Terlihat wajah hancur dengan rambut panjang dari sosok wanita itu, menyeringai ke arah mereka Tika dan Tiara pun berlari keluar kamar.
“Ra itu apaan?” Tika berlindung di belakang Tiara.
“Ya hantu lah apa lagi yang tampilanya model begitu!” Tiara perlahan mundur.
“Suruh pergi Ra aku takut,” ucap Tika.
“Kamu kita aku ini pawang hantu Tik? Aku juga takut,” Tiara berusaha melepas genggaman Tika.
Sinta pun terbangun karena mendengar suara gaduh dari Tika dan juga Tiara.
“Ada apaan sih, akh berisik banget!” Sinta mengusap matanya.
Sosok wanita itu berbalik menghadap Sinta dengan seringai mengerikannya serta wajah hancurnya membuat Sinta terkejut bukan main.
“Aaaaaaaaaaaaaa ....”
Sinta bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari keluar kamar menghampiri Tika dan Tiara mereka bertiga berlari menuju kamar Pak Slamet yang berada di ujung koridor.
Namun sosok itu seakan mengejar mereka dari belakang, dengan cepat Sinta, Tika dan juga Tiara menggedor pintu kamar Pak Slamet.
Tokkk tokk!
“Pak buka! Buka Pak!” ucap Sita sambil menggedor kamar Pak Slamet.
“Ada apa Non?” ucap Pak Slamet sambil membuka pintu.
“Pak kita harus pergi sekarang!” ucap Sinta.
“Hah? Ini baru jam dua pagi Non!” protes Pak Slamet.
“Nggak peduli kita harus pergi titik!” tegas Sinta.
“Baik Non Bapak ambil kunci dulu,” sahut Pak Slamet.
Usal mengambil kunci di kamarnya mereka semua kembali ke kamar Sinta untuk mengambil barang-barang bawaan mereka.
“Ra kamu masuk duluan!” Sinta mendorong Tiara.
“Aku takut! Kamu aja deh Tik,” Tiara beralih posisi ke belakang Tika.
“A-aku juga takut! Nah Pak Slamet aja, Pak masuk duluan deh ya!”
“Baik Non,”
Pak Slamet pun masuk ke dalam kamar, untungnya sosok itu sudah tidak berada di dalam kamar itu, dengan sigap mereka semua mengambil tas dan berlari keluar kamar.
Mereka berempat berjalan cepat agar bisa cepat keluar dari penginapan itu, menuruni beberapa anak tangga hingga sampai di lobi namun saat itu lagi-lagi di meja receptionist tidak ada siapa-siapa.
“Mbak? Halo Mbak?” teriak Tika.
Tiing ... tinggg!
Tiara berusaha menekan bel manual itu berkali-kali namun tidak ada satu orang pun yang keluar.
“Argh udah lah kita tinggalin aja duitnya disini!” Sinta menaruh uang di atas meja receptionist.
“Banyak banget Sin kita kan baru beberapa jam di sini?” seru Tiara.
“Udah nggak peduli yang penting kita harus pergi dari sini!” ucap Sinta.
Dengan tergesa-gesa mereka semua keluar dan masuk ke dalam mobil, Pak Slamet mulai menyalakan mesin mobil namun beberapa kali mesin mobil tidak bisa menyala.
“Lho kok nggak nyala Pak?” Tika mulai panik.
“Nggak tahu nih Non padahal setiap hari saya cek mesinnya aman.”
“Ra! Ra!” Tika menepuk tubuk Taiara sambil memandangi ke arah luar.
“Apaan sih Tik!”
“I-itu Ra!” Tika menunjuk sosok wanita yang ada di kamar mereka sedang duduk menjuntaikan kaki di atas pohon dekat pintu masuk penginapan.
“Pak cepetan Pak!” ucap Sinta yang ketakutan setengah mati.
“Bismilahirrohmannirrohim!” ucap Pak Slamet sambil kembali menghidupkan mesin.
Akhirnya mesin mobil menyala, Pak Slamet pun menginjak gas dan melaju menuju pintu keluar, saat mereka telah keluar Tika masih memperhatikan situasi penginapan itu.
Secara tiba-tiba semua lampu penginapan itu mati dan menjadi gelap gulita Tika yang melihat itu pun terkejut bukan main.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan hingga pada pukul 04.00 mereka tiba di sebuah perkampungan, kokokkan ayam mulai terdengar membuat hati mereka semua menjadi lega.
Saat melintas mereka melihat sebuah papan usang dengan tulisan menggunakan cat putih di papan itu tertulis Dusun Sajen.
Saat masuk ke dalam Dusun itu mereka di buat bergidik karena banyaknya pohon-pohon besar yang di balut dengan kain-kain usang serta di bawah pohon-pohon itu terdapat banyak sesajen serta benda-benda aneh.
“Kita sudah sampai Non, tapi kita nggak bisa masuk pakai mobil kita harus jalan kaki,” ucap Pak Slamet.
“Ya udah ayo kita keluar!” ucap Sinta.
“Aku takut!” ucap Tika.
“Ya udah kamu di mobil aja kita yang pergi,” ucap Tiara.
“Ah nggak deh aku ikut aja,” sahut Tika.
Mereka semua keluar mobil, dengan langit yang masih sangat gelap mereka harus menggunakan senter sebagai penerangan.
“Sepi banget di sini nggak ada pos rondanya apa ya?” celetuk Tiara.
“Pak ini kita harus kemana buat nanya rumahnya Mbah Barjo?” tanya Sinta kepada Pak Slamet.
“Kita cari saja warga yang ada di luar nanti kita tanya dia,” usuk Pak Slamet.
Setelah jauh berjalan mereka akhirnya bertemu dengan salah satu warga yang sedang bersiap untuk ke kebun.
“Permisi pak saya boleh tanya?” ucap Pak Slamet.
“Oh ya boleh saja,” sahutnya.
“Saya mau tanya rumahnya Mbah Barjo di mana?” tanya Sinta.
Mendengar pertanyaan itu raut wajah ramahnya seketika berubah menjadi serius sambil menatap tajam ke arah Sinta.
“Ada urusan apa kalian mencari Mbah Barjo?” tanya warga itu ketus.
“A-anu kami ada sedikit masalah jadi ingin meminta bantuan Mbah Barjo,” sahut Tiara.
“Ya sudah ikuti saya!”
Sinta dan yang lainnya mengikuti seorang warga itu menuju jalan setapak di dalam hutan, sekeliling mereka terdapat pohon-pohon besar dengan berbagai sesajen di bawahnya. Suasana mencekam terasa ketika mereka harus melewati beberapa makam tua.
“Sin kok serem banget sih,” ucap Tika sambil memegangi tangan Tiara.
“Duh Tik mengangnya bisa nggak sih biasa aja sakit tau!” eluh Tiara.
“Aduh maaf Ra, aku takut banget,” Tika melonggarkan pegangannya.
“Pak apa masih jauh?” tanya Sinta.
“Kalian cukup ikuti saya saja!” ucapnya ketus.
Setelah jauh berjalan masuk ke dalam hutan, dari kejauhan terlihat sebuah rumah yang terbuat dari kayu berdiri kokoh di bawah pohon beringin besar. Dengan dikelilingi hutan lebat rumah itu tampak menyeramkan.
“Kalian jangan berbicara kasar atau pun bersikap tidak sopan di depan Mbah Barjo!” warga itu memperingatkan mereka.
“Memangnya kenapa Pak?” tanya Tiara.
“Ini tempat sakral dilarang berbuat yang aneh-aneh mengerti!”
“Baik Pak.” Sahut Sinta.
Kedatangan mereka rupannya menjadi perhatian oleh beberapa makhluk salah satunya adalah sosok kuntilanak yang mengintip mereka dari kejauhan sambil sesekali tertawa cekikikkan.
Tika yang mendengar suara itu pun mematung sambil terus memegangi tangan Tiara.
“Tika kamu kenapa lagi?” tanya Tiara.
“Nggak apa-apa Ra,” sahut Tika singkat.
“Terima kasih Pak sudah mau mengantarkan kami,” ucap Pak Slamet.
Sinta pun melangkah menuju tangga yang ada di depan rumah itu.
“Tunggu!” warga itu menahan langkah Sinta.
“Kenapa lagi sih Pak?” tanya Sinta ketus.
“Saya hanya mengingatkan jangan terlena dengan hasil yang akan kalian dapatkan,” tuturnya.
“Maksudnya apa Pak?” Sinta bingung.
“Sudahlah, ketuk pintunya tiga kali makan nanti akan di buka, ingat habya tiga kali, saya permisi dulu.”
Warga itu berlalu pergi, gerak geriknya membuat Tiara curiga seperti ada yang di tutup-tutupi olehnya.
“Apa maksud dari ucapannya tadi ya?” guman Tiara dalam hati.
Sinta menaiki anak tangga itu disusul oleh Tika, Tiara dan Pak Slamet.