu semakin lama semakin menjadi-jadi hingga tanpa sadar Wulan menggaruknya dengan keras hingga kulitnya terkelupas dan berdarah. Wulan yang mengetahui itu pun kaget dan menangis. “Mbah? Mbah?” teriak Wulan sambil menangis “Ada apa Nduk ... astagfirullah kamu kenapa Nduk!” Mbah panik melihat kulit di tangan Wulan mengelupas serta mengeluarkan darah. “Nggak tahu Mbah tadi tangan Wulan gatal saat Wulan garuk langsung begini Mbah,” ucap Wulan sambil menangis sesegukkan. “Ya sudah jangan di garuk lagi ya Nduk sini Mbah bersihkan dulu lukanya.” Wulan sangat terkejut dengan apa yang menimpanya, dia terus menangis melihat kulit tangannya mengelupas. Tidak lama Ayu pun datang membawa beberapa obat untuk pereda gatal namun Ayu terkejut kelika mendapati kondisi Wulan yang semakin parah. “Astagfirullah Nak, kok bisa jadi begini?” ucap Ayu dengan menahan tangis. “Wulan nggak tahu Bu,” sahut Wulan sambil menagis. “Ya Allah Bu, apa besok kita bawa Wulan ke dokter saja,” ucap Ayu. “Apa tidak apa-apa kamu libur kerja lagi?” tanya Mbah. “Nggak apa-apa Bu, yang penting sekarang Wulan bisa sembuh,” ucap Ayu yang menghapus air matanya. Ayu merasa sangat sedih melihat kondisi Wulan yang berubah dengan cepat, Ayu pun sempat berpikir jika itu bukanlah penyakit biasa melainkan teluh. Hanya hitungan jam saja sekujur tubuh Wulan di penuhi luka bahkan ada yang bernanah, Wulan merasa frustasi dengan kondisinya yang aneh di tambah lagi dia selalu berbayang sosok hitam itu. Ayu senantiasa menemani Wulan dan membersihkan luka yang terus melebar ke sekujur tubuh Wulan. “Bu Wulan ini kenapa Bu,” “Tenang ya Nak besok kita ke dokter ya,” Ayu berusaha menenangkan Wulan. “Maafin Wulan, karen sudah merepotkan Ibu,” ucapnya. “Jangan ngomong begitu Wulan itu anak Ibu, ini sudah tugas Ibu untuk selalu menjaga kamu Lan,” “Tetap saja Wulan nggak mau bikin ibu susah.” Air mata Wulan tiada henti menetes melihat betapa sabarnya Ayu merawat Wulan. Sumarni muncul dan duduk di samping Wulan, sambil mengelus-elus kepala Wulan. “Sudah jangan menangis Nak,” ucap Sumarni. “Kenapa Wulan bisa jadi begini.” Wulan terus meratapi kondisinya. “Mereka akan merasakan balasan dari ku!” Sumarni mengeluarkan amarahnya. Usai mengucapkan hal itu sosok Sumarni menghilang pergi meninggalkan Wulan, Ayu dan juga Mbah bergantian menemani Wulan sambil sesekali menyeka darah yang mengalir keluar dari bekas luka dari garukkan Wulan sesekali mereka juga memeriksa suhu tubuh Wulan. “Nduk tidur!” suruh Mbah. “Wulan nggak bisa tidur Mbah Wulan takut,” sahut Wulan. “Takut kenapa Nduk kan ada Mbah di sini, ayo pejamkan matanya kamu harus istirahat.” Wulan berusaha menutup matanya, karena reaksi obat mata Wulan mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Saat Wulan mulai memasuki alam bawah sadarnya sayup-sayup Wulan mendengar seseorang sedang membaca sebuah mantra serta beberapa suara aneh lainnya. Wulan berusaha untuk bangun namun tidak bisa tubuhnya terasa sangat berat bahkan untuk membuka matanya pun tidak bisa dia juga merasakan pusing yang luar biasa dengan sekuat tenaga Wulan mencoba untuk bangun. Usaha Wulan pun tidak sia-sia Wulan bisa menggerakkan tubuhnya perlahan dan membuka matanya. Terlihat Ayu sudah tertidur pulas di samping Wulan, dia merasakan lemas yang luar biasa. Wulan membuka selimutnya untuk memeriksa luka yang dialaminya, bukannya semakin membaik luka itu malah semakin banyak hingga memenuhi tubuh serta wajahnya. "Sebenarnya aku sakit apa sehingga sampai seperti ini," gumam Wulan di batinnya. "Semoga sakit ini cepat hilang, kasian ibu," gumam kembali batin Wulan yang melihat Ibunya di samping merawatnya sedari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN