Keanehan pada Wulan

1005 Kata
Pagi hari Ayu ibu Wulan membangunkan anaknya yang tidak kunjung bangun sedari tadi. “Lan bangun Nak udah siang kamu tidak sekolah,” Ayu yang menanyakan kepada anaknya yang tidak kunjung bangun. Melihat Wulan tidak menyahut ucapannya, Ayu mulai mencoba mendekati Wulan yang sedari tadi tidur menghadap dinding. Ayu yang memegang badan Wulan untuk membangunkannya terdengar suara Wulan yang sedang menggigil kedinginan. Dengan panik Ayu mulai membalikkan badan Wulan untuk melihat kondisinya. “Wulan kamu demam Nak?” Ayu yang memegang kening Wulan yang sangat panas. Melihat kondisi anaknya yang demam tinggi membuat Ayu menjadi sangat khawatir, dan memutuskan tidak kerja. Mbah yang masuk juga ke kamar Wulan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Yu, kamu nggak kerja Nduk?” tanya Ayu yang sedang duduk di dekat Wulan yang sedang tertidur. “Sepertinya nggak Bu Wulan demam tinggi,” kata Ayu yang menjelaskan kepada Wulan. “Apa nanti kalau kamu tidak masuk kerja tidak ada masalah Nduk” Mbah yang khawatir kepada Ayu. “Sepertinya gak Bu, Ayu gak pernah absen kerja baru kali ini nanti Ayu akan telepon manajer Ayu Bu memberi kabar bahwa hari ini Ayu tidak dapat masuk kerja,” Ayu yang menjelaskan kepada Ibunya. “Ya sudah kalau begitu, Bu Ayu mau mengambil air hangat untuk mengompres Wulan,” ujar Ayu yang bergegas ke dapur untuk mengambil air hangat. Sementara itu Mbah yang bertugas menunggukan Wulan di kamar. Selang beberapa menit Ayu yang membawa air hangat di dalam wadah dan juga handuk kecil. “Sini biar Ibu yang mengompres Wulan, sebaiknya kamu menelepon manajermu terlebih dahulu biar kamu tidak dapat sangsi Yu,” Mbah yang menasihati anaknya. “Ia bu,” sahut Ayu seraya memberikan kompreskan itu kepada Mbah. Ayu yang bergegas mengambil HP nya menelepon manajernya guna memberitahukan bahwa dia tidak dapat masuk hari ini. Setelah selesai menelepon dan memberitahukan kepada manajernya Ayu menuju ke tempat Wulan dan Mbah yang sedang mengompres Wulan. “Bu,” panggil Ayu kepada Mbah. “Ia Nduk, ada apa?” Mbah yang bertanya. “Ayu tinggal dulu Bu ke sekolah Wulan, memberikan surat kepada wali kelasnya sehabis itu sekalian ke apotek Bu membeli obat untuk Wulan. Ibu tolong jaga Wulan terlebih dahulu yah!” cakap Ayu yang menjelaskan kepada Mbah. “Ia Nduk, biar Ibu yang mengurus Wulan. Kalau kamu mau pergi ya sudah pergi saja dulu.” Ayu pun mulai bersiap-siap pergi dan tidak lupa mencium tangan Ibunya seraya meminta restu. “Bu Ayu pergi dulu sebentar, Assalammu’alaikum,” ucap salam Ayu sembari mencium tangan ibunya. “Walaikumsalam, ia Nduk hati-hati di jalan,” sahut Mbah yang memberikan pesan kepada Ayu anaknya. Terlihat Wulan terus menggigil demamnya semakin tinggi, hal itu membuat Mbah panik dan berharap Ayu cepat pulang. Di lain sisi Ayu bergegas menuju sekolah Wulan untuk memberikan surat izin sakit kepada wali kelas Wulan. Ayu berjalan dengan cepat, hingga Ayu sampai di depan pintu gerbang sekolah. “Permisi pak?” sapa Ayu kepada penjaga sekolah. “Iya Bu ada apa ya?” sahut penjaga sekolah. “Saya mau antar surat sakit untuk anak saya, apa boleh saya di antarkan ke ruang guru pak soalnya saya tidak tahu letaknya di mana,” jelas Ayu. “Oh mari Bu saya antar, kalau boleh tahu anak Ibu siapa namanya?” tanya penjaga Sekolah. “Wulan Pak, rumah kami tidak jauh dari sini,” sahut Ayu. “Oh si Wulan, ya sudah ayo Bu saya antar ke ruang Guru.” Penjaga sekolah mengantarkan Ayu menuju ruang guru, sesampainya di ruang guru Ayu menyerahkan surat sakit itu kepada wali kelas Wulan dan berpamitan untuk pulang. “Terima kasih ya pak sudah mengantarkan saya, saya pamit dulu,” ucap Ayu. “Iya Bu sama-sama semoga Wulan cepat sembuh ya Bu.” “Aamiin, terima kasih ya Pak.” Ayu berlalu dan bergegas kembali pergi ke apotik terdekat untuk membelikan obat kepada Wulan. setelah obat yang di beli sudah dapat Ayu mulai pulang ke rumah dengan berjalan kaki memeriksa keadaan Wulan yang membuat Ayu sangat khawatir kepada semata wayangnya itu. Sesampainya di rumah Ayu langsung bergegas menuju kamar Wulan, terlihat Mbah yang masih menjaga dan mengompres Wulan, namun raut wajah Mbah terlihat sangat panik saat itu lalu lalu Mbah berbicara kepada Ayu. “Nduk ini kenapa ya kok Wulan badannya merah-merah begini?” tanya Mbah. “Apa Wulan terkena cacar Bu?” ucap Ayu. “Begini saja, kamu masih ingat kan Pak Mantri di gang sebelah?” tanya Mbah. “Iya masih ingat Bu.” “Coba sekarang kamu kesana, dan bawa Pak Mantri kesini utuk memeriksa keadaan Wulan.” “Baik Bu, Ayu titip Wulan ya Bu.” Dengan tergesa-gesa Ayu berjalan keluar menuju gang sebelah untuk memanggil Mantri yang ada di sana, keberuntungan rupanya sedang berada di pihak Ayu Mantri yang dia cari rupanya baru saja keluar dari rumah tetangganya, dengan sigap Ayu mendatangi Mantri tersebut dan membawanya ke rumah untuk memeriksa keadaan Wulan. Pak Mantri mulai mengeluarkan peralatannya seperti termometer, stetoskop, juga alat pengukur denyut jantung. “Ini sudah berapa lama bu demamnya?” tanya Mantri. “Baru saja Pak, dan tadi saat saya keluar untuk mengantar surat ke sekolahnya bintik-bintik merah ini muncul.” Tutur Ayu. “Demamnya tinggi, sepertinya ini gejala tifus saya akan berikan obat untuk anak Ibu tapi jika dalam waktu beberapa hari tidak ada perubahan anak ibu harus langsung di bawa ke rumah sakit,” tutur Mantri. “Lalu bagaimana dengan bintik-bintik merah ini?” tanya Ayu. “Itu hanya ruam biasa Bu, tapi mungkin ini akan terasa gatal jadi saya akan tuliskan resep untuk ruamnya, karena obat-obatan saya terbatas.” “Baik Pak Mantri terima kasih,” ucap Ayu seraya menerima obat dan resep dari Pak Mantri. “Nak bangun Nak,” Ayu membangunkan Wulan. Saat Ayu membangunkan Wulan tidak meresponnya, di saat Ayu mulai membangunkannya yang kedua kali Wulan baru berusaha untuk bagun, Dengan tubuh yang menggigil Wulan bangkit dari tidurnya sambil duduk bersandar di dinding. “Nak makan dulu ya Ibu suapin, nanti habis itu minum obat,” Ayu menyodorkan sendok yang berisi makanan untuk Wulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN