Tiba di rumah Mbah Barjo

1108 Kata
Sinta dan rombongan melihat sebuah rumah yang terlihat sangat tua, Sinta dan rombongan berjalan ke rumah itu sesampainya di depan pintu rumah Sinta yang mencoba mengetuk pintu itu berharap ada seseorang yang tinggal di rumah itu, karena sepintas dari jauh rumah itu seperti terlihat kosong tidak berpenghuni. Tok... Tokkk...( suara ketukan pintu) "Permisi, apakah ada orang!" ucap Sinta sambil mengetuk pintu rumah itu. Namun tidak ada tanggapan atau suara apa pun dari dalam rumah tersebut, Sinta yang sangat penasaran mengulangi kembali ia mengetuk dan mengucapkan kata " Permisi" Ciitttt ( suara decitan pintu yang tua) Beberapa menit kemudian pintu itu seperti ada yang sedang membukanya. Dan terlihat sosok pria paruh baya yang umurnya sekitar 50 tahunan, pria sedang berada di balik pintu tersebut. Pria itu menggunakan setelan pakaian yang serba hitam, ikat kepala yang terdapat motif corak batik, dan pria itu memakai aksesoris kalung yang buah dari kalung tersebut terbuat dari taring babi hutan atau celeng, penampilan pria tua itu bak seperti paranormal yang sesungguhnya. "Ada perlu apa kalian ke sini?" Pria itu yang bertanya kepada rombongan Sinta dengan nada yang kasar. "Be-begini Mbah, apa benar rumah ini rumah Mbah Barjo?" Sinta yang bertanya kepada pria tua itu. "Ia saya sendiri, mau apa kalian!" kata Mbah Barjo yang tetap mengucapkan dengan nada yang kasar. "Ke-kedatangan kami ke tempat Mbah, ingin minta tolong!" kata Sinta kepada Mbah Barjo. "Kalian semua masuklah terlebih dahulu," Mbah Barjo yang mempersilahkan mereka berempat untuk masuk kerumahnya. Sinta yang masuk ke rumah Mbah Barjo melihat-lihat keadaan di dalam rumah terdapat beberapa hiasan kepala hewan yang telah di awetkan yang terletak di dinding rumah tamu, menambah kesan seram di rumah Mbah Barjo. "Silahkan duduk,?" Mbah Barjo yang mempersilahkan. Sinta dan rombongan duduk di ruang tamu dan ingin menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada mereka bertiga namun di saat Sinta belum memberi tahu tujuan dan maksudnya datang ke rumah Mbah Barjo, Mbah Barjo sendiri sudah lebih tau ke datangan mereka. "Begini Mbah kami berempat mau meminta bantuan kepada Mbah," Sinta terhenti berbicara karena di potong pembicaraan itu oleh Mbah Barjo. "Aku sudah mengetahui niat kalian datang ke rumah Mbah, kalian bertiga sedang di ganggu oleh Arwah penasaran bukan? dan itu terjadi karena ulah kalian sendiri," Mbah Barjo yang menjelaskan hasil terawangan mata batinnya. "Ia Mbah semua yang Mbah ucapkan itu benar, tolong bantu kami Mbah kami tidak tahu lagi harus berbuat apa!" Sinta yang memohon kepada Mbah Barjo agar dirinya dapat di bantu. "Tenang saja serahkan kepada Mbah, ha.. ha... ha..," ucap Mbah Barjo dengan sombongnya. "Terima kasih Mbah," sahut Sinta kepada Mbah Barjo. "Malam ini kalian semua ikut aku, selepas makan malam akan ada ritual untuk mengusir arwah penasaran itu yang selalu menganggu kalian bertiga," jelaskan Mbah Barjo dengan apa saja yang semestinya di lakukan untuk mengusir arwah penasaran itu. "Baik Mbah," sahut serentak Sinta, Tiara, dan Tika. Pak Slamet yang mendengar percakapan anak majikannya kini tengah mengerti maksud Sinta mengajak Pak Slamat ke tempat ini. "Ooo... ternyata Non Sinta berserta kawan-kawannya sedang di ganggu mahluk halus rupanya," gumam Pak Slamet di Batin. Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang Sinta dan kawan-kawan di persilahkan untuk beristirahat oleh Mbah Barjo. "Sebaiknya kalian berempat beristirahat terlebih dahulu, Mbah mempunya dua kamar khusus tamu, jadi kalian bertiga tidur bersamaan dalam satu kamar sedangkan Pak Sopir ini di kamar satunya." Mbah Barjo yang berbicara sembari bergegas mengantarkan mereka di kamar mereka sendiri Sesampainya di depan pintu kamar yang di tujukan kepada Sinta Mbah Barjo mulai membuka pintu kamar tersebut. "Ini kamar untuk kalian bertiga," kata Mbah Barjo yang mempersilahkan mereka masuk. "Baik Mbah terima kasih," ucap mereka bertiga dengan serentak. Mbah Barjo yang meninggalkan mereka bertiga mengantarkan Pak Slamat ke kamarnya kembali, sementara Sinta dan kawan-kawan mulai memasuki kamar tersebut sembari membawa tas mereka masuk ke kamar tersebut. Di kamar tersebut terdapat topeng-topeng yang menyeramkan di letakkan di dinding kamar yang membuat kamar itu terlihat lebih menyeramkan, lalu di tambah kembali sebuah kursi goyang yang terlihat usang dan tua di pojokan kamar. Namun Sinta tidak memperdulikan semua yang ia lihat di benaknya bagaimana ia bisa terbebas dari arwah penasaran yang selalu mengganggu dirinya. Sinta, Tika, dan Tiara yang bergegas menuju kasur kapuk dengan tempatnya yang terbuat dari besi seperi tempat kasur tempo dahulu. "Waduh tempat tidurnya seperti apakah aku bisa tertidur," Sinta yang mengeluh kepada mereka bertiga. "Ya udah Sin sementara aja, dari pada penginapan yang kemarin banyak hantunya mendingan mana!" kata Tiara kepada Sinta. "Ia Sin aku kalau di suruh balik lagi ke sana ogah," celetuk Tika. "Ia... ia ya sudahlah aku ingin beristirahat terlebih dahulu rasanya badanku cape sekali," eluh Sinta kepada mereka berdua. Beberapa menit kemudian Sinta dan Tiara sudah mulai tertidur dengan pulas namun Tika yang tidak dapat tertidur di kamar itu. Saat Tika tidak dapat tertidur keanehan mulai terjadi ada bunyi decitan dari kamar itu, Tika yang mendengar bunyi itu memutuskan untuk bagun. karena dia tidur di paling pojok tidak dapat melihara keadaan di sekeliling kamarnya. Dan ternyata suara decitan itu di hasilkan oleh kursi goyang yang telah tua dan usang itu. namun teryata ada sesosok mahluk yang sedang duduk dan menikmati kursi goyang tersebut sehingga membuat kursi goyang yang sudah tampak usang dan tua itu bergerak. sosok mahluk itu menggunakan kain yang seperti kain kafan yang terlihat sangat lusuh dan kotor seperti bekas tanah yang menempel di kain kafan yang membungkus mahluk itu. Di atas kepala di ikat badan kaki pun di ikat mahluk itu seperti sesosok pocong di tambah lagi pocong itu yang menoleh ke arah Tika terlihat wajah yang penuh kapas dan darah menyelimuti wajah pocong tersebut membuat Tika yang melihatnya Sontak terkejut dan membangunkan kedua temannya. "Sin... Tiara... bagun ada pocong," ucap Tika yang menggoyang-goyangkan badan mereka sekencang mungkin. Sinta dan Tiara yang merasa di ganggu oleh Sinta pun akhirnya terbangun. "Ada apa sih Tika, mengganggu orang sedang tidur aja," sahut Sinta yang kesal di ganggu oleh Tika. "Ia nih Tika menggangu orang saja," celetuk Tiara. "Itu ada pocong," kata Tika menunjuk kursi goyang itu. Namun anehnya selang berapa detik di kala Tika tengah lengah pocong itu hilang, Sinta dan Tiara yang tidak melihat apa-apa memarahi Tika. "Tik sebaiknya kamu tidur, dari pada kamu menghayal yang tidak-tidak di sini," celetuk Sinta yang sangat kesal. "Ia nih udah lebih baik kamu tidur aja Tik," Tiara yang menasehati Tika. "Serius aku tidak bohong kepada kalian," ujar Tika yang meyakinkan kedua temannya itu. Namun bagaimana pun Tika menyakinkan mereka bertiga tidak percaya karena mereka tidak melihat bukti yang di ceritakan oleh Tika sosok pocong tersebut. Tika yang merasa kesal karena teman-temannya tidak percaya kepada dirinya mencoba untuk memejamkan mata, sedangkan Sinta dan Tiara mereka berdua kembali melanjutkan tidur mereka yang di gangu oleh Tika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN