Part 2: Masked Hero Simphony

3770 Kata
“Ryou....” Bisikan halus menyapa begitu lembut.   Terpecah lamunan siang bolong Ryou, “Sialan, tidak lagi!” katanya frustrasi sambil menjambak rambutnya. Darwin dan Wahid kaget melihat tingkah Ryou. Restu lalu berkata bahwa Ryou memang sering melakukan hal itu. Cristian tak mau angkat bicara, dia juga tahu kenapa. Komplek rumah Restu selalu sepi. Berada di Batul Timur yang merupakan daerah terujung provinsi Batul, tempat itu menjadi sangat sunyi dan mati. Tidak ada aktivitas berarti, hanya debu yang terbawa angin laut hilir mudik datang dan pergi. Tempatnya penuh dengan aksi kriminal, tak ada yang tahu kapan dan bagaimana mereka bertemu dengan takdir buruk. “Ada yang salah?” Darwin penasaran setelah semuanya berkumpul di ruang tengah tempat biasa Ryou dan yang lainnya bermain game. Restu lalu berkata pada Ryou, “Kau pasti benci karena kau pasti lupa akan hal yang seharusnya kau ingat?” Ryou mengangguk, dia masih berusaha keras mengingat lamunan panjangnya. “Kau amnesia?” Tanya Darwin dengan wajah mengedut, dia makin penasaran. Sambil menghela nafas Ryou menjawab, “Tentu tidak, aku hanya sering bermimpi namun ketika aku bangun mimpi itu hilang. Begitu nyata sehingga aku sering berpikir bahwa itu adalah sebuah kenyataan.” Restu menyanggah, “Tapi bukannya kau memang amnesia? Kurasa kau lupa kejadian sebelum kru pahlawan kita bubar.” “Kru pahlawan?” Darwin dan Wahid semakin ingin tahu, mereka memperhatikan dengan seksama. Restu menceritakan kalau dahulu Ryou, Restu, Cristian, dan seorang bernama Peter Miracle adalah satu komplotan keadilan di tengah huru-hara kota Batul. Kru pahlawan menjadi jawaban dari keresahan masyarakat di lautan manusia dengan sepatah dua patah mantra. Penyihir dengan kata-kata ajaib mampu mengendalikan roh kegelapan untuk merenggut hak orang lain. Hingga pada akhirnya mereka dikonsumsi oleh roh kegelapan yang sebelumnya mereka panggil. Hidup tanpa jiwa, mereka menjadi zombi dan berkeliaran mengancam warga. Atau lebih buruk, mereka berubah fisiknya seperti binatang, mengubah para penyihir yang kalah jiwanya menjadi monster. Kru pahlawan begitu disegani oleh masyarakat Batul. Para warga memberikan imbalan, makanan, tempat tinggal, bahkan menawari Ryou dan kawan-kawan putri mereka untuk dijadikan menantu. Rombongan anak muda itu mendapatkan nama setelah mereka bertempur berkeliling Batul siang malam mengamankan kota yang dilepas begitu saja dari aparat. Mereka menolong yang membutuhkan, dan mengadili yang jahat. Dengan strategi jitu Ryou, mereka menguak puluhan mafia di penjuru Batul dan menundukkannya. Tetapi jalan mereka tidak pernah mulus. Peter Miracle, andalan garda depan kru pahlawan tidak pernah sependapat dengan keputusan akhir Ryou. Hingga akhirnya keduanya berbenturan dalam sebuah duel eksistensi, menandakan akhir dari cerita kru pahlawan. “Ryou kalah dalam duel tersebut, kemudian dia pergi tanpa ada kabar dan kembali lima tahun kemudian seperti tak terjadi apa pun,” pungkas Restu. “Lalu di bagian mana Ryou amnesia? Apa kepalanya terbentur ketika berhadapan dengan Peter?” Wahid menggaruk kepala. Ryou menjawab dengan lugas, “Tidak, aku tidak amnesia. Aku Ingat dengan jelas semua cerita itu.” Restu menyela, “Tapi kau bilang-,” “Iya,” Ryou mengiyakan. “Kau puas?” Restu membuang wajahnya, “Maaf... bukan maksudku.” “Satu-satunya hal yang kulupa adalah bagaimana cara memproses semua memori di kepalaku. Seperti ada pembatas antara ruang memori dan kesadaranku. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya kalau aku ingat semua memori itu, hanya saja sulit bagiku untuk mengucapkannya. Semuanya begitu putih, menahanku untuk menuturkan perasaanku sebelum seseorang mengucapkan kenyataannya.” “Jangan memaksakan dirimu, yang sudah biarlah sudah,” ucap Cristian. Dia tahu Ryou begitu gelisah. Ryou sudah sedikit tenang setelah hal yang mengganjal di kepalanya dia utarakan, “Tak apa. Wahid dan Darwin pantas tahu tentang siapa diriku dulu. Lagi pula semua orang tidak mungkin mengingat secara detail semua memori semasa hidupnya. Apalagi di kota mati seperti ini, penuh cerita buruk.” “Yaaa... ada benarnya, hanya saja kau bersikap berbeda setelah kembali. Kau dulu sangat dingin, begitu keras, dan tak bisa dipengaruhi. Tapi sekarang sangat berbeda jauh. Kau menjadi periang, sangat terbuka, dan pemaaf,” ungkap Restu. “Bukankah itu hal bagus?” Ryou menaikkan alisnya. “Yeeaahhh tapi... tapi aku tidak melihat semangat dan determinasimu. Seperti jiwa lamamu hilang tak berbekas. Kau dulu adalah sosok pemimpin sekaligus pahlawan di kota ini, sekarang kau begitu acuh bahkan tidak peduli sama sekali. Tidak sedikit pun,” keluh Restu.   Di tengah percakapan yang mulai serius, gerombolan preman berbadan kekar lengkap dengan pedang dan pistol menggebrak pintu rumah nenek Restu. “Wahid! Kami datang untuk menagih hutangmu!.” “s**t!” Wahid baru ingat hari ini adalah hari terakhir dirinya harus membayar hutangnya. “Ryou tolong lakukan sesuatu!” Darwin memohon. “Kalau kalian ingin ribut tolong di luar, kalian bisa bawa Wahid dan terserah mau diapakan tapi tolong jangan acak tempat ini, rumah ini milik Seorang wanita tua.” Komentar Ryou santai. “Ryou! Kau harus menolong Wahid!” Restu tak percaya. “Apa yang bisa kulakukan?” Ryou tak mau ambil pusing. Salah satu Preman itu tak asing dengan nama Ryou, “Ryou? Kau dulu membunuh teman-temanku tanpa ampun! Akan kubalaskan dendam mereka!.” Cristian dengan cepat membantah, “Tunggu dulu! Dia bukan Ryou yang orang-orang bicarakan. Dia ini Cuma seorang pengangguran. Kalian salah orang.” “Kami dengar kalian bicara tentang kru pahlawan, kami tidak tuli!” preman itu tak percaya. “Awas polisi!” teriak Restu memecah konsentrasi mereka. Para preman itu menengok ke arah luar dan tersadar beberapa saat kalau tidak akan ada polisi yang berani berpatroli di wilayah Batul timur. Ryou paling pertama kabur melalui pintu belakang. Gerakannya sangat lincah dan larinya begitu kencang. Restu lari mengikuti Ryou, dia tahu Ryou adalah seorang yang tangguh dan pasti bisa mengalahkan preman-preman rendahan seperti mereka. Namun Restu harus bisa meyakinkan Ryou terlebih dahulu. Wahid ditarik keluar oleh para preman, ia dipukuli karena tidak membayar hutang. Darwin mencoba memohon untuk mengasihani Wahid tetapi mereka tidak mendengar. Cristian juga sudah bersusah payah untuk bernegosiasi dengan menjanjikan mereka bunga tiga kali dari sebelumnya jika Wahid diberi satu kesempatan lagi namun usahanya tetap tak ada guna. Darwin dan Cristian tak bisa berbuat banyak, mereka kalah jumlah dan kini sudah berlapis debu jalan. Pemimpin preman itu ingin segera membunuh ketiganya dan menjual organ tubuh mereka untuk melunasi hutang Wahid. Tetapi beberapa dari mereka punya ide lain. Mereka ingin balas dendam pada Ryou, dan teman-temannya adalah umpan matang agar Ryou tidak kabur terlalu jauh. Beberapa preman itu kini mengejar Ryou, mereka berkoordinasi dan menghubungi kawanannya untuk menutup seluruh jalan dan mengepung Ryou. Restu seribu langkah berlari mengejar. Ryou perlahan tampak jejaknya di gang sempit. “Ryou! Tolong!” teriak Restu agar Ryou mau berhenti. Restu perlahan berhasil mengejar Ryou, sepertinya Ryou mulai memperlambat lajunya. Satu-persatu preman berdatangan menghadang jalan. Ryou mulai tersudut hingga akhirnya ia terjebak di jalan buntu. Restu berhasil menyusul Ryou, dia sudah berhenti. Restu bingung melihat Ryou hanya memandangi tembok tinggi menutup jalan. “Ryou, tolong kembalilah. Wahid membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu.” Ucap Restu. Dari sisi jalan gerombolan preman bersenjata datang menghampiri Restu dan Ryou, mereka sudah siap untuk balas dendam. “Kru pahlawan ya? Kalian semua akan mati!” mereka menembakkan senjatanya. Seluruh rumah seketika tertutup pintu dan jendelanya. Orang-orang tak ingin ikut campur dan kena masalah. “Kumohon Ryou lakukan sesuatu...” Restu hanya bisa menutup mata, berharap Ryou mau menolongnya. Tak lama kemudian Restu merasakan panas luar biasa. Matanya masih tertutup rapat, belum berani melihat apa yang terjadi pada dirinya. “Apa aku di neraka?” pikirnya putus harap. “Sihir!” Para preman berteriak kaget. “Aku masih hidup?” Restu penuh tanya. Ia membuka matanya dan melihat Ryou ada di depannya dengan tangan penuh darah dan peluru berceceran di samping kanannya. “Kalian akan menyesali perbuatan kalian!” Di wajah Ryou tiba-tiba muncul topeng api berwarna merah membara. Tangannya kanan berdarahnya kini penuh dengan api membara. “Twister Flames!” Ryou melepaskan tinju apinya. Seperti ombak menyapu pasir, api melumat para preman hingga hangus tanpa ampun. “Ry... ... Kau...,” Restu benar-benar ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar seirama dengan lonjakan adrenalin yang begitu tinggi. Dari ujung jalan seorang dengan pakaian serba putih dan topeng putih penuh cahaya datang, “Berhenti iblis! Pertumpahan darah akibat kegilaanmu berhenti sampai di sini!” teriaknya dengan lantang. Ryou mencoba mengingat siapa orang dengan pakaian serba putih tersebut. Dirinya familiar namun cahaya putih yang ada di benaknya datang menghadang sehingga dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Keringat dingin mengalir di leher Restu, dia tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. “Peter... tidak mungkin....” “Menyerahlah, maka kau akan kuampuni!” sahut Peter. Dari balik topengnya ia berkomunikasi dengan seorang di kantor Kementerian Ketertiban Umum melalui earbuds. “Penyihir ditemukan, akan kutaklukkan dia.” Seorang perempuan dengan suara lembut menjawab panggilan Peter. “Negative! Tuan Miracle, target Anda seharusnya mengenakan topeng dan jubah hitam.”   Langit menghitam, angin tiba-tiba berdesir begitu kencang. Sebuah pusaran kegelapan muncul di langit menurunkan iblis dari dimensi lain. “Tuan Miracle, target ditemukan!.” perempuan itu menginfokan pada Peter bahwa target mereka adalah seseorang yang baru saja memanggil iblis di langit. Iblis berkaki delapan dan sayap lebar mengudara di angkasa, teriakannya menggelegar seperti guntur di saat badai. Iblis itu berkata, “Wahai jiwa yang sekarat! Sembahlah diriku! Ikuti jalan kegelapan, korbankanlah jiwa kalian, dan jadilah b***k dari api kesengsaraan!” Seluruh orang bersembunyi mendengar suara iblis amat menggelegar, mereka huru-hara menyelamatkan diri. Pintu dan jendela rumah seketika terkunci rapat. Dan mereka yang masih di luar tidak punya kesempatan untuk berlindung. Tak ada kesempatan bagi mereka yang lemah dan tak berdaya. Peter dengan segera mengeluarkan senjatanya, muncul secara ajaib di lengan kiri. Sebuah meriam cahaya keluar dari dalam topengnya. Kemudian sayap putih berkilau muncul di punggungnya, memberinya kemampuan untuk terbang. Dengan kekuatan spirit dari dalam topengnya Peter meluncur cepat untuk melawan iblis. “Tuan, Anda seharusnya menyerang penyihirnya bukan iblisnya.” Peter tak mengindahkan arahan tersebut. “Tak kan kubiarkan iblis menyerang warga!.” Ryou tak tinggal diam, dia mengerti iblis dari dunia kegelapan tidak akan muncul tanpa ada yang memanggil. Daripada ia harus bersusah payah mengalahkan iblis dengan kekuatan tinggi, Ryou menelusuri jalanan Batul untuk mencari siapa yang memanggil iblis itu. Ryou melesat secepat jet berkat kekuatan spirit yang ada di dalam topengnya. “Ini gila! Tidak mungkin!” Restu berdiri lalu berlari menuju rumahnya. Di tengah perjalanan, benaknya tak mau melewatkan kesempatan untuk melihat hal yang lebih gila. Dia ubah haluannya dan kini berlari menuju perkotaan mencari di mana Ryou berada. Pertarungan di angkasa antara kegelapan dan cahaya tak terelakkan. Begitu agresif dan penuh ledakan, Peter menyerang Iblis sebesar mobil truk itu bertubi-tubi. Dia berteriak “Destruction Burst!.” Meriam di tangan kirinya menembakkan cahaya penghancur. Iblis itu membalas dengan menembakkan bola-bola hitam. Peter berhasil menghindarinya namun bola hitam itu menghantam daratan, korban jiwa berjatuhan. “Aku harus menyelamatkan mereka terlebih dahulu!.” Peter melesat secepat kilat, mengangkut korban dan membawanya ke tempat yang aman. Restu melihat ke angkasa, pertarungan keduanya begitu hebat. Sudah sangat lama dia tidak berada di tengah-tengah pertempuran seperti ini, adrenalinnya terpacu namun dia senang. Restu ingin menjadi seperti mereka. Seperti Flanagan atau yang dia tahu adalah Ryou, atau seperti Peter yang kini disebut sebagai Masked Hero Simphony. Keduanya belum menyerah, iblis itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan. Tidak juga Peter yang terus berjuang melawan kegelapan. Dengan kaki landainya, moster itu mengenai Peter di bahu. Melesat kan pahlawan ibukota hingga menembus atap sebuah pabrik. Peter tak ingin banyak jiwa menjadi korban, dengan cepat ia bangkit sebelum iblis itu masuk ke dalam pabrik. Iblis itu kembali bersuara, “Tunduklah pada kegelapan, serahkan jiwa kalian, dan jadilah b***k penderitaan!” Peter kembali terbang, memegang mantap meriamnya dan membalas, “Manusia tidak takut pada Iblis!” Iblis itu melemaskan ototnya, “Benarkah?” Peter yakin itu hanya gertakan semata, dia tak mau lengah. Iblis itu kemudian berteriak begitu kencang, suaranya berdenging di telinga orang-orang yang sudah terikat dengan kegelapan. “Apa yang... uh!” Peter kaget setelah melihat ke bawah. Orang-orang saling menyerang satu sama lain seperti binatang kelaparan.   Di bawah sana Restu sedang tersudut, ia dikejar oleh gerombolan orang yang kehilangan akal sehatnya secara tiba-tiba. Seperti teriakan iblis itu telah membangunkan hantu-hantu kecil yang biasa membuat perjanjian dengan manusia atas dasar keserakahan. Kaki Restu terkilir, ia terpeleset akibat licinnya jalanan. “f**k! Aku belum ingin mati.” Restu mengambil sebilah balok di tanah, “Mundur kau orang gila!.” Restu mengintimidasi namun orang itu tidak mendengarkan. Dipukulnya kepala orang itu hingga baloknya patah, “Huh! Aku masih punya skill bertarung....” Restu bisa bernafas lega beberapa detik, namun orang itu bangkit lagi seperti pukulan keras balok itu tidak berefek. Restu kembali berlari, ia tak yakin bisa mengalahkan orang-orang yang seketika bertingkah seperti zombi. “Ryou tolong!” teriak Restu berlari tak berarah. Restu sampai di sebuah rumah di mana banyak sekali tengkorak manusia berceceran di depan pintunya. Dalam benaknya pasti di dalam ada yang tidak beres. Ia kemudian memutuskan untuk mencoba masuk. Terkejut pintunya tidak dikunci Restu jadi ragu untuk masuk. “Ini jebakan! Ryou selalu bilang bukan tugasku untuk masuk lewat pintu depan. Ugh tapi aku kan hanya seorang penunjuk jalan, tugasku hanya memantau dari kejauhan.” Orang-orang yang hilang kendali kembali menemukan Restu, mereka mengejar dengan tatapan kosong. Terpaksa Restu masuk ke dalam rumah itu. Ia kunci rapat-rapat dan mengganjal pintu masuk dengan sofa. “Sementara aku aman di sini.” Di udara, Peter semakin meledak-ledak. Serangannya semakin kuat namun tak ada tanda melemahnya iblis tersebut. Saluran komunikasi kembali berbunyi, “Tuan Miracle, Sinyal satelit kami mendeteksi adanya aura hitam pekat di salah satu rumah. Akan saya kirimkan titik koordinatnya dan segera menuju ke sana. Sumber kekuatan Iblis itu ada di sana.” “Mengerti,” Peter melesat kencang meninggalkan Iblis yang masih berteriak mempengaruhi orang-orang di bawah. “Tuan Miracle, hati-hati.” Nada perempuan di balik saluran komunikasi itu sangat cemas. Secepat kilat Peter menembus masuk ke dalam rumah yang baru saja dimasuki oleh Restu. Orang-orang yang berada di depan pintu seketika mental karena kecepatan luar biasa Peter. Pintu itu bukan masalah baginya. Di sana ada pintu menuju ruang bawah tanah, dengan segara Peter bergegas. Ia kaget bukan kepalang setelah melihat isi ruangan itu. Banyak sekali mayat berserakan, darah mereka masih merah dan mengalir. Mereka belum lama ini dibunuh. “Target ditemukan Tuan Miracle, target itu-” “Diam Anita!” Peter membentak. “Siapa yang memerintahkanmu memanggil iblis itu?” tanya Ryou pada wanita yang ada di genggamannya. “Conquest, yang mulia... Conquest yang... memerintahkanku,” jawabnya sambil tersedak. “Ampun! jangan bakar leherku!” wanita itu menggelinjang kesakitan. Mendengar nama itu seketika Ryou teringat kembali dengan kejadian di gua mistis Pegunungan Hulao. “Di mana dia!” Ryou mencekiknya amat sangat keras. “Ampun!” wanita itu mengeluarkan darah dari mulut, hidung, mata, dan telinganya. “Hentikan!” Peter berteriak ketika ia mendengar jeritan wanita berjubah hitam. “Ryou! Peter!” sahut Restu yang juga tiba-tiba datang. “Ryou?!” Peter kaget. Peter tak tega melihat wanita itu kesakitan, “Lepaskan dia! Beri dia ampun, kasihanilah dia!” Teriakan Peter menyadarkan Ryou dari kegilaannya, “Baiklah.” Ryou melepaskan cekikannya. Leher wanita itu terbakar sangat hitam. Ryou hampir membunuhnya.   “Bunuh...” suara bisikan halus membelai telinga Ryou.   Dengan spontan Ryou meninju kepala wanita itu hingga terbentur ke tembok dan pecah. Orang-orang yang lepas kendali di luar seketika mendapatkan kesadarannya kembali, mereka kebingungan melihat diri mereka saling menyerang membabi buta. Iblis besar yang terbang diangkasa juga hilang tanpa jejak setelah Ryou membunuh wanita itu. “Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menundukkanmu, Ryou!” Peter sudah siap dengan meriamnya yang diarahkan tepat ke arah Ryou. “Dasar kau manusia tanpa hati, lebih parah dari iblis!” ucapnya sebelum menembakkan meriamnya. Saluran komunikasi kembali terhubung, kali ini suara seorang pria yang masuk. “Tuan Miracle, kembali ke markas Ketertiban Umum. Sekarang!” “Tapi-“ “Ini perintah!” Pria di saluran komunikasi itu menutup sambungannya. “Kau beruntung!” Ucap Peter pada Ryou. Ia pergi dengan perasaan amat geram.     Part 2.a: Scars of Past   Kepala laki-laki ini begitu keras seperti batu. Keputusan yang diambil dia pun begitu keras, menyulitkan suatu hal yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan. Apakah aku terlalu menggampangkan sesuatu? Atau dia yang terlalu berbelit-belit mengatasi hal sepele? Terkadang diriku berpikir bahwa ada masa di mana hal kecil akan menjadi besar seiring berjalannya waktu. Aku mengakui terkadang aku memang menyepelekannya, dia benar. Tetapi... aku tak bisa. Aku ditakdirkan untuk membunuh, dan caraku untuk menyelamatkan seseorang dari kesengsaraannya adalah dengan mengakhiri penderitaannya. Aku diciptakan menjadi mesin pembunuh, belas kasih tidak ada di daftar menuku. Dan aku tak bisa melihat seseorang merintih diujung kematiannya. Aku tahu itu amatlah perih, maka daripada itu aku membantunya dengan mengakhiri apa yang dideritanya. Dengan tanganku sendiri aku membunuhnya. Aku mengakui terkadang aku memang menyepelekannya, dia benar. Tetapi... aku akui aku tak bisa.   Peter dan Ryou kini saling berhadapan satu sama lain. Peter dengan perasaan menggebu-gebu ingin menang. Dan Ryou dengan perasaan terbagi dua, antara harus bertahan dengan kehidupan barunya atau kembali mencari jawaban semu yang tak kan pernah ia temukan. Kerumunan warga begitu cemas kedua pahlawan mereka kini saling berhadapan satu sama lain. Mereka menyayangkannya karena tak ingin salah satu dari mereka terbunuh. Namun hal itu tak bisa dihindari, keduanya sudah membulatkan tekad  untuk menyelesaikan semua perbedaan di tengah-tengah arena pertarungan. Saat itu Peter sudah tahu Ryou adalah seorang dengan kekuatan supranatural. Mungkin saat itu hanya dirinyalah yang tahu. Dia tahu Ryou bisa mengendalikan api. Dirinya iri dengan apa yang bisa dilakukan Ryou. Dirinya ingin lebih kuat daripada Ryou. Dirinya ingin menguasai Ryou. Dirinya berpikir dengan mengalahkan Ryou dia bisa menghentikan sifat keji Ryou untuk kehidupan yang lebih baik. Peter ingin mengubah kebiasaan Ryou yang selalu tidak bisa memaafkan, tanpa belas kasih, dan berdarah dingin. Hingga suatu saat Peter kedatangan seorang dari Hefei. Tepat sebelum dirinya berdiri di tengah arena pertarungan saat ini. Tuan David Silva dari Kementerian Ketertiban Umum Negara Kuzech. Ketua kementerian itu memberikan kunci kemenangan pada Peter. Sebuah topeng putih berkilau penuh energi. Dia berkata, “Dengan ini kau bisa menang.” Peter tak percaya, dia pun menolak untuk melawan sihir dengan sihir. “Aku percaya dengan kekuatanku, manusia pasti bisa!” David tersenyum mendengarnya, dia meminta Peter untuk mengenakan topeng itu agar Peter bisa merasakan sendiri bahwa itu bukanlah sihir. “Tidak ada kegelapan di dunia ini yang memancarkan cahaya,” ungkap David meyakinkannya. Peter dengan pikiran positifnya mau mencobanya, dirinya yakin bisa menangkal kekuatan sihir jika benar topeng itu penuh dengan tipu daya iblis. Peter merasakan sensasi begitu tenang ketika topeng itu melekat di wajahnya. Spirit cahaya di dalam topeng itu bisa berinteraksi langsung dengan jiwa Peter. Begitu lembut dan damai seakan semua gundah yang ada di dalam pikiran Peter terhapus sejenak. Keraguannya untuk melawan Ryou hilang, dirinya percaya bisa membantu Ryou menuju jalan kebenaran. Peter bertanya pada David, “Benda apa ini?” David mengatakan bahwa topeng putih itu adalah alat pencipta alam semesta. Hal yang ada di dalam topeng itu bukanlah sihir, melainkan energi pencipta cahaya. Energi itu disebut sebagai spirit, dan nama spirit di topeng itu adalah Simorg. “Kenapa kau memberikanku sebuah alat yang sangat kuat dan berbahaya ini?” Peter bertanya. “Anda adalah orang terpilih.” David menjawab masih dengan senyum hangatnya. “Tapi kenapa?” Peter masih belum percaya. Mimik David seketika berubah. Matanya menusuk tajam menyayat keraguan Peter. Aura pria paruh baya dengan rambut putih panjang itu membekukan lidah Peter. Wajahnya amat mengintimidasi. David berkata, “Saya tahu ada keraguan di hati Anda wahai anak muda. Anda nekat ingin mengalahkan Ryou dan tahu apa hasil akhirnya. Sekarang saya berikan Anda solusi secara cuma-cuma dan Anda mempertanyakannya?” Wajah seramnya seketika hilang ketika menghela nafas. David melanjutkan, “Anda ingin menyelamatkan Ryou kan?” senyumnya kembali. Peter tak bisa berkata apa pun lagi. Biarlah semua pertanyaan terungkap di perjalanan. Yang terpenting baginya saat ini adalah mengalahkan sisi gelap Ryou dan menolongnya dari keterpurukan mental. Ryou adalah sosok pemimpin yang salah arah, dan Peter ingin sekali meluruskan apa yang salah dimatanya.   Dilain sisi lain, Ryou setengah hati ingin melawan Peter. Dia tak ingin membongkar jati dirinya. Semua jerih payahnya mencari jawaban misteri di rumahnya tujuh tahun silam tak bisa kandas sekarang. Tidak ada yang boleh tahu siapa dirinya dan bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan itu. Ryou tidak ingin ada seorang pun tahu tentang topeng merah miliknya, warisan sekaligus tanggung jawab dan perintah dari ayahnya. Ryou sudah menemukan semua fakta apa yang terjadi kala itu. Ibu dan adik perempuannya mati. Ayahnya juga sudah mati. Dan semua penjaga yang hilang kala itu adalah ulah dari seseorang yang saat ini sedang Ryou cari. Meski cahaya putih itu menyeramkan, menyimpan kengerian dan ketegangan mendalam, Ryou sudah menguatkan tekadnya. Ia ingin jawaban dan dia harus bisa menemukan pembunuh itu sebelum pembunuh itu menemukannya. Namun dirinya hanya berjalan di tempat ketika mencari siapa pembunuh itu. semua usahanya sia-sia. Tak ada satu pun yang tahu siapa dan ke mana pembunuh itu pergi. Itulah mengapa Ryou membuat kru pahlawan, untuk lari dari kenyataan bahwa dirinya menyesali semua waktu yang telah terbuang sia-sia mencari jawaban yang mungkin selamanya tak kan pernah ia temukan. Membantu orang yang membutuhkan bantuannya dirasa lebih bermakna daripada mencari satu orang di antara miliaran manusia di muka bumi demi sebuah jawaban yang amat sangat mungkin tidak berarti. Ryou sebenarnya nyaman dengan hidupnya saat ini, namun semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Peter sudah di depan mata, memaksanya untuk bertindak. Hanya ada dua pilihan, dan Ryou sudah membulatkan keputusannya untuk kembali mencari jawaban. “Cukup setahun diriku berlari dari kenyataan. Aku adalah agen rahasia, sudah tugasku untuk membunuh!”   Ryou mengalah dalam pertarungan kala itu, dia sudah siap dipecundangi. Namun Ryou belum siap melihat Peter memiliki kekuatan cahaya yang mengingatkannya pada masa lalunya. “Cahaya itu... serupa namun tak sama.” Ryou terdiam melihat Peter bisa mengendalikan cahaya di depan matanya. Restu dan Cristian menjadi saksi kekalahan Ryou, mereka tidak percaya. Tak habis pikir Ryou bisa begitu mudah dikalahkan, dan terkejut melihat Peter memiliki kekuatan cahaya yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan. Khususnya Cristian, dia begitu membatu melihat Peter mampu mengendalikan cahaya. “Aku tidak sedang bermimpi kan? Cahaya itu...” bisik Cristian pada dirinya. “Kau tahu sesuatu?” tanya Restu. “-Oh tidak, aku tidak berkata apa pun.” Balas Cristian mengedutkan dahi sedikit.   Setelah kejadian itu, perlahan mataku terbuka. Aku mengakui aku pun salah. Namun ada satu hal yang tak bisa aku akui. Alasanku membunuh, aku tak bisa mengakuinya. Akal sehatku, aku yakin akalku masih sehat. Aku mengerti perlahan tentang belas kasih setelah dia membiarkanku pergi. Ketika aku mengangkat kakiku dari Batul aku tersadar. Tersadar bahwa selalu ada bisikan kebencian mengalir ke dalam jiwa ketika rasa takut sudah mengakar begitu dalam. Itu pasti insting. Iya, aku benar dilahirkan untuk membunuh. Membunuh adalah instingku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN