Karin mengingat masa-masa di mana dirinya pernah bersama Ryou. Dia benci kenangan itu. Karin coba melupakan semua kegundahannya dengan membuat rangkaian bunga. Saat ini dia sedang berada di panti asuhan Batul milik Teuron. Dirinya sering mengunjungi panti sebab ada sebuah kebun bunga cantik. Karin merawatnya dengan rapi dan teliti, sehingga banyak anak-anak yang ikut membantu menjaga keindahan kebunnya.
Karin tidaklah begitu peduli dengan anak-anak. Senyum ceria mereka tak terasa indah di hati hitamnya. Meski wajah mereka lucu dan menggemaskan, Karin mengacuhkan mereka namun tidak juga berbuat onar menyakiti mereka. Meski dingin dengan anak-anak, Karin sebenarnya sangat penyayang. Terbukti dari senyum mereka ketika berada di dekat Karin.
Teuron berkata padanya kalau anak-anak itu sama seperti Karin. Mereka lahir dalam genangan luka. Perih kehidupan mereka sama. Dan Teuron memanfaatkan kepolosan anak-anak itu untuk dilatih menyukai rasa sakit seperti Karin. Tiap minggu satu kelompok anak terdiri dari empat orang dibawa ke Hefei untuk disiksa dan dihancurkan secara mental. Melahirkan pribadi baru yang menyukai rasa sakit seperti Karin. Namun semua itu tidak serupa dengan yang dialami Karin, dia tidak melihat kebencian di hati anak-anak itu. Teuron selalu membujuknya untuk percaya, tetapi Karin tahu tidak akan ada anak-anak yang mengalami nasib sama sepertinya. Tak kan pernah.
Meskipun demikian, Karin tetap menghormati keputusan Teuron karena hanya Teuron yang mampu memuaskan hasratnya. Teuron sudah mengendalikan jiwa Karin melalui rasa sakit. Kotoran pun dijilatnya hanya demi sihir Teuron agar hasratnya bisa tersalurkan. Dan hanya dialah majikan Karin. Tanpanya Karin bisa gila karena hasratnya tak tersalurkan.
Karin dikejutkan ketika dia mendengar Sastry datang mengunjungi Panti. Dia taruh gunting kebunnya lalu beranjak ke pintu depan. Dari luar Sastry melihat sebuah gereja tua berlumut sebagai tempat panti asuhan yang Teuron katakan. Langkah tepat bagi Sastry untuk kembali menebar senyum. Dari dalam truknya Sastry membuka kedai makanan gratis untuk anak-anak panti. Sastry senang melihat senyum mereka.
Karin keluar, dia berdiri di hadapan Sastry dengan tatapan kosong.
“Hai Karin!” Sastry menyapanya.
Karin hanya diam, wajah putih pucatnya itu membuat bulu kuduk Jumbo dan rekannya berdiri.
Sastry tak mau diam begitu saja melihat Karin. Dengan senyumnya ia mencoba menghangatkan wajah dingin Karin, “Aku punya gulai ayam, ayo cicipi. Aku juga punya es krim dan yoghurt, ayo dicoba gratis kok.”
Harold menarik Sastry dan berbisik, “Wanita panti itu seram sekali, jangan membuatnya marah Bos.”
Sastry tersenyum, dia yakin bisa mencerahkan hati Karin. Setelah semua anak-anak kebagian makanan, Sastry dan temannya memulai teaternya. Bercerita tentang putri ajaib dari negeri dongeng. Sastry menari anggun memainkan perannya untuk menghibur dan menginspirasi anak-anak agar berbuat kebaikan pada sesama.
Karin memperhatikan, anak-anak itu bisa tersenyum. Mereka bisa merasakan gembira. Tidak seperti dirinya yang sudah mati hati. Anak-anak itu tidak akan pernah merasakan apa yang dia rasakan. Mereka masih hidup normal, mereka masih manusia. Tidak ada yang mencintai rasa sakit selain Karin. Tidak akan pernah ada.
Jumbo dan rekannya kini bermain bersama anak-anak. Mereka senang langkah yang diambil Sastry sangat tepat. Semangat teater Sastry perlahan kembali terisi.
Sastry masih belum melihat bibir Karin bergerak sedikit pun. Dia tidak tersenyum secuil pun apalagi berbicara. Dia kembali berusaha. Diajaknya Karin duduk berdua di bawah pohon beringin besar di depan panti untuk menceritakan betapa indahnya hidup jika Karin mau tersenyum.
“Lakukan seperti yang aku lakukan.” Sastry semangat mengajari Karin tersenyum. “Tarik otot-otot wajahmu ke atas Karin ayo.”
Karin berusaha keras tidak menyakiti Sastry. Dirinya kesal diperlakukan seperti anak-anak. Mengingatkan dirinya akan trauma masa kecilnya. Namun jika dia menyakiti Sastry Teuron pasti akan marah padanya. Karin melihat Teuron begitu peduli pada Sastry, dia pasti orang penting bagi Teuron. Dia tidak mau melawan kehendak Teuron dan berusaha mengikuti ajaran Sastry untuk tersenyum.
Senyumnya begitu buruk, terlalu dipaksa dan amat sangat tidak terlihat bahagia. Karin merunduk menenggelamkan muka dibalik rambut merahnya.
“Kamu kenapa Karin?” Sastry mengelus pundaknya, “Kalau ada masalah sini cerita, aku mungkin bisa bantu.”
Teuron sampai di panti asuhannya. Dia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju panti. Ryou tak sengaja melihat truk mewah melintas di Batul. Beberapa truk dari bengkel ibukota sedang menuju ke gereja panti asuhan Teuron. Ryou mengikutinya karena Anita memerintahkan Ryou untuk menyelidikinya.
Orang bengkel ternyata dikirim oleh Teuron untuk memodifikasi truk Sastry yang sudah usang. Teuron mendukung semangat Sastry dalam menyebar kebahagiaan di seluruh penjuru Batul. Sedikit bantuan dari dana pribadinya tidaklah sebanding dengan usaha Sastry. “Kenapa orang itu mendekati Sastry!” Ryou curiga.
Ryou dipergoki oleh Tenacity yang sedang mengawasi Sastry dari jauh. Dia selalu menjaga Sastry ke mana pun dia pergi. “Sudah kukatakan jangan lagi dekati Sastry!” Tenacity mendorong. Ryou tak peduli, dia malah menantangnya dengan keluar dari persembunyian dan pergi menghampiri Sastry. Tenacity menariknya dan langsung meninju wajah Ryou, “Kurang ajar!” Mata Ryou memar, “Urusi kehidupanmu sendiri pelaut, tak usah mengikutiku.” Ryou kembali berjalan menghampiri Sastry.
Kini Ryou berpapasan dengan Teuron di gerbang panti. Teuron tersenyum, Ryou menatap tajam. Dia tak tahu apa yang sedang direncanakan Teuron. Keduanya berjalan berdampingan menghampiri Sastry dan Karin.
“Hai Sastry, maaf lama menunggu.” Teuron menyapanya.
Sastry tersenyum, “Tak apa kok.”
Karin mendengar suara Teuron, dia menoleh menunjukkan wajahnya dan kaget ketika melihat Ryou ada di samping Teuron. Bola mata hijau berlian Karin langsung menatap mata biru laut Ryou begitu dalam. Keduanya saling menatap tanpa bertegur sapa.
“Kau kenal Ryou, Karin? Tanya Sastry.
“... Tidak,” bibir Karin berbicara, dia tak tahan menahan perasaannya.
Teuron memisahkan keduanya, “Permisi sebentar.” Dia menarik Karin masuk ke dalam panti.
Sastry bertanya pada Ryou, “Sepertinya Karin sedang bersedih ya?”
“Iya, aku yakin sekali.”
“Kalian saling mengenal?”
Ryou duduk di samping Sastry, “Hmm... tidak. Tapi kurasa hatinya sedang gundah.”
“Iya, dia tidak bisa tersenyum. Aku kasihan padanya.”
Tak lama setelah Karin dan Teuron masuk ke dalam panti. Ryou dan Sastry mendengar suara jeritan perempuan dari dalam sana. Mereka bergegas masuk. Teuron memecut d**a Karin dengan cambuk besi berduri. Dia tak senang Karin menatap Ryou dan tidak menatapnya. “Ini hukuman bagi perempuan yang membangkang.” Dia permainkan darah Karin dengan memompa jantungnya dua kali lebih cepat. Baju Karin langsung basah berlumur darah. Luka di dadanya sangat perih. Ketika Ryou dan Sastry hendak memergokinya. Keduanya sudah bersikap seperti biasa. Cambuk Teuron sudah disembunyikan dan luka di d**a Karin sudah ditutupi dengan kemeja merah Karin. Noda darah tidak begitu terlihat karena warna kemeja Karin serupa.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Sastry.
“Tidak ada apa-apa kok. Benar kan Karin?” jawab Teuron.
Karin mengangguk, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membasuh luka.