Nindya pov Fokus mataku tidak beralih dari lima belas menit yang lalu. Menatap gadis cilik yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Yang kini tengah tenggelam bersama film Cinderella yang di tontonnya. Pikiranku tidak bisa berhenti khawatir sejak dua hari yang lalu. Dua pertanyaan Ayya yang sampai sekarang masih tidak bisa kujawab. Harus bagaimana aku menjawabnya. Aku takut justru jawabannku akan menyakitinya dan berdampak tidak baik untuk Ayya kedepannya. Aku tidak tahu jawaban apa yang mesti kukatakan sembari menatap manik hitam jernih yang masih polos itu. Waktu itu aku terselamatkan oleh telpon rumah sakit. Sehingga aku bisa menghindar-mengulur waktu untuk menjawab lebih tepatnya. Karena aku yakin Ayya tidak benar-benar melepaskan pertanyaan itu dari pikirannya. Entah besok atau

