Bab 4. Teror Dari Darka

1174 Kata
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Darka, ia sudah menebak apa yang akan dilakukan nenek padanya. Nenek pasti tak setuju dengan pernikahannya. Apalagi mereka menikah karena kepergok, tentu saja neneknya yang sangat suci itu akan mempermasalahkan hal itu. “Apa yang kamu lakukan Darka, padahal Nenek percaya padamu!” bentak Nenek menatap Darka dengan tatapan marah. “Nek, aku juga nggak tau. Ini terjadi dengan begitu saja,” ujar Darka, muak dengan Neneknya yang ingin semuanya tampak sempurna termasuk Darka. “Ini aib Darka! Nama keluarga Danaswara akan tercoreng ulah kamu! Apa yang akan Nenek katakan ke keluarga kita!” Nenek semakin marah, tangannya mengepal siap meninju Darka kapan saja. Ada banyak orang yang menyaksikan hal itu, termasuk Nadine perempuan yang ingin dinikahkan dengan Darka. Nadine adalah cucu dari sahabat Nenek, Nenek berencana menikahkan Darka dan Nadine. Namun, Darka dengan berbagai alasannya menolak pernikahan itu. “Nek, ini sudah terjadi. Biarkan saja, mereka bisa bercerai setelah anak mereka lahir dan aku siap menjadi ibu sambung dari anak Darka,” ujar Nadine dengan nada sedih, terlihat jelas Nadine ingin mengambil muka dan ingin terlihat wanita tulus di hadapan Nenek. Padahal, dalam hatinya ia marah dengan pernikahan Darka. Cita-citanya menjadi Nyonya Danaswara pupus ulah Aurora. Darka memasang wajah tak sukanya saat Nadine mengatakan hal itu. Sudah Darka duga Nadine tak sebaik yang terlihat. Mereka semua, apalagi Nenek tertipu dengan wajah lugu dari seorang Nadine. “Kamu benar sayang, Darka harus bercerai,” ujar Nenek, sedikit lega Nadine tak mempermasalahkan pernikahan kilat Darka. “Cerai? Ide apa itu?” Darka bertanya dengan nada mengejek, bahkan ia berdiri dan mendekat ke arah Nenek dan Nadine yang sedang duduk di sopa. “Kamu harus segera menceraikan perempuan itu Darka, titik!” ujar Nenek, lalu berjalan pergi meninggalkan ruang tamu dengan amarah yang masih membara. “Itu tak akan terjadi, Nek,” gumam Darka mengepalkan tangan. “Pembawa masalah!” ejek Miko—sepupu Darka yang sangat membenci Darka. Mereka berdua tak dekat, jika bertemu mereka selalu saja berdebat bahkan untuk hal yang tak penting. Darka menatap Miko dengan tatapan murka dan siap meninju wajah munafik itu. “Kamu!” Darka berusaha menahan diri untuk tak adu otot dengan Miko. Miko selalu saja ikut campur masalahnya, itu yang Darka benci. Padahal ia sudah menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Miko, tetap saja pria itu selalu ikut campur masalahnya. “Sudahlah, Nak. Kita pulang saja,” ajak Larasanti tak ingin Darka maupun Miko membuat keadaan tambah kacau. “Aib keluarga, pergi saja kalian dari sini!” gumam Ayu—ibu Miko, yang tentu saja didengar oleh Larasanti. Larasanti berusaha menulikan telinga tak ingin termakan ucapan Ayu. Untuk saat ini mereka harus mengalah dan membujuk Nenek untuk menerima Aurora menjadi menantu dari keluarga Danaswara. *** Di lain tempat di waktu yang sama, Aurora sudah berada di dalam apartemennya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekilas Aurora melihat tampilan dirinya di kaca wastafel, ya, ia masih mengenakan baju kebaya putih yang sangat sederhana. “Aku? menikah?” Aurora bahkan tak percaya apa yang terjadi padanya malam tadi. Ia beralih memperhatikan sekujur tubuhnya, dari bibir yang terlihat bengkak lalu turun ke leher ada beberapa tanda di sana. Aurora kesal dibuatnya. “Pak Darka! Dia telah merebut hidupku!” Marah Aurora sembari membersihkan wajah dengan kasar, bahkan sampai melukai kulit wajahnya. “Kenapa harus aku!” teriak Aurora lagi, tangisnya pun pecah. Ia terduduk di lantai marmer yang dingin dengan isak tangis yang semakin kencang. Aurora tak percaya semuanya telah hilang dalam semalam dan itu ulah Darka orang yang sangat ia benci bahkan ia hindari selama ini. “Ma … kenapa Mama pergi secepat itu, Zeta nggak sanggup, Ma,” lirih Aurora di sela-sela isak tangisnya. “Ma ….” Ia tak tau lagi kepada siapa mengadu, Aurora hidup sendiri dari umur sepuluh tahun, setelah kematian mamanya ia tak pernah bertemu papanya lagi. Ia tau pasti papanya sudah bahagia dengan istri sah di keluarga itu, sedangkan Aurora diasingkan dari kehidupan mereka. Beberapa kali ia ingin menemui Papanya. Namun, hanya penolakan yang ia terima, dan hal itu terjadi berkali-kali. Akhirnya Aurora menyerah dan hidup menghabiskan uang dari keluarganya saja tak pernah ada pertemuan diantara mereka. *** Tak terasa sudah jam dua belas malam, Aurora bahkan tertidur di kamar mandi selama itu. “Sudah malam ternyata,” batin Aurora, melihat keluar jendela yang sudah gelap gulita. Ia beralih melihat jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan jam dua belas malam. Itu artinya iya sudah tidur sepuluh jam lebih. Aurora membuka ponsel ada beberapa panggilan tak terjawab dari Cantika, hanya Cantika tak ada Dara. Aurora sempat dibuat bingung, tapi ia mengabaikan hal itu. Ada satu pesan masuk yang membuat Aurora kaget. “Pak Darka?” kaget Aurora melihat ada nomor tak dikenal mengiriminya pesan. ‘Ini saya Darka, balas pesan saya kalau kamu sudah bangun’ ‘Aurora di mana alamat rumahmu?’ ‘Aurora Zetana! Sampai kapan kamu mengabaikan saya!’ Kira-kira begitulah isi pesan dari Darka, Aurora saja dibuat ngeri melihat isi pesan terakhir dari Darka. “Ngeri juga ya, apa dia segalak itu?” Aurora berpikir lagi, bagaimana sifat Darka di kampus. Darka memang terkenal galak, rata-rata mahasiswa di kampus tak ingin bermasalah dengan Darka. Dan hal buruknya lagi, Darka sudah menjadi suaminya. Itu sama saja masuk ke dalam kandang singa dan harimau sekaligus. Aurora tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya bersama Darka nanti. “Kenapa aku harus menikah dengan manusia segalak ini, sih!” batin Aurora dengan cepat membersihkan diri. *** Sudah terhitung tiga hari Aurora tak masuk kampus, ia bahkan tak mengabari siapapun atas ketidakhadirannya. Bak di telan bumi, ia bahkan mematikan ponselnya selama tiga hari ini. Yang Aurora lakukan, meratapi nasib di apartemen. Sampai detik ini ia belum bisa menerima Darka di hidupnya. Di lain sisi Darka sedang berada di rumahnya, Leon maupun Larasanti mendesak Darka untuk membawa Aurora ke rumah keluarga mereka. Setidaknya Adam—Kakek Darka menyetujui pernikahan Darka. “Darka! Mau sampai kapan kamu dan Aurora begini, cepat bawa dia ke rumah Nenek!” bentak Larasanti, rasanya mulutnya sudah berbusa meminta Aurora ke rumah mereka. “Iya, Darka. Mumpung ada Kakek di rumah, istri kamu akan diterima jika ada kakek,” tambah Leon—Ayah Darka, ia ikut menasehati anaknya agar membawa Aurora ke rumah. “Bun, Ayah, aku nggak tau Aurora tinggal di mana,” ujar Darka frustasi karena telah kehilangan jejak Aurora. Ia sudah mencari di sistim kampus. Namun, nihil informasi tentang Aurora sangat terbatas. Seakan ditutupi oleh seseorang. “Cari! Darka,” kesal Larasanti. “Aku su—“ Perkataan Darka terhenti dengan notif yang baru saja ia terima. “Ok, aku sudah menadapatkan alamat Aurora, aku pamit dulu!” kata Darka dengan tergesa-gesa, bahkan ia lupa menyalami kedua orangtuanya. *** Seperti biasa Aurora mengambil pesanan makanan di depan apartemen. “Makasih, Pak,” ujar Aurora mengambil pesanan, ia sudah tak sabar memakan jus kesukaannya itu. “Aurora!” tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tangannya. Aurora berbalik dan melihat siapa yang menahan tangannya. “Akhirnya, saya menemukanmu,” kata orang itu sembari membuka kacamata hitam yang bertengker manis di hidungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN