Sinta yang telah selesai mengganti bajunya keluar dari kamarnya menuju ruang tamu yang sudah ditunggu Mbah Barjo dan kedua temannya untuk bersiap-siap melakukan ritual yang di adakan malam itu juga.
“Kalian sudah siap semua?” tanya Mbah Barjo yang tegas.
“Sudah Mbah,” sahut serentak mereka bertiga.
“Kalau begitu ayo ikut Mbah sekarang juga!” perintah Mbah Barjo kepada mereka bertiga.
Mereka bertiga mengikut Mbah Barjo yang sedang berjalan dari arah belakang. Mbah Barjo yang sudah sampai di sebuah pintu kamar yang kunci gembok lalu Mbah Barjo pun mulai membuka gembok yang berada di pintu kamar tersebut.
Selesai membuka Mbah Barjo menyalakan setiap lilin yang ada di kamar itu sebagai penerangannya di setiap sudut dan dinding terdapat lilin untuk penerangan.
Lilin yang semua telah di nyalakan oleh Mbah Barjo membuat seisi kamar itu menjadi terang remang-remang.
Terlihatlah di bawah beberapa sesajen dari kopi pahit, manis, air bunga tujuh rupa, bara api yang di letakkan di tunggu guna untuk menaburkan atau membakar kemenyan lalu ada juga ayam cemani yang masih hidup namun yang di ikat kaki dan sayapnya agar tidak bisa pergi.
Di tambah lagi tulang tengkorak dari hewan yang menambah suasana kamar itu menjadi mencekam.
“Silahkan kalian bertiga duduk di depan Mbah,” Mbah Barjo yang mempersilahkan mereka duduk di depannya.
Sinta, Tiara dan Tika pun mengikuti perintah Mbah Barjo mereka bertiga duduk di depan Mbah Barjo.
Mbah Barjo yang sudah bersiap-siap melaksanakan ritual kepada mereka bertiga, mengambil kemenyan menaburkan di atas bara api yang ada di tungku, asap putih dan bau has kemenyan mendatangkan daya tarik makhluk astral.
Sambil menaburkan kemenyan itu Mbah Barjo membacakan mantra.
“Wahai bangsa lelembut, dan jin aku datang memanggilmu datanglah dari bayangan hitam,” Mbah Barjo yang sedang membacakan mantra untuk memanggil makhluk astral.
Setelah selesai membaca mantra ia menggigit leher ayam cemani dan mengambil darahnya yang di tampung di sebuah mangkok kaca. Sinta, Tika, dan Tiara hanya dapat melihat apa yang kerjakan oleh Mbah Barjo tanpa berkomentar apa-apa setelah selesai Mbah Barjo menyuruh mereka bertiga melukai jari telunjuk mereka masing-masing dan darahnya di kumpulkan di tempat mangkok kaca di mana darah ayam cemani itu berada.
“Lukai telunjuk kalian, dan masukkan darah kalian di mangkok darah ayam ini sekarang!” perintah Mbah Barjo yang menegaskan kepada mereka bertiga.
“Baik Mbah,” sahut serentak Sinta, Tika, dan Tiara.
Sinta yang melukai jari telunjuknya lalu meneteskan darahnya ke dalam mangkok itu di sambung pulang oleh Tiara yang mengikuti perintah Mbah Barjo, Tika pun ikut andil dalam hal itu ia juga meneteskan darahnya ke dalam mangkok kaca itu.
Setelah mereka bertiga meneteskan darah mereka masing-masing Mbah Barjo memulai ritualnya kembali. Ia mengambil mangkok kaca yang berisi darah ayam dan darah mereka bertiga lalu mengasap-asapkan darah itu menggunakan kemenyan yang di taburkan di atas bara api sambil membaca manta kembali.
“Ini untuk kalian aku persembahkan ambillah,” ucap mantra Mbah Barjo.
Sesudah selesai Mbah Barjo mengambil tali yang berwarna hitam yang telah di anyam khusus untuk mereka bertiga, tali berwarna hitam itu di masukkan ke dalam mangkok kaca yang terdapat darah mereka dan darah ayam cemani setelah itu Mbah Barjo mengaduk-aduk tali hitam itu dengan jari telunjuknya sampai darah merata ke dalam tali hitam itu.
Lalu Mbah Barjo mengambil tali itu satu persatu terlihat darah-darah yang menempel di tangan Mbah Barjo, barulah ia kembali mengasap-asapkan tali itu di atas bara api sampai benar-benar kering dan mulut yang komat-kamit membacakan mantra kembali.
Sinta dan kedua temannya hanya dapat melihat ritual yang di lakukan di lakukan oleh Mbah Barjo tanpa mereka berbicara sepatah kata pun karena baru kali ini mereka ke rumah paranormal apa lagi melakukan ritual aneh seperti ini.
Selang beberapa menit Mbah Barjo telah selesai mengasap-asapkan tali yang berwarna hitam itu sampai hingga kering.
“Gunakanlah tali hitam ini di pergelangan tangan kalian, dan ingat tali ini tidak bisa kalian lepaskan terkecuali Mbah atau ada orang yang lebih sakti dari Mbah. Dan setelah kalian bertiga memakai tali ini kuntilanak yang sering mengganggu kalian bertiga tidak akan berani mengganggu kalian kembali,” Mbah Barjo yang menjelaskan kepada mereka bertiga dan memberikan satu-persatu tali tersebu.
Sinta, Tiara, dan Tika mengambil tali yang berwarna hitam tersebut lalu mengikatkannya di pergelangan mereka masing-masing.
Namun Sinta yang belum terlalu puas ia meminta sesuatu kembali kepada Mbah Barjo.
“Mbah, Sinta boleh meminta sesuatu kembali buatlah muka dan tubuh Wulan penuh dengan luka koreng agar Indra tidak lagi mau mendekati dirinya,” ucap Sinta dengan niatnya yang jahat.
“Itu sangat mudah apa ada bayaran dari tugas yang Mbah kerjakan ini?” Mbah Barji yang bertanya.
“Wah itu masalah gampang Mbah, Mbah mau berapa saja Sinta siapkan!” tantang Sinta kepada Mbah Barjo.
“Baiklah jika begitu, siapa nama aslinya, tanggal lahirnya dan Ibu bapaknya?” tanya Mbah Barjo untuk memudahkan ia melakukan ritual kepada Wulan.
“Namanya Wulandari lahir pada tanggal, 1 Desember, sedangkan Ibu dan Bapaknya bernama Ayu dan Dimas.
Mbah Barjo yang mendengarkan Sinta mengambil boneka Voodoo (Boneka yang di gunakan untuk mencelakakan seseorang dengan menggunakan hal berbau gaib) lalu menulis nama, tanggal lahirnya dan nama orang tuanya di depan badan boneka Woodoo tersebut dengan menggunakan darah ayam cemani yang ada di leher ayam yang telah mati tersebut.
Setelah itu Mbah Barjo kembali mengasap-asapkan boneka Voodoo tersebut dengan kemenyan yang di bakar di atas tungku bara api sambil mulutnya komat-kamit membacakan mantra di boneka Voodoo tersebut.
“Sudah selesai, kalian pulang akan melihat hasilnya,” ujar Mbah Barjo yang sangat yakin.
Sinta yang mendengar hal tersebut memberikan uang yang cukup banyak untuk tanda terima kasih sudah mau membantunya.
“Ini Mbah ucapan terima kasihnya,” Sinta yang menyodorkan segepok uang kepada mbah Barjo
“Baiklah Mbah terima pemberianmu,” sahut Mbah Barjo yang sangat senang menerima uang yang cukup banyak dari Sinta.
“Kalian bertiga bisa keluar dari kamar ini dan kembalilah ke kamar kalian!” perintah Mbah Barjo kepada mereka bertiga.
Mereka bertiga keluar dari kamar tersebut lalu kembali ke kamarnya sementara Mbah Barjo yang masih berada di kamar tersebut sedang berbicara dengan seseorang.
“Aku persembahkan mereka untukmu, ha... Ha... Ha...,” Mbah Barjo tertawa Jahat.
Kembali ke Sinta, Tiara dan Tika mereka mulai kembali ke tempat tidur masing-masing mencari posisi yang nyaman terkadang terlintas di pikiran mereka bertiga rindu akan rumah mereka dan fasilitas di rumah masing-masing.
“Sin, besok pagi akhirnya kita pulang,” kata Tika yang sangat ingin pulang.
“Ia besok pagi kita pulang, sebaiknya kita tidur lebih awal,” sahut Sinta.
Mereka bertiga pun akhirnya tertidur di tengah malam yang sangat mencekam.