Menceritakan teror tadi malam

1228 Kata
Pagi yang sangat cerah, di tambah udara pagi yang masih sangat segar untuk di hirup. Wulan dan Ibunya sedang bersiap-siap untuk melanjutkan aktivitasnya di pagi hari. Wulan yang sedang duduk di pelataran sedang asik memasang sepatunya, sementara sang ibu yang sedang berdiri di sampingnya menunggu anaknya untuk memasang sepatu. “Lan, udah selesai?” tanya Ibu kepada Wulan. “Sudah Bu, ayo kita berangkat!” ajak Wulan yang sangat bersemangat di pagi itu. Sebelum mereka berdua berangkat tidak lupa mencium tangan Mbah, tradisi yang harus di lakukan untuk meminta restu agar aktivitas yang di lakukan di pagi ini bisa berjalan dengan lancar. “Bu Ayu pergi kerja dulu, Assalammu’alaikum ” Ibu Wulan yang pamitan kepada ibunya sembari mencium tangan ibunya “Walaikumsalam Ia Yu, hati-hati kerjanya,” sahut Mbah. Setelah Ayu selesai berpamitan kini giliran Wulan yang berpamitan kepada Mbahnya. “Mbah Wulan berangkat sekolah dulu, Assalammu’alaikum!” pamit Wulan sembari mencium tangan Mbahnya. “Walaikumsalam Lan, yang sungguh-sungguh sekolahnya!” Mbah yang memberikan nasehat kepada Wulan. “Ia Mbah,” sahut Wulan. Setelah selesai berpamitan dan meminta restu, Wulan dan ibunya pergi berangkat dan meninggalkan rumah. Setelah keluar dari dalam gang Wulan berpamitan kepada ibunya. “Bu Wulan berangkat dulu, Assalammu’alaikum,” pamit Wulan sembari meminta restu dan mencium tangan ibunya. “Ia Nak, hati-hati sekolah yang sungguh-sungguh,” nasehat dari ibunya “Ia Bu,” ujar Wulan yang bergegas meninggalkan ibunya di depan rumah menunggu mobil angkot lewat. Di tengah perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memegang pundak Wulan. “Woii,” sapa seseorang pria bertubuh tinggi beralis tebal, berkulit putih, dan hidung mancung. “Eh Ndra, mengagetkan aja,” ucap Wulan yang terkejut. “Kamu kaget, oya gimana kemarin nggak ada kangen nggak,” sahut Indra yang menggoda Wulan. “Iya lah kaget, tiba-tiba kamu nongol di belakangku. Nggak biasa aja,” kata Wulan menjawab semua pertanyaan Indra. “Sebenarnya kemarin hariku buruk tanpamu Ndra, mereka menggangguku coba saja ada kamu pasti mereka tidak berani mengganggu, dan untung saja ada Mbak Sumarni yang membantuku,” gumam Wulan sambil menatap wajah Indra. “Woi ngelamun aja, kesambet nanti,” ledek Indra kepada Wulan. “Biarin,” kata Wulan dengan ekspresi wajah datar. “Gitu aja ngambeuk,” ledek Indra kembali. “Oya Ndra, kamu kemarin gak masuk kenapa? Sakit apa?,” tanya Wulan. “Ia aku sakit Lan demam jadi nggak masuk.” “Jaga kesehatan Ndra, eh tapi kamu sakit sehari aja.” “Eh memang mau berapa hari, aku sembuh sehari udah untung, harusnya kamu senang aku sakit tidak lama.” “Ia juga sih, iya... Iya!” Tidak terasa saat kami asik mengobrol, telah sampai di lingkungan sekolah. Kami berdua mulai memasuki kelas di saat itu belum terlihat Sinta dan kawan-kawan. Sambil menunggu pelajaran di mulai Wulan dan Indra pun berbincang-bincang kembali. “Lan, kemarin ada PR atau tugas?” tanya Indra dengan raut wajah yang serius. “Aman Ndra, tidak ada PR atau tugas yang di berikan Guru.” Lonceng telah berbunyi namun Sinta dan kawan-kawan belum juga masuk ke kelas. Di sini hati Wulan bertanya-tanya. “Tumben Sinta, Tiara, dan Tika belum masuk ke kelas, ada apa dengan mereka yah apa kejadian kemarin siang membuat mereka menjadi sakit dan tidak masuk sekolah?” gumam batin Wulan yang bertanya-tanya. Saat tengah melamun, Indra selalu saja mengagetkanku. “Woi ngelamun aja, siapin bukunya sebentar lagi pelajaran Bahasa Inggris di mulai,” celetuk Indra yang mengejutkan Wulan. “Iya Ndra, kamu suka banget mengageti aku” jawab Wulan dengan kesal. Selang beberapa menit Bu Guru pun datang, dan memasuki kelas kami. “Good morning,” sapa Bu Guru. “Good morning miss,” sahut serentak seluruh siswa. Di saat pelajaran akan segera di mulai terdengar seseorang mengetuk pintu. Tok... Tok... Tok Bu guru menghampiri asal suara ketukan pintu itu dan membukanya, terlihat Sinta, Tiara, dan Tika yang terlambat masuk ke kelas. Melihat hal itu Bu Guru sangat kesal Sinta, Tiara dan Tika pun di hukum berdiri di luar kelar, tidak mengikuti pelajaran. Sinta yang saat itu ingin menjelaskan alasan dirinya terlambat. “Bu, maaf saya terlambat gara-gara malam saya tidak bisa tidur,” tutur Sinta yang menjelaskan. “Ia Bu, saya juga tadi malam tidak bisa tidur,” ucap Tiara. “Tika juga Bu sama seperti mereka,” celetuk Tika. Alasan mereka yang sama membuat Bu Guru bertambah murka karena menurutnya mereka bertiga itu berbohong. “Kalian bertiga ini, berbohong saja ibu tidak mau tahu pokoknya hari ini kalian bertiga ibu hukum tidak bisa mengikuti pelajaran ibu dan berdiri di pinggir kelas sekarang juga!” Bu Guru yang sangat kesal kepada mereka bertiga. “Baik Bu,” sahut Sinta. Mereka bertiga mengikuti perintah Bu guru, melakukan hukuman yang mereka berbuat. Bu Guru yang telah memberikan hukuman kepada mereka bertiga barulah melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Sementara Sinta, Tiara, dan Tika mereka bertiga malah berbincang-bincang. “Eh Sin, serius tadi kamu bilang sama Bu Guru,” Tanya Tiara yang ingin tahu. “Ia tadi malam, aku tidak bisa tidur Mahluk itu menghantui aku kembali,” tutur Sinta yang kesal mengingat kejadian tadi malam. “Eh Sin, ceritamu sama, dengan yang aku alami tadi malam sampai-sampai aku tidak berani untuk tidur,” cakap Tiara. “Kejadian kalian berdua sama dengan apa yang aku rasakan tadi malam,” celetuk Tika. “Sin kita bertiga di teror setan itu Sin,” Tiara yang mulai mengeluarkan keringat dingin. “Ia Sin, benar kata Tiara. Apa kita stop aja nggak usah mengganggu Wulan kembali,” Tika yang mulai takut dengan apa yang di perbuatnya kepada Wulan. “Tidak, aku akan terus maju kalau kalian berdua tidak mau lagi membantuku ya sudah tidak usah berteman denganku,” ancam Sinta kepada mereka berdua. “Kok kamu gitu sih Sin, kita berteman dari SD sampai sekarang, masa hal seperti ini membuat pertemanan kita menjadi jauh,” kata Tiara yang sedih mendengar ucapan Sinta. “Ia Sin jangan gitu dong,” sahut Tika membela Tiara. “Habisnya kalian berdua, tidak setia kawan lagi denganku buat apa pertemanan ini di lanjut!” gertak Sinta. “Oke Sin, oke aku ngikut kamu. Aku akan membatumu,” kata Tiara. “Ia Sin aku pun,” sahut Tika. “Nah begitu dong Itu baru teman-teman, Sinta yang setia,” pujian dari Sinta yang keluar dari mulutnya untuk para sahabatnya. “Kalian berdua ada rencana apa, untuk balas dendam kepada Wulan?” tanya Sinta. “Sebentar aku berpikir terlebih dahulu,” cakap Tiara sembari berpikir. “Sin lebih baik kita cari paranormal terlebih dahulu, dia setan yang menjaga Wulan tidak mengganggu kita,” celetuk Tika mengutarakan pemikirannya. “Bagus, idemu Tika aku setuju dengan idemu itu,” Sinta yang memuji Tika. “Nanti kita bertiga mencari paranormal yang paling sakti dan ampuh mengalahkan setan yang sering mengganggu kita bertiga,” tutur Sinta. “Untuk sekarang sebaiknya kita bertiga pura-pura baik kepada wulan agar setan itu, untuk saat ini tidak mengganggu kita semua,” sambung Sinta mengutarakan idenya. “Wah, benar kata Sinta genius kamu Sin,” celetuk Tika yang memuji ide Sinta. “Iya Sin, aku setuju dengan idemu nanti kita bertiga meminta maaf sama Wulan,” sahut Tiara. “Oke, kalau kalian setuju semua, tunggu yah Wulan” ujar Sinta memasang senyum yang sinis. Beberapa jam kemudian, pelajaran Bahasa Inggris telah selesai Sinta, Tiara dan Tika pun di persilahkan masuk untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN