Part 8: Hilangnya Pahlawan

2651 Kata
“Tuan Miracle... Tuan Miracle!” Anita memanggilnya. Peter membuka mata, sinar lampu menyilaukan mata. “Syukurlah kau sudah sadar.” Anita sudah lima hari lima malam berada di samping Peter yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. “Apa yang- uhg!” d**a Peter begitu perih. Dia tak bisa menggerakkan badannya. Tulang rusuknya hancur menjadi serpihan kecil menusuk organ dalamnya. “Sudahlah Tuan Miracle, istirahat saja.” Anita menggenggam tangan Peter. dia bersyukur Peter sudah siuman. Kejadian itu sangan mengejutkan seluruh Kuzech. Tim redaksi pro pemerintah masih belum bisa mencari Headline yang pas untuk menutupi kebenarannya. Gosip dan rumor sudah terlanjur menyebar luas di kalangan petinggi Hefei, Kredibilitas Peter turun drastis sebagai pahlawan. Peter tak kuasa mendengar berita yang baru saja muncul di TV. Tangannya menggenggam kuat, dia malu atas kegagalannya. Anita menggelengkan kepala, “Tidak, bukan salah Tuan Miracle.” Dia menyemangati.   Langit hitam tidak pernah mau pergi dari Batul. Hari demi hari kehidupan dibawah sana semakin tidak waras. Kegilaan semakin nampak terang. Kekejian sudah tak malu-malu menunjukkan terrornya. Semua berubah setelah pemberontakan Undernity-Movement dimulai. Huru-hara tidak hanya terjadi di Batul. Kota lain seperti Hulao dan Hefei juga menjadi imbas kelicikan Undernity-Movement. Iblis muncul dimana-mana akibat kontrak kegelapan yang disebar di segala penjur. Sastry tidak mau pulang ke rumah Restu. Dia menyendiri di pantai Batul Timur tak mau menampakkan wajahnya pada semua orang. Dirinya sudah tidak kuat menyimpan rahasia. Rasa malu dan bersalah bersarang di benaknya. Dia bertanya pada ombak samudra, “Aku harus bilang apa pada mereka?” Sastry menangis. Dia tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Tak ada rumah lagi baginya, dirinya tak bisa kemana-mana. Dirinya tak mau dimanipulasi oleh Teuron, tetapi dia juga tidak berani bertemu dengan temannya, dia takut mereka kecewa. Ryou pun berada di posisi yang sama. Dia merenungi hidupnya di lorong rel kereta bawah tanah. Dirinya benar-benar tidak berguna. Tak ada pencapaian yang digapai selama hidupnya, semua hanya kegagalan. “Aku ini pengecut, lemah, munafik, pecundang. Aku tidak pantas untuk melindungi siapa pun, tidak juga pantas bertarung untuk siapa pun.” Ryou menjambak rambutnya, dia frustrasi dengan kehidupan. “Aaaaaaahhh!” teriakannya bergema menyusul laju kereta api.   Restu bersama Cristian, Wahid, Dan Darwin berhasil menemukan Sastry yang merenung sendiri di pinggir pantai. “Kak Sastry, Ayo pulang,” rambut hijau Restu terbang ditiup angin pantai.  Sastry menggeleng, dia tidak mau menampakkan wajahnya. Dia tak bisa kembali sebab semua orang akan kecewa. Semua cita-citanya hanyalah lelucon, dia tak kuasa untuk menampakkan wajahnya di depan Jumbo dan kawan-kawan. Apalagi harus bertemu dengan Ryou. Dia bahkan tak pantas dimaafkan meski seribu kali Sastry mengucap.   Tenacity bersama Jumbo dan rekan berhasil menemukan persembunyian Ryou. “Hey yo cepat bangkit! Kita harus memusnahkan Undernity-Movement demi Sastry.” Tenacity mengguncang Ryou yang merunduk di tepi rel. “Kau benar, aku tidak pantas bertarung untuk Sastry.” “Jangan cengeng! Apa katanya jika dia melihat dirimu merengek seperti ini!” “Aku tidak bisa.” “Arwah Sastry ada bersamamu, dia percaya padamu, dia ingin kau bangkit dan melawan. Ayo cepat sekarang waktunya! Hoy! Hoy!” Tenacity menarik kerah Ryou, dia marah melihat sifat lembek Ryou. “Arwah katamu?” “Iya, Sastry sudah tiada.” Ryou meneteskan air mata, dia benar-benar seorang pecundang. “Aaaaaaaaaahhhhh!” terikanya sakit hati.   Sastry sudah menentukan pilihan. Dia kini berada di depan gerbang gereja panti asuhan. Dirinya siap berkorban demi teman-temannya. Dia memejamkan mata dan mengambil nafas lalu berdoa, “Kumohon sekali saja aku harus berhasil.” Dia melangkah masuk menyerahkan diri ke Teuron. Sastry muncul di pintu depan menyaksikan Teuron sedang mencoba membangkitkan Karin. Teuron sudah berusaha semampunya. Semua sihir ia kerahkan untuk menyadarkan Karin namun mata Karin masih terpejam. Teuron tersadar betapa hancur dirinya tanpa Karin. Dia menyesal telah memperlakukannya dengan buruk. “Karin, kumohon kembalilah...” Karin didinginkan di dalam tabung berisi air es, Teuron menolak kematian Karin. Dia menyuplai darah Karin yang terus menerus keluar dari luka hitam di punggungnya agar tubuhnya tetap hidup. “Akan kubunuh Ryou, akan kuhancurkan kehidupannya!” “Aku datang menerima permintaanmu,” sahut Sastry merunduk. Dia takut dengan apa yang akan terjadi. Teuron menghampiri Sastry, amarahnya tak bisa diungkapkan. Dia menampar Sastry, “Lihat apa yang Ryou lakukan pada Karin!” Sastry menutup mata, dia harus menanggung kesalahan Ryou. Teuron kembali menggamparnya, dia masih tidak terima. Sastry tersungkur, dia tahan sakitnya dan kembali berdiri. “Kumohon beri aku kesempatan.” Dia ingin menghidupkan Karin kembali. Dia pegang kedua tangan Karin di dekapannya. Sastry berharap, dia ingin melihat Karin membuka mata sekali lagi. “Kumohon...” Sastry menyalurkan energi kehidupan untuk Karin namun sesuatu yang amat hitam di dalam jiwa Karin menolak sinar kehidupan Sastry. Hati Karin sudah layu sedari dulu, kesempatan dirinya hidup kembali sangat minim. Sastry mencoba lebih keras, energinya semakin kuat hingga mata Sastry memancarkan sinar putih. Saat itu dia merasakan ada kejanggalan, Karin masih hidup tetapi kesadarannya hilang entah di mana. “Kenapa seperti ini?!” Sastry langsung menghentikan aliran energinya agar kesadaran Karin tidak tertimpa dengan kesadaran yang baru, dia kaget sekali karena teringat suatu kesalahan yang pernah ia buat. Dia tak mau menimpa kesadaran seseorang dengan kesadaran yang baru, akan sangat berbahaya ke depannya jika sampai terjadi. “Kenapa? Ada yang salah?” Teuron tidak menerima alasan apa pun. Yang dia mau hanya Karin, dan Karin seorang. “Kau tidak mau menghidupkannya kembali ya?” “Tidak, aku sudah berusaha. Tetapi...” “Diam!” Teuron menamparnya. Topi Sastry terjatuh dari kepalanya, tamparan Teuron begitu keras. “Maaf.” “Kalau aku tidak bisa mendapatkan Karin kembali, akan kubuat kau seperti Karin!” Teuron memecut Sastry dengan cambuk besi berdurinya. Sastry menjerit kesakitan. Dia memohon ampun tetapi Teuron tak mau berhenti. Darah bercucuran. Dirinya bukan Karin yang kuat, dia tak sanggup menerima semua itu. “Kumohon berhenti!” “Ini semua demi Karin!” pecutnya semakin kuat. “Maafkan aku! Maafkan aku!” Sastry menangis, dia tak tahan. “Jangan main-main denganku!” kakinya menyepak wajah Sastry. Sastry tak bisa terus menerima amarah Teuron seperti ini, dia harus melawan. Tubuhnya tak kan kuat menahan semua rasa sakit. Sastry tahu dia memang mengambil jalan sulit, dan dia sudah siap dengan konsekuensinya. Dia berdiri dengan kedua kakinya, “Aku bisa menyelamatkan Karin!” Cepat Teuron membantah, “Omong kosong!” “Beri aku kesempatan!” “Tidak,” cengir Teuron. “Kau ingin menyelamatkan Karin bukan?” Teuron diam, suasana menjadi begitu tegang. Sastry dengan nafas beratnya mencoba terus berdiri sambil menahan sakit. Sedikit kepedihan tak masalah asalkan dia bisa menyelamatkan Karin dan membuat Teuron kembali ceria seperti dulu. “Naif sekali ya?” Teuron tertawa. “Apa yang lucu!” “Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja tanpa merasakan sakit yang kuterima...” “Tapi...” “... Sakit yang Karin terima...” “Teuron aku bisa membantumu.” “Akan kubalas semua ini padamu!” “Kita tidak harus seperti ini kan? Kita ingin saling memberikan kebahagiaan bukan?” “Benar... mungkin aku salah. Mungkin aku akan menyakiti teman-temanmu saja. Misalnya kedua teman bertopengmu, atau mungkin teman teatermu? Bagaimana? Menyenangkan bukan?” “Teuron!” “Bagaimana rasanya mengetahui kalau selama ini mereka sebenarnya sudah mati? Apakah menyakitkan?” Sastry mulai gugup, “Apa maksut perkataanmu?” Senyumnya makin besar, matanya terbuka lebar karena sudah berhasil mengenai titik lemah Sastry, “Aku tahu alasan kenapa kau sangat melindungi mereka. Kau tidak mau mereka tahu kenyataannya bukan?” “Kau bercanda kan?” “Tidak!” suaranya mengeras, “Berhenti pura-pura bodoh!” langkahnya pelan menghampiri Sastry. “Apa yang akan Ryou katakan jika dirinya tahu kau membangkitkannya?” Sastry diam terheran-heran kenapa Teuron bisa tahu. “Dan juga Tenacity, Jumbo, Harold, Tango, Afdol, Panji, dan semua orang lain yang kau selamatkan. Kehidupanmu dikelilingi mayat hidup, dan kau tidak mau mereka tahu kan?” “Jangan katakan itu!” “Kau melakukan itu karena tidak punya teman kan?” Sastry menutup telinganya, “Tidak!” “Kau melakukannya karena keegoisanmu kan?” “Tidak!” “Kau ingin dipandang, ingin dicinta, ingin dibanggakan, ingin diidolakan, ingin menjadi yang pertama, ingin-“ “Tidak! Tidak! Tidak! Tidaaak!” Sastry terus mengelak. Teuron melotot, “Kau ingin tim teater kecilmu itu menjadi alat penyinaran sisi gelap hati manusia, benar kan?” “Bukan begitu!” “Kalau begitu bayar kesalahanmu dengan menjadi budakku!” Teuron menjejakkan kakinya ke perut Sastry, dia berhasil mengontrol emosi Sastry. Kehidupan baru Sastry dimulai. Harga dirinya kini ada dibawah kaki Teuron. Dia mencoba untuk tetap waras dan tak mau kehilangan akalnya. Dia berusaha, dan mencoba bertahan. Pasti ada cara baginya keluar dari masalah ini. Dia percaya Ryou pasti akan bertanggung jawab dan datang menolongnya. Tetapi apakah Ryou benar akan datang. Karena saat ini dirinya masih belum bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Kenyataan sudah di depan mata, Conquest benar adanya. Mimpi-mimpi buruk di kepalanya bukanlah bualan belaka. Ryou tak bisa. Dia takkan bisa melawan rasa takutnya. “Seseorang... tolong selamatkan aku.”   Pagi ini Sastry diberikan pakaian khusus oleh Teuron. Dia ingin melihat Sastry dengan pakaian terbuka sama seperti Karin. Roknya pendek sepaha, kakinya di balut stoking, baju dalam berawarna putih dilapisi kemeja coklat yang dibiarkan berjumbai sepaha menjadi seragam baru Sastry. Kalung besi berantai harus dipakai tiap kali Teuron mengunjungi Sastry di ruang aula kantornya. Kini dia hidup di sana menggantikan posisi Karin sebagai pelampiasan Teuron. “Kau tidak sama dengan Karin.” Teuron tidak sudi melihat Sastry berpakaian seperti Karin. Hasratnya untuk melampiaskan gairah jadi hilang karena masih teringat oleh Karin. Sastry bergetar, dia tak tahu harus berbuat apa. Hati Teuron masih sakit, dia ingin membuatnya tersenyum seperti dulu tapi dia tak tahu bagaimana caranya. “Kalau ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu tersenyum katakan saja.” Dia mengajukan diri. “Benarkah?” Dengan berat hati Sastry mengangguk, dia pejamkan matanya tak ingin melihat apa yang akan dilakukan Teuron. Karena putus asa, Teuron akhirnya melakukannya apapun yang terjadi. Dia memeluk Sastry lalu mencium bibirnya. Sastry kaget, tetapi dia berusaha untuk menuruti kemauan Teuron. baru sebentar kemudian bibir Teuron tak lagi menempel di bibirnya. “Ini tidak sama, ini tidak sama!” Teuron masih tak bisa menerima. Sastry tak ingin membiarkan Teuron bersedih, dia ingin membuat Teuron melupakan Karin dengan menggunakan tubuhnya. Dia peluk Teuron dan kembali mencium bibirnya. Teuron mencoba, dia remas d**a Sastry. Dia merasa hampa, genggamannya tak semantap ketika dia melakukannya dengan Karin. Dia kembali berhenti, “Ini juga tidak sama...” Sastry menarik tangan Teuron dan mengarahkannya ke buah dadanya. Asalkan Teuron bisa melupakan Karin dirinya tak masalah. Pagi itu berlanjut, perasaan Sastry sungguh tak enak. Dia merasa bersalah dan harus membuat Teuron tersenyum. Segala cara sudah dicoba, tubuhnya sudah dijamah oleh Teuron. Selaput dara Sastry rela dihancurkan Teuron demi sebuah senyuman. “Aku bisa menahan semua ini.” Sastry lemah tak berdaya. Dia tak bisa dan tak kuasa menolak kemauan Teuron. Tubuhnya habis menjadi pelampiasan namun semua itu setimpal dengan senyum di wajah Teuron. “Pulanglah...” kata Teuron setelah hasratnya terlampiaskan. “Hah?” Sastry kaget. “Tidak ada gunanya,” senyumnya langsung hilang Sastry bersedih, dia masih belum bisa menggantikan Karin. “Lebih baik aku katakan yang sejujurnya pada Ryou, Tenacity, dan semua  agar kau tahu seperti apa rasa sakit di hatiku.” “Jangan!” “Tidak, kau takkan pernah bisa menggantikan Karin.” “Kumohon jangan, itu akan menyakiti hati mereka.” Sastry bersujud di kaki Teuron. “Semua itu pantas, ini semua salahmu!” “Aku akan menjadi lebih kuat, aku berjanji akan melakukan apa saja untukmu,” ucapnya memeluk kaki Teuron. “Aaaahh!” Teuron menendang wajah Sastry. dia menjambak Rambut Sastry dan menyeretnya ke tengah aula. “Kalau begitu, kau harus siap!” Siksaan demi siksaan dilakukan oleh Teuron. Pagi itu berjalan begitu lambat di aula kantor Teuron. Sangat lambat karena Sastry harus menahan perihnya kekejaman Teuron. Ponsel Teuron berdering berkali-kali. Pekerjaannya sudah di depan mata. Senyumnya bersemi setelah mendengar informasi menarik. “Bagus!” dia bergumam. Teuron hentikan aliran listrik yang menyetrum Sastry di seluruh area sensitifnya. Jarum setrum itu dilepas dari lidah Sastry, lalu dia melepas dua buah di leher, dua pasang di tiap p****g, empat buah di lubang kemaluan dan delapan di lubang duburnya. “Aku punya perintah yang harus kau kerjakan.” Sastry hampir pingsan, rasa sakit bukan main mengalir di seluruh tubuh. Badannya penuh luka, bekas tusukan jarum listrik masih terasa menyetrum tubuhnya. Tiap kali Sastry bergerak, ketika pakaiannya menyentuh bekas tusukan jarum setrum, dia merasakan sensasi luar biasa. Rasa kejut setruman itu selalu hadir di area sensitifnya. Sastry berjalan menghadap Teuron perlahan. Dirinya masih tak kuat, dia jatuh berkali-kali. Teuron menyuruh Sastry untuk meminum segelas ramuan perak agar Teuron bisa mengendalikan tubuh Sastry dan melihat apa yang dipandang Sastry. dia bisa melihatnya melalui cairan perak yang ditaruh di dalam kendi. Sastry mematuhinya, dia minum cairan itu lalu berangkat menjalankan perintah. “Wanita bodoh.” Teuron tertawa tak menyangkan Sastry masih memegang harapan padanya. Semua tipu dayanya ditelan mentah-mentah oleh kepolosan Sastry. Niat jahatnya semakin menjadi setelah perasaan Sastry sudah ada di genggaman.   Tenacity bersama Jumbo dan temannya pamit undur diri dari rumah Restu. Mereka takkan menginjakkan kaki di rumah Restu kecuali Sastry memerintahkan mereka. “Maaf sudah merepotkan,” Jumbo pamit. “Semoga kak Sastry mau kembali pada kalian.”  Kini mereka pergi memulai pencarian. Tenacity yang akan memimpin mulai sekarang menggantikan posisi Sastry. Tenacity sudah berjanji untuk memusnahkan Undernity-Movement dan menurutnya Jumbo dan rekan harus melakukan hal yang sama demi Sastry. Di perjalanan Jumbo bertanya, “Kenapa kau bilang pada Ryou Sastry sudah meninggal?” “Pada awalnya aku melihat seorang yang mirip Sastry mati di dalam truk teater, saat itu aku benar-benar kesal dan marah pada diriku. Namun setelah tahu kalau Sastry masih hidup, diriku jadi berpikir lebih jernih dan memutuskan untuk menjauhkan Sastry dari Ryou. Akan lebih baik jika dia tidak dekat-dekat dengan Sastry lagi.”   Sastry diberi tugas sederhana oleh Teuron. Dirinya hanya diperintahkan untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa botol anggur. Tetapi dengan kondisinya sekarang, pekerjaan itu sangat menyulitkan. Tiap pasang mata tertuju pada Sastry. Mereka kaget melihat Sastry berkeliaran dengan luka di sekujur tubuh, jalan pincang dan sempoyongan. Tetapi mereka tak mau membantu. Orang Hefei umumnya tinggi hati, mereka segan menolong seseorang kecuali mereka kenal. “Aku pasti bisa... Aku ini kuat kan? Tetapi tubuh ini tidak mampu...” Sastry mulai berhalusinansi. Dia mengingat teman-temannya. Dia mengingat semua kejadian saat tangannya bisa membantu. Sastry disegani, dicintai, dibanggakan, dan menjadi sosok pemimpin di mata teman-temannya. “Mereka bilang aku bisa... Mereka bilang aku kuat... Tetapi apakah tubuh ini mampu?” Sastry terjatuh tergeletak di tengah jalan. Orang-orang berkerumun menyaksikan. Seorang petugas keamanan mencoba membangunkan Sastry, “Kau tak apa Nona?” Sastry merintih dan mendesah. Sensasi perih ketika tubuhnya disentuh amat terasa tetapi tubuhnya mulai menyukainya, sentuhan petugas keamanan merangsang area sensitifnya. Sengatan listrik terasa kembali meski jarum itu sudah dilepas. Sastry masih berada di dalam halusinasinya, dia tersenyum merasakan sensasi bercampur aduk dari syarafnya. Seorang wanita yang sedang berbelanja lari menghampiri, “Permisi aku seorang dokter.” Sastry digotong oleh petugas keamanan menuju mobil sang dokter. Sastry dilarikan ke klinik sang dokter untuk mendapat pertolongan pertama. Efek anestesi sudah bekerja, Sastry merasa kebas. Perih dan geli di sekujur tubuhnya sudah mereda. “Terima kasih dok.” “Asha. Panggil aku Asha,” katanya sambil mengompres luka di sekujur tubuh Sastry. “Sayang, kamu kenapa kok bisa sampai seperti ini?” “Aku hmm... mabuk sepulang pesta dan aku tak ingat apa yang terjadi.” “Apa karena lelaki?” “Tidak...” Sastry mengingat betapa kejamnya Teuron menyiksanya. “Kalau memang karena lelaki, lawan saja! Wanita itu lebih hebat dan terhormat daripada lelaki.” “Aku hanya ceroboh kok, sungguh.” Asha melihat bekas tusukan di leher Sastry. Dia tahu Sastry diracuni. Tetapi setelah mendengar Sastry tidak mau berterus terang Asha menahan opininya tentang kebenciannya pada lelaki. “Perempuan itu kuat kok,” Asha meyakinkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN