Part 9: Benturan Fatal

1202 Kata
Teuron memandangi Karin. Matanya masih belum terbuka. Karin masih beristirahat dengan tenang di dalam tabung air es. Darah mengalir dari kantung menuju nadi Karin, menyuplai kebutuhannya agar tidak kehabisan darah. Teuron menutup tabung itu dengan kain merah. Dia sembunyikan Karin di dalam aula tempat biasa mereka berdua. Sastry sudah di depan pintu masuk aula, dia kenakan kalung besinya sesuai perintah. Diketuk pintu itu agar dirinya bisa mengantarkan anggur pesanan Teuron. “Sudah kusuruh kau pergi, tapi kenapa kau kembali?” kata Teuron membelakangi Sastry, dia masih memandangi tabung Karin. Sastry melangkah mengantar anggur, dia mencoba untuk tetap tenang. “Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?” dia menoleh. Sastry mengangguk, dia tersenyum dengan senyum palsu di depan Teuron demi memuaskannya. “Ahh jadi kau mulai menyukainya?” Teuron menyeringai. Disentuhnya bibir Sastry, kemudian dia menarik lidahnya keluar dengan dua jari. Sensasi setruman di lidahnya kembali terasa, Sastry tahan sekuat mungking. “Aku pasti kuat.” Tiba-tiba Teuron menarik rantai kalung di leher Sastry, “Jongkok!” Sastry mendesah, sensasi setruman di lehernya mulai terasa. Syarafnya perlahan mendambakan rasa sakit. Dia jongkok sesuai perintah. “Sajikan anggur itu, tetapi kau harus tetap jongkok!” perintahnya sambil memecut Sastry menggunakan cambuk besinya. Sastry merintih, pecutan Teuron sakit sekali. Dia merangkak menuju meja. Sastry ingin mengambil gelas tetapi dia tak bisa meraihnya dari bawah, dia coba untuk berdiri untuk meraihnya dan Teuron langsung memecut bokongnya, “Jongkok!” Sastry kebingungan, dia tak bisa meraih gelas di atas meja. “Lompat! Kau harus melompat seperti anjing!” Teuron menendang Sastry, dia tersungkur. Sastry melompat ke atas kursi, dia ambil gelas itu lalu menuangkan anggur. Dia antarkan segelas anggur ke depan kaki Teuron. “Ayo bilang!” kata Teuron. “Bilang apa?” “Bodoh!” Teuron memecut Sastry lagi. “Kau ini b***k, bertingkahlah seperti b***k! Layani aku karena aku majikanmu!” Air mata Sastry mengalir, dia menahan sakitnya. “Ini anggurmu Tuan.” Sastry menyerahkan anggur itu. Teuron mengambil anggur itu, dia meminumnya sambil menghadap tabung Karin. Sastry diam-diam mengambil pisau yang ada di meja. Dia ingin mengakhirinya, dirinya muak dengan Teuron yang mempermainkan dirinya dan seluruh teman-temannya. Ketika dia hendak menikam Teuron dari belakang, pikirannya seketika berubah. Kekerasan bukanlah jalan yang tepat, apalagi harus mengikuti jalan kebencian. Sastry langsung menyesal pikiran itu pernah melintas di dalam hatinya. “Kau kira kau bisa membunuhku dengan cara murahan seperti ini?” Teuron menghentikan Sastry dengan sihirnya. Ramuan perak yang diminum Sastry membuat Teuron bisa mengendalikan Tubuh Sastry. Teuron menghampiri Sastry, dia ambil pisau itu dari tangan Sastry lalu memainkannya di leher Sastry. Sastry takut, pisau itu begitu dingin berjalan di lehernya. Dia sudah siap menerima konsekuensi perbuatannya. “Akan kutatar kau sampai kau menjadi anjing sungguhan!” Teuron melempar pisau itu kemudian menjambak Sastry ke tengah aula. Dengan rasa sakit Teuron memaksa Sastry untuk tunduk dan patuh. Tubuh Sastry disuntik dengan ramuan perak di seluruh area sensitifnya. Bekas tusukan jarum listrik kemarin mulai menghitam dan kini ditusuk lagi. Mata Sastry memerah, ramuan itu merusak syarafnya. Dia kesulitan untuk membedakan mana rasa sakit mana rasa nyaman. Kini Sastry tergeletak tak berdaya. Teuron meminum anggurnya sambil menunggu ramuan perak itu bekerja dengan efektif. Dua gelas anggur sudah diminum, Teuron memecut Sastry untuk mencari tahu efek ramuannya. Sastry menjerit tetapi dia tersenyum, ramuan Teuron berhasil merusak Sastry sampai ke otak. Dia pecut lagi Sastry hingga menangis tetapi senyumnya tetap disana. Sastry mulai menyukai tubuhnya disakiti. “Setelah dia hancur, akan ku serahkan dia ke Ryou. Dia pasti depresi hahaha!”   Ryou tidak tahu kalau saat ini Sastry sedang menderita karenanya. Dia berpikir kalau Sastry sudah meninggal karena kecelakaan. Kini hidupnya benar-benar kacau, rasa takut menenggelamkan jiwanya. Tiap malam dirinya jadi bulan-bulanan preman bawah tanah. Ryou tak mau melawan, semangat hidupnya sudah tiada. Ryou dibuang ke tong sampah, dia tidur disana tak peduli pada dirinya. “Aku bersyukur kalau mati disini.” Tak lama setelah Ryou memejamkan mata, seseorang pria dengan jubah hitam menghampirinya. “Pergilah, aku sudah mati.” Ryou mengusirnya. Orang itu menyerahkan topeng hitam dan pedang permata merah yang Ryou buang. “Bertarunglah!” Ryou lompat, dia lari menjauh dari orang itu. Ketika dirinya berpikir berhasil kabur, pria berjubah itu muncul lagi di hadapannya, “Bertarunglah!” Ryou kaget, dia tersandung. “Aku tidak mau!” “Bertarunglah!” pria berjubah itu menyodorkan topeng kegelapan dan pedang permata merah. Tempat itu seketika berputar, Ryou tak bisa lari dari kejaran pria berjubah. Tak ada jalan baginya kecuali maju menghadapi pria berjubah itu. “Mau apa kau!” “Bertarunglah!” pria berjubah tiba-tiba lenyap. Hanya ada topeng kegelapan dan pedang permata merah di hadapan Ryou. Dia tidak mau mengambilnya, Ryou tak mau lagi bertarung. Bayangan Conquest tiba-tiba muncul di hadapannya, “Apa kabar Peepsqueak!” Ryou berteriak histeris. Bayangan Conquest berubah menjadi bayangan ayahnya. “Kau kehabisan waktu.” Bayang ayahnya tiba-tiba menepuk pundak Ryou. dia pindah ke belakangnya. Ryou menghindar, dia ketakutan ketika dirinya mengingat siapa dia, “Kau bukan ayahku!” Bayang ayahnya lenyap. Lalu muncul seberkas cahaya dari langit. Peter turun dari sana dengan sayap-sayap patah. “Cepat Ryou pakai! Ayolah!” Ryou masih tak mau meraih topeng kegelapan dan pedang permata merahnya. Bayangan Peter hancur berkeping-keping, cahaya putih itu sirna. Ryou perlahan mundur, kakinya merasa membentur sesuatu. Ketika Ryou menoleh ke belakang dia melihat Peter tergeletak dengan d**a penuh darah. Ryou melihat gambaran peter dikalahkan oleh Conquest, “Tidak!” Ryou kembali berlari. Lalu dia dihempaskan oleh debu dan pasir. Kini di depan matanya ada bayangan ular raksasa Karin. “Hentikan!” Ryou melihat bayang pria berjubah meraih dan mengenakan topeng kegelapan. Pedang permata merah itu berubah menjadi hitam. Pria berjubah itu melesat menebaskan energi kegelapan ke punggung Karin. “Berhenti!” Ryou semakin histeris. Karin tergeletak berlumur darah, punggunnya terkoyak lebar. Tak lama bayang Karin menghilang, kini Ryou sendiri di dalam kegelapan. “Kenapa? Kenapa!” Ryou menjambak rambutnya. Bayangan itu menakutinya tak henti. “Selamat pagi!” kini bayang senyum Sastry muncul di depannya. “Pergi kau! Pergi!” Ryou tak kuasa mendengar suara Sastry. Dia menutup mata dan telinganya. Sastry masuk ke dalam benaknya, bisiknya berkata, “Jadikan aku alasan kenapa dirimu bertarung.” Bayang-bayang wajahnya tergambar di benak Ryou. Ryou berteriak, dia tak bisa lari dari takdirnya. Kini di depan matanya ada sebuah peti mati. Semua suara dan bayangan berasal dari sana. Ryou tak mau mengusik peti itu dia bejalan mundur tetapi peti itu malah semakin dekat. Dia menghentikan langkah, apapun yang ia lakukan pasti mengarah ke peti itu. Takdirnya tak bisa dirubah. Ryou melihat namanya tertulis di kotak peti mati. “Benarkah?” Ryou ingin tahu kebenarannya. Tangannya perlahan meraih peti itu, dia ingin membukanya tetapi tangannya bergetar kencang. Dia takut mengetahui kebenarannya. Tangan Ryou menempel di peti, dia masih ragu untuk membukanya. Jutaan suara menghantuinya tak berhenti. Bayang-bayang kegagalannya terus menghantui. Ryou ingin menyudahinya, dirinya tak ingin mati penasaran. Dibukanya perlahan peti itu, bayang-bayang wajah seseorang yang sangat ia kenal perlahan nampak di mata. Ryou terdiam, dia sekarang tahu isi peti tersebut. Kini Ryou meraih pedang permata merahnya dan memakai topeng hitamnya. “Seharunya kau yang kubunuh!” Ryou menujah leher mayat di peti itu. mengakhiri semua jeritan masa lalunya. Dia tak mau lagi menatapnya dan pergi dari sana meninggalkan kegelapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN