Part 7: Rahasia Gadis Teater

2255 Kata
Teuron sudah menyusun rencana agar Ryou dan Tenacity melepas pandangannya Dari Sastry. Sudah saatnya dia menekan Sastry. Dengan memanfaatkan ketulusannya dan itikad baik yang dimiliki Sastry, Teuron yakin satu atau dua buah permohonan tidak akan ditolak olehnya. Lain cerita dengan rencana David. Berkat asupan informasi yang didapat dari Ryou, Anita bisa menyusun rencana bersama Peter untuk menyergap Teuron dan Karin dan menghentikan Undernity-Movement. Sudah banyak warga terpengaruh mengakibatkan banyak kejadian aneh. Kasus pembunuhan ada dimana-mana, kriminalitas makin bertambah, Kuzech mulai tidak stabil karena kehadiran Undernity-Movement. Dan yang lebih parah, ajarannya kini sudah merambat ke Hefei. Banyak orang kelas menengah ke atas terpancing dengan kekuatan instan. Mereka ingin sukses cepat dan menghalalkan segala cara. Tak peduli meski roh dari dimensi lain menguasai tubuh mereka. Dan operasi penyergapan akan dilakukan di gereja panti asuhan untuk meminimalkan kerusakan. Tidak mungkin mereka menyergap Teuron dan Karin di kompleks perkantoran Hefei.   Sastry dan teman-temannya dijemput oleh Teuron yang membawa truk Sastry dari gereja. Pengerjaan truk itu belum selesai jadi Teuron akan menurunkan Sastry di tengah kota lalu menyuruh seseorang untuk membawa truk Sastry kembali ke panti untuk diperbaiki lagi. Sastry sudah turun di jalan bersama Teuron. Tugasnya sebagai konsultan kembali dilanjutkan. Pintu-pintu kembali diketuk, dan Teuron memberikan sinyal pada anak buahnya untuk memulai aksi. Truk Sastry tidak dibawa ke gereja. Wanita bayaran yang dirias mirip seperti Sastry kini berada di setir kemudi. Teuron mengelabuhi Tenacity dengan mengirimkan pasukan bersenjata untuk mengejar truk Sastry seolah-olah Sastry sedang dikejar penjahat. Tiga mobil jeep dengan heavy machine gun sudah siap menembaki truk Sastry. membuat suasana makin mencekam. Tenacity termakan oleh tipu muslihat Teuron. Dia langsung menghubungi anak kapalnya untuk segera bergerak menghadang tiga mobil jeep itu. Tenacity mengejar truk itu dengan segera. Untuk mengalihkan pandangan Ryou sangat gampang. Teuron punya Karin, dan Teuron ingin Karin membawa Ryou sejauh mungkin dari pusat kota. Karin sudah siap memancing Ryou, dia keluar dan menghancurkan kota di hadapan Ryou lalu berlari agar Ryou mengikutinya menjauh seperti yang diperintahkan Teuron. Anita segera melaporkan huru-hara yang terjadi di Batul pada David. Undernity-Movement mulai menunjukkan tajinya. Penyihir dikerahkan oleh Teuron untuk menggila di Batul Barat dekat dengan perbatasan. Dia sengaja agar bantuan dari Hefei bisa ditahan dan tak ada yang mengganggu rencananya.   Sastry dengan polosnya menjalankan tugasnya sebagai konsultan seperti biasa. Teuron berhasil menjalankan rencana dengan amat sangat mulus. Dan kini Teuron siap untuk menekan Sastry. Dia ingin mengecek kebenarannya. Teuron menawari kontrak kegelapan pada klien Sastry. Kontrak itu bukan kontrak biasa melainkan kontrak maut. Sebelum Teuron menyerahkan pena, dia menaruh kamera di pinggir lemari, “Untuk testimoni.” Ketika klien itu menandatangani kontrak, tubuhnya langsung dimakan oleh roh dari dimensi lain. Iblis muncul di hadapannya dan mengamuk, membunuh klien itu dan menyerang Sastry dan Teuron. Sastry terhempas, dirinya kesakitan dan tanpa pertolongan kecuali Teuron. Dia berdiri dengan sisa keberaniannya, “Aku tak apa.” Teuron berpura-pura melawan, namun dia sengaja kalah. Dia dihempaskan oleh iblis itu berkali-kali. Tubuhnya terluka, dia pura-pura lemah. Iblis itu lalu melempar Teuron keluar dari jendela. Dia terjatuh tersungkur ke tanah. “Teuron!” Sastry sudah tak tahan. Dia tak bisa membiarkan iblis itu menyerang Teuron membabi buta. Kedipan cahaya muncul dari dalam rumah. Teuron melihatnya, dia yakin Sastry yang melakukannya. Dia kembali masuk ke dalam rumah sambil menyembunyikan senyum kotornya. “Bertahanlah!” Sastry sedang menggenggam erat tangan kliennya. Teuron yakin dia sudah mati. Kontrak kegelapan yang dibuatnya pasti membunuh orang tersebut. Namun Sastry bisa melenyapkan iblis itu, Teuron tahu ada sesuatu yang spesial di dalam jiwa Sastry. Tak lama kemudian jari jemari si klien bergerak, Teuron sudah melihatnya saat Sastry menggenggam tangan Hadian. Dia tahu Sastry punya kekuatan untuk menghidupkan kembali orang mati. Dia sangat tahu itu dan kini yakin akan kebenarannya. “Ryou dan Tenacity pasti kaget kalau kau melihat rekaman ini.” Kata Teuron meraih kamera yang ia taruh di pinggir lemari. Sastry kaget, dia pikir Teuron sudah pingsan. Matanya mengaga, hatinya bergetar. “Seorang gadis yang baik hati, ternyata juga seorang penyihir. Kamera ini merekammu membunuh iblis itu Sastry,” Teuron memainkan kameranya “Tidak!” Sastry masih berusaha membangkitkan kliennya dari kematian. Genggamnya makin erat, kelopak mata orang itu perlahan bergerak. “Aku tahu rahasiamu, seluruh rahasia kehidupan tim teatermu! Dan kalau kau tidak mau rahasia ini bocor. Datanglah lagi ke panti asuhan.” “Teuron... kan benar-benar licik!” Sastry menangis. “Haha... Hahahahaha!” Teuron tertawa dan pergi meninggalkan Karin sendiri. Dia berhasil memanipulasi semua lawannya.   Tenacity dan anak kapalnya berhasil menumbangkan tiga mobil jeep yang mengejar truk Sastry. Tetapi truk Sastry menabrak sebuah pohon akibat melaju kencang. Tenacity membuka pintu kemudi dan terkejut melihat wanita yang mirip Sastry sudah kaku berlumur darah di kepala. “Sastry!” dia memukul truk Sastry berkali-kali. Dirinya gagal sebagai penjaga Sastry dan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. “Aku bersumpah untuk membunuh semua anggota Undernity-Movement!” Hujan turun, roh naga laut mendengar sumpah Sastry. Daedalus bergejolak di hati Tenacity bagai badai di tengah laut dalam.   Conquest memperhatikan semua kejadian itu. Melalui cermin ajaib dia melihat kinerja luar biasa Teuron dari dimensi lain bernama Prana di mana semua Roh berkumpul. Dia berkata pada Death dan Famine kalau dirinya ingin bergabung ke dalam pesta. “Bocah licik itu menarik, aku ingin ambil bagian dengan mengunjungi si Peepsqueak!” “Jangan berbuat yang tidak-tidak!” Death memperingati. “Ahh orang bodoh sepertimu tahu apa?” Conquest membuka portal menuju dunia lalu melompat ke sana, “Dunia aku datang wooooohoooo!” Famine bangkit dari kursi, dia juga tak ingin kelewatan bagian menarik. “Mau ke mana kau?” tanya Death. “Mengunjungi War, aku ingin memastikan anak baru ini tidak nakal.” Famine menjentikkan jari gemulainya untuk membuka portal menuju dunia. “Dadah Pak Tua.” Famine berkedip genit sambil melayangkan kecupan kematian ke arah Death. Dia pergi menyusul Conquest ke dunia.   Peter berhasil meredakan kegaduhan masal di Batul barat dengan bantuan dari pasukan khusus Vanguard Label Society. Banyak penyihir ditangkap dan dibekukan. Puluhan jiwa mati di sana. Anita kemudian mengarahkan Peter untuk segera pergi ke Batul Utara, Ryou sedang bertarung dengan Karin dan butuh bantuannya. “Aku segera ke sana.” Peter penasaran apakah benar Ryou sedang bertarung melawan Karin, padahal kemarin dia melihat Ryou melindunginya. Sebenarnya Ryou tidaklah melawan, dia hanya bertahan dan menghindar. Dirinya berusaha untuk berbicara dengan Karin. Dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Karin di masa lalu. Ryou tak bisa mengungkapkan apa yang terjadi dan dia ingin Karin yang menjawabnya. “Aku tahu kita pernah berteman dekat, benar kan?” tanya Ryou. Karin mengelak, dia tak mau mengakuinya. “Tidak!” dia menangis menyerang Ryou. “Mata itu, kepedihan itu, kita pernah merasakan hal yang sama bukan?” Ryou melompat ke sana kemari dengan topeng apinya, dia meluncur menerjang bebatuan dan menghindar. “Diam! Aku tidak kenal dirimu!” “Tapi aku tahu, aku bisa merasakannya.” Ryou menahan batu-batu yang melayang ke arahnya. “Aaahhhh!” Karin menjerit, dia tak tahan harus menahan Ryou terus menerus. “Jawab aku! Kau tahu sesuatu kan?” Karin mengeluarkan ular raksasa dari dalam tanah. Kesabarannya sudah habis. “Ryou yang kukenal kini sudah mati!” jawabnya tersedu-sedu. “Apa?” Ryou kaget. “Aaaaaahhhh!” Karin memerintahkan ularnya menerkam Ryou. dia sudah keluar dari batasannya dan ingin membunuh Ryou kali ini. Ryou benar-benar kewalahan. Dia mengeluarkan spirit burung garuda api dan pedang permata merahnya. Dia ingin melawan Karin dan mencoba membuatnya sadar. “Mati kau!” Karin mengerahkan kedua tangannya. Gempa bumi terjadi, bebatuan dari dalam tanah keluar dan mengapung. Bangunan di sekitarnya terbang melayang, gravitasi di bawah kaki Ryou begitu kencang dia terperanjat jatuh ke dalam lubang kuburannya. Getaran gempa begitu dahsyat. Menggegerkan Kuzech sampai ke Xaipi yang berada di paling ujung barat laut dari Batul. David terkesan dengan amukan Karin, kantornya bergoyang. Orang-orang panik menyelamatkan diri. “Hati-hati Tuan Miracle,” Anita tetap berada di posisi menemani Peter sampai misinya selesai. Peter terbang di udara secepat mungkin menuju lokasi kejadian. Dia terkejut ketika melihat Ryou dengan topeng hitamnya menebas punggung Karin dengan pedang permata merah yang kini menghitam. “Aku harus menghentikannya!” dia melesat cepat untuk menghentikan Ryou. Punggung Karin terkoyak parah, tebasan pedang Ryou menghitam di kulitnya. Darahnya bercucuran hebat. Semua dilakukan Karin untuk melindungi Teuron yang baru sampai di lokasi dari tebasan pedang Ryou. “Jangan bunuh Teuron...” kata-kata terakhir Karin keluar sebelum dirinya jatuh ke dalam pelukan Teuron. Ryou tersadar, kekuatan topeng hitam itu membutakan hatinya. Dia lepas topeng itu penuh penyesalan. “Apa yang telah kuperbuat?” Ryou yakin sekali dirinya pernah dekat dengan Karin, dan kini dengan tangannya sendiri dia membunuhnya. Dia merenung takut akan melukai lagi orang-orang yang dia cinta dikemudian hari. Teuron mengamuk, dia tak kuasa melihat Karin jatuh di hadapannya. “Kurang ajar!” dia menangis darah. Amarahnya asli ketika melihat senyum Karin tulus untuk melindungi dirinya. Dia mengangkat tangan, sihirnya mulai beraksi. Dari dimensi lain Teuron memanggil banyak sekali iblis. Dia ingin membalaskan perbuatan Ryou. “Serang!” Peter datang tepat pada waktunya, dia menyelamatkan Ryou yang melamun tak mau menyerang. “Hey! Sadarlah!” Teuron berlari membawa Karin pergi, dia menghilang dalam kegelapan dengan sihirnya. Iblis-iblis itu menyulitkan Peter. Mereka begitu liar dan buas. Menyerang dengan membabi buta. Peter masih berdiri, dia tak kan kalah dengan mudah namun dirinya harus menjaga Ryou yang terjerumus ke dalam lumbung keputusasaan. Posisinya mulai sulit. “Sadarlah Ryou! Ayo lawan!” Ryou memandangi topeng hitamnya, topeng itu penuh energi kegelapan. dia takut untuk menggunakannya lagi. Tangannya bergetar tak berani lagi menyimpan topeng itu di jiwanya. Spirit cahaya Simorgh muncul dari meriam Peter. “Shooting Star Blaster!” Energi cahaya bintang meledak dari meriamnya menyapu bersih iblis-iblis kegelapan itu dan mengirimnya sampai ke Void. Hanya ada Ryou dan Peter sekarang. Peter mengulurkan tangannya untuk Ryou, “Ayo.” Ryou masih bergetar. Hatinya hancur, jiwanya berantakan, pikirannya kacau tak tahu harus berkata apa. Dirinya takut saat ini.   Di angkasa tiba-tiba portal dari dimensi Prana terbuka lebar. “Apa kabar Peepsqueak!” Conquest datang mengintimidasi Ryou. Topeng hitamnya langsung dibuang, pedang permata merahnya tergeletak di tanah. Ryou takut melihat Conquest. “Apakah mimpi itu nyata? Apa aku benar sudah mati?” “Ryou!” Peter mengambil topeng hitam Ryou dan menyerahkannya kembali, “Cepat pakai!” Ryou tak mau meraihnya, dia takut melawan Conquest. “Ayo kita main!” rayu Conquest. Dia turun perlahan dari langit. “Siapa kau?” tanya Peter. “Siapa aku? Hehehe.” Conquest tertawa, “Tanyakan saja pada bocah penakut itu.” Peter tidak gentar, dia genggam meriamnya dengan kuat dengan tangan kirinya. “Kau ini iblis yang bisa bicara kan?” Conquest menggoyangkan jari telunjuknya, “aaa aaa... salah.” “Lalu bagaimana kau bisa datang dari dimensi lain?” “Asal kau tahu, aku tidak suka dipanggil iblis!” “Lalu siapa sebenarnya kau, dan ada perlu apa kemari. Kita bisa bicarakan baik-baik.” “Huaahahahaahaaaa bicara baik-baik katanya? Huaahahaha!” Conquest terbahak-bahak. Peter melindungi Ryou, dia mulai siaga. Sepertinya orang itu tidak punya niat untuk berbicara. “Heh Boy!” katanya memanggil Peter. “Naif sekali seorang dengan kekuatan sepertimu bisa berkata seperti itu. Bicara baik-baik katanya hahaha,” dia kembali tertawa. “Jangan bercanda!” matanya melotot, urat kepalanya menonjol keluar. Peter mengisi meriam cahayanya dengan energi. Dia harus bersiap. Conquest berjalan mendekat, “Kuberitahu satu hal, Aku adalah mimpi burukmu!” dia langsung meluncur, tinju besarnya membombardir Peter. Meriam cahaya ditembakkan, Conquest meledak. Namun dari balik asap dia muncul dan tetap melesat. Tembakan Peter ditangkis dengan satu tangan. “Mustahil!” Peter langsung bertahan, meriamnya menangkis pukulan Conquest. “Lumayan.” Conquest membunyikan jari tangannya. Pemanasannya sudah selesai. Peter memanggil spirit cahaya Simorg untuk memberinya sayap berlian untuk bertahan sambil mengisi energi meriamnya. Conquest mengeluarkan gada miliknya, “Ah tidak jadi, nanti tidak seru.” Dia buang gadanya ke tanah lalu kembali memasang kuda-kuda untuk bertarung dengan tangan kosong. Energi cahaya ditembakkan, Conquest bergerak amat cepat menghindar. Langkah demi langkah tidak bisa diprediksi, Peter yakin dia bukan orang sembarangan. “Tentu saja aku bukan orang sembarangan.” Conquest muncul di belakang Peter dan menyikutnya kuat. Sayap berlian Peter mampu menahannya. “Keras juga ya.” Conquest makin senang. Ryou melihat keduanya bertarung sangat hebat. Dia masih belum berani bertarung. Namun hatinya berteriak ingin menyelamatkan Peter. Dirinya tahu Conquest sangat kuat, dan Peter bukanlah tandingan yang sepadan. Peter dihantam ke sana kemari. Tangan besar Conquest memukulnya bertubi-tubi ke kiri dan ke kanan. Sayap-sayap Peter patah, dia sudah tak kuat melawan. “Apa yang harus aku lakukan?” Ryou bergetar, dia merunduk meraih topeng hitamnya. Peter berteriak meminta pertolongan, “Cepat Ryou pakai!” “Tapi...” topengnya terjatuh lagi dari genggamannya. “Ayolah!” Conquest berdiri di depan Peter “Hey fokus!” dia lesitkan tinju super keras ke d**a Peter hingga mental menembus delapan bangunan. Peter merasakan retakan di tulang rusuknya. Rasanya dadanya pecah seperti kaca yang dipukul. Dia tersungkur tak sadarkan diri. Conquest mengibaskan tangan setelah berhasil memukul telak Peter. “Sekarang si Peepsqueak!” dia menoleh. “Jangan...” Ryou mundur, dia ketakutan. “Ayo main!” “Pergi kau... Pergi!” “Haaah?” Conquest tercengir, dia senang menyiksa batin Ryou. “Berakhir sudah!” tinju besar Conquest sudah siap mengulang kejadian di gua Hulao tiga tahun silam. Conquest tiba-tiba dihujani peluru. Dia melompat mundur dan melihat Sebuah robot besar sedang melayang di udara. David turun tangan mengatasi masalah dan datang menolong meski terlambat. Dia menekan tombol untuk meluncurkan rudal kendali ke arah Conquest. “Ahh jadi tidak seru lagi.” Conquest membuka portal menuju Prana lalu pergi menghindari rudal David.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN