Warisan

1618 Kata
"Kriii....Sukriii..." Sebuah suara lamat-lamat memanggilnya. Sukri berusaha memindainya. Namun sia-sia belaka. Tak ada satupun orang di sana. "Kriiii..." Lagi-lagi suara itu. Suara dari seorang lelaki tua. Tegas menyebut namanya. Suara dari seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Seseorang yang sangat dekat dengannya. Tapi siapa? Sukri terbangun. Sesaat ia tercenung. Tak ditemukannya siapapun disana. Hanya ada kehampaan saja. Ditempat yang sama sekali tak dikenalnya. Dimana ini? "Kriiiii!" kembali suara itu memanggil. Namun kembali menjadi hampa. Seolah sumber suaranya ada dalam dirinya sendiri. Berdengung dalam otaknya. Sukri mengucek kedua matanya. Ia kebingungan. Dimana ia kini berada? Kenapa tempat ini sama sekali tak dikenalnya. Sesaat ia berpikir mungkin ia sendiri telah mati. Dan bisa jadi itu adalah suara malaikat yang hendak menanyainya selama hidup di dunia. Tapi...masa sih begitu? Setahunya ia belum mati. Bahkan tadi siang ia masih beraktivitas normal. Tapi...jika ia belum mati? Lantas, dimana ia kini berada? Sekelilingnya hanya ada gelap. Hanya ada kehampaan. Udara terasa dingin dan singup. Bahkan terasa pengap. Samar-samar tercium semerbak harum aroma bunga melati. Berpadu dengan sedap malam dan kapur barus. Ah, kenapa harus kapur barus? Bukankah bau itu identik dengan kematian? Sedangkan ia yakin sekali bahwa ia belumlah mati. Ia masih ingat betul kejadian tadi, saat dirinya menggali kubur Mbah Darmo dengan kedua tangannya. Ia masih sehat. Ia masih kuat. "Kriiii... Sukri....!" Kembali suara itu terdengar. Kali ini jauh lebih keras dan jelas, membuat Sukri sontak menoleh arah datangnya suara. Dan bersamaan dengan datangnya suara itu, sontak perhatiannya teralihkan. Karena tak jauh dari tempatnya berdiri kini, tampak berdiri tegak sosok orang yang sangat dikenalnya. "Mbah...Dar...mo?" ujar Sukri tak yakin. Netranya memindai sosok di depannya. Alih-alih menjawab, sosok itu hanya tersenyum dan mengangguk kan kepala. Benar ini Mbah Darmo?" ujar Sukri masih tak yakin. Sukri tercengang. Bagaimana mungkin sosok Mbah Darmo yang tadi sudah dikebumikan muncul kembali? Bahkan sama sekali tak terlihat sakit. Tubuhnya sehat. Segar bugar. Tak nampak tua sama sekali. Usianya diperkirakan tak lebih dari lima puluhan. Pakaian yang dikenakan pun sangat bagus untuk ukuran pria tua itu. Baju sutra hijau pupus dengan sulaman benang emas. Rambutnya yang sedikit panjang kini tergelung rapi, dan ditutup dengan selembar ikat kepala berwarna senada. Sementara tak jauh darinya tampak seorang wanita tua dengan dandanan bersahaja namun anggun. Berpakaian senada dengan beliau. Seulas senyum tampak ditujukan padanya. "Hehehehe....kamu ndak usah bingung Kriii. Ini memang Mbah. Aku Mbah Darmo mu," Sukri diam tak menjawab. Hanya pandangannya menyapu sekeliling. "Ini tempat tinggal ku sekarang." ujarnya lagi dengan tangan melebar. Seulas senyum tampak tergambar di wajah tuanya. Sukri manggut-manggut mendengar penuturan lelaki tua itu. Namun, sesaat ia penasaran dengan sosoknya. "Bukankah Mbah sudah meninggal?" ucapnya lagi dengan hati-hati. Ia tahu benar dan sadar bahwa lelaki didepannya sudah meninggal. Namun terselip sedikit rasa kekhawatiran jika saja keyakinannya salah. "Iya Krii...kau tentu sudah tahu itu." Sukri manggut-manggut mengiyakan. "Ada yang ingin kusampaikan kepadamu," "Mbah mau menitipkan sesuatu," Ahhh! Iya. Ia baru ingat perihal titipan itu. Tapi...titipan apa? "Ehm...ampun Mbah. Kalau boleh tahu...titipan apa ya Mbah? Lalu...harus diserahkan pada siapa?" Lelaki tua itu diam. Mengusap jenggot yang berkibar. Lalu, dengan setengah berbisik kembali lelaki tua bergumam, "Titipan itu...buat kamu Sukri." "Jagalah baik-baik. Gunakanlah hanya jika kau benar-benar membutuhkan." lanjutnya mengurai janggut panjang dengan tangan kanan. "Ingat! Rawat baik-baik," lanjutnya, "Jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat!" "Baik Mbah. Tapi..." "Tapi apa Le?" "Barang apa yang Mbah titipkan? Lalu..." ujar Sukri tertahan, karena belum juga ucapannya selesai, tiba-tiba sebuah tepukan melayang pada punggungnya, membuat kesadarannya bangun, dan seberkas asap putih kekuningan menghembus perlahan membawa Mbah Darmo dan istrinya terbang tinggi. Tinggi sekali hingga akhirnya hilang tanpa bekas. "Kang! Kang Sukri! Bangun Kang!" ujar Tuminah istrinya pelan. Tangannya menepuk-nepuk punggung Sukri. "Ahkhkhkh.... Apa?! Apa yang terjadi Dek?! Apa yang terjadi?" ujar Sukri kebingungan melihat dirinya tergeletak di rumah Mbah Darmo. Suasana telah sunyi. "Eh, sampeyan ini yang apa? Wong jam segini kok ya sudah ketiduran lho?" tukas istrinya cepat. "Kalau mau tidur Mbok ya pulang!" lanjut wanita itu membereskan sisa-sisa sampah bekas makanan yang masih tercecer. "Memangnya ... jam berapa ini Dek?" ujarnya melihat Tuminah sudah rapi dan tampak cantik dengan daster merah mudanya. Tampak selembar kain kerudung merah jambu terlampir di kepalanya hingga pundak. Tampak seperti kerudungan saja baginya. "Sudah jam empat sore lho Kang. Wis sembahyang Ashar belum?" "Lagian Kakang ini gimana to? Bilangnya mau beberes kok malah tiduran disini? Memangnya barang-barang ini ndak mau dibuang apa?!" ujarnya sembari mengemasi dan membawa barang-barang itu keluar rumah, termasuk bungkusan yang tadi diambilnya dari bawah tanah. "Tunggu! Tunggu Dek!" Lalu, Sukri bercerita tentang mimpinya tadi. "Aneh bener lho Dek. Masa Kakang mimpi ketemu Mbah Darmo. Lalu, beliau bilang mau menitipkan benda ini." ujarnya sembari menunjuk kantong besar yang tadi dibawanya. "Hallah! Rasah digubris Kang. Mimpi kok siang-siang gini? Ra mutu!" "Tapi beneran lho Dek. Tadi itu Mbah Darmo. Istrinya juga ada kok." ujar Sukri membela diri. "Wis to Kang. Namanya juga mimpi. Kembang turu, Bunga tidur! Ndak usah terlalu dipikirkan. Ndak stres mengko!" ujarnya lagi. "Lagian semua barang berharga Mbah kan sudah dijual to? Tinggal rumah ini saja. Itupun tetap saja bukan milik kita. Kalau nanti anaknya Mbah datang, ya harus dikasihkan. Iya to?" ujar Tuminah lagi, diaminkan suaminya. "Tapi, memangnya apa sih isinya Kang?" ujar Tuminah lagi seraya menyibakkan bibir kantong, dan seketika matanya menatap nanar. "Astaghfirullah.... Kang!" ujarnya tercekat. "Opo? Opo Dek? Ada apa?" ujar Sukri seraya menarik kantong besar itu. "Astaghfirullah hal adziiiim.... ini...ini...?!" Tampak jelas setelah kantong besar itu dibuka, tampak jelas didepan matanya sebuah kotak kayu berwarna coklat. Tak terlalu besar, berukuran tak lebih dari tiga puluh kali dua puluh sentimeter saja. Namun yang membuatnya istimewa adalah adanya ukiran ornamen naga yang saling berhadapan diatasnya. "Ap...apa ini Kang? Apa ini yang disebut harta karung?" "Hush! Harta Karun Dek, bukan harta karung!" sergah suaminya. "Harta Karun itu kalau bentuknya emas. Lha ini di dalam karung kok, ya namanya harta karung!" ujar Tuminah berseloroh. "Wislah karepmu!" "Cekrek!" Dibukalah kotak itu. Dan lebih terkejut lagi saat kotak itu dibuka. Seberkas sinar merah berkilauan disertai harum bunga dan asap merah keluar menyeruak dari dalamnya. Tuminah sampai harus menutup hidung dengan tangan khawatir asap itu mengganggu pernafasannya. "Lihat Kang! Lihat!" ujar Tuminah ternganga. Benda itu tampak tertutup rapat dengan banyaknya onggokan bunga kantil, melati dan mawar yang telah mengering terkalung padanya. Namun dari auranya terasa sekali begitu kuat energi yang terdapat di dalamnya. "Ini....." ujar Tuminah dengan tangan gemetar. "Iya Dek. Inilah benda yang sudah lama sekali tidak terlihat penampakannya. Konon kabarnya siapa yang mampu menguasai benda ini akan mampu mendatangkan kekayaan besar bagi pemiliknya," "Wah...kalau begitu kita bakalan kaya Yo Kang? Bakalan sugih!" seru Tuminah girang. "Iya Dek. Ini pusaka Mbah Darmo. Dan kini....diwariskan pada kita," ucap Sukri dengan mata berbinar-binar. "Kini...tak ada siapapun yang bakalan memandang kita remeh lagi Dek. Semua orang akan menghormati kita, hehehe...." ucap Sukri terkekeh, namun segera diperingatkan oleh istrinya. "Kita.....kita akan kaya raya Dek!" ujar Sukri tertawa lebar, namun segera dicegah istrinya, "Istighfar Kang! Istighfar!" "Ndak boleh ngomong begitu!" ucapnya seraya kembali mengemasi alat-alat itu dan menutupnya kembali. "Takutnya dengan Kakang menguasai benda ini, justru membuat hidup kita ndak tenang. Sebaiknya kita kembalikan lagi saja Kang. Ndak usah kita pakai barang-barang begini," "Tapi Dek. Ini sudah diwariskan pada kita lho Dek," bela Sukri. "Tapi tetep saja Kang. Benda ini bisa membuat kita musyrik. Membuat kita jadi jauh dari Gusti Allah." "Sudahlah Kang. Lebih baik hidup kita biasa saja, tapi tenang. Lebih berkah Kang. Daripada sugih tapi hati kemrungsung. Iya to?" "Baiklah Dek," ujar Sukri mengalah. Ia percaya ucapan istrinya ada benarnya. "Lalu? Mau diapain barang-barang ini?" "Dikubur!" tukasnya keras, "Dikembalikan ke asalnya!" "Ingat Kang! Jangan mudah tergoda oleh cara instan. Dosa!" Sukri hanya terdiam. Ia tahu apa yang tadi terlintas di pikirannya salah. Ia harus meminta maaf. "Yo wes kalau begitu. Apa sebaiknya dibalikin kesini saja ya?" ujar Sukri lagi, namun dalam hatinya terbersit pikiran lain. "Iya Kang. Lebih baik barang-barang ini tetap disini saja. Itu lebih baik. Kakang ndak usah mimpi untuk memiliki barang-barang ini, kecuali sampeyan kuat membawanya." tukas istrinya lagi. "Aku kuat kok! Lihat ini!" ujar Sukri seraya menjinjing karung besar itu. Tuminah mendengus kesal. "Bukan itu Kang! Bukan itu! Tapi imanmu kuat ndak membawanya?" "Daripada nanti malah jadi bumerang buat kita? Aku ndak mau jadi pengikut setan. Sudah cukup Mbahmu itu saja yang mengambil jalan salah. Kita jangan!" "Tapi Dek..." "Sudah sudah! Simpen lagi saja barang-barang itu. Berbahaya!" Akhirnya, atas desakan istrinya, dibawalah kembali benda itu dan diletakkan di tempatnya semula. Dan setelah dipastikan keadaan aman dan tak bakalan didatangi orang lain, maka mereka segera bersiap pergi setelah sebelumnya menutup pintu dengan baik. Juga memasukkan ayam-ayam Mbah Darmo. "Ayo kita pulang! Sampeyan belum mandi. Nanti habis Maghrib kita kesini lagi. Yasinan!" ujar Tuminah seraya menutup pintu itu dengan kayu besar. Sukri pun melangkah pulang. Namun, entah mengapa kali ini hatinya tak bisa berpaling dari benda-benda pusaka itu. Benda pusaka yang konon setelah dikeluarkan dari tempatnya tidak akan bisa dimasukkan lagi sebelum meminta korban. Walaupun terlihat sepintas hanyalah merupakan sebuah peralatan sederhana dan mudah untuk didapatkan, namun sekali alat itu dikeluarkan, artinya harus ada satu nyawa yang harus dimasukkan ke dalam liang lahat. Alat itu didapatkan melalui perjalanan ritual panjang Mbah Darmo. Butuh puluhan tahun bagi kita lelaki tua itu untuk mendapatkannya. Dan butuh waktu lama juga untuk membuatnya memiliki khodam besar. Khodam pelindung yang berfungsi juga untuk menguatkan auranya. Dan selama ini hanya dia, Mbah Darmo yang bisa. Sukri tercenung. Sungguh sebuah alat luar biasa. Tak sembarangan orang bisa menguasainya. Butuh perjalanan ritual panjang untuk bisa memilikinya. Dan kini, setelah terang-terangan pusaka itu diwariskan padanya, apakah akan ditelantarkan begitu saja? Sungguh amat disayangkan. Sementara di luaran sana banyak orang yang mati-matian berusaha agar bisa memilikinya. "Hei Kang! Masih melamun saja. Sudah jam berapa ini? Ayo gek Ndang adus. Mandi! Selak kemalaman!" tukas Tuminah mengagetkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN