Pergi ke dusun sajen

1742 Kata
“Sin udah siap semua?” tanya Tiara “Beres pokoknya semua sudah aku siapin, aku juga udah ambil duit nih,” ucap Sinta sambil menunjukkan segepok uang. “Asik, terus ini kita berangkatnya gimana?” Tanya Tika. “Tenang ada Pak Slamet,” sahut Sinta. “Serius memangnya nggak apa-apa?” Tiara merasa ragu. “Ya pasti mau lah kalau nggak mau bakalan aku aduin ke Papa aku biar dia di pecat!” seru Sinta dengan arogan. “Bagus deh ayo cepetan soalnya perjalanan kita jauh,” ajak Tika. Sinta dan kawan-kawannya berjalan menuju garasi kebetulan Pak Slamet berada di garasi sedang membersihkan salah satu mobil di sana. “Pak antarin kita!” ucap Sinta. “Kemana Non?” tanya Pak Slamet. “Dusun Sajen!” sahut Sinta. “Hah? Non mau ngapain ke sana? Jaraknya sangat jauh dari sini Non,” eluh Pak Slamet. “Udah Pak nggak usah banyak basa-basi ayo cepetan antarin kita!” Sinta mengkerutkan keningnya. “T-tapi Non.” “Nggak usah tapi-tapian Bapak mau aku aduin ke Papa biar Bapak di pecat!” Sinta mulai mengancam Pak Slamet. “Baik Non.” Dengan cepat Pak Slamet membukakan pintu mobil untuk Sinta dan teman-temannya. Pak Slamet memacu mobil dengan kecepatan sedang menuju Dusun Sajen. Di tengah perjalanan Tiara bertanya kepada Pak Slamet. “Pak tahu Mbak Barjo nggak?” tanya Tiara. “Non mau ke sana?” tanya Pak Slamet. Saat Pak Slamet bertanya Sinta dan teman-temannya kompak terdiam seakan mengiyakan pertanyaan dari Pak Slamet. “Untuk apa Non? Di sana bahaya,” Pak Slamet berusaha menasihati Sinta. “Udah bapak fokus nyetir! Nggak usah banyak tanya!” sahut Sinta ketus. “Baik Non.” Pak Slamet hanya bisa pasrah mengikuti kemauan dari Sinta, perjalanan menuju Dusun Sajen cukup jauh butuh waktu 12 jam untuk sampai ke sana. Secara tiba-tiba Pak Slamet menginjak rem membuat Sinta dan teman-temannya terpental ke bagian depan. “Pak Slamet apa-apaan sih?” teriak Sinta. “Ma-maaf Non tadi ada yang tiba-tiba nyebrang,” sahut Pak Slamet. “Nyebrang? Perasaan ini jalan sepi nggak ada siapa-siapa deh,” ucap Tiara. “Ahhh... udah jalan lagi!” ucap Sinta. Pak Slmaet kembali melanjutkan perjalana, hingga sampai di sebuah jalan denga pepohonan rimbun di samping kanan dan kiri jalan. “Pak ini bener jalannya?” tanya Tika. “Iya Non benar ini jalannya,” sahut Pak Slamet. “Duh kok jalannya sepi banget sih mana serem lagi,” celetuk Tiara. “Udah jangan pada berisik! Ingat tujuan kita!” ucap Sinta. “Tapi Sin,” ucap Tiara. “Apa lagi sih Tiara?” Sinta mulai kesal Brrrraaaakkkkkk! “Pak apaan itu?” ucap Tiara yang merasakan mobil mereka menabrak sesuatu. "Nggak tahu Non kayaknya kita lagi nabrak sesuatu," Pak Slamet keluar mobil untuk memastikan keadaan, setiap sisi di perhatikan oleh Pak Slamet namun tidak ada benda atau apa pun di sekitar mobil. Pak Slamet pun berdiri untuk kembali ke mobil namun saat Pak Slamet berdiri dia di kejutkan oleh sesuatu. “Astagfirullah!” Pak Slamet kaget terduduk di tanah. “Pak ada apaan?” tanya Tari yang keluar mobil. “A-anu Non itu,” Pak Slamet menunjuk ke bagian kursi belakang. Tari pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh Pak Slamet, terlihat di belakang Tiara seseorang sedang duduk dengan mengenakan baju putih dan rambut yang berantakkan, matanya melirk tajam ke arah Tiara. “Aaaaaaaaaa... Pak usir Pak!” ucap Tika yang berlindung di belakang Pak Slamet. “Gimana ngusirnya Non? Bapak juga takut,” Sementara itu di dalam mobil Tiara dan Sinta bingung melihat Tika dan Pak Slamet bertingkah aneh. “Itu si tika kenapa sih Sin?” ucap Tiara. “Ya mana aku ta!” Sinta terkejut bukan main melihat sosok yamg berada di belakang Tiara, tubuhnya seketik gemetar bahkan untuk mengangkat tangannya saja pub dia tia bisa. “Sin kamu kenapa sih?” tanya Tiara bingung. “Ra! Keluar Ra sekarang!” Sinta terus memandangi sosok itu. “Apaan sih Sin?” “Ra di-di belakang kamu!” Dengan perlahan Tiara menoleh ke belakang, wajah Tiara berhadapan langsung dengan sosok tersebut, seketika wajah Tiara pucat dengan cepat tangannya meraih pintu mobil dan keluar begitu pula dengan Sinta. “Sin kita pulang aja yuk!” ajak Tika. “Nggak! Kita haru lanjut!” sahut Sinta. “Tadi apaan?” tanya tiara yang masih ketakutan. “Aku nggak tau Ra, iiihh serem banget,” ucap Tika sambil bergidik ngeri. “Kayaknya dia udang nggak ada deh,” Sinta mulai membuka pintu mobil. melihat keadaan di dalam mobil sudah aman Tiara dan Tika pun menyusul Sinta, Pak Slamet juga masuk ke dalam mobil. “Non ini sudah mau malam sebaiknya kita cari penginapan,” usul Pak Slamet. “Iya Sin kita lanjutin besok pagi aja,” seru Tika. “Ya sudah kita cari penginapan buat bermalam,” sahut Sinta. Pak Slamet memacu mobilnya sambil mencari penginapan yang bisa mereka datangi, cukup lama mereka mencari hingga langit pun gelap, mereka akhirnya menemukan sebuah penginapan tua yang masih buka. Pak Slamet memasuk area parkir, Sinta dan kawan-kawannya pun turun dari mobil. “Kon sepi banget ya?” seru Tiara. “Udah kita masuk aja, aku gerak mau mandi,” ucap Sinta. Mereka menuju meja receptionist namun di situ tidak ada siapaun. “Permis? Halooo?” ucap Sinta. Tingg ... ting ... ting! Tiara beberapa kali menekan bel yang ada di depan meja. “Haloo? Mbak?” teriak Tika. “Kok aneh sih nggak ada orang kita balik aja yuk,” ucap Tiara. “Ya sudah kita cari penginapan lain,” sahut Sinta. Sinta dan kawan-kawan membalikkan badan berjalan menuju pintu keluar, baru beberapa langkah mereka berjalan terdengar seseorang berbicara di belakang mereka. “Ada yang bisa saya bantu?” Langkah mereka terhenti dan langsung berbalik, terlihat seorang wanita berdiri di belakang meja receptionist. “Ra bukannya tadi di situ nggak ada siapa-siapa?” Tari berbisik kepada Tiara. “Udah mungkin dia lagi ke toilet.” “Mbak saya mau pesan 2 kamar,” ucap Sinta. “Baik tunggu sebentar,” sahut sang receptionist dengan ekspresi datarnya. “Ini kuncinya, nomor kamarnya ada di gantungan kuncinya,” ucapnya. “Pak Slamet nih kunci kamar Bapak,” Sinta memberika kunci kamar kepada Pak Slamet. “Terima kasih Non,” Sinta dan kawan-kawan pun masuk ke dalam kamar, suasana kamar tampak biasa dengan kasur doble bed satu kamar mandi dan pemandangan yang menghadap ke jalan yang mereka lalui tadi namun yang membuat mereka sedikit heran adalah lampu-lampu seluruh ruangan redup bahkan ada yang mati. “Tik kok penginapannya gelap begini ya?” tanya Tiara. “Mungkin karena tempatnya Ra, di sini kan jauh dari pemukiman.” “Iya juga sih.” “Aku mandi dulu ya gerah nih,” ucap Sinta. “Ya udah duluan aja nanti gantian.” Sahut Tiara. “Tik kamu merasa aneh nggak sih sama tempat ini?” tanya Tiara. “aneh gimana maksud kamu Ra?” tanya Tika. “Ya aneh di tempat ini nggak ada karyawan lain selain receptionist,” tutur Tiara. Tiara merasakan ada hal yang tidak beres terhadap penginapan itu mulai dari tatapan sinis receptionist sampai ruangan dengan penerangan minim. “Udah selesai Sin mandinya?” tanya Tari yang melihat Sinta keluar dari kamar mandi. Namun saat di tanya Sinta hanya diam dan acuh tak acuh terhadap Tika, Sinta terus berjalan ke arah pintu Tika dan Tiara sedikit bingung dengan sikap aneh Sinta. “Duh gila dingin banget, apes banget di sini nggak ada air panasnya,” Seru Sinta yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Mendengar suara Sinta di belakang mereka sontak saja Tika dan Tiara langsung menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya mereka melihat Sinta keluar lagi dari kamar mandi karena, sebelumnya mereka melihat Sinta sudah keluar dari kamar mandi. “Lhoo Sin kamu kok di situ?” tanya Tika bingung. “Ya emang kan aku baru selesai mandi Tika gimana sih,” sahut Sinta. “Bukannya kamu tadi baru keluar kamar mandi?” tanya Tiara. “Hah? Apaan sih kalian ngehalu ya?” sahut Sinta dengan wajah heran. “Ra terus yang tadi kita lihat itu siapa?” bisik Tika. “Aku juga nggak tahu Tik aneh banget,” sahut Tiara. “Iiiiihhhh aku takut! Aku tidur sama kamu aja ya,” Tika mulai ketakutan. “Ya udah tapi jangan ngorok kamu Tik,” ucap Tiara. “Nggak lah mana pernah aku ngorok.” Jam dinding menunjukkan pukul 00.20 Tiara dan Sinta pun telah terlelap, lain halnya dengan Tika yang sedari tari terus menatap layar HP miliknya. Geeejlllekkk! Gagang pintu kamar mereka terus bergerak seakan ada seseorang berusaha membuka kamar mereka, Tika yang masih terjaga itu pun bangkit dari tempat tidurnya dan perlahan membuka pintu namun saat Tika membuka pintu tidak ada satu orang pun di sana, hanya koridor kosong dengan lampu yang berkedip. Tika kembali menutup pintu dan menguncinya, saat Tika baru membalikkan badan gagang pintu itu kembali bergerak, sontak Tika langsung melemparkan diri ke kasur dan membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut hal itu membuat Tiara terbangun. “Apaan sih Tik! Tidur sana!” ucap Tiara “Ra! Ra! Aku takut Ra!” ucap Tika. “Takut apaan sih Tik?” Tiara membalikkan tubuhnya. Gagang pintu itu kembali bergerak, suaranya pun membuat Tiara sadar sepenuhnya, Tiara bangkit dari tidurnya untuk membuka pintu. “Jangan Ra!” Tika menahan Tiara “Ada apa lagi sih Tika!” “Aku sudah buka tadi nggak ada orang di sana!” eluh Tika. “Nggak mungkin lah itu gagangnya bergerak berarti ada orang!” ucap Tiara. Tiara berdiri dan menyalakan lampu, dengan cepat Tiara membuka pintu namun seperti yang di katakan oleh Tika tidak ada seorang pun di sana karena penasaran Tiara keluar dan melihat sekitar lorong koridor. “Ra kamu mau ke mana?” ucap Tika yang mengikuti Tiara dari belakang. “Ini pasti ada yang iseng!” ucap Tiara. “Ra balik yuk aku takut!” “Kamu ngapain ikutin aku Tika!” “Aku takut sendirian,” sahut Tika. Setelah melihat keadaan sekitar Tiara memutuskan untuk kembali ke kamar, saat akan masuk kamar mereka di kejutkan oleh seseorang yang duduk di pojok ranjang Sinta dengan posisi membelakangi mereka. “Ra itu siapa? Kok ada di kamar kita?” tanya Tika. Tanpa basa-basi Tiara menghampiri orang itu. “Mbak ngapain masuk ke kamar kami tanpa izin!” seru Tiara. Namun orang itu tidak menggubris bahkan menoleh ke arah Tiara pun tidak. Karena kesal Tiara berusaha membalikkan tubuh orang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN