Part 3: Kejahatan Baik

2839 Kata
“Ryou....” Bisikan halus menyapa begitu lembut. Terserah, aku berusaha tidak peduli pada bisikan mimpi ini. Persetan dengan bisikan ini. Tak ada gunanya dipikirkan. Ryou tersadar dari lamunannya lagi. Tangannya begitu merah. Sepatunya tenggelam di genangan darah. Restu terdiam melihatnya, tak bisa berkata ketika dirinya tahu sisi kejam Ryou masih melekat persis seperti lima tahun silam. “Maaf kau harus melihatnya...” Ryou menyesal harus memperlihatkan sisi gelapnya pada orang lain. Restu masih diam, dirinya begitu takut ketika melihat nafsu membunuh Ryou tak terbendung. “... Aku tahu hal itu terkadang salah, namun aku tak bisa berhenti. Sudah instingku berperilaku demikian.” Sambung Ryou membenarkan kelakuannya. Restu mengambil nafasnya dalam-dalam. Dirinya lega Ryou sudah kembali. Tetapi, dirinya masih belum tahu kata apa yang pas untuk diucapkan. Restu tak ingin menyinggung Ryou, tidak juga berdiam diri membiarkan Ryou kembali menggila sesuka hatinya. Ryou berjalan keluar melewati Restu sambil berkata, “Pulanglah, Aku masih ada urusan yang harus kubereskan.”   Darwin sudah mempersiapkan semua hal untuk pergi ke Hefei bersama Wahid. Dia tak bisa membiarkan Wahid terus-terusan dihantui debt collector. Beruntung, saat itu pahlawan ibukota datang menolong mereka. Namun kali ini, mereka akan berurusan dengan sang pahlawan sebagai pencuri. Namun Darwin tak mau ambil pusing, sudah menjadi jalan hidupnya untuk mencuri dan hingga saat ini belum pernah ia kepergok apalagi harus ditundukkan oleh Masked Hero Simphony. “Kuharap kau tidak menyulitkanku lagi setelah ini,” ungkap Darwin pada Wahid. Penuh luka memar di wajah, Wahid berusaha untuk tetap menjaga ekspresinya. Dirinya begitu takut harus menjadi seorang kriminal. Ketiaknya banjir akibat gugup. Detik demi detik terlewati, bayangan buruk semakin jelas di dalam kepalanya. Dirinya yakin pasti akan berulah cepat atau lambat. Cristian tak mau ikut dalam operasi tersebut, tidak juga dirinya membutuhkan uang saat ini. Sebelum keduanya pergi dari rumah nenek Restu, Cristian berkata kalau dia harus kembali mengecek keadaan klubnya. Dia takut hal yang sama terjadi di sana. Wahid sekali lagi meyakinkan Darwin sebelum keduanya berpamitan dengan nenek Restu. “Kau yakin tidak mau mengajak Restu?” Darwin sedikit geram, ekspektasinya begitu rendah sehingga dia tidak kaget dengan keluhan-keluhan Wahid. “Diamlah! Lakukan saja apa yang aku perintahkan.” “Jadi kau akan diam di rumah saja, Restu?” tanya Wahid mengelus elus dagunya. Restu yang sedari siang wajahnya begitu murung menjawab, “Tolong hati-hati...” Wahid makin gugup, “Man! Jangan membuatku takut!” “Aku tahu, hanya saja... ...” Restu berpikir panjang. “Uh lupakan!” Restu mengusap-usap matanya. “Man you suck!” Darwin mengetuk kepala Wahid, “Cepat! Kita kehabisan waktu!” Keduanya lalu pamit pada nenek Restu dan pergi ke Hefei untuk mencuri di toko perhiasan yang sebelumnya sudah di pantau oleh Darwin sejak seminggu yang lalu.   Seperti biasa Ryou berjalan mengelilingi Batul mencari recehan ketika petang tiba. Dirinya tak mau membebankan nenek Restu terlalu berat, tidak juga ingin bergantung hidup pada Cristian, atau mendorong kesabaran Darwin terus menerus hingga memaksanya melakukan hal berbahaya. “Aku nyaman dengan hidup seperti ini.” Masih ada beberapa jam baginya untuk beristirahat. Ryou, sama seperti malam lainnya bersembunyi di bawah tanah. Di pinggir lintasan rel kereta bawah tanah tua ia mengistirahatkan mata. Namun kali ini dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Sebab Ryou tahu seseorang sedang memata-matainya. “Dia pergi malam-malam hanya untuk tidur di rel bawah tanah?” Restu masih belum mengerti. Dia masih yakin ada hal penting yang pasti dilakukan Ryou tiap malam. Restu masih terjaga, dia tak mau kelewatan sedikit pun detail kegiatan Ryou. Meski hingga saat ini Ryou masih tidur, Restu tetap tak mau menurunkan kewaspadaannya. Dua setengah jam sudah terlewati, Ryou akhirnya bangun dari istirahatnya. Tak lama setelah Ryou pergi, seseorang dengan pakaian rapi serba abu-abu dengan rambut putih panjang terlihat oleh Restu sedang mengintai Ryou. Wajahnya tak terlihat. Restu mencoba mendekat namun ia kehilangan jejak, seperti orang itu hilang sebelum detik di jarum jam berdetik. Restu mulai kehilangan jejak Ryou karena konsentrasinya terbagi. Ia bergerak secepat mungkin untuk mencari Ryou dan keluar dari dalam bawah tanah. Restu sampai di perbatasan antara Batul dan Hefei. Perbatasan maut penuh penjagaan ketat dari aparat. Sudah lama Restu tidak melihat perbatasan itu. Tembok tinggi yang didirikan di bawah tanah Batul membentang dari selatan ke utara membelah kedua kota. Penuh gemerlap kehidupan mewah di balik tembok itu dan hanya kotoran yang tersisa untuk Batul. “Aku benci perbatasan ini! Aku benci Hefei!” Setelah beberapa saat mencari, Restu yakin telah kehilangan jejak Ryou. Dan kekhawatiran yang dia takutkan semakin meluap tak terkendali. “Jangan bilang padaku Ryou pergi ke Hefei...” Bayang-bayang kekejaman Ryou kembali teringat oleh Restu. Perasaannya berkata bahwa Ryou akan pergi ke Hefei untuk menghabisi Darwin dan Wahid. Restu tahu Ryou tak akan mengampuni penjahat dan ketika Restu mengetahui kepribadian lama Ryou masih melekat, Restu semakin cemas. Dirinya ingin berteriak, seharusnya ia bisa memperingati Darwin dan Wahid atau menahan Ryou. Namun kesempatan itu semua sirna. “Bodoh! Dasar tidak berguna!” Restu jatuh ke dalam lumbung penyesalan.   Peter Miracle, atau Masked Hero Simphony adalah simbol kekuatan bagi Kuzech. Berkatnya banyak kejahatan bertekuk lutut bahkan sirna. Dengan kekuatan cahaya, tak ada satu pun yang dapat menyainginya. Bahkan seluruh orang dari penjuru bumi mengakui kehebatannya. Begitulah klaim seluruh media Kuzech. Lambat laun karena kekuatan Simphony tak tertandingi dan begitu menakutkan bagi dalang kejahatan, Simphony perlahan berubah menjadi sesosok idola kaum muda. Sejak itu Simphony mulai tampil di TV sebagai pemeran film, tampil di acara komersial, atau mengisi acara talkshow dan investigasi kepolisian tentang pengamanan negara. Namun butir cerita itu tidak akan pernah dirasakan di Batul, karena Batul punya sejarah buruk di mata Kuzech khususnya Hefei. Perang sipil terjadi antara kedua kota memperebutkan takhta dan kuasa. Kedua kota ini begitu berbeda meskipun bersebelahan langsung tanpa ada batas apa pun. Hefei dengan tradisi kentalnya dan Batul dengan kebebasan dan kebersamaan. Puncak perang sipil terjadi akibat terjadinya pemberontakan dari pihak Hefei ketika semua sistem ketatanegaraan yang sudah ada diganti oleh pemimpin terpilih. Kemudian media oposisi melabeli tindakan terebut sebagai “penghianat negara” karena sudah merusak ideologi yang sedari dulu mengakar di seluruh penjuru. Pemenang menulis segalanya. Sejarah, masa sekarang, dan mungkin masa depan. Begitulah kenapa kini Batul menjadi kota mati yang diisolasi tanpa ada celah. Lebih mengerikan dari penjara paling angker di dunia.   Saat ini Peter sedang menghadap David di kantor Kementerian Ketertiban. Dengan penuh amarah Peter mengungkapkan kekesalannya karena diperintahkan untuk kembali sebelum bisa mengalahkan Ryou. “Kenapa?” Peter memukul meja di depan David. Dengan tenang pria paruh baya itu menjawab, “Ini rahasia negara, Tuan.” Peter mengungkapkan andai saja dirinya tidak diperintahkan untuk kembali, dia pasti bisa menghentikan Ryou dan menolongnya menuju jalan kebenaran. “Tapi Anda gagal,” datar dan tenang seperti air ucapan David. “Aku butuh kesempatan, tidak semua berhasil di kesempatan pertama!” tangannya mengepal kuat. “Tak apa, kami bisa dengan mudah memanipulasi informasi. Semua akan baik-baik saja.” “Berhenti meremehkanku! Aku mampu melakukan lebih dari ini-” “-Anda mampu?” David berdiri dari kursi empuknya. Peter makin frustrasi karenanya. “Lalu bagaimana Anda menjelaskan ketidakmampuan Anda dalam menyelesaikan misi ini? Saya tidak melihat Anda menang melawan iblis tersebut, tidak juga melihat Anda mengalahkan penyihirnya.” “Tapi-“ “Tak apa, kami bisa dengan mudah memanipulasi informasi. Semua akan baik-baik saja.” ulang David kembali duduk. “Aaaghh!” Peter keluar dari ruangan David penuh amarah. Asisten Pribadi Peter mendengar dari luar ruangan percakapan antara keduanya. Anita Carta, asisten cekatan dan loyal. Berpakaian formal setiap saat, ia merapikan rok setinggi lutut dan blazer berwarna biru langit miliknya untuk memberikan instruksi lanjut dari David untuk Peter. Sebelum Anita menghampiri Peter, ia berkaca terlebih dahulu agar wajahnya tidak terlihat kusam. Ia sisir rambut hitam sebahu miliknya dengan harapan penampilannya bisa membuat tuannya tersenyum melupakan semua permasalahannya sementara waktu. Anita berjalan perlahan menghampiri Peter untuk memberikan instruksi. Belum ada beberapa patah kata terucap, Peter membentaknya karena frustrasi. Anita mencoba tenang. Dia berkata, “Tuan, ini tentang pria bertopeng merah kemarin.” Perhatian Peter seketika tertuju pada Anita, “Katakan padaku!” emosinya masih tinggi. “Tuan David memberikan instruksi pada Tuan untuk mengantisipasi datangnya pria bertopeng merah itu. Ryou Rouza, seorang berandal tak berkeluarga akan datang ke Hefei untuk membantu penjahat. Tuan harus mengalahkannya sesegera mungkin.” Tangan Peter mengepal kencang, “Orang itu! Akan kubuat dirinya membayar.” Kemudian ia pergi segera. “Tunggu!” Anita mengejar, “Tuan tidak diperbolehkan memasuki wilayah Batul.” “Lalu katakan padaku mengapa!” bentaknya tepat di depan muka Anita. Mata Anita berpaling, dirinya masih tegar. Ia perbaiki tatapannya lalu menjawab dengan tegas, “Ini perintah dari Tuan David, Tuan.” Peter benci diperlakukan seperti boneka. Namun jika bukan karena kuasa David, Peter bukanlah dirinya saat ini.   Gemerlap bintang tak sebrilian kilau di daratan Hefei. Penuh suka cita di dalam sinarnya, malam di Hefei selalu menjadi malam terbaik meski langit sedang bersedih. Satu atau dua titik keruh bukan masalah selagi gemerlapnya membutakan mata. Satu atau dua orang mati tiap harinya bukanlah masalah selagi kekayaannya membutakan mata. Dan malam ini salah satu titik itu berada di toko perhiasan di mana Darwin dan Wahid sedang melancarkan aksi. Darwin tidak begitu percaya meski banyak kesalahan yang dilakukan oleh Wahid mereka masih bisa mengeksekusi rencananya. Mengalir seperti air di sungai, kedua pencuri itu kini meraup perhiasan di tiap etalase. Penjaga toko itu semua tertidur oleh gas beracun. CCTV pun sudah dimatikan sehingga tak ada yang akan datang memergoki mereka. “Ini untuk terakhir kalinya aku menolong, jangan buat masalah lagi setelah ini. Kau paham?” ucap Darwin sambil menunggu Wahid memasukkan semua perhiasan ke dalam tas. Tergesa-gesa karena semangat bercampur takut, beberapa perhiasan berceceran di tanah. Wahid menjatuhkan beberapa. “Perhiasan itu lebih berharga daripada nyawamu saat ini, cepat ambil!” jam di tangan Darwin terus berputar. Mereka tak bisa berlama-lama di dalam sana. Waktu semakin sempit, Darwin tidak bisa mencatat score bersih. Dia instruksikan Wahid untuk segera pergi sebelum polisi datang. “Tapi masih ada beberapa yang harus kuamb-“ “Lari! Atau kau kehilangan satu tas penuh karena tertangkap polisi.” Darwin sudah berada di depan pintu emergency, dirinya kesal dengan kinerja lamban Wahid. “Anak i***t!” omelnya. Keduanya kini berlari secepat mungkin menuju mobil yang diparkir beberapa bangunan dari sana. Namun keduanya harus menjatuhkan rahang karena polisi sudah menunggu mereka di luar. Darwin belum habis akal, hal seperti ini sudah ia pikirkan matang-matang. Yang harus ia lakukan adalah mengulur sedikit waktu agar mobilnya bisa hidup secara otomatis dan kabur dari sana ketika mobil mereka sampai. Moncong senapan polisi sudah mengarah di kepala Wahid. Dirinya hampir kencing di celana saking takutnya. “Tetap tenang, kita masih bisa kabur,” bisik Darwin. Polisi semakin menekan keduanya. Wahid makin takut dan mulai menuruti perintah polisi ketika dirinya disuruh untuk menjatuhkan tasnya ke tanah. “i***t!” bisik Darwin kesal. Dirinya terpaksa menjatuhkan tasnya lalu mengangkat kedua tangan. Polisi mulai melangkah mendekat. Bau pesing sudah menusuk hidung Darwin. Dirinya makin geram namun tak mau menyerah dengan keadaan. Kakinya mengentak pelan tapi pasti, sengaja ingin menjatuhkan granat yang tersimpan di saku celana untuk ditendangkan ke arah polisi. “Tuhan tolong aku,” Wahid merengek. “Sembahlah aku, karena aku akan menyelamatkanmu!” Darwin masih berusaha. Granat sudah berada tepat di depan kakinya. Dia tendang granat itu ke salah satu mobil polisi. Ledakan dahsyat tercipta di pinggiran Hefei. Darwin dan Wahid mental karena ledakan bom. Namun untuk saat ini Darwin masih bisa bernafas lega rencananya berhasil, luka dari granat itu bukanlah apa-apa melainkan hanya goresan. Mobilnya kini bisa menjadi pengalih agar polisi mengejar mobilnya yang bergerak secara otomatis. Dan keduanya bisa kabur dengan selamat berjalan kaki. “Sembahlah aku setelah kita sampai ke Batul.” Katanya tinggi hati. Wahid mengaga, matanya menari seiring api bergejolak. “Ayo i***t, cepat bangun!” Wahid menunjukkan pada Darwin siapa yang seharusnya disembah, “Dia....” Flanagan, si topeng merah berapi yang menciptakan pagar api itu. Tanpa pikir panjang Darwin menarik Wahid, “Cepat pergi i***t!” keduanya pergi melarikan diri dengan secerah perhiasan yang ada di saku mereka sebelum semuanya terlambat. Ketika mereka sudah cukup jauh dari TKP, Wahid berhenti untuk memompa paru-parunya yang sudah hampir layu. “Sebentar... aku mau muntah.” Darwin memukul punggung Wahid. Terbuanglah semua isi perut Wahid. “i***t!” semua celaan keluar dari mulut Darwin. Dipukulnya lagi perut bulat Wahid hingga kering isi perutnya. “Cepat ayo, ayo, ayo!” Darwin menarik Wahid ke gang sempit untuk beristirahat. Di sana setelah pikiran Wahid cukup tenang terlintas pertanyaan, “Hey kenapa Flanagan menolong kita? Apa doaku dikabulkan?” “Uuummm...” Darwin menggaruk kepala, “Mungkin dia mau perhiasan itu.” “Tapi aku dengar Flanagan tidak pernah membiarkan orang seperti kita tetap hidup. Dia menyelesaikan masalah dengan masalah. Kurasa kita harus cepat pergi sebelum dia menemukan kita” “Tidak... kurasa dia tidak akan mengejar kita.” “Kenapa?” Di tengah malam itu, cahaya putih tiba-tiba memancar ke langit. Begitu terang seperti matahari telah bangkit dari timur.   Ryou di balik topeng apinya tak ingin melakukan hal ini. Menolong seorang pencuri bukanlah hal mudah baginya. Namun Ryou tak punya pilihan, dia tak mau membiarkan teman-temannya dalam masalah. Apalagi kini dirinya harus berhadapan dengan para polisi. Ryou tak ingin ada jiwa tak bersalah menjadi korban kekuatannya lagi. Polisi dengan pengeras suara berkata, “Itu Flanagan si pembunuh sadis. Tangkap atau bunuh segera!” akibat keganasannya Flanagan menjadi orang paling dicari oleh kawanan aparatur negara. Sudah banyak laporan kematian akibat kekejian Flanagan, meski aksinya bisa dibenarkan. Peluru berdatangan ke arah Flanagan. Dengan kecepatannya dia menghindar dan menangkis tembakan para polisi. Kobaran api kemudian menyambar polisi, membakarnya cukup hingga api menyala di pakaian mereka. Polisi mulai porak-poranda mencari air. Flanagan memiliki kesempatan untuk kabur namun seseorang sudah menunggunya. “Akan kukalahkan kau!” seseorang dengan cahaya brilian menghadang Flanagan. Bukan lain adalah Peter, Masked Hero Simphony. Pikiran Flanagan sekilas berhenti, ada sesuatu di kepalanya yang ia coba untuk gapai. Dengan cepat melompat, memanjat rumah dan gedung untuk menghindari pertarungan yang tak ia inginkan. Simphony dengan kekuatan cahayanya menciptakan sayap di kedua sisi punggungnya. Dia terbang mengejar Flanagan. Melesat lebih cepat dari kedipan mata, Simphony memukul pundak Flanagan dengan meriamnya. Flanagan tertahan, pertarungan pun dimulai. Dengan tinjunya, Flanagan menyemburkan api ke arah Simphony. Sayap putih lembutnya mengibas kobaran itu, Simphony balik menyerang dengan memukulkan meriamnya. Flanagan kembali bertekuk lutut, masih ada suatu hal yang menahannya untuk bertarung. Tanpa ragu Simphony menembakkan meriamnya, melumpuhkan Flanagan agar tidak lagi melawan. Simphony kemudian melompat dari atap gedung dan terbang mencari Wahid dan Darwin. Flanagan tak tinggal diam, teman-temannya butuh bantuan. Dia kembali bangkit lalu mengejar Simphony. Nafasnya mulai berat, tubuhnya sakit, dan konsentrasinya makin kacau. Dalam dirinya Ryou bertanya, “Aku kenal dengan cahaya itu.” “Menyerahlah atau aku akan menyerang!” Simphony berhasil menghadang Wahid dan Darwin. Mata Darwin terbuka lebar, ia tak percaya Simphony berhasil menemukan mereka meski sudah hampir sampai ke perbatasan. “Sial sedikit lagi!” Darwin mengangkat tangannya tak berani melawan. “Apa yang harus kulakukan?” Wahid gemetar, dia kembali mual. “Hey kau!” sahut Darwin pada Simphony. “Kau bisa tangkap aku dan ambil semua perhiasan yang kami curi. Namun kumohon biarkan orang i***t disamping-Ku ini pergi, dia terpaksa dan aku memaksanya untuk ikut. Kasihanilah dia.” Simphony melangkah mendekat. Cahayanya menusuk jiwa Wahid, membuatnya begitu takut hingga pucat dan hampir pingsan. “Lihat betapa malangnya dia,” Darwin menambahkan, “Sudah i***t, miskin, banyak hutang pula. Nyawanya tak kan lama jika kau tidak membiarkan dia membawa perhiasan itu. Dirinya diteror akan dimutilasi dan organnya akan dijual oleh penagih hutang jika kau menangkap kami.” Hati Simphony mulai bergetar, “Benarkah?” Wahid bersujud di hadapan Simphony, ia menangis memohon untuk diampuni. “Lihat,” Darwin menambahkan, “Orang Batul seperti kami hidup susah dan sengsara. Kumohon maafkanlah kami, kasihanlah kami, kami berjanji ti-“ Burung garuda api menerjang Simphony, menghantam dan membakarnya. Ledakan dahsyat terjadi, Simphony mental jauh akibat serangan dari Flanagan yang datang tepat pada waktunya. “Darwin, Wahid, Cepat pergi!” sahut Flanagan. Keduanya pergi sebisa mungkin. Simphony masih bisa bangkit setelah terkena serangan telak, dengan sayapnya dia menahan serangan itu. Simphony tak membiarkan Darwin dan Wahid lolos namun Flanagan kembali menghadangnya. “Kau... berubah... Ryou.” Mendengar Simphony memanggil namanya, kepala Ryou semakin penuh dengan bayang-bayang. Dia berusaha keras mencari cahaya putih yang ada di kepalanya. “Siapa?” “Jadi kau lupa...” Simphony membuka topengnya. Dengan cepat Ryou berhasil menghubungkan semua yang ada di kepalanya setelah melihat wajah di balik sosok topeng putih itu. “Tidak, aku ingat.” Peter kembali memasang topengnya, pertarungan dilanjutkan. Dengan meriamnya dia menembak Ryou berkali-kali. Beberapa tembakan itu mendarat di tubuh Ryou, dengan cepat Peter melesat dan menendang kuat d**a Ryou. “Maaf, tapi aku harus mengalahkanmu kali ini.” Energi cahaya sudah terisi penuh di meriam. Lalu muncul spirit cahaya yang bersemayam di dalam topeng Peter. Dengan kekuatan spirit cahaya Peter menembakkan meriamnya “Shooting Star Blaster!” energi cahaya penghancur menenggelamkan Ryou. Topengnya terlepas dari wajahnya, dia tergeletak tak berdaya. Api telah padam oleh cahaya malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN