Di hari ini ada beberapa pelajaran yang kosong, karena Guru yang mengajar sedang berhalangan tidak dapat masuk kelas maka para murid dapat sesuka hati berbincang-bincang di kelas.
Sinta, Tika, dan Tiara menghampiri Wulan entah apa yang akan mereka rencanakan kembali.
“Lan, maafin aku yah pernah kasar sama kamu,” Sinta yang mengulurkan tangannya untuk jabat tangan meminta maaf kepada Wulan.
“Ia Lan aku juga,” sahut tiara.
“Aku juga Lan, maaf kalau sikapku ke kamu kasar,” kata Tiara.
“Udah kalian kenapa, aku sudah enggak memikirkan hal-hal itu kok, aku menganggap kalian itu teman baikku,” tutur Wulan dengan senyuman di wajahnya.
Indra yang melihat mereka bertiga yang tampak aneh pun berkomentar.
“Udah... Udah lebarannya masih lama, kok pada minta maaf sekarang,” celetuk Indra Sinta the gang.
“Kamu udah sembuh Ndra, kamu sakit apa kemarin?” ujar Sinta yang memberikan perhatian kepada Indra.
“Cuma demam ringan kok Sin,” sahut Indra dengan datar.
“Coba sini, kamu beneran udah sembuh belum,” Sinta yang menyentuh kening Indra memastikan ucapan Indra ia kata telah sembuh.
“Apa-apaan sih Sin, aku baik-baik saja,” Indra yang mulai tidak suka dengan perhatian Sinta.
“Ia maaf yah, aku kan hanya khawatir sama kamu Ndra,” cakap Sinta melirikkan mata kepada Wulan seolah hendak mengetahui ekspresi kesal yang ada di wajah Wulan.
Melihat Sinta seperti itu dengan Indra, wulan mulai sedikit risih dan pamit ke kamar mandi.
“Ndra, Sin, aku ke kamar mandi dulu yah. Silahkan kalian mengobrol,” ucap wulan seraya meninggalkan mereka semua.
Terlihat ekspresi kebahagiaan yang di pancarkan oleh Sinta.
Setelah berada di kamar mandi Wulan mencuci tangannya di Wastafel sembari melihat cermin yang ada di depannya, Hatinya pun bergumam saat itu.
“Mengapa aku jadi seperti ini, kenapa hatiku merasa tidak nyaman di kala Sinta mendekati Indra,” gumam Wulan melihat dirinya di cermin.
“Apa aku mulai ada rasa dengan Indra,” gumam Wulan kembali.
Saat tengah asik melihat dirinya sendiri di cermin Wulan di kejutkan kembali oleh sosok Sumarni yang ada di belakangnya.
“Mbak Marni,” ucap Wulan yang terkejut.
“Mengapa kau bersedih, apa mereka mengganggumu kembali,” tanya Sumarni dengan tegas.
“Tidak Mbak, sekarang mereka sudah baik kepada Wulan mereka baru saja meminta maaf kepada Wulan,” tutur Wulan menjelaskan kepada Mbak Sumarni, dan berusaha menutupi perasaannya kepada Indra.
Sumarni menghilang setelah mendengar penjelasan dari Wulan. Selesai mencuci wajahnya dan menenangkan hatinya Wulan kembali ke kelas.
Setibanya di kelas Wulan kembali duduk di bangkunya, Sinta the gang masih saja berada di dekat Indra.
“Lama banget, kamu Lan di kamar mandi, ngapain aja” tanya Indra yang tak bisa melihat tingkah Wulan.
“Biasalah cewek,” sahut Wulan dengan datar.
Sinta yang tidak terlalu suka dengan mereka mengobrol, ikut memotong pembicaraan mereka.
“Ndra besok minggu aku ke rumahmu yah mau mengerjakan tugas matematika yang tidak bisa aku kerjaain,” Kata Sinta dengan melirik ke arah Wulan.
“Emang ada tugas Lan?” tanya Indra.
“Oya ndra ada aku lupa, seingatku tidak ada tugas, pak guru memberikan tugas di saat mau pulang sekolah,” jelaskan Wulan kepada Indra.
“Untung saja hari, ini nggak ada mata pelajarannya,” celetuk Indra.
“Gimana ndra, besok kami ke rumah mu yah ngerjain tugas?” Sinta yang bertanya kembali kepada Indra seakan-akan ingin membuat Wulan sinis kepadanya.
“Nggak Sin, aku mau ke tempat Wulan aja mengerjakan tugas bareng dia,” capak Indra yang memang sudah memendam rasa kepada Wulan saat pertama kali bertemu.
“Kalau kamu mau, sekalian aja ke rumah Wulan,” Indra yang menawarkan kepada Sinta.
Mendengar ajakannya di tolak membuat, Sinta semakin kesal kepada Wulan.
“Ia ndra nanti aku menyusul ke rumah Wulan,” kata Sinta menahan amarahnya.
“Ndra kalau Sinta mau ke rumahmu mengerjakan tugas, ya udah nggak papa kok,” sahut Wulan dengan senyum mini malisnya.
“Nggak, aku maunya sama kamu,” celetuk Indra tanpa sadar memperlihatkan dia menyukai Wulan.
Sinta yang semakin kesal mendengar ucapan Indra membuat dirinya ingin pergi meninggalkan mereka berdua, untuk menghilangkan rasa amarah dan kesalnya.
“Ya udah ndra lihat besok saja,” sahut Sinta yang kesal bergegas meninggalkan Wulan dan Indra kembali ke tempat duduknya bersama ke dua temanya.
Sinta, Tiara, dan Tika pergi meninggalkan mereka berdua kembali ke tempat duduknya masing-masing, kebetulan Sinta, Tiara, dan Tika mereka bertiga duduk tidak terlalu berjauhan.
“Ndra apa tidak apa-apa kamu tolak ajakan Sinta mau belajar ke rumahmu,” tanya Wulan yang merasa tidak enak kepada Sinta.
“Udaj biarin, aku maunya belajar sama kamu Lan,” celetuk Indra.
Mendengar ucapan Indra, Wulan terdiam tidak dapat berbicara apa-apa lagi, ia hanya tersenyum tersipu malu.
Sementara dari kejauhan Sinta mengamati Indra yang sedang mengobrol bersama Wulan.
“Sialan tuh anak, makin lengket aja sama Indra,” ujar Sinta yang kesal.
“Sabar Sin nanti kita balas, si Wulan itu, coba aku searching di internet paranormal terhandal,” kata Tiara yang mencoba menenangkan Sinta.
“Bagus sekali idemu Tiara,” puji Sinta.
“Ia Tiara keren idemu,” puji kembali Tika.
Tiara yang mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya lalu mencoba mencari paranormal yang terhandal di internet.
Setelah beberapa menit Tika bertanya kepada Sinta.
“Udah ada belum Tiara?” tanya Tika yang sudah menunggu lama.
“Sebentar belum dapat yang pas ini,” sahut Tiara yang masih asik memandangi HP nya.
Setelah mulai lelah, mencari akhirnya Tiara menemukan paranormal yang sesuai dengan kriteria yang mereka cari.
“Sinta, Tika, aku udah dapat nih. Namanya Mbah Barjo tinggal di dusun sajen tapi lumayan jauh Sin dusun itu lama perjalanan ke kitar 12 jam,” tutur Tiara yang menjelaskan kepada Sinta.
“Ya udah tidak apa-apa kan bisa di antar sopirku nanti, aku minta tolong sama Pak Selamet untuk nganterin kita, kalau dia gak mau anterin aku bilangan sama Papah dia kerjanya nggak benar paling nanti di pecat,” ujar Sinta kepada Tiara.
“Sadis kamu sin, kata Tiara, oya kita ke sana memerlukan duit banyak loh Sin?” kata Tika yang binggung.
“Udah masalah uang serahkan sama aku, nanti aku ambil tabunganku di kamar papah, sebenarnya bukan aku sih yang menabung, papah setiap bulan selalu mengisi tabuhan atas namaku tapi dia simpan atm dan bukunya di kamarnya,” kata Sinta yang memberitahukan temannya.
“Oke lah Sin kamu atur aja,” kata Tika.
“Oh yah kalian bisa nggak keluar nih, kalau aku sih gampang aja papah mamah jarang pulang paling menelepon alesan aja nanti,” ujar Sinta.
“Tapi kalau besok, papahmu nyariin kamu bagaimana, di sekolah,” tanya tika.
“Enggak mungkin sekarang semenjak Mamah, Papah ikut bisnis temannya papah dan melambung tinggi bisnisnya, Papah jarang masuk ke kantor sekolah, sepertinya bakal berhenti menjabat sebagai kepala sekolah,” jelaskan Sinta kepada kedua temannya.
“Baiklah Sin kalau aku alasan gampang tinggal bilang ikut camping yang di adain di sekolah, udah mereka percaya kalau aku sih, kalau kamu Tika.”
“Kayanya aku ngikutin alasan kamu Tiara,” jawab Tika.
Mereka bertiga telah sepakat besok akan pergi ke dusun sajen mencari Mbah Barjo yang konon kesaktiannya tidak di ragukan lagi.