Beberapa jam kemudian Aurora sudah bangun dari tidur indahnya, ia tak tau dimana ia berada. Kemudian ia beralih melihat sekeliling ada beberapa orang sedang mengelilinginya.
“Siapa kalian?” tanya Aurora wa-was melihat beberapa wanita mengelilinginya.
“Mbak ayo saya bantu bersiap, acara akan segera dimulai,” kata salah satu dari wanita itu.
“Bersiap untuk apa?” panik Aurora, ia bahkan tak mengingat apa yang terjadi padanya.
Aurora melihat ke sekeliling, ia tak mengenal tempat itu. Saat melihat jam, jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, ia pun kaget. Beberapa potongan ingatan terlintas di benaknya.
“Aduh!” Aurora memegangi kepalanya yang terasa sakit, bibir yang seperti digigit tawon. Lalu beberapa ingatan terlintas di benaknya, ia mengingat pergi bersama Dara dan ada tiga preman yang ingin membawanya pergi dan …
“Pak Darka?” Panik Aurora mengingat beberapa potongan ingatan saat Darka menciumnya dan … bahkan Aurora tak bisa mengingat lagi apa yang dilakukan Darka padanya.
“Sayang, maafkan Darka ya. Dia akan bertangung jawab,” kata wanita paruh baya yang entah sejak kapan ada di depan Aurora. Aurora bahkan tak menyadari kehadiran wanita itu.
“Bunda tau, anak Bunda sudah melecehkanmu, tapi tenang saja dia akan bertanggung jawab,” tambah Larasanti—Ibu Darka.
Ia tak menyalahkan Aurora, tadi ia sudah mendengar pengakuan dari Darka. Larasanti sampai menampar Darka beberapa kali untuk hal itu.
“Maksudnya?” tanya Aurora tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
“Darka akan menikahi kamu saat ini juga,” jawab Larasanti dengan nada sedih, ia tau menikah akan menghancurkan hidup wanita muda yang ada di depannya itu.
“Menikah?” tanya Aurora masih mencerna keadaan. Aurora terdiam beberapa saat, ia menatap wanita paruh baya di depannya itu dengan tatapan sendu seperti seseorang yang menyimpan banyak luka di sana.
“Tidak! Akh!” Aurora berteriak kesetanan, ia bahkan meninju kepalanya beberapa kali melampiaskan amarahnya.
“Hei, Hei, tenang dulu.” Larasanti mendekap Aurora ke pelukannya, ia tau gadis muda itu membutuhkan seseorang untuk bersandar.
“Nggak, Tan. Aku nggak mau.” Aurora mengelengkan kepala, ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana bisa menikah dengan pria yang tak dekat dengannya. Lalu bagaimana dengan hidupnya.
Di luar kamar, Darka mendengar teriakan Aurora. Ia bahkan memejamkan mata mendengar hal itu. Teriakan itu terdengar menyakitkan bagi Darka. Entah kenapa ia merasa Aurora menyimpan banyak luka di balik sifatnya yang ceria.
“Maafkan aku …,” batin Darka, ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua, ia tak bisa lepas dari tanggung jawab. Siapa yang akan menikahi Aurora jika bukan dirinya, Darka tak sejahat itu.
***
Terlihat Aurora dan Darka berada di teras rumah salah satu warga, tak hanya ada Aurora saja ada kedua orangtua Darka juga. Kedua orangtua Darka sangat baik terhadap Aurora, bahkan Larasanti tak pernah meninggalkan Aurora barang sedetik pun.
“Kami pulang dulu, kalian berdua cepatlah pulang. Untuk kampus, tadi Ayah sudah meminta izin untuk kalian berdua,” ujar Leon—ayah Darka. Leon pasrah dengan pernikahan anaknya itu, ia tak menyalahkan Aurora, tapi Darkalah orang yang patut disalahkan dalam hal ini.
“Kalian istirahat saja, ya,” tambah Larasanti, mendekap Aurora ke dalam pelukannya.
Tak ingin membuat Larasanti sedih, Aurora membalas pelukan Larasanti.
Hal itu tak luput dari perhatian Darka, Darka memperhatikan Aurora sejak tadi. Entah kenapa ia tak bisa melepaskan pandangan dari Aurora.
“Baiklah. Ayah, Bun, kami pamit.” Darka menyalami kedua orangtuanya, lalu masuk ke dalam mobil diikuti Aurora setelahnya.
***
“Semuanya telah terjadi, kamu terima saja,” kata Darka, sedari tadi ia melihat Aurora hanya memasang wajah datar dan tak berbicara apapun. Ia juga bingung harus memulai pembicaraan dengan Aurora.
“Aku baru tau, bapak sekeji ini,” jawab Aurora dengan pandangan lurus ke depan, masih dengan tatapan datarnya.
Darka menghela napas mendengar penuturan Aurora. Ini semua bukan semata-mata salahnya saja, Aurora juga ikut andil dalam masalah ini, tapi ya sudahlah. Kali ini ia akan mengalah dari Aurora, tak ingin Aurora tambah kepikiran dengan pernikahan mereka.
“Ya, ya anggap saja begitu,” kata Darka, tak ingin memperpanjang masalah mereka.
“Ayo kita bercerai,” ujar Aurora dengan nada serius, dengan tatapan memohon. Entah kenapa kata itu tiba-tiba terlintas di benaknya.
“s**t!” Darka yang kaget pun, membelokkan mobil ke pinggir jalan. Hampir saja menabrak trotoar jalanan.
“Apa sih, Pak!” kaget Aurora, saat mereka hampir saja kecelakaan. Beruntung ini masih pagi, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang.
“Cerai kamu bilang? Kamu pikir pernikahan kita main-main?” tanya Darka berusaha menahan amarahnya agar tak meledak, ia tak habis pikir Aurora mengatakan hal itu di saat mereka baru saja menikah beberapa jam yang lalu.
“Ini tak benar Pak, seharusnya kita tak menikah! Aku tak ingin menikah dengan pria yang tak mencintaiku begitupun sebaliknya!” tekan Aurora pada setiap perkataannya.
Aurora menatap Darka dengan tatapan marah, kesal dan panik, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini, yang ia inginkan sekarang ia tak mau menikah apalagi orang itu Darka.
“Ini jalan terbaik yang bisa saya lakukan Aurora, kamu pikir saya mau menikahi kamu!” Darka membalas perkataan Aurora dengan nada yang sama, ia tak suka disalahkan. Bukankah ini juga kesalahan Aurora.
“Ya sudah kita bercerai saja, selesai. Anggap saja malam itu tak pernah terjadi.” Dengan enteng Aurora mengatakan hal itu, apa wanita itu tak berpikir bagaimana nasibnya ke depan. Darka sampai membuang muka saat mendengar perkataan Aurora.
“Tak terjadi apa-apa? Bagaimana kalau kamu hamil?” tanya Darka, Darka terpaksa berbohong hanya untuk mengancam Aurora. Agar Aurora tenang dan tak meminta cerai padanya.
Aurora tercengang mendengar penuturan Darka. “Kita memang melakukan itu?” tanya Aurora, was-was menunggu jawaban dari Darka.
“Ya,” jawab Darka, ia ingin menjalankan mobilnya. Namun, terhenti dengan tindakan Aurora.
Aurora menahan lengan Darka agar pria itu menghentikan jalan mobilnya.
“Apalagi Aurora!” bentak Darka.
“Aku nggak tau apa yang kita lakukan, yang pasti sekarang aku ingin ketenangan,” ujar Aurora menutup dengan kencang pintu mobil Darka.
Darka terkejut di buatnya. Ia bahkan tak sempat menahan kepergian Aurora.
“Hei, mau ke mana? Saya antar pulang!” teriak Darka, sembari melepaskan safety belt-nya
“Aurora …” Darka ingin turun, tapi terlambat ia melihat Aurora sudah masuk ke dalam taksi yang melaju kencang membelah jalanan sepi.
“Keras kepala,” gumam Darka, ia membiarkan saja taksi itu membawa Aurora. Ia tau Aurora membutuhkan waktu untuk menerima pernikahan mereka, tak hanya Aurora saja Darka juga butuh waktu untuk bisa menerima semua itu.
Tiba-tiba ponsel Darka berbunyi, di sana tertulis nick name ‘Nenek’
“Nenek? Nenek pasti tak setuju dengan pernikahan ini,” batin Darka, saat tau isi kepala neneknya itu yang sangat perfeksionis dan menginginkan kesempurnaan.
“Iya Nek?”
“…”
“Iya, aku akan ke rumah Nenek sekarang,” kata Darka di balik ponselnya.