Makan malam bersama

1089 Kata
Malam ini bertepatan di malam Jumat keliwon di mana menurut masyarakat malam yang terkenal dengan keangkerannya, makhluk astral itu pada bermunculan. Di rumah Mbah Barjo yang berada di pelosok yang masih banyak pohon-pohon yang besar dan menyeramkan di tambah suara burung hantu yang mengiringi malam itu menambah suasana menjadi semakin seram, penerangan pun masih sangat minim tidak ada lampu jalan apa lagi rumah penduduk jaraknya masih sangat jauh menambah suasana sangat sunyi. Mbah Barjo mendatangi Sinta di kamarnya mengetok pintu Sinta. “Nduk Sinta, ayo semuanya keluar kita makan malam,” Mbah Barjo yang berbicara di balik pintu kamar Sinta. “Ia Mbah, sebentar lagi Sinta, Tiara dan Tika keluar Mbah,” ucap Sinta yang berteriak di dalam kamarnya. “Mbah ke kamar Pak Selamat terlebih dahulu,” Mbah Barjo yang pamit meninggalkan kamar Sinta. “Ia Mbah,” sahut Sinta. Mbah Barjo bergegas pergi ke kamar pak Selamat untuk mengajak Pak Selamat makan malam. Sesampainya di depan kamar Pak Selamat Mbah Barjo mengetok pintu lalu memanggil Pak Selamat menyuruhnya untuk makan bersama-sama. “Mari Mbah,” Pak Selamat yang keluar kamar mengajak Mbah Barjo pergi ke meja makan. Semua telah berkumpul di meja makan. Tersedia hidangan yang tadi siang di masak sendiri oleh Beliau. “Yo di makan jangan malu-malu,” Mbah Barjo yang menyodorkan piring berisi lauk. “Ia Mbah terima kasih,” kata Sinta dengan mengambil lauk di piring yang di sodorkan oleh Mbah Barjo. “Makan seadanya,” kata Mbah Barjo. Mereka semua menikmati hidangan makan malam yang sangat nikmat, apalagi Sinta yang terlihat sangat lahap makannya baru kali ini Sinta merasakan lauk yang benar-benar enak untuknya bentuk lauk itu di potong-potong dadu namun agak besar dan berwarna merah kehitaman. Karena penasaran Sinta bertanya kepada lauk yang ia makan itu, berharap Sinta akan meminta Bi Ijah memasakkan lauk yang ia makan di rumah Mbah Barjo. “Mbah Sinta boleh bertanya Mbah!” ujar Sinta yang sangat penasaran dengan lauk itu. “Ia sebenarnya lauk apa, rasanya sangat nikmat dan lezat sekali,” ujar Sinta yang menikmati makan itu. “Ooo... Itu darah ayam, yang Mbah kukus lalu Mbah goreng,” sahut Mbah Barjo dengan sangat santai. Mendengar ucapan Mbah Barjo Sinta dan kawan-kawan seketika merasakan mual yang hebat di perut mereka. “Mbah kamar mandi di mana?” tanya Tiara. “Masuk ke dapur terus buka pintunya kamar mandinya di luar dapur” Mbah Barjo yang menjelaskan kepada Tiara. Mereka bertiga langsung berdiri dan pergi dari meja makan untuk memuntahkan apa yang mereka makan karena perut mereka bertiga merasakan rasa mual yang teramat sangat. Saat mereka bertiga membuka pintu dapur terlihat di belakang rumah Mbah Barjo masih hutan banyak pepohonan di belakang. “Sin, ngeri banget ini di belakangnya,” ujar Tika yang melihat keadaan sekitar. “Udah ah jangan berisik aku duluan,” sahut Sinta yang mengambil posisi pertama masuk ke kamar mandi. Sinta yang masuk pertama di dalam kamar mandi itu memuntahkan makanan yang ia makan walau tidak semua yang ia bisa muntahkan. Setelah selesai Sinta ingin menyiram bekas muntahan yang ia keluarkan meraba-raba gayung yang ada di dalam bak mandi tersebut. “Mana ini gayung,” gumam Sinta yang masih meraba-raba bak mandi yang cukup besar. Karena pencahayaan di kamar mandi itu tidak terlalu terang membuat Sinta kesusahan mencari gayung itu sampai ia meraba sesuatu benda yang aneh menurutnya ia mulai menarik benda aneh itu yang bentuknya berupa helaian demi helaian tebal. “Apa ini, rambut?” gumam Sinta yang terambil segumpal rambut di dalam bak mandi itu. Sinta yang sangat binggung mencoba melihat ke dalam bak mandi itu, tidak terlihat jelas namun seperti ada sesuatu yang berada di dalam bak kamar mandi itu dengan jeli dan saksama Sinta memperhatikan secara detail dan benar saja sebuah tangan yang keluar dengan cepat dari kamar mandi itu menarik rambut Sinta. Tangan yang penuh luka-luka itu menarik rambut Sinta ke dalam kamar mandi hingga kepala Sinta sudah mulai masuk ke kamar mandi. Sinta yang berusaha menyeimbangkan badannya berpegang di dinding bak itu agar tubuhnya tidak ikut masuk ke dalam bak yang lumayan besar itu. Sinta yang mulai meronta-ronta karena mulai kehabisan nafas. Dari luar terdengar suara gemuruh air membuat teman-teman Sinta yang berada di luar mulai curiga. “Sin, kamu nggak papa kan? Kok lama banget,” Tiara yang mulai khawatir menanyakan keadaan Sinta di dalam kamar mandi. Namun tidak ada jawaban membuat temannya menjadi tambah panik. “Udah buka paksa aja, aku khawatir Sinta kenapa-kenapa?” inisiatif Tika menyuruh Tiara. Mereka mendorong dan membuka paksa pintu kamar mandi itu. Bruukk( Suara pintu yang di buka paksa) Terlihat Sinta yang mulai lemas dengan kepala berada di dalam bak kamar mandi, melihat yang terjadi kepada Sinta kedua temannya dengan spontan menarik badan Sinta dan kepala Sinta agar ia bisa bernafas. Tarikan Tika dan Tiara membaut sesosok makhluk yang ada dalam bak kamar mandi melepaskan rambut Sinta yang di pegangnya. Dan lagi-lagi keberuntungan memihak kepada Sinta, Sinta berhasil di selamatkan oleh kedua temannya Tiara dan Tika. “Uhuk... Uhuk...,” Sinta yang terbatuk-batuk karena terminum air di dalam bak itu. Sinta di bawa keluar dari kamar mandi tersebut dan menanyakan kepada Sinta apa yang terjadi. “Kamu kenapa Sin? Kok sampai kaya gini?” tanya Tika yang binggung. “A-ada sesosok makhluk yang menyeramkan di dalam bak kamar mandi itu,” Sinta yang berbicara sambil menunjuk bak kamar mandi itu. Tiara dan Tika memperhatikan bak kamar mandi yang di tunjuk Sinta dan benar saja keluar dari baik kamar mandi itu rambut yang sangat panjang melihat hal itu Sinta, Tiara, dan Tika pun berlari masuk ke rumah Mbah Barjo. Sesampainya di dapur Mbah Barjo mereka berdua menutup pintu dapur dengan sangat rapat dari arah belakang ada yang menepuk pundak Sinta dan Tiara. “Sin ini siapa di belakang kita?” Tiara yang mulai gugup dan takut. “Kalian bertiga lama sekali ke kamar mandi?” tanya Mbah Barjo. “Huft Mbah mengageti aja,” kata Tiara yang jantungnya berdetak sangat kencang. “Kalian di tunggu-tunggu tidak datang-datang untuk melanjutkan makan malam!” sahut Mbah Barjo. “Ada hantu Mbah di kamar mandi,” celetuk Tika dengan spontan. “Ah... Itu khayalan kalian saja, Sinta lebih baik kamu ganti baju terlebih dahulu, malam ini tepat malam Jumat keliwon malam yang bagus untuk kalian, mengusir sosok-sosok yang mengganggu kalian bertiga!” perintah Mbah Barjo. “Mbah tunggu di ruang tamu!” sambung Mbah Barjo kembali. Sinta melaksanakan perintah Mbah Barjo, ia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah sementara kedua temannya menunggu dirinya bersama Mbah Barjo di ruang tamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN