Part 2.a: Scars of Past

1121 Kata
Kepala laki-laki ini begitu keras seperti batu. Keputusan yang diambil dia pun begitu keras, menyulitkan suatu hal yang seharusnya bisa dengan mudah diselesaikan. Apakah aku terlalu menggampangkan sesuatu? Atau dia yang terlalu berbelit-belit mengatasi hal sepele? Terkadang diriku berpikir bahwa ada masa di mana hal kecil akan menjadi besar seiring berjalannya waktu. Aku mengakui terkadang aku memang menyepelekannya, dia benar. Tetapi... aku tak bisa. Aku ditakdirkan untuk membunuh, dan caraku untuk menyelamatkan seseorang dari kesengsaraannya adalah dengan mengakhiri penderitaannya. Aku diciptakan menjadi mesin pembunuh, belas kasih tidak ada di daftar menuku. Dan aku tak bisa melihat seseorang merintih diujung kematiannya. Aku tahu itu amatlah perih, maka daripada itu aku membantunya dengan mengakhiri apa yang dideritanya. Dengan tanganku sendiri aku membunuhnya. Aku mengakui terkadang aku memang menyepelekannya, dia benar. Tetapi... aku akui aku tak bisa.   Peter dan Ryou kini saling berhadapan satu sama lain. Peter dengan perasaan menggebu-gebu ingin menang. Dan Ryou dengan perasaan terbagi dua, antara harus bertahan dengan kehidupan barunya atau kembali mencari jawaban semu yang tak kan pernah ia temukan. Kerumunan warga begitu cemas kedua pahlawan mereka kini saling berhadapan satu sama lain. Mereka menyayangkannya karena tak ingin salah satu dari mereka terbunuh. Namun hal itu tak bisa dihindari, keduanya sudah membulatkan tekad  untuk menyelesaikan semua perbedaan di tengah-tengah arena pertarungan. Saat itu Peter sudah tahu Ryou adalah seorang dengan kekuatan supranatural. Mungkin saat itu hanya dirinyalah yang tahu. Dia tahu Ryou bisa mengendalikan api. Dirinya iri dengan apa yang bisa dilakukan Ryou. Dirinya ingin lebih kuat daripada Ryou. Dirinya ingin menguasai Ryou. Dirinya berpikir dengan mengalahkan Ryou dia bisa menghentikan sifat keji Ryou untuk kehidupan yang lebih baik. Peter ingin mengubah kebiasaan Ryou yang selalu tidak bisa memaafkan, tanpa belas kasih, dan berdarah dingin. Hingga suatu saat Peter kedatangan seorang dari Hefei. Tepat sebelum dirinya berdiri di tengah arena pertarungan saat ini. Tuan David Silva dari Kementerian Ketertiban Umum Negara Kuzech. Ketua kementerian itu memberikan kunci kemenangan pada Peter. Sebuah topeng putih berkilau penuh energi. Dia berkata, “Dengan ini kau bisa menang.” Peter tak percaya, dia pun menolak untuk melawan sihir dengan sihir. “Aku percaya dengan kekuatanku, manusia pasti bisa!” David tersenyum mendengarnya, dia meminta Peter untuk mengenakan topeng itu agar Peter bisa merasakan sendiri bahwa itu bukanlah sihir. “Tidak ada kegelapan di dunia ini yang memancarkan cahaya,” ungkap David meyakinkannya. Peter dengan pikiran positifnya mau mencobanya, dirinya yakin bisa menangkal kekuatan sihir jika benar topeng itu penuh dengan tipu daya iblis. Peter merasakan sensasi begitu tenang ketika topeng itu melekat di wajahnya. Spirit cahaya di dalam topeng itu bisa berinteraksi langsung dengan jiwa Peter. Begitu lembut dan damai seakan semua gundah yang ada di dalam pikiran Peter terhapus sejenak. Keraguannya untuk melawan Ryou hilang, dirinya percaya bisa membantu Ryou menuju jalan kebenaran. Peter bertanya pada David, “Benda apa ini?” David mengatakan bahwa topeng putih itu adalah alat pencipta alam semesta. Hal yang ada di dalam topeng itu bukanlah sihir, melainkan energi pencipta cahaya. Energi itu disebut sebagai spirit, dan nama spirit di topeng itu adalah Simorg. “Kenapa kau memberikanku sebuah alat yang sangat kuat dan berbahaya ini?” Peter bertanya. “Anda adalah orang terpilih.” David menjawab masih dengan senyum hangatnya. “Tapi kenapa?” Peter masih belum percaya. Mimik David seketika berubah. Matanya menusuk tajam menyayat keraguan Peter. Aura pria paruh baya dengan rambut putih panjang itu membekukan lidah Peter. Wajahnya amat mengintimidasi. David berkata, “Saya tahu ada keraguan di hati Anda wahai anak muda. Anda nekat ingin mengalahkan Ryou dan tahu apa hasil akhirnya. Sekarang saya berikan Anda solusi secara cuma-cuma dan Anda mempertanyakannya?” Wajah seramnya seketika hilang ketika menghela nafas. David melanjutkan, “Anda ingin menyelamatkan Ryou kan?” senyumnya kembali. Peter tak bisa berkata apa pun lagi. Biarlah semua pertanyaan terungkap di perjalanan. Yang terpenting baginya saat ini adalah mengalahkan sisi gelap Ryou dan menolongnya dari keterpurukan mental. Ryou adalah sosok pemimpin yang salah arah, dan Peter ingin sekali meluruskan apa yang salah dimatanya.   Dilain sisi lain, Ryou setengah hati ingin melawan Peter. Dia tak ingin membongkar jati dirinya. Semua jerih payahnya mencari jawaban misteri di rumahnya tujuh tahun silam tak bisa kandas sekarang. Tidak ada yang boleh tahu siapa dirinya dan bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan itu. Ryou tidak ingin ada seorang pun tahu tentang topeng merah miliknya, warisan sekaligus tanggung jawab dan perintah dari ayahnya. Ryou sudah menemukan semua fakta apa yang terjadi kala itu. Ibu dan adik perempuannya mati. Ayahnya juga sudah mati. Dan semua penjaga yang hilang kala itu adalah ulah dari seseorang yang saat ini sedang Ryou cari. Meski cahaya putih itu menyeramkan, menyimpan kengerian dan ketegangan mendalam, Ryou sudah menguatkan tekadnya. Ia ingin jawaban dan dia harus bisa menemukan pembunuh itu sebelum pembunuh itu menemukannya. Namun dirinya hanya berjalan di tempat ketika mencari siapa pembunuh itu. semua usahanya sia-sia. Tak ada satu pun yang tahu siapa dan ke mana pembunuh itu pergi. Itulah mengapa Ryou membuat kru pahlawan, untuk lari dari kenyataan bahwa dirinya menyesali semua waktu yang telah terbuang sia-sia mencari jawaban yang mungkin selamanya tak kan pernah ia temukan. Membantu orang yang membutuhkan bantuannya dirasa lebih bermakna daripada mencari satu orang di antara miliaran manusia di muka bumi demi sebuah jawaban yang amat sangat mungkin tidak berarti. Ryou sebenarnya nyaman dengan hidupnya saat ini, namun semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Peter sudah di depan mata, memaksanya untuk bertindak. Hanya ada dua pilihan, dan Ryou sudah membulatkan keputusannya untuk kembali mencari jawaban. “Cukup setahun diriku berlari dari kenyataan. Aku adalah agen rahasia, sudah tugasku untuk membunuh!”   Ryou mengalah dalam pertarungan kala itu, dia sudah siap dipecundangi. Namun Ryou belum siap melihat Peter memiliki kekuatan cahaya yang mengingatkannya pada masa lalunya. “Cahaya itu... serupa namun tak sama.” Ryou terdiam melihat Peter bisa mengendalikan cahaya di depan matanya. Restu dan Cristian menjadi saksi kekalahan Ryou, mereka tidak percaya. Tak habis pikir Ryou bisa begitu mudah dikalahkan, dan terkejut melihat Peter memiliki kekuatan cahaya yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan. Khususnya Cristian, dia begitu membatu melihat Peter mampu mengendalikan cahaya. “Aku tidak sedang bermimpi kan? Cahaya itu...” bisik Cristian pada dirinya. “Kau tahu sesuatu?” tanya Restu. “-Oh tidak, aku tidak berkata apa pun.” Balas Cristian mengedutkan dahi sedikit.   Setelah kejadian itu, perlahan mataku terbuka. Aku mengakui aku pun salah. Namun ada satu hal yang tak bisa aku akui. Alasanku membunuh, aku tak bisa mengakuinya. Akal sehatku, aku yakin akalku masih sehat. Aku mengerti perlahan tentang belas kasih setelah dia membiarkanku pergi. Ketika aku mengangkat kakiku dari Batul aku tersadar. Tersadar bahwa selalu ada bisikan kebencian mengalir ke dalam jiwa ketika rasa takut sudah mengakar begitu dalam. Itu pasti insting. Iya, aku benar dilahirkan untuk membunuh. Membunuh adalah instingku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN