Malam setelah kematian Mbah Darmo, suasana tetap saja sunyi. Sepi. Tak ada satupun warga kampung Sidomulyo yang rela berkunjung untuk sekedar membacakan Yasin dan Tahlil bagi almarhum. Bahkan sekedar lewat pun tak ada. Hanya Ustad Basori yang tadi mampir sebentar saat hendak ke surau untuk mengimami sholat Isya. Itupun tak sampai lima menit lamanya. Selesai berbasa-basi sekedarnya, beliau pun berlalu.
Malam ini, sengaja Sukri ijin sementara pada Lurah Suryo untuk selama tiga hari tidak berjaga malam karena harus mengaji di rumah Mbah Darmo. Dan untuk itu maka Sukri harus rela menyerahkan uang jatahnya pada Sukron rekannya yang menggantikan tugasnya selama tiga hari ini.
Benar kata pepatah, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Dan nama yang tertera dalam tiap warga Sidomulyo adalah; Mbah Darmo adalah seorang dukun yang congkak dan sombong. Dan meskipun tiga tahun lamanya Mbah Darmo tidak lagi menggunakan keilmuannya itu, namun tetap saja tak mudah untuk menghilangkan memori itu dalam ingatan warga.
"Dek... !" ucap Sukri membuka suara, setelah selesai membacakan Yasin dan Tahlil bagi almarhum.
"Opo Kang?" jawab Tuminah. Dia duduk bersimpuh di depan suaminya.
"Kenapa ya nasib kita gini-gini saja?" ujar Sukri seraya menyesap rokoknya dalam. Lalu perlahan menghembuskan asap membentuk gelembung-gelembung putih yang segera saja hilang ditelan gelapnya malam.
"Gini-gini saja gimana to Kang?" jawab istrinya. Dicomotnya sepotong kue dan dimasukkan ke mulutnya.
"Ya gini Dek. Pagi, siang, sore. Ndak ada perubahan. Seolah kok hidup kita stak disini saja," ujar Sukri lagi.
"Ya memangnya mau gimana lagi Kang?"
"Kang Sukri ini kan cuma sebagai hansip saja to? Ya hasilnya sama kayak hansip. Ndak mungkin to jadi hansip tapi pendapatannya sama kayak Lurah,"
"Atau sampeyan mau melepas pekerjaan sebagai hansip dan beralih kerja pabrik? Di Bekasi sana?"
"Ya bukan gitu to Dek. Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu, bojoku yang muontok tenan ini. Bisa-bisa digondol genderuwo nanti," seloroh Sukri kembali menyesap rokoknya.
"Ya trus gimana to Kang? Lha wong mau berubah nasib tapi ndak mau berusaha. Lha terus sampai kapan?"
"Lha itu maksudku. Gimana caranya yo kita bisa menjadi kaya tapi tetap bisa mengabdi pada desa tercinta?" ujarnya lagi. Kali ini sambil melongokkan kepala keluar jendela.
Tuminah diam. Pandangannya menatap jalanan yang penuh berisi kunang-kunang. Konon, kunang-kunang adalah penjelmaan dari kuku orang mati, sehingga jika ada orang yang baru meninggal, maka akan bermunculan kunang-kunang di sekitaran rumah si mati.
"Dek! Lha wong diajak ngomong kok malah bengong to?"
"Eh, iya, iya Kang. Ada apa?"
"Lha, bener to? Kamu itu dari tadi ndak dengerin aku ngomong,"
"Opo to Kang?" balas Tuminah lagi.
"Ini lho Dek. Pernah ndak sih kamu punya keinginan sama kayak orang-orang di luar sana? Yang rumahnya bagus? Yang punya kendaraan mewah? Atau ya...minimal punya sawah lebar-lebar kayak Juragan Sapto dan Lurah Suryo itu?"
Tuminah menghela nafas panjang sebelum kembali berujar,
"Kang! Yang namanya manusia itu yo podo wae. Sama saja. Apalagi aku ini kan perempuan. Ya wajarlah pingin punya gelang emas yang berentet. Punya baju bagus yang berkilauan. Ning kan yo aku harus mikir. Bojoku itu siapa? Penghasilannya berapa? Apa bisa dibandingkan dengan suami orang-orang di luaran sana yang mungkin pendapatannya beberapa kali lipat lebih besar?"
"Lagipula, sejak awal kita menikah, sampeyan kan sudah jadi hansip to? Dan begitu aku menerima lamaran sampeyan, artinya aku siap dengan segala resikonya. Jadi istri seorang hansip,"
"Bukannya aku ini ndak bersyukur yo Kang. Tapi kan ya sampeyan tahu sendirilah besaran gaji seorang hansip?"
Kali ini Tuminah berkata agak dengan bibir bergetar. Rupanya timbul juga perasaan yang sedari dulu dipendamnya.
"Apa pantes aku berharap sesuatu yang jauh dari jangkauan? Sing ora bakalan kecandak?"
"Takutnya nanti malah stress dewe. Gila sendiri Kang. Ha-ha-ha..." ucapnya sambil tertawa sinis.
"Lha itu maksudku tadi Dek."
"Maksudnya gimana to?"
"Ya itu. Gimana caranya kita bisa mendapatkan lebih banyak uang. Kita harus berubah Dek." ujar Sukri lagi. Berusaha mengarahkan pembicaraan.
"Kan aku yo pingin bisa punya rumah bagus. Ya ndak perlu bagus banget lah. Minimal kayak punya orang-orang. Bukan rumah gedek dan triplek begini terus Dek. Aku yo pingin dianggap sama orang."
"Lah trus piye Kang? Gimana? Apa harus ngutang Bank? Lha kalau begitu semua orang ya bisa. Tapi gimana cara mencicilnya? Apalagi hutang bank itu kan berbunga. Riba. Dan aku ndak mau sampeyan jatuh ke jurang dosa itu Kang,"
Sukri membetulkan letak duduknya. Ia mengatur nafas seringan mungkin.
"Dek..."
"Iyo Kang,"
"Gimana... gimana kalau kita coba pakai jimat pusaka dari Mbah Darmo itu?" ujar Sukri lagi. Kali ini lebih hati-hati. Terlebih tadi sore melihat sikap istrinya yang sangat menentangnya menggunakan pusaka warisan itu.
"Sebentar saja Dek. Asal bisa memperbaiki rumah saja. Nanti kalau sudah selesai kita pulangin lagi alat itu. Gimana?" rayu Sukri.
Namun, alih-alih setuju, justru suara Tuminah meninggi.
"Astaghfirullah. Istighfar Kang! istighfar!" seru Tuminah keras.
"Kita itu boleh miskin. Boleh kere. Ning harus tetep punya iman. Istighfar Kang!" tukas Tuminah lagi. Kali ini lebih keras.
"Menggunakan pusaka itu sama artinya menyerahkan jiwa kita kepada setan! Suatu saat nanti kita diharuskan membayarnya. Ngerti Kang?"
"Kan yo ndak selamanya Dek. Beberapa kali saja. Setelah itu ya sudah. Kita simpan lagi saja."
"Eling Kang! Ingat! Yang namanya bujukan setan itu susah. Sekali Kakang menggunakannya, bakalan mustahil untuk terlepas darinya."
"Tapi nyatanya Mbah Darmo bisa Dek. Selama tiga tahun terakhir, hingga akhirnya meninggal, pusaka itu sama sekali ndak terpakai." ujar Sukri membela diri.
"Kang. Mbah Darmo itu beda dengan kita. Beliau itu punya daya linuwih. Dan aku yakin ada hal penting yang mendasari sampai beliau benar-benar bisa berhenti menggunakannya."
"Sampeyan ingat saat kematian mendiang istrinya? Berhari-hari beliau menyesalinya. Padahal yang kita tahu kan sakit beliau memang sakit biasa. Bukan sakit aneh-aneh. Tapi kok beliau sampai segitunya menyesali diri?"
"Aku yakin pada saat itu ada peristiwa besar yang menjadikan beliau sampai harus berbelasungkawa sampai berlama-lama begitu."
Dalam hati Sukri membenarkan ucapan istrinya. Memang terdengar aneh saat orang tua itu berduka cita hingga berminggu-minggu lamanya.
"Atau jangan-jangan.... hiiiiy!"
"Wis Dek. Wis. Jangan membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal. Ndak baik," ujar Sukri akhirnya, setelah yakin dia tak bakalan menang melawan ucapan istrinya itu.
"Ingat Kang. Orang itu ada jalannya masing-masing. Kalau sampeyan mau kaya boleh. Boleh sekali. Tapi pakai jalan yang benar. Jalan yang diridhoi. Bukan jalan yang dibenci Gusti Allah."
"Wislah Kang. Aku ngantuk. Mau tidur dulu."
"Sampeyan mau tidur disini apa dirumah?" ujarnya lagi. Memang, jarak rumahnya dan rumah Mbah Darmo hanya terpaut dua puluh meter saja, di sebelah kanan ladang cabe.
"Aku....yo dirumah lah Dek. Yuk pulang dulu! Badanku ini juga rasanya kok pingin gitu mendapatkan sedikit pijitan mesra dari seorang wanita."
"Hallah. Rasah ngode-ngode segala. Timbang ngomong wae langsung, 'Dek, aku njaluk dipijiti!' gitu wae kok repot?"
"Kalau plus-plus?" goda suaminya berharap lebih.
"Ndak bisa! Lagi M!"
"M?"
"Muales!"
---
Sementara disana terlihat Sukri dan Tuminah sibuk beberes untuk kemudian meninggalkan rumah itu, tampak tak jauh dari situ, dari sebuah rumpun lebat alang-alang, tampak sepasang mata tajam mengawasi keberadaan mereka berdua.
"Hehehehe..... akhirnya bisa kudapatkan juga pusaka itu. Pulanglah kalian! Pulanglah! Hehehehe he...." kekehnya seraya tangannya memelintir ujung-ujung kumis baplangnya.
"Tunggulah! Tunggulah! hehehehe..."
"Hmhmhmhm....aku kaya...aku kaya...aku kaya...hahahaha..."
---
"Dek! Dek! Katiwasan Dek! Katiwasan!" ujar Sukri berteriak-teriak pada Tuminah istrinya sesaat setelah ia mengunjungi rumah Mbah Darmo untuk membersihkannya.
"Ada apa Kang? Ada apa?" ujar Tuminah yang masih dengan handuk saja melilit di tubuhnya. Rupa-rupanya ia baru saja selesai mandi junub saat Sukri datang tergopoh-gopoh dengan nada khawatir.
"Mbah Darmo Dek! Mbah Darmo!" ujarnya keras dengan nada khawatir.
"Kenapa Mbah Darmonya?"
"Meninggal to? Bukannya sudah dari kemarin Kang?" ujar Tuminah. Kali ini dengan tertawa.
"Bukan Dek. Bukan!" serunya lagi seraya menunjuk-nunjuk rumah itu.
"Tapi itu..."
"Opo sih Kang? Nih diminum dulu biar tenang. Nanti baru ngomong." ujarnya seraya mengangsurkan segelas air putih, yang langsung ditandaskannya isinya oleh Sukri.
"Wis kono. Ngomong!"
"Rumah Mbah Darmo Dek. Kemalingan!"
Tuminah tertawa mendengar cerita suaminya. Lah mau dimaling apanya? Wong rumahnya sudah kosong kok. Tak ada barang berharga sama sekali.
"Beneran Dek. Beneran. Rumah Mbah Darmo kemalingan." ujarnya lagi. Kali ini lebih serius.
"Mau dimaling apanya? Ayamnya?" jawab istrinya lagi penuh heran, "Biarin saja Kang. Itung-itung sedekah,"
"Bukan Dek. Bukan..."
Astaga! Jangan-jangan...
"Bukan bungkusan itu kan?" ujar Tuminah. Kali ini terlihat sangat serius.
"Sayangnya iya Dek. Bungkusan itu. Bungkusan pusaka itu hilang Dek. Cilaka! Cilaka Dek." ujarnya seraya memukul-mukul tangannya pada tuang kayu rumahnya hingga sesaat terlihat bergetar.
"Waduh! Kira-kira siapa ya Kang yang tahu keberadaan benda itu?" ujar Tuminah lagi dengan tangan diatas kening.
"Dek. Di kampung ini, siapapun tahu kalau Mbah Darmo punya pusaka itu. Namun, sejauh ini ndak ada yang tahu dimana menyimpannya selain kita."
"Lalu, kira-kira siapa ya Kang yang berani mengambilnya?"
"Entahlah Dek. Kakang benar-benar ndak tahu. Tapi, ini benar-benar peristiwa serius. Ndak boleh dianggap enteng."
Sesaat tampak Tuminah mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana kalau kita lapor Pak Lurah dan Ustad Basori?"
"Sebaiknya jangan Dek. Jangan libatkan orang lain dulu. Takutnya malahan akan terjadi kegoncangan di kampung kita."
"Lha trus?"
"Kita cari saja sendiri. Selanjutnya kita sembunyikan di tempat lebih aman setelah ketemu."
"Baik Kang. Nek ngono, aku manut. Aku ikut saja."
Lalu, Sukri mulai menyusun strategi untuk mencari kira-kira siapa pelakunya. Setidaknya orang itu harus cukup pintar. Karena penggunaan alat itu bukanlah hanya asal pakai saja, namun memiliki persyaratan khusus; puasa ngebleng tiga hari tiga malam, dan selama itu harus dalam keadaan terendam air. Boleh keluar hanya jika ada kepentingan mendesak saja. Sembahyang misalnya. Dan jika selama tiga hari itu dia gagal, maka dialah yang akan menjadi tumbal pertama.
Siapa kira-kira penjahat itu? Bagaimana cara Sukri menemukan penjahatnya? Apakah akhirnya Sukri berhasil menemukannya?