Nindya pov "Ya Tuhan, kau mengagetkanku" Tanganku otomatis mengelus d**a, mencoba meredakan degup jantung yang tidak karuan. Bukannya meminta maaf telah menyebabkan kekagetan orang lain, senyum tipis justru timbul di sudut bibir sang pelaku. "Kau kira almarhumah Syahna?" "Jangan bercanda begitu! Sama sekali tidak lucu!” hardikku pada Abra yang tidak merasa bersalah sama sekali. Dengan mudahnya menyebut nama almarhumah Syahna sebagai candaan. Laki-laki itu berbalik melihat makanan yang ada di meja. Dua kotak dengan nama restoran jepang di depannya. Dan tanpa perlu merasa bertanya dia mengambil piring dan nasi serta memotong yakiniku yang kubawa dari restoran papa. "Bukannya kau baru pulang besok?" Abra tidak langsung menjawabku. Memasukkan sesendok penuh nasi dan daging panggang ke

